
Ketika aku membuka mata, Pita dan Elle tengah menatapku dengan mata merah. Mereka pasti menangis karenaku. "Kalian tak apa?"
Pita yang memang mudah panik langsung menangis. "Pita, jangan menangis. Aku baik-baik saja." Ujarku, berharap ia berhenti menangis. "Apa papa tahu?"
Pita menggeleng sambil menghapus air matanya. "Kalau nona tak bangun tadi kami ingin menghubungi Duke. Apa nona yakin baik-baik saja?"
Aku mengangguk dan duduk di atas kasur. "Sudah berapa lama aku pingsan?"
Kali ini Elle menjawab, "baru beberapa jam nona."
Aku mengangguk, "pantas saja aku lapar."
Pita dengan segera menghapus sisa air matanya. "Tenang nona, saya akan membuat pasta kesukaan nona! Ayo, Elle bantu aku."
"Kami pamit dulu, nona bisa beristirahat lagi." Ujar Pita sebelum keluar dari kamarku.
Aku kembali mengingatkan apa yang terjadi di kuil. Meski rasanya tak mungkin, namun nyatanya aku bertemu dengan Celine. Aku memejamkan mataku, bersandar pada kepala kasur. Jadi Celine, aku, dan Lalisa adalah orang yang sama. Tak penting siapa aku, saat ini yang penting adalah menjalani kehidupan yang diberikan padaku. Ini kesempatanku untuk bahagia. Juga kesempatanku mendapatkan cinta yang tak didapatkan oleh Celine dan Lalisa.
Aku memegang dada kiriku, merasakan detak jantungku. Kali ini, aku akan bahagia. Kali ini, aku akan mendapatkan cinta yang aku harapkan. Betapa jahatnya karena aku harus melalui tiga kehidupan untuk mendapatkan sebuah permintaan sederhana. Namun, apa dicintai benar-benar sebuah permintaan yang sederhana?
Entahlah. Aku hanya tahu jika di kehidupan ini pun aku harus tetap berjuang. Suara ketukan pintu membuatku membuka mata. "Masuklah Pita."
Pita masuk bersama Elle membawakan makan malam untukku. Malam ini aku harus sembuh dan beristirahat. Besok, ada banyak hal yang harus aku cari tahu lagi. Terutama soal silsilah kerajaan dan tiga bangsawan.
"Pita, Elle, kejadian hari ini tak ada yang boleh tahu. Katakan saja aku kelelahan karena perjalanan jauh, mengerti?" Keduanya mengangguk dan aku melanjutkan makan malamku.
"Kalian sadar bahwa Pangeran Pertama akan berulang tahu sebentar lagi, bukan?" Raja berujar pada tiga pria dihadapannya. Salah satunya adalah Duke Lancaster.
Seorang pria di samping Duke Lancaster mengangguk paham. Ia adalah Duke Hamilton, pemegang kekuasaan di daerah Loftnavor. "Tentu kami tahu, Yang Mulia. Ulang tahu Pangeran kali ini istimewa sekali karena Pangeran sudah memasuki usia legal."
Raja mengangguk, "itu sebabnya aku ingin mendiskusikan mengenai pernikahan. Bagaimana menurut kalian?"
Pria berambut biru si pemegang kekuasaan di daerah Pavienavor menatap lurus ke arah Duke Lancaster. "Saya setuju soal pernikahan, bagaimana pun Pangeran pertama perlu menikah untuk menjadi seorang raja."
"Masih terlalu dini untuk membuat keputusan mengenai raja selanjutnya. Yang Mulia Raja masih sehat dan saya berdoa untuk keselamatan Yang Mulia." Duke Lancaster menjawab. Ia tak suka mendengar ucapan dari Duke Prada. "Yang Mulia, saya percaya bahwa Tujuh Pangeran Yerkink memiliki kemampuan yang sama, untuk itu jika memberikan gelar Putra Mahkota hanya berdasarkan kelahiran rasanya tak adil."
Duke Prada tersenyum, "kau meragukan kemampuan Pangeran pertama Duke Lancaster?"
Duke Lancaster langsung menggeleng dengan cepat. "Bagaimana bisa? Tanpa mengurangi hormat saya, saya tahu jika Tujuh Pangeran memiliki kemampuan yang mumpuni sebagai Raja. Oleh sebab itu, Yang Mulia tolong pertimbangan penerus anda berdasarkan kemampuan. Berikan kesempatan pada Pangeran yang lain."
Ada jeda yang panjang sebelum Duke Lancaster menjawab. Duke Hamilton hanya dapat menatap Raja dan Duke Lancaster bergantian. Ia tak menyukai suasana ini. "Yang Mulia, saya rasa putri Duke Lancaster masih terlalu muda untuk masuk ke istana. Jika membicarakan putri yang cocok masuk ke istana, bukankah putri Duke Prada lebih cocok?"
Raja kini menoleh, menatap Duke Prada yang menunduk. "Sebuah kehormatan bagi saya."
"Hm," Raja tak menjawab secara langsung. Pria itu kini tengah berpikir, "aku tahu. Setelah mempertimbangkan saran dari kalian, aku akan mencarikan istri untuk Tujuh Pangeran. Dengan begitu tiap mereka mendapat kesempatan untuk menjadi Raja."
"Yang Mulia!" Seru Duke Lancaster dan Duke Hamilton bersamaan.
Raja hanya tersenyum, ia kini bangkit dari duduknya. "Umurku tak akan semakin muda, Duke. Setidaknya jika aku harus melihat salah seorang putraku menjadi Raja, aku ingin melihat mereka telah menikah juga. Kalian bisa pergi, surat perintah soal pernikahan ini akan segera aku sebarkan."
Duke Lancaster langsung terduduk, wajahnya terlihat tak senang. Di sampingnya, Duke Hamilton hanya menepuk pundaknya. "Aku tarik kata-kataku yang menginginkan anak perempuan."
Ucapan itu langsung dibalas dengan tatapan tajam. "Kau mau bertarung denganku? Saat ini juga?"
Dengan itu Duke Hamilton langsung membuat gerakan menutup mulutnya. Sedangkan Duke Prada berdiri dengan senyum kemenangan. "Kalau begitu, aku permisi."
Saat pintu tertutup, Duke Hamilton langsung menatap Duke Lancaster. "Sudah jelas bahwa lelaki itu ingin kekuasaan sebagai anggota keluarga kerajaan. Kau tahu, aku rasa ini salah satu cara Raja agar lelaki serakah itu berhenti."
Duke Lancaster hanya dapat menghela napas. "Aku tak peduli dengannya, namun jika ia mengkhianati kerajaan aku sendiri yang akan menebas kepalanya."
Duke Hamilton tahu bahwa Duke Lancaster tak bermain-main dengan perkataannya. "Sekarang, katakan kenapa kau tak suka ide pernikahan ini?"
Duke Lancaster kembali menghela napas. Sudah lama Duke Hamilton tak melihat wajah gusar sahabatnya ini. "Amabel bilang ia tak ingin masuk ke istana."
"Kenapa? Bukankah kebanyakan gadis ingin masuk ke istana dan menjadi permaisuri." Balas Duke Hamilton heran.
Duke Lancaster mengusap wajahnya, "dia tak berpikir untuk menikah."
"Hah?" Baru kali ini Duke Hamilton mendengar hal seperti ini. "Aku tahu putrimu itu anak yang cerdas. Aku yakin pasti ada alasan di balik keinginan itu."
Kali ini Duke Hamilton mendekatkan wajahnya. "Jadi, apa alasannya?"
"Dia ingin hidup sebagai putriku selamanya." Jawaban itu membuat Duke Hamilton menahan tawanya.
"Kau memiliki putri yang menarik. Percaya padaku, ia akan menjadi kandidat terbaik." Duke Hamilton mencoba menenangkan Duke Lancaster. Tangannya kemudian menepuk pundak sahabatnya sambil berdiri. "Jangan terlalu gusar, bagaimana pun putrimu pasti mengerti."
Duke Lancaster lagi-lagi menghela napas. Ia menatap lurus ke depan. Sungguh, ia tahu jika Amabel akan paham hanya saja rasa tidak rela itu muncul. Istana bukan tempat yang aman untuk Amabel.