
"Ry, sampai kapan kamu akan begini terus? Tidakkah kamu ingin bangun, agar kita bisa bermain-main lagi seperti dulu?" tanya Qiu Xueyin sembari menggenggam tangan Ryana Zhang dengan lembut, disertai rasa prihatin yang dalam kepada gadis ini.
Tentu saja pertanyaannya tidak akan mendapatkan jawaban dari yang ditanya, karena roh kesadaran gadis itu sedang tidak menyatu dengan raganya saat ini.
"Bangunlah, Ry!" Qiu Xueyin berbisik seraya menggenggam tangan Ryana yang terasa dingin namun masih menampakan tanda-tanda kehidupan dalam nadinya. "Tidakkah kamu ingin mengtahui sejauh mana The Realm Of Cultivation novelmu berkembang?"
"Sekarang akun dan novel itu aku yang menjalankan, meskipun mungkin tidak seperti yang kamu harapkan. Tetapi aku ingin meneruskannya hingga akhir dengan sedikit mengubah beberapa kisah yang telah ada sebelumnya. Maaf, Ry! Mungkin ada yang tidak sesuai seperti kamu inginkan." Qiu Xueyin berkata kepada Ryana Zhang sahabatnya yang tergolek dengan berbagai macam alat bantu kesehatan yang terhubung ke tubuhnya.
Sejujurnya, perasaan hati pria muda itu sangat sedih dan hancur setiap kali menjenguk sahabatnya ini. Tetapi hal tersebut terus dia lakukan hanya demi rasa kasih sayangnya yang tulus terhadap gadis ini. Selama ini, diaah yang telah menyusun ulang alur novel milik Ryana Zhang yang tentu saja berakibat perubahan besar pada kehidupan di alam kultivasi yang saat ini ditinggali oleh sang penulisnya itu sendiri.
Maka tidaklah mengherankan, jika alur kisahnya pun berubah dan jauh dari yang telah disusun oleh Ryana Zhang dalam kerangka-kerangka yang baru ia tuliskan dan belum sempat dijadikan bab sepenuhnya. Qiu Xueyin yang kebetulan bisa memasuki akun milik sahabatnya, tergerak untuk meneruskan karya milik Ryana Zhang karena popularitasnya yang semakin naik dari hari ke hari.
Cukup lama pemuda itu menunggui sahabatnya yang tidak bisa bergerak atau mendengar suaranya. Namun, pemuda itu tetap menemaninya hingga jam bezuk berakhir dan seorang petugas medis mengingatkan Qiu Xueyin untuk segera meninggalkan ruangan tersebut.
"Ry, aku pulang dulu dan aku berjanji akan datang lagi padamu jika aku ada waktu. Percayalah! Aku akan selalu menunggu sampai kamu sembuh," ucap Qiu Xueyin sembari membetulkan letak selimut Ryana Zhang.
"Setelah kamu sadar dan sembuh nantinya, aku akan meminta maaf padamu." Qiu Xueyin meletakkan kembali tangan Ryana Zhang, lalu memasukkan telapak tangan itu di dalam selimut. Pemuda itu berniat untuk segera kembali dan akan datang lagi seperti biasanya.
Tinggallah tubuh Ryana Zhang yang tetap diam terbaring dalam kesendirian dan tidur panjangnya yang tak tahu kapan akan berakhir. Qiu Xueyin sesekali masih menoleh ke arah tubuh Ryana Zhang yang masih bergeming di tempatnya. Terkadang dia berharap, jika tiba-tiba saja sang kawan terbangun dan lalu memanggil namanya.
"Tentu saja itu tidak mungkin untuk saat ini," pikir Qiu Xueyin sambil menepis semua angan-anganya.
Di tempat lain, seorang pemuda berambut ikal meletakkan sebuah patung lilin setinggi 20 senti meter di atas meja bercat putih. Patung tersebut adalah karakter Jenderal Luo Mian yang sengaja dipesan olehnya sebagai hadiah ulang tahun Chen Jia. Pria muda itu lalu duduk di tepi ranjang besi sambil memperhatikan wajah seorang anak muda lainnya yang terbaring dalam keadaan koma. Keadannya tak jauh beda dengan kondisi Ryana Zhang.
"Jia Di, sudah setahun lebih keadaanmu tidak juga ada perubahan." Chen Xuan mendesahkan napas panjang. "Bangunlah! Aku memiliki hadiah kecil untukmu."
Chen Xuan menatap patung lilin yang ia pesan secara khusus kepada pengrajin patung, hanya demi memberikan hadiah ulang tahun bagi sepupu lelakinya. Selama ini, Chen Xuan merasa sungguh kesepian tanpa Chen Jia.
"Jia'er ... tahukah kamu? Betapa sedihnya nenek kita sejak kamu begini." Chen Xuan menatap sedih ke arah seorang wanita tua yang sedang memegangi tangan Chen Jia sambil terus menangis.
Di sisi ranjang yang lainnya, seorang nenek dengan rambut putihnya yang panjang terlihat sedih hingga terus menangis sambil menyebut nama anak muda yang terbaring di hadapannya. Wanita itu terlihat lebih kurus sejak kejadian yang menimpa sang cucu.
"Jia'er ... kapankan kamu akan bangun? Sudah lebih dari satu tahun kamu tertidur, tanpa sekalipun bangun." Nenek tua bertanya di sela isak tangisnya.
"Bersabarlah, Nek! Kita semua juga berharap Jia Didi segera terbangun." Chen Xuan merangkul dengan lembut bahu sang nenek.
"Tenanglah, Nek! Kita doakan saja, semoga Jia'er segera sadar dari komanya," bisik Chen Xuan kepada sang nenek.
"Xuan'er, untungnya masih ada kamu yang menemani nenek. Kalau tidak, bagaimana nenek bisa bertahan?" Mu Nian kembali menangis.
"Neek, bukankah masih ada aku dan saudari-saudari sepupu yang lain?" Chen Xuan berusaha untuk menghibur sang nenek.
"Tapi nenek ingin semua cucu nenek berkumpul," ujar Mu Nian sambil menyeka air matanya.
Chen Xuan tidak bisa berkata apa pun lagi, selain daripada berkata, "Kita hanya bisa berdoa saja, Nek. Semoga Jia'er segera terbangun."
Keduanya kemudian saling terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Mereka tidak pernah tahu, apa yang sedang dialami oleh Chen Jia di alam yang sedang dia tempati
Alam kultivasi atau The Realm Of Cultivation adalah dunia tak kasat mata yang kejam. Seperti yang sekarang dikerjakan oleh Qiu Xueyin sebagai author kedua dari karya tersebut.
Bagaimana dan apa saja rencana Qiu Xueyin terhadap novel The Realm Of Cultivation?
Bagaimana dan apa saja rencana Qiu Xueyin terhadap novel The Realm Of Cultivation? Mari kita ikuti rencana rencananya. Pria yang diketahui sebagai kawan dari Ryana Zhang ini, tengah disibukan dengan menyusun kerangka cerita. Tentu saja, apa pun yang akan ditulisnya akan berakibat pada sang kawan.
Malam hari di dunia moderen adalah siang hari di alam kultivasi yang ditinggali oleh Ryana Zhang dan Chen Jia. Jika Qiu Xueyin saat ini baru saja mengunggah beberapa chapter sekaligus, itu juga akan yang akan dialami oleh sahabatnya. Walau hidup manusia bagai dipermainkan oleh garis nasib yang telah tercatat di langit, tetapi tetap masih ada secercah harapan bagi setiap insan.
Qiu Xueyin menatap layar komputer yang masih berada di halaman novel 'The Realm Of Cultivation' sambil berkata dalam kessndiriannya. "Ry, aku baru saja mendengar kabar, kalau ada salah satu salah satu penggemar karyamu yang saat ini juga tengah terbaring di rumah sakit yang sama denganmu."
"Dari yang aku dengar juga, dia mengalami koma setelah mendapat komentar yang membuatnya terkejut. Meskipun perbuatannya bisa dikatakan salah, akan tetapi hukum juga tidak akan bisa menuntut orang yang sedang dalam keadaan antara hidup dan mati." Qiu Xueyin mendesahkan napas hingga beberapa kali sembari melepaskan tangannya dari kepala mouse laptopnya.
"Mengapa kalian bisa secara hampir bersamaan mengalami koma hingga setahun ini?" Qiu Xueyin bertanya kepada dirinya sendiri yang tentu saja tidak akan pernah mendapatkan jawaban. "Bagaimana kalau aku masukan sepupu dari temanku itu masuk ke dalam salah satu main character? Lagi pula, aku memang sedang membutuhkan nama untuk karakter kultivator yang bisa mengubah gambar dalam lukisan menjadi hidup."
Qiu Xueyin tersenyum sendiri setelah mendapatkan nama untuk tokoh yang ia namai sebagai tokoh over power yang memiliki kekuatan bisa menghidupkan gambar menjadi sesuatu yang akan membantu protagonis mencari keadilan yang seharusnya ia dapatkan.
"Bukankah itu bisa menjadi sebuah ide bagus?" Qiu Xueyin tersenyum sendiri Sembari mengetik sebuah nama. "Chen Jia."
"Chen Jia dari Keluarga Chen," bisik Qiu Xueyin. "Ternyata dia adalah sepupu dari Chen Xuan."
...bersambung...