The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
Draft



Di tempat lain, Ryana Zhang memilih untuk beristrirahat sejenak, guna melepaskan lelah yang sudah menggelayuti tubuhnya. Gadis itu kemudian dengan bersusah payah mencoba untuk memindahkan tubuh Luo Mian ke atas pembaringan tumpukan daun-daun kering.


"Semoga saja dia segera tersadar." Ryana Zhang bisa merasa lega sekarang. Dia berniat membuka cadar hitam di wajah pemuda itu


Pada saat Ryana Zhang hendak membuka kain cadar milik Luo Mian, secara tiba-tiba Chen Jia datang dengan sedikit tergesa-gesa. Pemuda itu mendengar teriakan Ryana Zhang


"Aku datang, Ji ...."


Chen Jia tercekat dan terhenti di pintu masuk ruangan gua tempat Luo Mian tidur selama tinggal di Gua Cahaya Lima Warna tersebut. Hati pemuda itu seketika diliputi oleh perasaan cemburu, saat melihat dengan jelas perlakuan Ryana Zhang pada Luo Mian.


Chen Jia terpekik dalam hati dengan perasaan hancur lebur. "Jieeee ...."


Chen Jia segera berbalik dan bersembunyi di sisi dinding gua dengan tangan bergetaran, sehingga nampan berisikan bubur umbi dalam mangkuk-mangkuk tanah liat itu pun hampir saja tumpah. Tidak bisa dibayangkan sama sekali, bagaimana hancurnya perasaan pemuda berambut putih tersebut saat ini. Dia baru saja melihat Ryana Zhang mendekatkan dirinya di atas tubuh Luo Mian. Entah apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu terhadap jenderal muda tersebut.


"Apa yang sedang mereka berdua lakukan? Apakah mereka akan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya?" Kecurigaan semakin kuat mencengkeram hati pemuda ini. Namun, untuk melihat ke dalam ruangan pun dia sungguh terlalu takut. "Sebaiknya aku pergi saja!"


Chen Jia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu untuk menenangkan diri dari gejolak perasaannya saat ini. Tetapi langkahnya terhenti, pada saat tanpa sengaja dia melihat Ryana Zhang membuka kain cadar penutup wajah Luo Mian. Rasa penasaran akan bentuk wajah jenderal idolanya, berhasil mengalahkan perasaan marah kesal dan cemburu yang melanda hatinya sekarang ini.


"Jie-Jie membuka cadarnya!" Chen Jia menatap mangkuk bubur dan tiba-tiba saja mendapatkan ide. "Aku bisa berpura-pura mengantarkan ini dan bisa melihat wajahnya."


Tanpa pikir panjang lagi, Chen Jia segera masuk sambil pura-pura menyapa, "Jie, aku baru saja membuat bubur umbi ini untuk makan siang kita."


"Letakkan saja di sana!" Ryana Zhan tidak tampak terkejut, gadis itu menoleh dan berkata, "Pantas saja tadi aku panggil-panggil kamu tidak mendengar."


"Jie-Jie memanggilku?" bertanya Chen Jia sembari mengingat-ingat, apakah tadi dia mendengar suara panggilan dari Ryana Zhang. "Maaf, Jie! Aku tidak mendengar sama sekali panggilan dari Jie-Jie."


"Sudahlah, toh aku sudah bisa membawanya sampai ke mari." Ryana Zhang tidak ingin terus mempermasalahkan perihal panggilannya tersebut.


Chen Jia baru saja selesai menata mangkuk-mangkuk tanah liat berisikan bubur umbi panas di atas sebuah meja batu. Pemuda itu berniat meneruskan keinginannya untuk melihat wajah Luo Mian yang ia desain mirip dengan seorang aktor tampan yang sedang cukup terkenal di dunia moderen.


"Dia kenapa, Jie?" Chen Jia ternyata baru menyadari, jikalau Luo Mian sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ryana Zhang juga tengah sibuk membersihkan luka di punggung tangan pria itu. "Jadi, dia pingsan?"


"Mmmh," gumam Ryana Zhang sambil membubuhkan obat tabur ke atas luka Luo Mian. "Dia baru saja bertarung dengan kawanan serigala bermata ungu dan juga terkena cakarannya. Kurasa racunnya tidak terlalu berbahaya, tetapi mengapa dia tidak sadar juga?"


Chen Jia akhirnya mendekat dan memeriksa keadaan Luo Mian. Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat wajah jenderal idoanya dalam novel 'The Realm Of Cultivation' hasil karya Ryana Zhang yang sudah terlalu jauh jalan ceritanya ini. Pemuda itu menjerit dalam hati tanpa berani mengungkapkan kekagumannya kepada pemilik Tombak Feng Xue ini.


"Jadi, seperti ini wajahnya?" Chen Jia dibuat takjub oleh pemandangan yang sedang ia saksikan saat ini. Wajah Luo Mian memang sesuai dengan apa yang pernah rancang pada saat masih berada di dunia moderen.


"Jia'er!" panggil Ryana Zhang, sembari menatap Chen Jia dengan penuh keheranan tentu saja. "Ada apa kamu berteriak seperti itu? Apanya yang berhasil?"


Chen Jia langsung tersadar dan menghentikan tingkah kekanak-kanakannya, lalu menghampiri Ryana Zhang. "Maaf, Rui Jie! Aku terlalu senang, karena ternyata wajahnya sangat mirip dengan karakter yang aku desain dulu."


"Aku kira tentang apa." Ryana Zhang menggelengkan kepala sambil menepuk dahinya sendiri. "Ya sudah, sambil menunggu dia sadar dari pingsannya. Sebaiknya kita makan buburmu itu."


"Mari, Jie!" Chen Jia mendahului berjalan ke dekat meja dan duduk dengan manis diikuti oleh Ryana Zhang. Pemuda berambut putih itu lalu meraih salah satu mangkuk bubur dan mengulurkannya kepada sang author. "Silakan, Jie!"


Ryana Zhang dengan senang hati menerima uluran mangkuk tersebut. "Terima kasih, Jia'er."


Mereka kemudian mulai menyantap menu makan siang ala kadarnya tanpa banyak bersuara. Baik Ryana Zhang ataupun Chen Jia, sepertinya sedang memikirkan hal yang sedang mengganggu pikiran masing-masing. Jika Ryana Zhang sedang memikirkan alur cerita dalam novelnya yang dirasakan sudah sangat jauh dari apa yang pernah ia tuliskan, sedangkan Chen Jia tengah menyesali nasibnya yang tak juga bisa keluar dari alam kultivasi ini.


"Jie ...."


"Mmm?" Ryana Zhang menyahut panggilan manja dari orang yang sudah dia anggap adiknya ini.


"Apakah kita benar-benar tidak akan pernah bisa kembali ke Kota Xiamen?"


"Tentu saja bisa." Ryana Zhang terpaksa memberikan jawaban yang mungkin akan membuat Chen Jia merasa senang. "Kamu rindu keluargamu?"


"Tentu saja. Aku rindu semuanya, orang tuaku, nenekku, para sepupuku dan terutama ... komputerku." Chen Jia berkata dengan raut wajah sedih. "Entah sampai kapan kita akan terus berada di tempat ini."


Tanpa mereka berdua sadari, ternyata Luo Mian sudah mulai siuman dari pingsannya. Pria itu membuka matanya dengan sangat perlahan dan mendapati dirinya sudah bukan lagi di hutan. Luo Mian mencoba untuk mengumpulkan ingatan tentang kejadian apa saja yang dia alami sebelum berada di tempat ini.


Telinga Luo Mian juga bisa menangkap percakapan dari dua orang yang sudah cukup ia kenali suaranya. Namun, yang menarik perhatiannya adalah tentang penyebutan nama kota yang terasa sangat asing baginya. Dugaannya pun semakin kuat, jika dua orang ini pastilah berasal dari benua yang berbeda dan sangat jauh dari tempat mereka saat ini.


"Xiamen?"


...Bersambung...


Maaf ya, teman-teman ... mungkin akhir-akhir ini sering mendapati bab yang pendek ter-upload, itu karena emak masih belum terlalu fit. Jadi, terkadang masih belum kuat nulis banyak-banyak dan hanya asal bisa up dulu aja, lalu direvisi sebisanya 🙏


Thanks banget buat kalian yang sudah pada setia ikutin kisah ini. Tanpa kalian, emak gak punya semangat lanjutinnya ❤