
Akhirnya Amabel hanya berdiam diri sampai waktu makan malam. Ada larangan keluar dari kamar untuk calon istri Pangeran, entah apa alasannya. Amabel bosan sekali, bahkan ia harus makan di kamarnya lagi.
"Kier, kapan ujian pertama diadakan?" Amabel menatap Kier yang saat ini tengah memilihkan perhiasan untuk dipakai Amabel besok.
"Ujian pertama akan diadakan besok." Jawab Kier, kali ini ia tengah menyingkirkan perhiasan yang tak akan digunakan oleh Amabel. "Tiap calon permaisuri akan mengikuti ujian tertulis. Biasanya mengenai pengetahuan tentang kerajaan."
Amabel mengangguk sambil memasukkan satu potong kentang ke mulutnya. "Lalu, selanjutnya ujian apa?"
Kier memeluk buku yang dibawanya di depan perut. Matanya menatap langsung pada Amabel. "Saya kurang tahu, tuan putri. Pihak penyelenggara ujian baru memberitahu saya sehari sebelum ujian dilaksanakan."
Amabel menaruh sendok di depan bibirnya. Menimbang beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, "kenapa kau memanggilku tuan putri sementara Rahel Hutger kau panggil nona, Kier?"
Perempuan di hadapannya langsung tertunduk. "Saya minta maaf, tuan putri."
Amabel tak paham kenapa Kier tak menjawabnya secara langsung. "Katakan Kier, aku tak akan marah."
Perempuan muda itu tersenyum simpul dan memberi kode agar pelayan membersihkan makan malam Amabel. "Saya akan menyiapkan teh untuk tuan putri sebelum tidur. Apa anda ingin mengganti pakaian tidur sekarang?"
Amabel menghela napas. Ia tahu tak akan mudah. Kier terlihat seperti seorang yang akan menuruti perintah. Bagaimana pun kesetiaan seorang pelayan kerajaan tak dapat diragukan. "Ya, tolong bantu aku berganti pakaian."
Setelah pelayan lain keluar dari kamarnya, Amabel berkata dengan lirih. "Kier, ini hanya tebakanku. Tapi, apa mungkin aku sudah pasti terpilih sebagai permaisuri?"
Kier yang tengah membuka gaun Amabel terdiam. Ia kemudian menghela napas, "tuan putri, anda adalah anak seorang Duke. Kami para pelayan diharuskan memanggil tiap calon permaisuri sesuai dengan kedudukan keluarga mereka."
Amabel terdiam. Ah, jadi itu alasannya. Entah kenapa Amabel merasa sedikit lega. "Maaf jika aku terlalu curiga."
Kier kini mengambil sebuah gaun tidur yang terbuat dari satin. "Saya bersyukur anda memiliki kecurigaan tersebut. Itu cara anda dapat bertahan. Syukurlah kalau anda memiliki kecurigaan karena saya akhirnya dapat bernapas dengan lega."
"Kenapa demikian?" Tanya Amabel.
Kier mulai melepaskan hiasan di kepala Amabel, kemudian menyisir rambut peraknya dengan lembut. "Anda terlihat begitu polos dan baik sekali, hingga saya takut suatu hari nanti hal itu akan melukai anda."
Amabel dapat melihat ekspresi wajah Kier dari pantulan cermin. Perempuan itu kembali menatapnya, melalui cermin. "Tapi saya tahu, tuan putri adalah seorang gadis yang pintar. Saya yakin, anda bisa menjadi permaisuri yang baik."
"Pujianmu terlalu berlebihan, Kier." Balas Amabel dengan tatapan mata yang kosong. Tentu begitu berlebihan karena Amabel tak menginginkannya. "Untuk besok, tolong bawakan aku air lemon hangat."
Kier mengangguk. Tangannya kini sibuk membersihkan hiasan wajah Amabel. "Tuan putri harus berusaha untuk menjadi yang terbaik. Saya yakin dengan demikian, keluarga tuan putri akan bangga."
Amabel hanya tersenyum dengan mata tertutup. Dia tak berharap menjadi yang terbaik. Ada banyak putri bangsawan yang memiliki pengetahuan lebih darinya. Sebab itu Amabel tak berharap banyak.
"Sudah selesai nona." Amabel memuka matanya dan kini wajah sudah polos tanpa hiasan apapun.
Kier menepuk tangannya dua kali dan seorang pelayan masuk dengan membawa nampan. Kier langsung menuangkan teh yang dibawa oleh pelayan tersebut. "Minum ini sebelum anda tidur." Kemudian ia juga menaruh segelas air di nakas samping Amabel. "Kalau begitu, kami permisi. Semoga anda diberikan perlindungan dan mimpi indah."
"Terima kasih." Ucap Amabel kemudian keduanya meninggalkan kamar.
Gadis itu tak langsung tidur melainkan membaca buku mengenai empat bangsawan. Entah sejak kapan Amabel mulai tertidur dan bangun karena guncangan pelan dari Kier. Gadis itu mengucek matanya pelan dan duduk di kasurnya. Lehernya terasa sakit karena posisi tidurnya semalam.
"Selamat pagi, tuan putri. Air hangatnya sudah disiapkan." Kier berdiri di sisi Amabel. Tangannya terulur untuk membantu Amabel berdiri.
Sama seperti pagi sebelumnya, Amabel tak tahu bagaimana ia sudah berada di depan cermin untuk didandani. Hari ini rambutnya dikepang dan dibiarkan terjatuh di pundak kanannya. Ia menggunakan anting dengan permata kecil berbentuk matahari. Terdapat kalung dengan batu permata berwarna biru di lehernya, tentu saja kalung tulipnya masih ia gunakan.
Memakai kalung ini leher Amabel serasa ingin copot, berat sekali. Ia ingin meminta Kier untuk menggantinya, namun mata Kier yang bersinar mengurungkan niatnya. "Tuan putri cantik sekali. Kalung itu juga sangat cocok untuk tuan putri. Warnanya sama dengan gaun yang tuan putri gunakan."
Amabel tak memiliki kesempatan untuk meminta Kier membuang kalung ini. "Terima kasih, Kier."
Perempuan itu langsung mengepalkan tangannya, bersemangat. "Untuk kedepannya saya akan memilihkan gaun dan pergi terbaik untuk tuan putri."
Amabel langsung menggoyangkan tangannya, memberikan gerakan penolakan. "Kier tak perlu bekerja terlalu keras, aku yakin apapun pilihan Kier akan bagus."
"Tentu karena tuan putri begitu cantik, hingga pakaian buruk pun dapat terlihat menawan." Balas Kier, kali ini sudah lebih tenang. "Kalau begitu, mari saya antar ke ruang ujian."
Ruang ujian yang dimaksud oleh Kier berada di kawasan utama istana. Sebuah ruang auditorium dengan bangku yang menghadap podium. Ruangannya dikelilingi kaca, hingga orang yang berlalu lalang dapat dengan mudah melihat. Kier mengantar Amabel hingga duduk di bangkunya. Tempat untuk Amabel berada di baris pertama, di depan meja pengawas. Di atas mejanya terdapat alat tulus dan papan nama dirinya.
"Apa tuan putri nyaman dengan tempat ini? Jika tidak, saya bisa meminta mereka menggantinya." Kier berujar setelah melihat Amabel yang mengusap bangkunya tanpa ekspresi.
Mendengar itu Amabel langsung menggeleng, "tidak perlu, Kier. Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir, kau bisa kembali dan melanjutkan pekerjaan."
Kier tampak ragu dan Amabel menangkap keraguan itu. "Kier, kau bisa kembali saat aku selesai dengan ujian sambil membawa kue kering. Aku butuh sesuatu yang manis setelah mengisi soal-soal itu."
Sebuah senyum akhirnya tercipta di bibir Kier. Ia membungkuk kecil pada Amabel, "kalau begitu, saya permisi. Saya akan kembali dengan kue kering sesuai permintaan tuan putri."
Amabel mengangguk dan tersenyum. Gadis itu melambaikan tangannya pada Kier yang terus menoleh, hingga Amabel harus mengusirnya dengan tangan agar Kier mau pergi. Setelah Kier benar-benar pergi, Amabel langsung mengedarkan pandangannya. Tak butuh waktu lama untuk Amabel menemukan Rahel. Gadis itu langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju bangku di baris terakhir.
"Sungguh aneh melihat seorang Rahel Hutger membaca buku di pagi hari." Sapaan dari Amabel membuat Rahel mendongak. Mata gadis itu merah, kemungkinan karena ia tidak tidur. "Apa yang terjadi dengan matamu? Berapa lama kau tidur, Rahel?"
Rahel tak menjawab dan malah memeluk Amabel. "Bagaimana ini, Amabel? Kau tahu betapa aku payah dalam pelajaran, bukan? Aku ini pecinta praktik, bukan tulisan."
Amabel terkekeh, jika Rahel Hutger tidak percaya diri artinya ia ingin menjadi yang terbaik. "Rahel, aku yakin kau bisa melakukannya dengan baik. Kau hanya perlu mengingat, aju yakin kau sudah membaca banyak buku."
Rahel menghela dan kembali membuka halaman bukunya. "Ujian tertulis bukan hanya tentang sejarah, aku yakin mereka akan melihat kemampuan kita untuk menyelesaikan masalah juga. Pasti akan ada soal mengenai pendapat soal masalah di negeri ini."
Tatapan mata gadis itu lurus ke depan. Amabel bahkan tak memikirkan hal itu. Gadis itu menepuk pundak Rahel pelan. "Jangan khawatir, kau pasti bisa."
"Tentu seorang anak Viscount harus khawatir, tuan putri." Ucapan itu datang dari gadis berambut pirang. Senyumnya congkak dan dari ekor matanya Amabel bis melihat Rahel memutar manik matanya.
"Aku tak merasa gelar seseorang dapat mempengaruhi pengetahuan yang dimiliki." Balas Amabel dengan nada datar, ia tak suka nada cemooh yang dikeluarkan si pirang ini.
Gadis di hadapannya langsung mengibaskan rambutnya, "hah, kau mungkin tak tahu siapa aku. Tapi-"
"Aku tak merasa penting untuk mengetahui siapa dirimu." Potong Amabel dingin. Auranya berubah lebih gelap dari yang biasa Rahel lihat. Rahel bahkan sampai kaget mendengar nada suara Amabel.
"Betapa tak sopannya putri dari keluarga Lancaster!" Seru gadis itu kesal.
Wajah gadis pirang di hadapannya memerah, menahan amarah. Amabel menarik napas, sebelum mengakhiri kalimatnya. "Jika kau merasa kesal dan sakit hati dengan perkataanku, aku minta maaf. Akan tetapi, coba pikirkan bagaimana kau akan bertindak ke depannya. Aku tak tahu siapa dirimu, hanya caramu berbicara mengenai temanku Rahel membuatku kesal dan untuk tindakan itu aku tak akan meminta maaf."
Amabel kemudian menoleh kepada Rahel dan mengambil buku yang tadi dibaca temannya itu. "Rahel, baca bagian ini. Aku rasa akan keluar."
Rahel mengangguk, meski ia masih kaget dengan sikap Amabel. "Terima kasih." Ujarnya dengan senyum simpul.
Amabel mengangguk, di matanya masih terdapat kemarahan. Selalu soal status dan Amabel muak. "Aku akan kembali ke tempatku, kau bisa melanjutkan belajarmu."
Gadis itu berbalik setelah melihat anggukan dari Rahel. Amabel menatap ke arah gadis pirang yang masih menatapnya tak suka. "Ada yang ingin kau sampaikan lagi?"
Gadis pirang itu diam, hanya menatap Amabel. "Jika tidak, menyingkirlah. Aku mau lewat."
Rahel sungguh terkejut. Ia tak pernah melihat sosok Amabel yang seperti ini. Akan tetapi, mengetahui Amabel yang benci membahas soal status, sedikit banyak Rahel paham.
Sebuah senyum tercipta di bibir Rahel, Amabel benar-benar keren. Gadis itu terkekeh, benar-benar menyenangkan melihat sisi ini pada diri Amabel yang biasanya manis dan sopan. Temannya ini bahkan tak peduli pada tatapan gadis lain, tipikal Amabel.
Tak lama, seorang profesor masuk dengan empat penjaga. Dengan cepat kertas dibagikan pada tiap putri bangsawan. Profesor menaikkan alisnya, bingung. "Aku yakin, kau adalah putri dari Count Albert. Jadi, nona kenapa kau tak duduk di tempatmu? Ujian akan segera dimulai."
Ah, jadi dia anak seorang Count, pikir Amabel. Gadis itu menoleh, namun si gadis pirang melengos dan duduk di depan Rahel. Saat akan menatap ke depan, matanya bertemu dengan gadis berambut cokelat di sisinya. Keduanya saling bertatapan, hingga gadis itu memberikan sebuah senyuman dan Amabel membalasnya.
"Aku Alberto Bennett yang akan menjadi penanggung jawab ujian hari ini. Aku yakin kalian semua tahu bahwa ini adalah ujian tertulis. Terdapat tiga bagian; pertama soal sejarah kerajaan ini, ke dua soal pengetahuan umum, dan ke tiga pendapat mengenai masalah sosial. Jangan berpikir untuk mencontek atau menggunakan sihir karena kami akan tahu. Waktu berakhir saat pasir terakhir terjatuh." Profesor Bennett memegang jam pasir dengan kedua tangannya. "Dimulai."
Jika kebanyakan calon istri Pangeran mengambil alat tulis, Amabel memilih membuka soal di hadapannya. Terdapat 15 soal sejarah, 20 soal pengetahuan umum, dan 3 soal masalah umum. Amabel memindai cepat tiap soal kemudian tersenyum, tangannya langsung mengambil kertas jawaban, dan langsung menulis jawabannya.
Amabel rasa ini adalah kertas sihir. Bahan yang digunakan berbeda, warnanya lebih cokelat, dan di pojok kanan sudah terdapat namanya. Alasan kenapa profesor para penjaga tahu adalah karena alat tulis sihir ini. Amabel memainkan penanya yang berwarna merah dengan bulu angsa. Matanya memicing untuk melihat ukiran di badan pena tersebut, sebuah mantra sihir. Senyuman Amabel kembali tercipta, menarik sekali.
Istana memiliki benda-benda yang sangat menarik. Gadis itu langsung menjawab soal-soal di hadapannya. Soal-soal tersebut adalah hal yang telah ia bahas bersama Sir Reginald. Sementara soal esainya benar-benar menarik. Amabel jadi ingin bertemu dengan orang yang membuat soal esai ini.
Soal esai pertama adalah permasalahan apa yang paling besar dalam kerajaan, ke dua pendapat mengenai perintah pernikahan, dan ke tiga soal peraturan yang paling dibutuhkan untuk kerajaan. Amabel tersenyum puas, akhirnya ia bisa mengeluarkan pendapat yang ditahannya selama ini. Soal pertama Amabel membahas mengenai ketidakadilan pendidikan untuk rakyat. Ia mengeluarkan pendapatnya soal rendahnya tingkat baca-tulis pada rakyat dan akibatnya pada mencari pekerjaan. Pada soal kedua, Amabel diam cukup lama hingga akhirnya ia menarik napas kemudian mulai menulis hingga akhirnya semua pertanyaan terjawab.
Amabel tak suka melihat kembali jawabannya karena kemungkinan besar ia keraguannya akan muncul. Ia percaya pada jawabannya, jadi gadis itu langsung menyerahkan kertas jawabannya. "Terima kasih, profesor." Pamit Amabel, sambil membungkuk memberi salam. "Jika ada kesempatan, saya ingin bertanya beberapa hal."
Profesor Bennett menatap Amabel beberapa detik kemudian tersenyum. "Tentu, aku akan merasa senang dengan hal itu, nona.".
Kali ini senyuman Amabel lebih lebar, "kalau begitu saya permisi, profesor. Semoga hari anda menyenangkan."
Profesor Bennett mengangguk kemudian menatap ke arah putri bangsawan lain. Beberapa terlihat tenang, kebanyakan merasa frustasi. Profesor Bennett menarik kertas jawaban Amabel dan tersenyum, "menarik. Putri dari keluarga Lancaster benar-benar menarik."
Amabel bersandar pada salah satu pilar, waktu ujian masih tersisa banyak dan kemungkinan Kier masih sibuk dengan pekerjaannya. Gadis itu terdiam beberapa lama kemudian memutuskan untuk melihat-lihat istana. Senyumnya merekah saat ia memikirkan ide tersebut. Amabel ingat melihat sebuah air mancur kemarin, gadis itu memutuskan untuk pergi ke sana.
Langkahnya pasti, hingga mencapai sebuah taman dengan sebuah air mancur di tengah. Dari tempatnya, Amabel dapat melihat bentuk labirin. Gadis itu langsung tersenyum, untuk menghabiskan waktu ia bisa mencoba keluar dari labirin ini. Amabel melihat rute labirin tersebut dan mengingatnya dengan cepat. Ia mulai masuk ke dalam labirin tersebut dan terlena dengan tinggi tumbuhan di sisi kanan-kiri. Hal itu yang membuat Amabel melupakan rutenya.
"Rasanya salah, tetapi aku tak tahu harus ke mana." Gumamnya sambil terus berjalan. Amabel merasa sejak tadi ia hanya berputar di tempat yang sama. Bentuk dan tanaman di kanan-kirinya tak membantu karena mirip.
Gadis itu akhirnya menyerah dan duduk di atas tanah. Amabel sudah tak peduli, ia lelah dan kakinya terasa sakit. "Huhu, aku ingin pulang." Keluhnya. Amabel tak biasanya mengeluh, hanya saja ia tak suka saat sendirian seperti ini. Biasanya ada Pita yang menemaninya. Ada juga Alec yang akan mencarinya atau Eli yang akan berisik seharian. Sekarang terasa sepi. Amabel bahkan hanya ingin bertemu Kier saat ini.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Pertanyaan itu membuat Amabel mendongak. Di hadapannya ada seorang pemuda tinggi dengan rambut hitam dan mata emas.
Mata Amabel yang berkaca akhirnya menitikkan air mata. Dengan cepat ia menghapusnya dan berdiri, "saya tersesat." Jawab Amabel dengan suara serak.
"Kau mau ke mana?" Tanyanya lagi.
"Menyelesaikan labirin, tetapi aku tersesat." Jawab Amabel. Ia tak tahu siapa pemuda asing ini, hanya saja Amabel berharap akan dibantu. "Kalau tak keberatan, bisakah tuan membantu saya?"
"Tentu. Ikuti saya kalau begitu." Pemuda itu mulai berjalan di depan Amabel. Keduanya berjarak lima langkah. "Apa kau salah satu calon permaisuri?"
Amabel mengangguk, namun ingat kalau pemuda di depannya tak bisa melihat. "Iya, tuan. Apa anda salah seorang ksatria?"
Pemuda itu mengangguk, "bisa dibilang begitu."
Alis Amabel tertaut, bingung. "Kenapa demikian?"
"Karena aku belum dilantik. Kukira saat ini sedang ada ujian tertulis, kau tak mengikutinya?" Tanya pemuda itu tanpa berbalik.
"Saya sudah selesai dan berencana melihat-lihat istana." Jawab Amabel pelan.
Kekehan dapat Amabel dengar dari pemudah di depannya. "Dan kau tersesat, tentu saja. Kita sudah sampai, dari sini kau bisa mengingat ruang ujiannya bukan?"
Senyum Amabel merekah, dia benar-benar lega. "Terima kasih. Dari sini saya sudah ingat."
"Lain kali, gambar dulu jalan keluarnya, baru masuk ke dalam labirin." Ujar pemuda itu.
Amabel mengangguk dan memberi salam, "sekali lagi terima kasih. Saya harap segala kebaikan tuan dapat dibalas dengan kemakmuran."
"Semoga kau selalu dilindungi." Balas pemuda itu.
Amabel berjalan beberapa langkah kemudian menoleh. Pemuda itu masih ada di tempatnya, "kalau boleh tahu, siapa nama tuan?"
"Rael memberi salam." Balasnya dengan sebuah senyum.
Amabel mengangguk, "Amabel Lancaster memberi salam. Sekali lagi terima kasih."
Setelah itu Amabel kembali ke depan ruang ujian dengan Kier yang menatap gaunnya tak percaya. "Astaga, tuan putri, dari mana noda ini berasal?"
Amabel hanya dapat menggaruk tengkuknya, "akan aku ceritakan nanti. Sekarang bisakah kita kembali ke kamar?"
Kier akhirnya mengangguk, tak baik juga membiarkan banyak mata menatap ke arah Amabel yang berantakan seperti ini. "Saya sudah menyediakan kue kering dan teh di kamar. Tuan putri bisa memakannya nanti."
"Iya, Kier. Terima kasih." Balas Amabel. Ia kira Kier tak akan membahasnya, namun ia salah. Kier terus bertanya dengan nada tak percaya bahkan setelah Amabel menceritakan kejadian yang sebenarnya. Mau tak mau Amabel hanya bisa mendengarkan dan berjanji untuk tidak mengotori gaunnya lagi.