The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Tiga Puluh Sembilan: Rumah



Setelah tiga hari, akhirnya mereka sampai di Plodnavor. Amabel masih mengenakan jubahnya untuk menutupi wajah. Sebelum masuk ke gerbang Plodnavor, gadis itu meminta agar Arion menurunkannya dan tentu saja ditolak. Pada akhirnya mereka berpisah dengan para prajurit dan mengabaikan sambutan rakyat. Keduanya menuju kediaman Lancaster dalam diam.


"Terima kasih." Ujar Amabel dan Arion dapat mendengarnya.


Arion tersenyum. "Aku akan lebih berterima kasih jika kamu berhenti berbicara formal dan memanggil namaku."


"Arion." Amabel menoleh, menatap Arion langsung hingga membuat lelaki itu kaget. Ia kira Amabel tak akan memanggil namanya. Melihat wajah Arion membuat Amabel terkekeh. "Sepertinya lebih baik memanggilmu Pangeran lagi."


Arion langsung menggeleng, meski Amabel tak dapat melihat. "Tidak. Aku melarangmu."


Gadis berambut perak itu mengangguk dengan kekehan pelan. "Baiklah, Arion."


Angin berhembus dan jubah Amabel terjatuh ke pundak. Rambut peraknya bergerak mengikuti angin. "Aku pernah memotong rambutku sampai sebahu."


"Sungguh? Kenapa?"


Amabel menyentuh rambutnya, "saat berlatih rambutku sering tersangkut di dahan pohon. Bahkan aku pernah membakar rambut ini. Akhirnya aku memotongnya. Ah, padahal aku ingin Pita dan Elle melihatnya. Ibuku juga. Mereka pasti akan berteriak heboh."


Amabel tersenyum sambil membayangkan ekspresi wajah ketiganya. Arion dapat melihat mata Amabel yang bersinar, seperti saat mereka pertama bertemu. "Kamu terlihat senang."


Amabel mengangguk. "Tentu. Pada akhirnya aku pulang."


Mereka memasuki gerbang keluarga Lancaster dan akhirnya tiba di pintu utama. Rumah masih terlihat sama. "Yo!" Sapaan itu datang dari Rain saat Arion membantu Amabel turun. "Nona datang lebih cepat ternyata."


Arion menatap Amabel, "siapa?"


Dengan santai Rain menyentuh pundak Amabel. "Rain. Anda pasti Pangeran itu ya? Nona jarang bercerita, tetapi saya tentu tahu." Rain menyentuh dadanya sambil tersenyum. "Di dunia ini saya yang paling mengerti nona."


Amabel langsung menginjak kaki Rain. "Diamlah dan masuk sana."


Rain langsung mendecih, namun ia tentu saja menurut dengan permintaan Amabel. Gadis itu menatap Arion, "dia Rain. Penyihir dari Barat sekaligus guruku."


"Ah," hanya itu yang keluar dari mulut Arion. Ia ingat jika Amabel mengatakan Rain dianggap perempuan, namun tadi jelas sekali bahwa Rain itu laki-laki. "Aku kira dia-"


"Bel!"


"Nona!" Teriakan itu datang dari pintu secara bersamaan.


Amabel tersenyum, "sekali lagi, terima kasih."


Arion mengangguk dan naik ke kudanya lagi. "Sampai bertemu lagi."


Dan Amabel mengangguk. Arion menatap Amabel untuk beberapa saat. Gadis itu tengah dipeluk oleh kedua orang tuanya dan ia tak dapat menahan diri untuk tersenyum. Dari tempatnya, Rain menaikkan tangan untuk menyapa. Arion hanya mengangguk kemudian keluar dari kediaman Lancaster.


"Bel tidak bisa bernapas." Ujar Amabel disela pelukan. "Apa kalian tak ingin membiarkan aku duduk dan memberikan makanan? Bel lapar."


John Lancaster--ayah Amabel--mengangguk. "Ah, putriku pasti lelah. Biarkan papa menggendongmu."


"Ah, papa ini memalukan!" Teriak Amabel, namun John tak peduli. Sudah lama ia tak bertemu dengan putrinya.


Mary tersenyum melihat kelakuan ayah dan anak itu. "Sampaikan pesan pada Alec dan Eli untuk pulang malam ini. Katakan kalau mereka tak langsung pulang, mereka akan menyesal."



Arion sampai di istana dengan sambutan yang meriah. Di pintu utama, Jovanka dan Alterio sudah menunggu. Ia turun dari dari kuda dan Jovanka langsung berlari untuk memeluk putranya. "Akhirnya kamu pulang." Ujarnya sambil memeluk Arion.


Alterio tersenyum pada adiknya dan menepuk pundaknya. "Sekarang jangan pergi lagi. Kerajaan sudah aman."


Jovanka mengangguk dan mengusap wajah putranya penuh kasih sayang. "Benar. Ibu tidak akan memberi izin lagi jika kamu ingin pergi. Sekarang, ayo masuk dan sapa Baginda."


Arion mengangguk dan membiarkan ibunya memeluk pinggangnya sementara Alterio merangkulnya hangat. "Kau tahu, banyak yang berubah. Salah satunya adalah kau belum menikah. Tsk, padahal Noah saja sudah menikah beberapa waktu lalu."


"Jadi, aku sudah punya berapa keponakan?" Tanya Arion, bercanda.


Alterio langsung mengunci leher Arion. "Kami menunggumu."


"Jadi, belum ada keponakan?" Ulang Arion dan Alterio kembali berdecak. "Kakak ternyata payah juga."


Mendengar itu Jovanka menepuk pundak Arion. "Tidak boleh bicara seperti itu. Lagipula, kau yang harusnya ditanya kapan menikah? Ibu mendengar dari Arthur bahwa seorang gadis ikut dalam perjalanan kalian. Siapa? Kau mengkhianati putri keluarga Lancaster?"


Alterio langsung menatap Arion, tak percaya. "Wah, aku tak menyangka kamu seperti ini. Kamu membawa wanita? Dalam perjalanan pulang? Apa dia hamil?"


Jovanka mengangguk, menyetujui ide dari putranya. "Ibu sudah menyiapkan teh dan kudapan. Rio, panggil Hendery dan ajak dia bergabung."


Alterio langsung mengibaskan tangannya. "Tak perlu. Dia sedang rapat, nanti pasti datang setelah selesai."


Ketiganya kemudian melangkah memasuki istana, menuju kamar Permaisuri Jovanka tepatnya. Kabar kepulangan Arion menyebar dengan cepat hingga Hendery memutuskan menyudahi rapat. Elliott yang ada di sana hanya dapat mengikuti perintah dari atasnya, kebetulan ia mendapat pesan dari rumah untuk pulang lebih cepat. Mungkin ibunya berhasil membuat kue sakura atau ayahnya berhasil membawa rusa emas. Atau, Bel pulang?


Elliott berhenti di tempatnya, berkedip beberapa saat. Kemungkian itu ada bukan? Dengan cepat ia berlari menuju pintu utama istana, bersamaan dengan Alec. "Kak? Kau juga mendapat pesan yang sama?"


Alec mengangguk. Kuda mereka dipersiapkan dengan cepat. "Apa menurutmu Bel pulang?" Tanya Elliott dengan wajah cerah.


"Kita tak akan tahu sebelum melihatnya langsung." Alec sudah siap di atas kuda cokelatnya. "Siapa pun yang datang duluan bisa memeluk Bel lebih dulu."


Elliott berdecih mendengarnya. "Curang!" Teriaknya bersamaan dengan tarikan di kudanya untuk mengejar Alec.


Dua saudara itu saling mengejar hingga tiba di rumah dengan napas tersenggal. "Di mana?" Tanya Alec pada seorang pelayan.


Elliott di belakangnya masih mengatur napas. "Bel di mana?"


Pelayan tersebut tersenyum. "Ruang keluarga."


Lagi, Alec dan Elliott berlari. Sama seperti saat pertama kali kembali dari asrama. Keduanya berlomba untuk bertemu Amabel. Pintu keluarga terbuka dan Amabel tersenyum di tempatnya. Elliott tanpa sadar menangis. "Bel!" Teriaknya sambil berjalan dengan tangan terbuka lebar. "Bel! Aku rindu!"


Di tempatnya, Alec masih berdiri dan menatap kehadiran adiknya tak percaya. "Alec, kenapa diam? Tak rindu pada adikmu?" Tanya Mary sambil tersenyum.


Putranya yang selalu menahan diri itu akhirnya maju. Amabel masih dipeluk Elliott saat Alec mengusap puncak kepala adiknya itu. Air matanya menggenang, "kau sudah besar."


Amabel tersenyum. "Aku pulang."


Dengan itu Alec langsung memeluk kedua adiknya erat.



Jika ada yang bahagia akan kepulangan, ada juga yang menangis karena kepulangan. Keluarga Alberto, Briggit, Esmee, Killian, dan Prada menangis karena kepala keluarga mereka dihukum oleh kerajaan. Kelimanya dihukum atas korupsi, penyelewengan pajak, dan penyelewengan kekuasaan. Orang-orang yang terlibat seperti sekretaris keluarga Briggit, kepala pelayan keluarga Killian, dan kaki tangan keluarga Prada juga dihukum mati. Permasalahan ini hanya diketahui oleh keluarga utama. Selain hukuman mati, gelar bangsawan mereka pun dicabut secara paksa.


Hal ini membuat Pavienavor tak memiliki penguasa. Beberapa bangsawan mencoba mencari cara untuk menjadi Duke, namun Raja memutuskan untuk sementara memilih seorang pendeta untuk memimpin Pavienavor. Tentu tak butuh waktu lama untuk membuat berita ini tiba di istana.


Alterio mungkin bahagia dengan kepulangan adiknya, Arion. Akan tetapi, sebagai istri Jeanne malah bersedih karena kepulangan ayahnya, Duke Prada. Ia marah, kenapa harus ayahnya? Kenapa harus diperlakukan tidak adil seperti penjahat?


Kalau bukan karena Duke Lancaster dan Duke Hamilton, ayahnya pasti masih hidup. "Arg!" Teriak Jeanne frustasi. Seluruh barang di atas meja riasnya sudah berantakan di atas lantai.


Ia menatap pantulan dirinya di cermin dan melemparkan sepatunya, membuat cermin tersebut retak. Jeanne sudah tak dapat melihat siapa dirinya di pantulan cermin tersebut. Entah dirinya, atau malah kebencian.


Di kamarnya, Dorothy memeluk bantalnya erat-erat. Ia menangis, menahan suaranya terdengar orang lain. Ia tahu jika ayahnya bukanlah orang yang baik, hanya saja Dorothy tak menyangka jika ayahnya akan mendapat hukuman seberat ini. Jika bukan karena pemilihan Permaisuri, ia pasti akan kehilangan arah. Keluarganya kehilangan harta, kekuasaan, dan status. Tiga hal yang selama ini menjadi hidup mereka. Dorothy hanya mendapat sebuah surat yang menyatakan bahwa keluarganya akan pergi dari kerajaan dan seluruh hubungan darah mereka diputus. Artinya dia bukan lagi seorang Esmee. Meski setelah menikah ia tak dapat memiliki nama itu lagi, namun kali ini dia benar-benar bukan bagian dari Esmee.


Dorothy kehilangan seluruh keluarganya dalam satu hari. Kenapa mereka tak membawanya dan malah membiarkan dirinya di tempat ini? Lagi, Dorothy menangis.


Di balik jendela besar kamarnya Callista menatap taman mawar. Mawar adalah bunga kesukaan ibunya. Hari ini dia mendapat kabar bahwa ayahnya dihukum mati bersama dengan paman dan kakaknya. Setelahnya, ibunya memilih bunuh diri karena tak sanggup hidup sendiri.


Callista menghapus air matanya yang mengalir tanpa dapat ia tahan. Tidak. Ia tak boleh lemah. Sejak masuk ke dalam istana, ibunya sudah mengatakan bahwa apapun yang terjadi dirinya harus kuat. Perempuan itu menarik napas, tangannya menyentuh kaca. Seandainya ia tak masuk ke istana, apa akan ada yang berbeda?


Satu-satunya yang ingin Callista ubah adalah pernikahan. Ia memejamkan matanya, jika ia menikah dengan orang yang ia cintai, apa akhirnya akan berbeda?


Jika saat itu ia tak berhasil di ujian dan memilih Elliott, apa ia akan bahagia? Apa rasa sesak ini akan hilang? Jika itu Elliott, Callista dapat menangis dan mengekspresikan dirinya dengan mudah.


Satu yang mereka tak sadari, menghukum tidak menghentikan apapun. Ada hal-hal yang sudah terjadi dan tak dapat dihentikan. Menghilangkan nyawa pelaku utama bukan menghentikan kejahatan, namun mematik kemarahan.


Kelahiran, pasangan, dan kematian. Tiga hal yang tak akan bisa diubah meski telah berusaha. Rain memahami hal itu dengan baik. Ia telah hidup lebih lama dari manusia lain dan melihat bagaimana keajaiban terjadi. Membawa Amabel pada Arion tak akan mengubah akhir cerita keduanya. Hanya, mengubah hubungan keduanya dapat membuat kekuatan yang baru. Rain tak berharap hasil akhirnya akan berbeda. Ia hanya berharap, meski sebentar keduanya dapat merasakan kebahagiaan.


Bagi Rain, keduanya sudah cukup menderita di masa lalu. Kali ini, di kehidupan ini, meski memang tak dapat bersama Rain ingin keduanya memiliki kehidupan yang bahagia.


"Cih, aku jadi melankolis." Ujar Rain sambil meminum anggur. "Ya, mari nikmati takdir yang berjalan. Mari kita berhenti menjadi Sang Penguasa."



End of Season II