
Rumah keluarga Lancaster akhir-akhir ini disibukkan dengan persiapan pesta kedewasaan putri satu-satunya, Amabel. Padahal masih ada waktu selama satu bulan, namun persiapan sudah dimulai. Ella dan Pita sibuk mempersiapkan menu yang akan disajikan. Mary sibuk memilah gaun dan perhiasan. Saking banyaknya, Amabel rasa ada sepuluh gaun yang datang ke rumah untuk dicoba.
Berbeda dengan mereka, Alec dan Eli malah sibuk mencari kekasih. Bagaimana pun mereka khawatir akan permintaan Amabel. Sejujurnya Alec tak terlalu memikirkan pernikahan. Saat ini menjadi kepala keluarga sekaligus Duke sudah membuatnya sibuk luar biasa. Namun, di sisi lain ia pun sadar bahwa jika pernikahan Amabel nanti dilaksanakan dan dirinya datang tanpa pendamping pasti akan menimbulkan masalah. Hanya saja mencari kekasih itu tidak mudah. Rasanya Alec ingin menyerah saja. Lebih mudah mengawasi Plodnavor dibanding mencari kekasih.
Eli juga sama pusingnya dengan Alec. Satu-satunya perempuan yang ia kenal hanya Clarissa. Namun, perempuan itu sudah menikah. Setiap hari yang dilakukannya hanya menghela napas. Soal ketampanan dan kecerdasam putra Lancaster tentu tak perlu dipertanyakan. Akan tetapi, meski ada beberapa perempuan yang mendekati belum ada yang membuat mereka nyaman.
Hingga di suatu sore saat Amabel berlatih memanah, Alec dan Eli menghampiri. Wajah keduanya terlihat pasrah dan frustasi di saat yang sama. Amabel sampai heran. Ia melangkah, menghampiri kedua kakaknya dengan tatapan bingung. "Ada apa? Kalian terlihat banyak pikiran."
Gadis berambut perak itu menarik bangku dan duduk menghadap keduanya. Eli menghela napas, tangannya mengacak rambutnya asal. "Ulang tahunmu tinggal dua minggu lagi dan kami belum menemukan kekasih."
Amabel terkekeh geli mendengar curahan hati Eli. Gadis itu menepuk puncak kepala kakaknya dengan lembut. Gerakan yang membuat Eli menatapnya seperti seekor anak anjing. "Maka dari itu, aku mohon ganti saja permintaanmu."
Wajah Amabel langsung berubah, senyumnya hilang dan tangannya disilangkan di depan dada. "Payah."
Hanya satu kata namun membuat kedua kakaknya duduk dengan tegak. "Selama ini aku tak pernah meminta apapun, tetapi satu permintaanku tak dapat kalian kabulkan. Aku kecewa." Dengan itu Amabel berdiri dan meninggalkan kedua kakaknya yang hanya dapat saling berpandangan.
Amabel mengetuk pintu di depannya sebelum membuka dan membuka pintu. "Ma? Boleh bicara?"
Mary yang melihat kedatangan Amabel langsung tersenyum dan menutup dokumen di hadapannya. "Tentu. Masuklah sayang." Ia kemudian menatap Jessy--pelayannya. "Tolong siapkan teh dan camilan untuk kami."
Jessy mengangguk kemudian keluar dari ruang kerja Mary. Gadis berambut perak itu memperhatikan ruang kerja ibunya yang dipenuhi buku dan bunga segar. Berbeda dengan ruang kerja ayahnya, ruangan ini terlihat lebih terang. Mary duduk di samping Amabel kemudian tersenyum manis. "Jadi, ada apa putriku datang ke sini? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Amabel menggeleng sambil tersenyum kecil. "Bukan sesuatu yang besar. Ini tentang Alec dan Eli."
Mendengar itu membuat Mary memiringkan kepalanya, wajahnya terlihat bingung. Berbeda dengan Amabel yang terlihat antusias. "Ma, apakah tidak ada yang melamar keduanya?"
Di Plodnavor, jika seorang gadis menyukai seorang laki-laki maka keluarganya akan datang menemui keluarga tersebut dan melamar. Itu hal yang biasa dilakukan. Sedikit banyak Mary paham pembicaraan ini. Kemungkian Amabel tengah mengkhawatirkan kedua kakaknya. "Sebenarnya ada beberapa. Hanya saja keduanya menolak untuk melanjutkan hubungan, bahkan beberapa kali tak ingin menemui keluarga perempuan. Apa Bel khawatir?"
Amabel mengangguk. Tak ada gunanya berbohong. "Rasanya aneh jika aku harus menikah lebih dulu sementara kakak bahkan belum memiliki kekasih. Padahal keduanya memiliki semua yang perempuan cari. Maksudku, mereka tampan, pintar, jago bertarung, dan memiliki kekuasaan! Soal uang tentu bukan sesuatu yang harus dipertanyakan lagi. Jadi, kenapa belum punya kdkasih? Sebenarnya apa yang mereka cari?"
Mary terkekeh mendengar curahan hati dari anaknya. Ia menepuk pundak Amabel beberapa kali sebelum berbicara. "Bel, mereka berdua itu tumbuh dengan melihat perkembanganmu. Kamu yang pintar, dewasa, dan mandiri. Mereka tumbuh dengan pemikiran bahwa seorang perempuan harus memiliki tiga hal tersebut. Bagi keduanya seorang perempuan hebat adalah mereka yang bisa mengangkat pedang untuk melindungi diri. Bagi keduanya seorang perempuan anggun adalah mereka yang membaca lebih banyak dan memiliki kecerdasan. Pada akhirnya, kamu menjadi patokan tersendiri atas pandangan ideal seorang perempuan. Nah, saat ini keduanya belum menemukannya. Bel, tak perlu terburu-buru. Dengan sendirinya pasti mereka akan menemukannya."
Hati Amabel terasa tenang setelah mendengar ucapan dari Mary. Ia merasa lega, namun juga merasa malu. Dirinya menjadi patokan tersendiri bagi kakaknya benar-benar membuat malu--dan sedikit senang. Mary menepuk pipi Amabel pelan dengan senyum menggoda. "Bel pun sama seperti mereka bukan?"
Amabel mendongak, tak paham. Mary masih tersenyum, kemudian melanjutkan. "Ketika melihat Alec, Eli, dan papa pasti Bel memiliki pandangan tersendiri pada seorang laki-laki. Pasti saat bertemu Arion pun seperti itu, meski Bel mungkin tak sadar. Bel tumbuh dengan melihat tiga pria hebat. Jago pedang, pintar, berkepala dingin, dan kadang manja. Apa itu ada di diri Arion?"
Melihat wajah anaknya yang bersemu merah membuat Mary tersenyum manis. "Tanpa sadar kita mencari sosok yang sering kita lihat pada diri orang lain. Mama senang karena Bel memilih Arion. Dia laki-laki yang baik dan mama dapat melihat bagaimana Arion begitu menyayangi Bel. Tatapan seseorang tak pernah berbohong."
Tangan Mary menyentuh ujung hidung Amabel. "Putri mama sudah dewasa. Secara legal dan pemikiran. Bel, mama selalu bangga padamu." Tangannya menangkup wajah Amabel dan menyatukan kening keduanya. "Waktu begitu cepat berlalu dan sebentar lagi Bel akan menikah. Terima kasih karena sudah menjadi putri yang baik ya."
Air mata Amabel mengalir begitu saja. Ia memeluk Mary, erat. "Mama, jangan bicara begitu. Bel yang berterima kasih karena sudah dirawat sebaik ini. Terima kasih karena sudah memberikan kasih sayang dan mengajarkan Bel banyak hal. Maaf karena Bel sering bersikap egois. Mama adalah ibu terbaik yang Bel miliki."
Mary mengeratkan pelukannya. Satu-satunya hal yang ia sesali adalah meninggalkan putrinya sendirian selama bertahun-tahun. Mary tak dapat mengembalikan waktu yang hilang, namun ia masih dapat memeluk anaknya erat. Bagi Mary, ini sudah cukup.

Ia menghela napas sebelum membuka pintu ruang kerjanya. Meskipun hanya sebagai staf, namun pekerjaan Elliott sangat banyak. Peraturan tentang pendidikan harus ia selesaikan, ia juga harus pergi ke beberapa tempat dalam seminggu ini. Kepalanya terasa ingin pecah.
"Lancaster! Ayo, kita minum setelah pekerjaan selesai." Seruan itu datang dari Aldric Jevanov, staf dari kementerian pendidikan juga. "Aku sudah mengundang beberapa perempuan cantik dari staf kerajaan. Kau pasti suka!"
Kalau tak ingat permintaan Amabel, sudah pasti Elliott akan menolaknya. "Oke." Jawab Elliott cepat, membuat Aldric melongo.
"He? Kau setuju?" Tanyanya bingung. Aldric biasa mendapat penolakan dari Elliott. "Ah, jangan dijawab. Aku paham. Nanti, kujemput."
Hari itu, entah karena desakan dari Amabel atau bukan, Elliott menemukannya. Seorang gadis berambut hitam legam dengan sorot mata tajam, namun begitu tersenyum berubah menjadi lembut dan manis.
"Hei, mau menikah denganku?" Bukan perkenalan nama yang Elliott tanyakan, namun malah sebuah lamaran.
Gadis berambut hitam itu menatal Elliott bingung, "jangan bercanda."
Buru-buru Elliott menggeleng. "Aku tak pernah bercanda untuk sesuatu yang penting seperti ini." Lelaki itu melepaskan pin berlambang Lancaster dan menaruhnya di telapak tangan si gadis. "Aku akan datang ke rumahmu dan melamarmu."
Kadang sebuah pertemuan membawa pada sebuah takdir yang luar biasa. Katakan Elliott gila karena melamar gadis yang bahkan namanya tak ia ketahui. Hanya saja, cinta memang gila bukan? Bagi Elliott, entah baru bertemu tiga puluh menit, tiga puluh hari, bahkan tiga puluh tahun tak ada bedanya. Sama saja. Jika hati sudah merasa klik, kenapa harus membuang waktu terlalu banyak?
Hari ini Alec menghabiskan waktu bersama Sofia Bennett, adik dari Alberto Bennett. Keduanya menghabiskan potongan daging dalam diam. Semua berawal dari undangan Sofia untuk minum. Alasannya karena kekasihnya memutuskan hubungan mereka.
Sofia memutar gelas wine dengan tatapan jengkel. "Sejak awal dia memang brengsek. Harusnya aku tak jatuh dalam ucapan manisnya. Dia sudah dijodohkan dan masih bermain denganku. Keluarganya tak menerimaku karena bukan golongan bangsawan. Sialan."
Untung saja mereka makan di restoran khusus, tempat dimana hanya orang tertentu yang bisa masuk. Biasanya ini tempat orang-orang dengan status tinggi berada. Berkat Alec, Sofia bisa masuk ke tempat ini. Keduanya adalah teman saat di akademi. Hanya Sofia yang mampu mengalahkan Alec dalam nilai pelajaran dan menjadi musuh para perempuan karena bisa dekat dengan Alec, Alterio, dan Ian.
Sofia menyentuh kedua pipinya yang terasa hangat. Ia menatap Alec dengan pandangan buram. "Jika aku jatuh cinta padamu pasti menyenangkan. Kamu akan menolakku dengan tegas dan jika menerimaku pasti akan memperlakukanku dengan baik. Kenapa ya aku malah jatuh cinta dengan pria macam itu? Padahal ada kamu di dekatku."
Alec sudah terlalu biasa dengan ucapan Sofia yang seperti ini. Tak lagi kaget atau merasa berdebar. Ya, dulu Alec pernah merasakan debaran itu saat Sofia berada di dekatnya. Bukan berarti sekarang sudah tidak, namun ia bisa mengendalikan diri dengan baik.
"Kamu lebih tampan, pintar, jago pedang. Soal kekayaan dan kekuasaan bukan hal yang harus dipertanyakan lagi." Sofia mulai terisak. "Kenapa aku malah jatuh cinta pada si brengsek sih? Hei, Alec! Coba berbicara lebih lembut dan manis."
Alec tak pernah terbiasa dengan orang mabuk meski sering kali mengurusi orang mabuk. Alterio saat mabuk benar-benar parah, dia akan menari dan tertawa kencang. Sementara Ian lebih suka marah-marah, bahkan pada sapu. Sofia yang blak-blakan lebih jujur lagi saat mabuk. Ketiganya selalu membuat Alec pusing dan memilih minum secukupnya. Jika harus memilih, Alec lebih suka minum sendirian di paviliun rumahnya.
"Sudahlah, berhenti menyesal." Kata Alec akhirnya. Ia mulai lelah dan makanannya pun sudah habis. "Cari saja yang lain."
Sofia langsung mendongak, menatap Alec. "Siapa yang mau denganku? Berita bahwa aku adalah perempuan tidak baik sudah tersebar. Tak ada keluarga yang mau berhubungan denganku. Mereka pasti akan menolakku. Ditambah aku sudah setua ini, mereka pasti akan lebih memilih gadis yang lebih muda dan mudah diatur."
Alec menghela napas sambil memijat sisi keningnya. Keduanya bertatapan dalam diam hingga akhirnya Alec berdiri dan mengangkat tubuh Sofia. "Kita pulang."
"Tak mau. Si gila itu pasti masih berkeliar-" ucapan Sofia terhenti secara paksa karena Alec memasukkan potongan ceri ke mulutnya.
"Berisik."