The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Empat Puluh Satu: Duel



Saat Amabel dan Ian sampai di lapangan, ternyata Alec dan Arion sudah ada di sana. Keduanya sedang bertanding. "Eh? Kakak?" Ujar Amabel, bingung karena kakaknya malah ada di sini bukan di ruangannya.


"Kenapa mereka bertanding?" Ian menoleh pada Amabel dan gadis itu menggeleng. "Aku baru tahu mereka dekat."


Amabel bahkan tak tahu keduanya dekat. Sejak kapan? Sepertinya keduanya tidak pernah dekat. Atau Alec tak pernah cerita?


Amabel dan Ian akhirnya malah menonton pertandingan antara Alec dan Arion. Keduanya sama-sama kuat. Sama-sama bermain seperti angin, bahkan langkah kakinya terlihat begitu ringan. "Kakak keren sekali!" Pekik Amabel tertahan.


Ian langsung melirik, tak suka. "Adikku lebih keren."


Amabel langsung melirik, tak suka. "Kakakku lebih keren!"


"Adikku lebih jago! Dia bahkan mengalahkan pasukan Srela di usia muda." Balas Ian sambil membanggakan Arion.


Amabel berdecih, "kakakku adalah pemain pedang terbaik di akademi. Bahkan Pangeran saja diajar oleh kakakku!"


"Kakakmu tak pernah berada di medan perang. Adikku pernah dan pulang dengan kemenangan." Ian melipat tangannya, menatap Amabel meremehkan.


Amabel mengipasi wajahnya, terasa panas dan kesal. "Meski begitu kakakku bahkan pernah mengalahkan pasukan kerajaan."


Setelah itu keduanya terengah-engah karena saling berteriak. Baik Amabel dan Ian saling memunggungi. Alterio yang sejak tadi ada di sana seakan pernah berada di situasi yang sama. Rasanya seperti kilas balik. Akhirnya ia menghampiri keduanya dan menepuk pundak mereka bersamaan. "Yo! Pertengkaran kalian seperti anak kecil saja."


Alterio langsung mundur dan melepaskan tangannya di pundak keduanya. Alterio rasanya ingin kembali ke istana karena Amabel dan Ian menatapnya tajam. "Oke, aku kalah. Lebih baik kita menonton keduanya dengan damai."


Meski masih bertukar tatapan tajam, Amabel dan Ian kembali menonton pertandingan. Terlalu sengit hingga tak dapat diprediksi siapa yang akan menang. "Oh!" Pekik ketiganya tanpa sadar. Alec baru saja membuat Arion terjatuh, namun lelaki itu bangkit dengan mudah. Kembali sengit karena Alec langsung menyerang tanpa jeda, sedangkan Arion hanya menahan serangan. Keduanya mundur, memberi jarak, dan mengambil napas. Kemudian berlari untuk menghampiri satu sama lain. Pedang keduanya bertemu dengan suara kencang dan pedang keduanya terpental bersamaan.


"Jadi siapa yang menang?" Tanya Alterio, bingung.


Amabel menilai situasi kemudian menepuk tangannya. "Seri."


"Bukannya Arion melempar pedang Alec lebih dulu?" Ian bertanya dan Amabel langsung mendesis. "Jangan bercanda, Pangeran. Kedua pedang mereka bertemu dan terlempar bersamaan."


"Ah, mulai lagi." Keluh Alterio dan menjauhkan keduanya. "Tolong jaga jarak kalian. Jangan berisik."


Amabel secara tiba-tiba mengeluarkan pedangnya, menghunusnya ke arah Ian. Tatapan matanya berapi-api. "Ayo kita selesaikan, Pangeran."


Ian mengangguk dan mengeluarkan pedangnya juga. "Kali ini aku akan menang."


"Hah," tawa Amabel. "Bermimpilah."


Alec dan Arion menatap keduanya, bingung. "Mereka melakukan apa?" Tanya keduanya bersamaan.


Alterio melambaikan tangannya pada Alec dan Arion. "Kerja bagus kawan-kawan." Pujinya kemudian memberikan minuman pada Alec dan Arion. "Kalau bingung, mereka ingin bertanding."


Amabel menarik kedua ujung gaunnya dan mengikatnya dengan kencang. Rambutnya juga ia ikat satu, membuatnya lebih mudah bergerak. "Pangeran, kalau kali ini anda kalah artinya anda benar-benar payah. Sangat payah."


Ian mendengus, tak percaya. "Astaga, kepercayaan dirimu benar-benar luar biasa menyebalkan."


Amabel tersenyum, "aku belajar dan ahlinya."


"Bagus untukmu." Balas Ian dengan wajah sebal. "Mari mulai."


Keduanya mengangkat pedang masing-masing, memberi hormat. Kemudian keduanya berbalik dan saling memunggungi. Setelah tiga langkah jauhnya, Amabel menarik napas. Ia tak tahu kemampuan Ian saat ini dan sebaliknya. Saat gadis itu berbalik, Ian sudah berlari ke arahnya. Amabel dengan cepat menghindar.


"Boleh juga." Puji Amabel dan berlari ke arah Ian. Bunyi logam terdengar intens di telinga keduanya. Senyum tercipta di bibir keduanya. "Kemampuan Pangeran ternyata sudah berkembang."


Ian tersenyum, menyampilkan deretan giginya. "Tentu saja. Sudah banyak waktu berlalu, tentu harus berkembang."


Baik Amabel dan Ian terlihat seperti menari dengan pedang. Terlihat indah dan menyenangkan. Berbeda dengan Alec dan Arion yang seakan ingin membunuh satu sama lain.


"Gerakannya jadi lebih halus." Puji Arion sambil memperhatikan gerakan teman dan adiknya. "Kemampuan Ian berkembang pesat 'kan, Rio."


Alterio mengangguk dan memberikan jempolnya. "Dia berusaha sangat keras untuk ini." Alterio menepuk pundak Arion. "Tunanganmu mengalahkan kak Arion tujuh tahun lalu. Itu alasan dia bekerja keras."


"Dia pendendam." Balas Alec sambil mengangguk. Dan Alterio tidak bisa lebih setuju dari itu.


Sejak tadi Ian terus menyerang sisi kiri Amabel, kemungkian karena Ian kidal sedangkan Amabel menyerang dengan tangan kanan. Gadis itu memperhatikan bagaimana Ian menahan beban tubuhnya dengan kaki kanan. Ada celah di kaki kiri, seperti tujuh tahun lalu. Angin berhembus dan Amabel dengan sengaja membungkuk untuk mengambil pasir kemudian melemparnya ke arah Ian. Ketika Ian kesulitan melihat, Amabel langsung menyerang, dan berhasil melempar padang milik Ian.


"Aku tidak terima. Itu curang!" Teriak Ian, sambil mengusap matanya. "Oh, mataku perih sekali."


Amabel tersenyum, mengulurkan tangannya untuk membantu Ian berdiri. "Di medan perang sesungguhnya kita tak akan tahu taktik musuh, Pangeran. Aku memberi pengalaman itu untuk Pangeran."


Ian mendecih dengan alasan Amabel. Ia membiarkan Amabel menarik tubuhnya. Keduanya melangkah menuju gedung pelatihan. Saat keduanya sudah sampai, Arion langsung memisahkan keduanya--yang saat itu masih bergandengan tangan. "Apa sih?" Tanya Amabel tak paham.


Gadis itu kemudian menghampiri Alec. "Kakak lihat 'kan? Aku hebat 'kan?"


Alterio menatap kedua saudaranya kemudian mengacak rambut keduanya bersamaan. "Ugh, bagiku kak Ian dan Alterio yang terhebat. Kerja bagus kalian berdua."


Amabel dan Alec terkekeh melihat kelakuan ketiganya. "Kalau hanya ikut-ikutan tidak bagus, Rio." Ledek Alec sambil merapikan gaun Amabel. Ia bahkan menepuk bagian gaun yang kotor.


"Rosemary!" Mendengar panggilan itu langsung membuat Amabel menoleh. Rahel berlari ke arahnya kemudian keduanya berpelukan sambil melompat. "Ah! Aku merindukanmu."


Rahel menyentuh pundak Amabel kemudian memeriksa seluruh tubuhnya dengan teliti. "Tak ada bekas luka, kamu terlihat baik." Ia kemudian memukul Amabel berkali-kali. "Ke mana saja selama ini, hah? Aku ini apa untukmu? Bisa-bisanya pergi tanpa memberi kabar padaku."


Amabel menutup wajahnya, malu. "Rahel, kamu bisa marah padaku di tempat lain."


Gadis itu akhirnya sadar keberadaan Pangeran dan Duke Lancaster. Ia memberi salam pada ke empat pria di hadapannya. "Maaf atas kelancangan saya, Pangeran, Duke. Saya Rahel, istri dari Pangeran ke Tujuh memberi salam." Rahel kemudian menoleh, pada Dorothy yang sejak tadi berdiri. "Saya dan Permaisuri Dorothy sedang berjalan-jalan saat melihat Rosemary di sini."


Alec tersenyum melihat Rahel. Sekarang adik dari Vincent itu kini semakin dewasa. "Tidak masalah, lanjutkan pembicaraan kalian di taman. Kami akan di sini lebih lama."


Dorothy menatap Ian dari tempatnya dan lelaki itu mengangguk kecil, cukup untuk membuat Dorothy tersenyum. Amabel menatap empat pria di hadapannya dan memberi salam. "Kalau begitu kami pamit, Pangeran, ka-Duke."


Rahel dan Dorothy ikut memberi hormat. Setelahnya Rahel langsung merangkul tangan Amabel, erat. "Kamu berhutang banyak cerita padaku!" Ancamnya sambil menatap Amabel tajam.


"Iya, iya, paham." Balas Amabel kemudian menoleh pada Dorothy yang berjalan di belakang. "Kenapa Permaisuri berjalan begitu jauh?"


Rahel berdecak dan menepuk keningnya. Ia kemudian meraih tangan Dorothy. "Ayo, Dorothy. Kita akan menghabiskan sore di kamarku dengan secangkir teh dan makanan manis!" Rahel kembali merangkul lengan Amabel. Sekarang mereka berjalan seperti rantai dan itu membuat Amabel terkekeh. Sudah lama dia tidak menghabiskan waktu dengan teman perempuan.


Ketiganya duduk melingkari meja di depan taman istana Permaisuri Rahel. Tiap Permaisuri diberikan istana pribadi yang berhadapan dengan danau dan taman istana utama. Sementara Pangeran bisa memilih untuk tidur di istana utama atau istana Permaisuri. Memang istana Permaisuri tidak sebesar istana utama, namun tiap istana Permaisuri memiliki keunikan yang menggambarkan kepribadian tiap Permaisuri.


Seperti istana Rahel yang berwarna merah muda dan kuning memperlihatkan kepribadian riangnya. Istana Rahel juga dihiasi dengan partitur nada pada bagian dinding. Terdapat berbagai jenis alat musik di istana ini sebab Rahel sangat suka bermain musik.


"Jadi, ke mana saja kamu selama ini hingga tidak bisa memberi kabar padaku?" Tanya Rahel sambil menatap Amabel tajam.


Amabel tersenyum, menahan tawanya karena Rahel malah terlihat lucu. "Aku pergi ke Iliyä untuk belajar. Dan selama beberapa tahun setelahnya belajar di tempat lain. Intinya selama ini aku pergi untuk menuntut ilmu."


Rahel menghela napas, paham jika Amabel tak akan bercerita lebih jauh. Gadis itu meraih tangan Amabel dan mengusapnya lembut. "Aku senang kamu kembali dengan selamat."


"Terima kasih dan maaf membuatmu khawatir." Balas Amabel tulus. Ia kemudian menoleh pada Dorothy, "Omong-omong apa boleh aku memanggilmu Dorothy?"


Dorothy terhenyak mendengar permintaan Amabel, namun kemudian ia mengangguk. "Tentu."


Amabel menaruh tangannya di dada dengan senyum manis. "Kalau begitu panggil aku Amabel. Tapi, kalau mau kamu bisa memanggilku Rosemary juga. Itu nama tengahku."


Dorothy menaruh cangkirnya dan menegakkan tubuhnya untuk menatap Amabel. Ia tersenyum tipis, "aku akan memanggilmu Amabel kalau begitu."


Rahel menepuk tangannya, senang karena keduanya akrab. Ia kemudian menarik tangan Amabel, membuat fokus gadis itu terarah padanya. "Oh, ceritakan bagaimana kamu bisa akrab dengan Pangeran ke dua dan ke tiga? Maksudku Pangeran Ian dan Pangeran Alterio. Jangan diambil hati ya, Dorothy, hanya saja suamimu itu luar biasa dingin dan menakutkan."


Rahel dengan mulutnya. Lama sekali rasanya Amabel tak mendengar Rahel yang blak-blakan seperi ini. Ya, tentu saja karena terakhir mereka berbicara adalah sebelum masuk ke istana. Benar, setelah masuk istana keduanya tak sempat berbincang santai seperti ini. "Ah, benar Dorothy adalah istri Pangeran Ian. Jangan terlalu diambil hati soal omongan Rahel, dia hanya terlalu jujur."


Rahel mencebikkan bibirnya, namun kemudian mengendikkan bahunya tak peduli. Amabel kembali tersenyum saat mengingat pertandingan tadi. Hal kecil yang membuat jantung Dorothy berhenti sesaat. "Pertama kali bertemu dengan Pangeran Ian dan Pangeran Alterio saat aku berada di pusat kota. Ada sebuah kejadian tak menyenangkan yang membawa Pangeran Ian mengajakku bertanding. Setelah hampir delapan tahun akhirnya kami bertanding lagi." Amabel mengibaskan rambutnya, bangga. "Dan tentu saja aku menang dua kali berturut-turut."


"Aish, gadis sombong ini!" Kesal Rahel sambil menahan kekesalan sementara Amabel tertawa.


Di tempatnya, Dorothy hanya bisa menatap interaksi kedua sahabat itu. Ada perasaan tak suka ketika melihat Amabel dan Ian bersama. Terutama ketika melihat tatapan Ian yang melembut saat melihat Amabel. Dorothy cemburu dan ini mengganggu.



Jeanne meremas surat yang baru selesai ia baca. Setelahnya, ia membakar surat tersebut dan menatap keluar jendela. Di saat yang sama ia melihat Dorothy bersama seorang perempuan berambut perak. Bahkan meski sudah lama tak melihatnya, Jeanne tahu jika itu Amabel.


"Putri Lancaster." Gumamnya kemudian menutup jendela. Jeanne berbalik dan saat itu sudah ada seorang pria dengan jubah hitam.


"Selamat malam, putri Prada." Sapa pria di hadapannya. Penutup kepalanya sudah terjatuh dan Jeanne dapat melihat mata berwarna hitam tengah menatapnya. "Aku datang untuk membantumu membalas dendam."


Jeanne menggenggam erat gaunnya. "Aku belum memutuskan."


Pria itu tersenyum, menakutkan. "Bukan anda yang memutuskan. Semua sudah direncanakan. Berhati-hatilah, jangan sampai terluka."


"Itu tugasmu untuk menjagaku." Balas Jeanne datar.


Pria di hadapannya tertawa, melengking. "Benar. Hanya saja bayaran untuk itu belum lunas. Jadi, berhati-hatilah."


Kemudian ia menghilang, meninggalkan sebuah kertas kecil berwarna merah. Hanya ada tulisan bulan merah di atasnya. Jeanne meraihnya dan memasukkan kertas itu ke dalam laci meja teratas. Ia belum memutuskan.


Namun, jika memang membalas kematian ayahnya mungkin ia akan melakukannya. Demi ayahnya dah kehormatan keluarganya.