The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
HANYA SENDIRI



Pria itu beralih menatap putrinya dengan penuh kasih sayang sambil mengangkat dagu Zhou Yunyang yang memiliki wajah sama persis dengannya. Pria itu dengan suara lembut berkata, "Maka ayahmu ini yang akan membuat ibumu tersenyum untukmu."


"Benarkah itu, Ayah?" Kedua mata Zhou Yunyang tiba-tiba berbinar.


"Tentu saja. Apakah kamu meragukan ayah?" tanya Zhou Weiyang sambil tersenyum.


"Baiklah. Aku percaya Ayah! Sekarang juga aku pergi, Ayah!" Zhou Yunyang segera melepaskan pelukan setelah mendaratkan sebuah ciuman di pipi sang ayah tercintanya.


"Selamat tinggal, Ayaaaaah! Jangan lupa sampaikan maaf dan kata sayangku pada ibuuuu!"


"Pergilah!" Zhou Weiyang melambaikan tangan pada putrinya yang telah berlari ke luar dari pintu utama taman tersebut.


Hari itu juga, Perdana Menteri Kiri Zhou Weiyang akhirnya dengan berat hati melepaskan kepergian putrinya demi mencari keberadaan Jenderal Luo Mian yang dikabarkan belum juga kembali setelah sidang istana bulanan berlalu. Sekarang dia juga masih harus melakuakn satu hal, yaitu meluluhkan hati Wen Su agar merelakan anak gadis mereka pergi mencari cintanya.


Zhou Weiyang menatap pintu setengah lingkaran tak berdaun yang dilewati oleh Zhou Yunyang. Wajah tampannya terlihat sedikit menampakkan kemuraman, akan tetapi hal itu juga tidak mengurangi keindahannya sama sekali.


"Semua wanita sungguh merepotkan!" Zhou Weiyang menggerutu dalam hati akibat pertentangan yang terjadi antara dia dan istrinya kali ini. Namun, dia juga tidak bisa mengingkari jikalau yang dikatakan oleh Wen Su juga benar adanya.


"Menjadi sekuntum bunga memang haruslah anggun dan bermartabat," gumam Zhou Weiyang sambil terus melangkah menapaki jaln setapak taman bunga yang berdasar batu-batu kerikil yang memiliki bentuk sama rata dengan permukaan halus. "Anggun dan bermartabat ...."


Terbayanglah kembali wajah Selir Li yang sangat jelita dan berhasil merampas cinta pertamanya, akan tetapi bayangan kecantikan Wen Su pun membuatnya mulai memikirkan cara untuk meninggalkan keindahan semu yang selama ini telah menipunya.


"Dia memang begitu indah dan membuatku bagaikan kecanduan suatu kenikmatan yang tidak aku dapatkan dari wanita mana pun, tetapi saat melihatnya ...."


"Apa yang kau pikirkan, Weiyang!" Zhou Weiyang merasa kesal pada dirinya sendiri yang mulai merasa sedikit bodoh. Dia pun bergegas menuju ke kamar Wen Su dan mendapati wanita itu tengah menangis dengan seorang pelayan pribadin yang sangat setia mendampingi sang nyonya.


Wen Su duduk di depan cermin perunggu berbentuk bulat telur dan menangis bertumpu pada meja rias kecil di hadapannya. Semua yang ia kenakan mulai dari perhiasan yang melekati rambut dan tubuh wanita itu, sudah terlepas serta berserakan di atas lantai kamar. rambut panjang terurai lepas pun, terlihat begitu berantakan, tetapi justru hal itulah yang membuat Zhou Weiyang menjadi tercekat.


Sepasang mata pria itu bagai tak ingin berkedip, saat melihat dengan sangat jelas pakaian hanfu lapisan terdalam yang menampilkan lekukan demi lekukan tubuh istrinya yang berliku dan mendaki. Lelaki itu pun tak bisa mengingkari, jika kejantananya pun perlahan tak bisa terlalu pulas di sarangnya. Tetapi saat teringat akan niat awal ia datang adalah untuk memamitkan Zhou Yunyang, maka hasrat itu pun ditekan sekuat hati.


Zhou Weiyang belum membiarkan dirinya masuk ke dalam ruangan, dia masih memberi kesempatan kepada pelayan wanita untuk menghibur sang nyonya. Pelayan itu juga masih belum menyadari akan kedatangan tuannya yang berdiam diri di belakang kedua wanita berbeda kedudukan tersebut.


"Nyonyaaa ... mohon tenanglah! Mungkin saja nona memiliki sesuatu yang sangat menganggu pikirannya, sehingga nona harus pergi sendiri mencari Jenderal Luo." Wanita pelayan yang tak lebih tua dari sang nyonya berusaha membujuk.


"Bagaimana aku bisa tenang? Aku di ini hanya memiliki dia saja sebagai keluargaku!" Wen Su berteriak di sela isak tangisnya. "Aku merasa sendiri di siniiii!"


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya si pelayan wanita dalam hati dan merasa sangat kebingungan. Bagaiman cara menenangkan nyonyanya ini?


"Nyonya jangan berkata begitu. Bukankah masih ada Yang Mulia Tuan Menteri" Sang Pelayan memang tidak mengetahui apa yang terjadi di antara pasangan majikannya ini. "Tuan Menteri pasti akan menjaga Nyonya dengan baik."


"Tapi, Nyonya ...."


"Pergi kataku! Aku ingin sendiriiii!" Wen Su kembali berteriak sambil melemparkan sebuah guci tempat bunga yang ada di samping cermin. Benda itu melayang mengenai tembok dan hancur seketika.


"Oh!" Pelayan wanita itu merasa bingung namun juga tidak menolak perintah sang nyonya, dia pun segera berbalik ingin meninggalkan kamar tersebut karena Wen Su telah mengusirnya. Wanita pelayan itu sangat terkejut saat melihat kehadiran sang tuan yang langsung memberi isyarat agak pelayan itu diam dan segera pergi dari kamar tersebut.


Wanita pelayan menganggukan kepala, lalu berjalan sambil menunduk saat melewati Zhou Weiyang yang masih anggun berdiri di tempatnya semula. Zhou Weiyang sendiri segera masuk dan mendekati istrinya. Namun pria itu masih memilih untuk tetap diam tanpa bersuara sedikit pun dan sengaja tidak menempatkan dirinya di hadapan Wen Su.


"Apa bagusnya dengan membicarakan pria yang sudah dirasuki setan iblis wanita itu?" Wen Su berkata dengan suara keras guna melampiaska sakit hatinya. "Dia bahkan mungkin akan mengijinkan anak itu pergi dan meninggalkan aku sendiri di sini!"


Wen Su bangkit dan lagi-lagi melemparkan benda pecah belah untuk melampiaskan kemarahannya. Dia bahkan tidak menyadari akan adanya pria yang tengah berusaha menghindari lemparan demi lemparan yang hampir saja mengenai Zhou Weiyang. "Wanita murahan, memang hanya pantas untuk laki-laki rendahan sepertinya!"


Zhou Weiyang yang mendengar semua perkataan Wen Su hanya berusaha meredam gejolak perasaannya sendiri. Hal itu memang sangat benar dan pria itu tidak mengingkarinya sama sekali. Entah kekuatan apa yang mendorong hati pria ini, tiba-tiba saja dia bergerak cepat memeluk Wen Su.


"Jangan sentuh akuuuu!" Wen Su berteriak demi mendapatkan sentuhan dari seseorang yang tidak diketahui kedatangannya, Wen Su memberontak dengan sekuat tenaga. Dia bahkan sampai menggigit lengan Zhou Weiyang.


"Furen! Furen, tenanglaah!" seru Zhou Weiyang sambil menahan sakit dari gigitan istrinya.


"Furen ... dia sudah pergi." Kalimat yang diucapkan Zhou Weiyang terdengar bagaikan gelegar petir yang menyambar telinga Wen Su.


"Fumaaaa!" teriakan dari bibir Wen Su terdengar sangat pilu. Wanita cantik dengan segunung kisah sedihnya itu merasa sangat keberatan dengan kepergian anak gadisnya. "Aku sudah mengira, kalau kau akan membiarkan dia pergi!"


"Furen ... maafkan aku yang telah mengijinkan anak itu pergi." Zhou Weiyang semakin mempererat dekapannya dan membiarkan Wen Su menggigit lengannya hingga wanita itu merasa puas melampiaskan amarahnya. Setelah gigitan istrinya terlepas, Zhou Weiyang membalikkan badan Wen Su dan memegang kedua bahu, akan tetapi sang istri segera menepisnya dengan rasa jijik.


Wen Su membentak, "Jangan sentuh aku! Tanganmu terlalu kotor untuk menjamah bunga bermartabat tinggi sepertiku!"


"Su-Su!"


"Di mataku kau hanyalah lalat yang hanya menyukai bau busuk dari bunga bangkai dan tidak akan pernah tertarik pada bunga yang menebarkan aroma harum sekalipun!"


"Su-Su, aku ...."


Zhou Weiyang merasa jikalau dia juga tidak pantas menyentuh wanita seanggun dan semurni Wen Su. Tangannya terlalu kotor akibat terlalu sering menyentuh kemolekan tubuh wanita lain yang bergelar selir dan merupakan selingkuhannya.


"Aku benci kau Weiyaaang!"


...Bersambung...