The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
BADAI ANGIN FORMASI



"Gempa bumi!" Chen Jia merasakan tubuhnya sedikit oleng hingga hampir saja terjatuh. Pemuda itu terpaksa berpegangan kuat pada dinding luar gua. "Adakah gunung meletus atau tsunami?" 


"Ini sebenarnya ini gempa vulkanik atau tektonik?" bertanya Chen Jia kepada dirinya. "Ataukah ada kultivator yang sedang bertarung di luar sana?" 


Pemikiran Chen Jia memang cukup masuk akal, karena alam yang sedang ditempatinya saat ini juga tidak jauh berbeda dengan keadaan dunia moderen. Hanya saja kehidupannya berlatar kekaisaran dan adat kuno yang membuat pemuda itu merasa tidak kerasan.


"Ini sungguh gempa bumi!"


Bagaimana bisa seseorang dari masa depan tiba-tiba masuk ke dalam tahun yang terlalu jauh dari masa lahirnya? Chen Jia bahkan merasa seperti telah kehilangan separuh nyawa. Hidup tanpa komputer, tak ada ponsel atau layar televisi dan bahkan tidak ada sama sekali yang namanya listrik. Tentu saja, hal tersebut sangat berat bagi remaja seusia Chen Jia yang kebanyakan sedang sangat menggemari berbagai macam trend gaya anak muda.


Pemuda itu bahkan terkadang mengomeli Ryana Zhang yang telah membuat kisah kuno paling menyebalkan ini. "Jieee! Mengapa kau buat kisah yang terlalu kuno dan survival seperti ini?"


"Kita bahkan tidak berani dengan bebas keluar masuk hutan karena ketakutan. Sepanjang waktu hanya bisa bersembunyi dan waspada. Kisah macam apa ini?"


"Siapa suruh kamu juga ikut terjebak ke dalam novelku?" Begitulah sahutan Ryana Zhang saat Chen Jia melakukan protes. "Dan lagi, aku memang terispirasi dari sebuah drama kolosal yang aku tonton di You Tube."


"Ryana Zhang alias Zhang Rui itu memang sangat menyebalkan!" Chen Jia kembali mengomel sambil berkacak pinggang.


"Aaaww!" Pemuda itu meringis kesakitan, saat sebilah ranting kering mengenai kepalanya. Chen Jia dengan sangat kesal menginjak-injak batang kayu kering itu hingga hancur menjadi serpihan. "Dasar ranting sialaaaan!"


"Aaaaaaaaa!" Chen Jia kembali berteriak saat sebuah getaran kuat mengguncang Hutan Mistis.


Tanah tempat Chen Jia berpijak terasa kembali bergetar, menandakan adanya benturan berkekuatan tinggi yang menghantam tempat tersebut. Pemuda itu sungguh merasa sangat penasaran dan ingin melihat apa yang sedang terjadi pada tempat tinggalnya saat ini. 


"Aku ingin melihat apa yang menyebabkan getaran-getaran kuat ini!" Chen Jia menoleh sejenak ke dalam gua.


"Luo Geeeee! Aku akan pergi sebentaaar!" teriak Chen Jia sambil segera berlari mencari sumber getaran.


"Apakah di luar sana sedang terjadi sebuah perang antar ufo?" Chen Jia berpikir sambil terus berlari-lari kecil. Sesekali pula, dia harus bersembunyi di balik semak atau batang pohon saat melihat binatang mistis yang terlihat panik.


"Banyak sekali hewan-hewan mistis yang keluar dari sarangnya?" Chen Jia merasa heran dengan keadaan hari ini. "Sayang sekali aku tidak bisa memburu kalian!"


"Elang hitam jambul merah." Chen Jia menatap seekor burung elang yang tengah bertengger dengan gagahnya di atas sebatang dahan yang tinggi. "Meski terlihat bagus, tetapi kristalnya tidak terlalu kuat."


"Lupakan saja!" Chen Jia merasa sedikit kecewa karena tidak bisa berburu pada saat banyak hewan mistis langka keluar dari persembunyiannya. Namun, mata Chen Jia kembali berbinar saat melihat sesuatu. "Burung biru berjambul kuning!"


Chen Jia memang cukup hafal dengan jenis-jenis para hewan mistis di hutan tersebut. Bahkan dirinya sedang sangat ingin mencari kristal jiwa dari Kera Merah bermata tiga yang merupakan binatang paling langka dan selalu disebut sebagai rajanya hewan-hewan di Hutan Mistis. Namun, jangankan untuk bisa mengalahkannya. Jika bertemu dan tidak menjadi mangsanya saja itu sudah lebih dari cukup.


"Apakah mereka semua merasa sangat terganggu oleh getaran dan gelombang badai angin ini?" Chen Jia berpikir sejenak dan tiba-tiba saja dia menyadari suatu hal.


"Badai angin formasi!" Chen Jia tertegun saat menyadari bahwa gelombang angin yang berderuan ini bukanlah angin biasa saja. "Sebaiknya aku lihat. Ada apakah di luar sana!"


Chen Jia berlari dan menyelinap di antara celah-celah pepohonan. Sesekali pula dia harus menerobos semak belukar agar pergerakannya tidak diketahui para hewan yang juga sedang berlarian dengan sikap waspada. Anak muda berambut putih itu menuju ke pusat gelombang angin berasal.


Pemuda itu tercekat saat sampai di perbatasan Hutan Mistis dan melihat sekelompok orang bertampang sangar dengan aura kegelapan, tengah berusaha melakukan pembukaan paksa array pelindung.


"Jadi ini yang membuat hutan ini seperti terkena gempa bumi dan badai angin?" Chen Jia menjadi sangat khawatir melihat kondisi tersebut. "Pantas saja seluruh hutan terasa bergetar hingga hewan-hewan terlihat panik dan waspada! Ternyata ada yang sedang mencoba mendobrak pelindung hutan ini!"


"Jangan-jangan mereka sedang mengincar salah seorang dari kami." Chen Jia berbalik dan kembali berlari. "Aku harus segera kembali dan melaporkannya pada Luo Ge dan Rui Jie!"


Chen Jia berlari dan berloncatan seperti orang yang sedang dikejar oleh sepasukan kawanan serigala. Wajah tampan pemuda sudah mulai memucat akibat dari kepanikan yang melanda pikirannya. Namun naas, seekor ular kobra raksasa menjadi terkejut saat Chen Jia dengan tanpa sengaja menginjak bagian ekornya.


Chen Jia sendiri menjadi sangat kaget dan takut hingga tanpa sadar berteriak, "Mohon maaf, Saudara Ular yang terhormaaat! Jangan kejar aku untuk kali iniiiii!"


Chen Jia melambaikan tangannya ke arah ular sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf V, layaknya kepada kawan-kawannya di dunia moderen. "Maaf sekali lagi, Saudara Ular! Aku sedang tidak ada waktu untuk bermain-main denganmuuu!"


"Selamat tingaaaaaal!"


Dan ... bruk!


Kepala ular menoleh ke arah Chen Jia yang baru saja terjatuh akibat dari tersandung akar pepohonan. Binatang itu bergerak perlahan mendekati Chen Jia yang masih dalam posisi tertelungkup. Ular kobra raksasa mendesis dan menjulurkan lidahnya ke arah wajah Chen Jia. Demi mendapat perhatian manis dari ular kobra raksasa yang bisa saja langsung menelannya bulat-bulat, membuat wajah pemuda itu semakin pucat pasi hingga bibirnya sewarna kertas. Tubuh Chen Jia menjadi lemas bagai tak bertenaga sama sekali dengan napas sangat tidak beraturan.


"Ja-ja ... ja-ngan!" bisik Chen Jia, kemudian ia pingsan seketika.


Sementara itu di dalam Gua Cahaya Lima Warna. Luo Mian masih berusaha membimbing Ryana Zhang yang tengah bermeditasi di sebuah altar batu. Pemuda itu merasakan, jikalau roh gadis ini sudah tidak lagi berada di raganya.


"Ah Rui, tetap pertahankan kesadaranmu!" Luo Mian yang duduk bersila di depan Ryana Zhang tetap berusaha mengingatkan, meskipun dia tahu kalau gadis ini tidak bisa mendengarkan suaranya.


Lalu, apakah yang terjadi sebenarnya?


...Bersambung...