The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Lima Puluh Satu: Bertemu



"Huaaa, memang ya, seragam siswi SMA itu sangat manis!" Sarasa berseru senang sambil memegang spatula. Aku baru saja memamerkan seragam SMA milikku. Rok rampel pendek berwarna cokelat muda, kemeja putih panjang, dasi garis biru-hitam, dan blazer berwarna biru gelap. Pada bagian dada kiri emblem sekolah, Jeguk High School.


Aku tersenyum lebar, "oh ya, ibu, apa hari ini kalian akan mengantarku?"


Aku merangkul tangan Sarasa dengan mata berharap. "Ya 'kan, ya 'kan?"


Sarasa menutup mulutnya, reaksi ini biasa ia keluarkan saat melihat sesuatu yang imut. Singkatnya, aku imut. "Tentu. Apapun untuk Lalisaku!"


Damian hanya bisa tertawa mendengarnya. "Oh ya, kamu sudah membawa kartu transportasi bukan? Jangan sampai ketinggalan."


Aku mengangguk dan memamerkan kartu tranportasiku yang menjadi gantungan di tas. Damian melirik, "kamu harus menaruhnya dengan baik. Nanti kalau hilang, tidak bisa pulang lho."


Aku merengut mendengarnya. Kemudian dengan patuh memasukkan kartu transportasiku ke dalam tas. "Kalau tidak bisa pulang, ayah harus menjemputku."


Damian malah mengacak rambutku. Rambut yang sudah kubuat lurus dengan sudah payah!


"Ah, ayah!" Rengekku sebal. "Aku harus mencatoknya sejak pukul enam tahu!"


Damian kembali tertawa, benar-benar deh. "Cari teman yang banyak, oke?"


Aku mengangguk kemudian duduk di bangku. Aku memotong pancake buatan Sarasa dengan senang hati. Beberapa waktu setelah bertemu Damian dan Sarasa, aku merasa seperti bermimpi. Bahkan untuk beberapa waktu aku tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Sebab itu selama beberapa waktu aku mengikuti terapi khusus bersama psikolog.


Pada akhirnya, psikolog menyimpulkan bahwa aku mengalami lucid dream. Sebuah mimpi panjang di mana aku memiliki kesadaran di dalamnya. Mereka mengatakan bahwa mungkin karena itu aku lama sadar dari koma. Ya, tentu saja akan dianggap sebagai mimpi. Tak akan ada yang percaya dengan ceritaku. Tidak, Damian dan Sarasa percaya. Keduanya percaya padaku dan kejadian yang kualami saat koma. Mungkin itu yang menjelaskan keduanya mudah berinteraksi denganku.


Bahkan untuk Damian, ia merasa pernah mengenalku sebelumnya. Sedangkan Sarasa memang menyukai cerita seperti reinkarnasi dan lainnya. Katanya, kemungkinan saat koma jiwaku menjelajahi dunia lain. Kemungkinan yang muncul adalah ketika kecelakaan, jiwaku masuk ke dimensi lain. Sebuah dimensi yang membuatku hidup sebagai Amabel.


Sarasa pernah bilang, mungkin selain diriku ada orang lain yang mengalaminya juga. Sebagian dari diriku ingin percaya, namun sebagian lainnya tidak. Aku tahu bagaimana sulitnya saat hidup di Yerkink, jadi aku tak ingin bertemu dengan mereka. Atau mungkin sebenarnya aku takut bertemu dengan orang-orang yang kutinggalkan.


"Sayang, sampai kapan kamu akan melamun begitu? Kita sudah sampai." Ucapan Sarasa menyadarkanku. Aku menoleh dan mendapati diriku sudah sampai di sekolah.


Aku tersenyum kemudian maju untuk mencium pipi Damian dan Sarasa. "Terima kasih. Sampai jumpa nanti, ayah, ibu."


Aku membuka pintu dan melangkah, hari ini adalah hari baru sebagai murid SMA. Aku harap ada kejadian baik.


"Minggir."


Atau tidak. Karena selanjutnya aku terdorong hingga bertabrakan dengan seorang murid laki-laki. Parahnya rambutku malah tersangkut di kancing seragamnya. "Aduh," ucapku kesakitan.


"Apa yang kamu lakukan?" Suaranya berat dan dingin. "Hei, lepaskan aku!"


Aku masih mencoba melepaskan rambutku dari kancingnya. "Aku juga berusaha, oke! Tunggu sebentar, rambutku-"


Kata-kataku terhenti karena laki-laki itu menarik lepas kancing seragamnya. Heh? Yang benar saja. Dia kemudian menatapku, dingin. Tatapan yang mengatakan agar aku menjauh, seolah aku adalah musuh. Cih! Yang benar saja! Rasanya aku ingin marah.


Kancingnya masih berada di rambutku. Huhu, ibu, aku bertemu pria menyebalkan!


Sambil berjalan aku terus menggerutu, sementara tanganku melepas rambutku dari kancingnya. Kelasku di 1-4. Bagus sekali karena wajah pertama yang aku lihat adalah laki-laki tadi. Urg!


Aku mendengus kemudian melangkah menuju bangku kosong, tepat di samping gadis berambut cokelat dengan highlight hijau. "Halo, selamat pagi." Sapaanku membuatnya menoleh.


Aku terhenyak, Pita. Di hadapanku adalah Pita yang tersenyum lebar. Namun, senyumnya tak lama bertahan karena langsung terganti dengan wajah panik. "Hei, kamu kenapa? Kok nangis?"


Ah, aku melakukannya lagi. Dengan cepat aku menghapus air mataku. "Tidak apa-apa. Mataku ini mudah mengeluarkan air mata."


Wajahnya terlihat lega, ia kembali tersenyum. "Aku Kim Dayeon. Kamu boleh memanggilku Dayeon."


Aku tersenyum dan menerima uluran tangannya. "Lalisa Hamilton."


Mata Dayeon bersinar, tertarik. "Kamu dari luar negeri?"


Dayeon mengangguk-angguk, "ah, warna matamu unik sekali."


Aku menyentuh pipiku, terdiam. Mata ini berwarna abu-abu terang, seperti mata Amabel. "Ah, begitu kah? Terima kasih."


"Oh, gurunya datang!" Ucap Dayeon, semangat.


Saat guru datang, penderitaanku baru saja dimulai. Tempat duduknya diubah dan aku harus puas dengan tempat paling belakang di samping pria menyebalkan tadi. Nick Lee adalah nama laki-laki itu. Aku melirik ke arahnya, aku memang tak menyukainya namun ia terasa seperti Arion. Aku menggeleng, tidak. Pasti bukan. Ini pasti hanya perasaanku saja.


Arion tidak nyata. Maksudku, tidak di dunia ini. Jika soal Arion, bagaimana keadaannya saat ini? Apa dia menjadi seorang Raja yang bijaksana? Ataukah ia sedih karena aku pergi? Apapun itu aku hanya berharap ia sehat dan selalu dilindungi. Aku menghela napas, kalau mengingat Arion dadaku selalu saja terasa sesak.


Aku merindukannya.



Serius deh, Nick Lee ini sepertinya punya dendam pribadi padaku! Sejak berkelompok dalam pelajaran seni dia tak pernah menatapku. Bahkan bicara saja tidak. Menyebalkan!


Aku mulai merapikan peralatan tulis dan menyilangkan tanganku sebagai bantal untuk tidur. Kepalaku berat sekali rasanya. Saat sadar aku sudah tertidur.


Saat membuka mata aku melihat Arion duduk di tahta kerajaan. Matanya terlihat kesepian dan itu menyakitkan. Di depannya ada Jeanne yang tertunduk bersama Mika. Keduanya kemudian naik ke atas panggung kecil dan menaruh leher mereka di sebuah papan. Keduanya akan dihukum mati.


Aku langsung menutup mata, tak tega melihatnya. Tak lama kemudian Arion berdiri dan meninggalkan tempatnya. Ke mana ia pergi? Aku tak tahu karena selanjutnya aku berada di rumahku.


Alec yang sedang mengunci diri dengan wajah bersalah. Kenapa? Aku mencoba memukul pembatas tak kasat mata di antara kami. Alec terlihat tak bersemangat, matanya menghitam. Kakak, jangan seperti ini.


Saat aku kembali memukul dinding tak kasat mata itu, aku sudah berada di tempat lain. Elliott sedang bersama ayah dan ibu. Entah apa yang mereka diskusikan, namun Elliott terlihat tak suka. Tak lama ia keluar dari ruang tengah dengan wajah marah dan menggedor pintu kamar Alec. Aku ak pernah melihat Elliott seperti ini. Entah marah, frustasi, atau kecewa. Aku tak tahu mana yang lebih dominan. Hal selanjutnya yang terjadi adalah kedua kakakku bertengkar.


Kenapa? Kenapa malah seperti ini? Saat aku mencoba meraih keduanya, aku kembali berpindah tempat. Kali ini ke kamar Rahel. Gadis itu berada di kursi goyang dengan tatapan kosong. Taman di depan kamarnya sudah mulai dibuat dan aku berjongkok karena ia memegang foto kami saat kecil. Aku kembali menangis. Bagaimana bisa aku melupakan luka Rahel? Ia kehilangan anaknya dan kemudian aku pun pergi. Rahel, maafkan aku.


Selanjutnya aku kembali ke ruangan Arion. Ia hanya berdiri sambil menatap potret diriku. Itu adalah lukisan yang diambil sebelum pesta pernikahan. Arion lama terdiam hingga akhirnya ia meneteskan air mata.


"Maaf."


Aku menggeleng, jangan minta maaf. Akulah yang bersalah. Arion, jangan minta maaf. Alec, Elliott, ayah, ibu, Rahel, jangan bersedih. Jangan meminta maaf. Jangan meminta maaf.


"Arion," bisikku dan saat membuka mata kelas sudah kosong.


Aku menghapus air mataku. Mimpi itu terasa begitu nyata hingga membuatku takut. Rasa bersalah ini terus mencekikku dan membuat napasku sesak. Kalau semua kejadian di Yerkink hanya mimpi, kenapa bisa terasa senyata ini? Namun, jika bukan mimpi apa yang sebenarnya terjadi? Apakah seperti tebakan Sarasa?


Aku tak tahu. Memikirkannya membuat kepalaku seakan ingin meledak. Aku terus melangkah, tanpa sadar aku sudah sampai di stasiun. Hari ini ramai, tentu saja. Aku menunduk, mengamati kaki orang lain hingga keretaku tiba.


Rasanya hari ini terasa begitu berat. Aku mendongak saat memasuki kereta. Dan saat itu aku bertemu denganmu. Sekali lagi.


Mata hitamnya menatapku lurus, sewarna dengan rambutnya. Tatapan itu hanya berlangsung tiga detik, namun aku tahu bahwa itu adalah dia yang aku cari.


"Bel." Panggilan itu yang merubuhkan segala pemikiran bahwa kamu tidak nyata. Segala analisa bahwa kamu hanya makhluk dalam mimpiku.


Tanpa sadar aku menangis. "Arion."


Kamu nyata.



Fin.