The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
PERTUKARAN



Kau ini, selalu saja menggoda ayah dan ibumu. Katakan! Mengapa kau masih memakai baju ini saat menemui kami?" ujar Wen Su seraya menuangkan seduhan teh putih dari Hangzhou dengan sangat hati-hati.


"Benar sekali. Ayah jadi bingung, kau ini menghadap ayah sebagai putri ayah atau sebagai jenderal muda Negeri Zhu?" Zhou Weiyang akhirnya menemukan sesuatu yang tepat untuk dia jadikan topik pembicaraan.


Zhou Yunyang tidak segera menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kedua orang tuanya. Gadis itu malah asyik sendiri membayangkan dirinya sedang bersama Luo Mian. Hal itu membuat Wen Su dan Zhou Weiyang saling berpandangan satu sama lain.


Kedua orang tuanya pun kembali berpandangan. Akhirnya mereka pun tahu apa yang sedang putrinya ini pikirkan. Zhou Weiyang dan Wen Su memang mengetahui, jika anak mereka ini sangat menyukai Jenderal Luo Mian sejak mereka masih anak-anak. Hanya saja, Luo Mian bagai tak memedulikan perasaan anak mereka ini.


"Yunyang." Wen Su memanggil dengan suara lembut namun tak juga ada sahutan. "Yunyang anakku, ada apa?"


"Yunyaaang!" Zhou Weiyang memanggilnya dengan suara cukup keras hingga yang dipanggil menjadi tersentak.


"Luo Ge!" seru Zhou Yunyang tanpa sadar.


"Luo Ge?" tanya Zhou Weiyang dan Wen Su secara bersamaan. Kedua orang tua gadis belia itu kembali berpandangan, sedangkan Zhou Yunyang pun menjadi terkejut karenanya.


"Eeehh, maksudku! Maksudku ...."


"Oh! Apa yang aku katakan tadi?" Zhou Yunyang berteriak dalam hati. Dia sungguh merasa bodoh dan malu atas kelakuannya baru saja. Wajah gadis itu pun merona seketika.


"Fuma, silakan!" Wen Su mengangkat salah satu cawan dan memberikannya kepada Zhou Weiyang.


"Terima kasih, Furen," sahut Zhou Weiyang seraya menerima cawan porselen yang masih menggantung di udara dalam genggaman tangan istrinya.


"Yunyang." Wen Su juga memberikan seduhan teh yang sama kepada putrinya yang masih merasa malu. Yang diberi cawan teh masih juga tidak menerima pemberian dari sang ibu dan Wen Su pun hanya meletakan cawan itu di hadapan Zhou Yunyang secara hati-hati. "Yunyang minumlah dulu! Tidakkah kau merasa haus?"


"Oh. Terima kasih, Ibu." Zhou Yunyang seperti baru saja tersadar. Dia segera menyambar cawan porselen yang ada di depannya dan meneguknya secara langsung. Rasa panas yang masih cukup menyengat berhasil membuat gadis itu menyemburkan keluar teh dalam mulutnya.


"Panas!" pekik Zhou Yunyang dengan lidah terjulur disertai desis-desisan kecil.


"Heeeh. Ternyata jenderal kami ini masih saja suka ceroboh. Untung saja itu bukan dalam sebuah peperangan." Zhou Weiyang berucap dengan nada santai. "Katakan! Apa yang membuat anak tercinta seorang Zhou Weiyang ini menjadi begitu kacau?"


"Maaf, Ayah dan Ibu!" Zhou Yunyang merasa sangat ceroboh kali ini. Untung saja air semburan dari mulutnya tidak mengenai kedua orang tuanya.


"Apakah kau baru saja bertemu dengan sekelompok penjahat, hingga membuatmu jadi sangat kacau begini?" bertanya sang ayah sambil menatap dengan heran ke arah putrinya.


"Kau ini! Mengapa masih tidak berhati-hati." Wen Su memperingatkan. Wanita itu mengambil sepotong kain lap yang bersih dan lembut untuk menyeka mulut anaknya. "Berulang kali kau lakukan hal yang sering membuatmu berantakan sendiri."


Zhou Yunyang mengerucutkan mulutnya. "Maaf, Ibuuu."


"Kau ini adalah putri seorang menteri. Seharusnya tingkah lakumu lemah lembut seperti sekayaknya para putri bangsawan yang lain." Wen Su menasihati putrinya. "Jangan mempermalukan kami dengan tingkahmu ini!"


"Meski begitu, Yunyang. Kau tetap harus membiasakan dirimu dengan bersikap lemah lembut." Wen Su memang harus sangat bersabar dalam membimbing putrinya ini. "Terlebih lagi, kau adalah wanita yang suatu saat akan menikah."


"Ibuuuu! Justru karena itulah aku harus begini. Bukankah aku harus menyesuaikan diri dengan Luo Ge?" ujar Zhou Yunyang tanpa memikiran ucapannya. "Maka dari itu, aku harus terus berlatih keras agar bisa mendampinginya kelak!"


"Oohh, jadi putri kami ini juga sedang memikirkan calon suaminya?" Zhou Weiyang balik menggoda seraya meniup pinggiran cawan agar sedikit mendingin, lalu menyesap dengan lembut kehangatan dan kesegaran Teh Sumur Naga dari tangan Wen Su. Sesekali pula, ekor matanya diam-diam melirik ke arah wanita yang telah menjadi pendampingnya selama belasan tahun ini.


"Pantas saja kami seperti tidak tampak bagimu, meskipun kami tepat berada di hadapanmu." Wen Su kali ini yang berkata sambil tersenyum dan meraih sebutir buah apel, lalu mengupasnya dengan sebilah pisau kecil.


"Kalau begitu, kita nikahkan saja mereka secepatnya." Zhou Weiyang tiba-tiba mengatakan hal yang membuat pisau di tangan Wen Su tergelincir dan tentu saja melukai salah satu jari kiri wanita itu.


Meskipun rasa sakit berhasil membuatnya sangat terkejut, tetapi Wen Su tak ingin kedua orang itu melihat luka sayat di jarinya. Dia pun segera menyembunyikan tangan secepat mungkin di bawah meja, lalu mengelap darah yang menetes keluar dengan ujung selendangnya.


"Apa yang Ayah dan Ibu bicarakan?" Zhou Yunyang merasa malu hingga wajahnya memerah serupa apel. "Aku hanya sedang memikirkan mengapa dia belum juga kembali hingga saat ini?"


"Jenderal Luo Mian itu adalah pemimpin Divisi Singa Liar Gunung. Tentu saja dia akan sering bertugas dengan berpatroli mengelilingi wilayah-wilayah terpencil untuk memastikan keamanan negeri ini. Mengapa pula kau masih mempertanyakan tetang hal itu?" Zhou Weiyang balik bertanya.


Raut wajah Zhou Yunyang terlihat sangat tidak senang dengan ucapan ayahnya. Gadis itu dengan secepat kilat menyambar sekeping kue kering, memasukan ke dalam mulutnya dan mengunyah makanan gurih tersebut dengan geram. Kenikmatan kue khas dari Negara Wen pun, seperti tidak lagi terasa di lidah gadis belia itu.


"Itulah yang aku tidak suka saat dia diangkat menjadi pemimpin Divisi Singa Liar Gunung," ucap Zhou Yunyang dengan wajah masam.


"Lalu, apakah kau ingin ayahmu ini menariknya kembali untuk dipindahkan ke divisi lain?" Zhou Weiyang bertanya sembari mengulurkan cawan ke arah Wen Su agar diisi kembali.


"Ayah pikirkan saja sendiri!" Gadis itu kemudian meraih lengan ayahnya dan bergayut manja. "Ayaaah, bisakah Ayah lakukan hal itu untukkuuu?


"Ayah, tolonglaaah! Bukankah Luo Ge hanya akan mendengarkan perintah dari Ayah saja?" Zhou Yunyang berusaha membujuk sang ayah agar melakukan pertukaran.


Zhou Weiyang mendesahkan napas berat, lalu berkata dengan suara lembut. "Yunyang. Bukan ayah tidak mau mengabulkan permintaanmu itu, tetapi kau pikirkan saja sendiri dengan baik. Kalau kita juga membutuhkan orang seperti dia untuk memimpin divisi rahasia itu."


"Tapi, Ayah! Bukankah ada orang lain yang bisa melakukannya?" Zhou Yunyang tetap mencoba agar sang ayah bersedia membuat Luo Mian bisa bertukar posisi.


"Memang ada, tetapi Luo Mian sendiri yang menolak tawaran pertukaran itu," ujar Zhou Weiyang.


"Apa? Luo Ge yang menolaknya?"


"Bukan hanya menolak. Tetapi dia juga berniat mengundurkan diri dari posisinya sekarang ini jika ayah menukar posisinya." Zhou Weiyang akhirnya mengemukakan alasannya. "Dan dipihak lain, ayahmu ini tidak ingin kehilangan seorang jenderal berbakat seperti dia."


Zhou Yunyang berpikir. "Dia bahkan berani mengancam dengan hal semacam itu. Aneh ...."


...Bersambung...