
Alberto Bennett menatap sekeliling kamar Amabel. Hanya ada mereka berdua di ruangan tersebut bersama set minum teh. Gadis di hadapannya dengan tenang menyeruput tehnya, sementara Alberto masih sibuk menebak jalan pikirannya. "Jadi, ada masalah apa nona memanggil saya?"
Cangkir yang sejak tadi dipegang oleh gadis berambut perak itu akhirnya ditaruh. Tangannya di tumpuk di atas lutut. "Bagaimana pendapat anda tentang jawaban saya?"
Meskipun Alberto belum paham ke mana pembicaraan ini akan berlangsung, demi kesopanan ia menjawabnya. "Jawaban yang membuat saya tertarik. Tentu mengesankan jika anda dari kalangan biasa, akan tetapi nona adalah putri seorang Duke Lancaster. Tentu Duke akan memberikan guru terbaik untuk nona."
Amabel mengangguk, "jadi, anda merasa jawaban saya adalah sesuatu yang biasa?"
Alberto mengusap janggut tipisnya. "Tidak demikian juga. Hanya, jika anda mendapatkan pendidikan terbaik namun tak dapat memanfaatkannya, itu akan sia-sia. Saya akan mengatakan bahwa anda sudah bekerja keras." Matanya cokelatnya menatap pada Amabel. Ia dapat melihat kebingungan di wajahnya. "Dibanding dengan pengetahuan, saya merasa anda dapat menempatkan empati terhadap rakyat. Itu hal yang baik dan tidak saya temukan pada jawaban putri lain."
Kali ini Amabel menoleh dan menatap Alberto. Dari tatapan mata itu, Alberto dapat melihat kesungguhan. "Apa itu cukup menjadikan saya sebagai murid anda?"
"Ya?" Balas Alberto tak paham. Pertanyaan ini terlalu mendadak. "Maksud anda bagaimana?"
Amabel menunduk, namun suaranya terdengar begitu jelas dan tegas. "Saya ingin belajar langsung dari Sir Bennett. Itu jika anda mengizinkan."
Alberto terdiam. Cukup lama berpikir. Ada banyak hal yang ada di dalam kepalanya. Ia tak paham dengan permintaan Amabel yang tiba-tiba. Sementara, Alberto tak pernah memiliki seorang murid. "Begini, saya harus menjelaskan sesuatu. Sebelum musim semi tiba, saya akan pergi mengelana untuk mencari ilmu. Ini perjalanan yang akan memakan banyak waktu karena saya berencana mengelilingi seluruh negeri."
Senyum Amabel tercelak lebar. "Tak masalah! Saya bisa melakukannya."
Alberto menghela napas. "Nona, sampai saat ini saya tak tahu kenapa anda memanggil saya. Ya, anda ingin menjadi murid saya. Masalahnya, kenapa?" Amabel terdiam, Alberto dapat melihat keengganan di wajahnya. Lelaki itu mengambil satu potong kue kering, "satu hal yang harus anda tahu, sebuah hubungan antara guru dan murid harus dimulai dengan keterbukaan. Setelah keterbukaan harus ada kejujuran. Anda paham?"
Itu artinya Alberto ingin mengetahui alasan di balik keputusan Amabel. Artinya alasan itu harus berasal dari kejujuran dan tak boleh dikurangi atau ditambahkan. Artinya tak ada yang ditutupi. Waktu pertama kali Amabel belajar bersama Sir Reginald, ia melakukan hal yang sama. Amabel saat itu bercerita tentang keanehan pada rambut dan matanya, juga kecemasannya. Itu awal keterbukaan dari ilmu yang akan Amabel dapat dari gurunya.
Amabel menarik napas, kemudian membuangnya. Sementara Amabel masih berusaha menenangkan diri, Alberto mengunyah kue keringnya lagi. "Sir Bennett, ketahuilah bahwa saya ingin memberikan sebuah keterbukaan dan kejujuran, akan tetapi ada beberapa hal yang tak bisa saya katakan."
Mendengar itu Alberto membersihkan tangannya dan berdiri. "Saya pergi kalau begitu. Tak ada keterbukaan jika hanya setengah kebenaran. Saya akan memberi waktu sampai waktu keberangkatan nanti."
Amabel tahu jika Alberto tengah memberi waktu agar dirinya siap. Gadis itu langsung membungkuk, "saya akan menemui anda."
Alberto melambaikan tangannya saat keluar dari kamar Amabel. Tak ada rasa bersalah di sana. Hanya, sayang sekali ia baru memakan tiga potong kue keringnya karena benar-benar lezat.
Amabel langsung jatuh terduduk ketika pintu tertutup. Ia menutup wajahnya frustasi. Akibat rahasia yang harus ia jaga, keputusannya tak dapat diambil dengan cepat. Ia setengah hati dan itu membuat dadanya sesak. Sekarang Amabel harus bagaimana? Ia harus cepat mencari kekuatan dan pergi dari istana.
"Kamu akan pergi ke mana?" Ulang Permaisuri Jovanka. Wajahnya terlihat begitu pucat dan khawatir. Tangannya langsung menangkup wajah putranya. "Putraku, kamu baru saja kembali. Bukankah kamu akan menetap? Kenapa harus pergi lagi?"
"Mama. Tolong lihat aku," dengan lembut Arion menarik tangan ibunya. Perempuan yang telah merawatnya dengan penuh kasih itu tak mendengar. Matanya tak mau bertemu dengan milik Arion. "Mama, hanya aku yang bisa menyelesaikan misi ini. Ini demi keselamatan kita."
Kali ini Permaisuri Jovanka menoleh, tangannya menggenggam erat tangan Arion. "Ada banyak panglima di luar sana. Jangan membuatku khawatir seperti ini, Arion. Berapa lama aku harus menahan napas tiap kali kudengar berita kematian di medan perang? Jangan, buat ibumu ini menderita lagi. Aku mohon."
Arion memejamkan matanya. Sakit sekali mendengar ucapan ibunya itu. Akan tetapi, ia sudah terikat janji. "Aku akan kembali. Utuh dan selamat."
Permaisuri Jovanka menggeleng, air mata kembali mengalir. "Aku mohon ... pikirkan ulang. Tidakkah kamu merasa kasihan padaku? Atau pada tunanganmu?"
"Segalanya belum begitu jelas, mama." Ujar Arion sambil menatap genggaman tangannya pada Permaisuri Jovanka. "Aku tahu mama kuat, untuk itu aku ingin agar mama menemani Amabel. Kalian bisa menghabiskan waktu bersama."
Permaisuri Jovanka malah menghela napas. "Bagaimana bisa aku egois seperti itu? Amabel memiliki hak untuk belajar dan memilih pengalaman sebelum masuk ke istana."
Arion kini merangkul Permaisuri Jovanka dan mengecup puncak kepalanya. "Doakan aku dan restuin kepergianku. Dengan itu, musuh sehebat apapun akan kukalahkan."
Permaisuri Jovanka memeluk Arion, erat. "Ketika kemenangan pertamamu, kamu hampir mati karena tebasan di punggung. Kemudian saat kamu kembali, mata dan rambutmu berubah. Saat nanti kamu selesai dengan misi ini, masihkah aku mengenalimu? Haruskah aku merelakan putraku untuk kembali merasakan siksaan yang luar biasa? Aku tak bisa, Arion. Kamu adalah putraku dan begitu menyakitkan untuk melepaskanmu ke medan perang lagi."
"Mama," panggil Arion namun Permaisuri Jovanka bangkit dan menatap keluar jendela. Air matanya manis mengalir, "doa dan restuku akan selalu menemani tiap langkahmu, Arion. Hanya saja, aku tak akan mengizinkanmu. Katakan itu pada Yang Mulia Raja."
Arion menghela napas. Ia tahu akan seperti ini. Akhirnya ia menaruh sebuah kotak kecil dan surat di bawahnya. "Aku akan sering mengirim surat. Mama, kali ini aku tak akan kembali dalam waktu dekat. Jaga diri mama dan jangan lupa bahwa aku benar-benar menyayangimu."
Arion kemudian bangkit dan keluar dari kamar Permaisuri Jovanka. Ia dapat mendengar tangisan ibunya dan dengan berat hati ia menjauh dari sana. Arion mungkin harus menjauh dari keluarganya dan mungkin ini lebih baik. Ia harus membayar dosa-dosanya di masa lalu. Ia tak boleh terlalu memikirkan soal tahta dan kekuasaan. Arion bukan Theo, meski ingatan dari masa lalu terus mengganggu.
Lelaki itu membawa kudanya ke arah hutan. Ia butuh sendiri. Di tengah hutan terdapat sebuah telaga kecil, tempat Arion bisa menenangkan diri. Ia mengikat tali kudanya di salah satu pohon dan duduk di pinggir telaga.
Tangannya menyentuh rambutnya yang kini berwarna hitam. Sejak ia mendapatkan rambut dan mata ini, ia jadi mengingat kehidupan sebelumnya. Reinkarnasi. Ia adalah reinkarnasi dari Theo Walcott, raja pertama. Tak masuk akan memang, hingga untuk beberapa waktu Arion takut untuk tidur. Ketika ia dalam keadaan tak sadar, Theo menemuinya dan menceritakan semua kisah di masa lalu.
Soal kerajaan, kekuasaan, keegoisan, dan cintanya pada Celine. Arion mengusap wajahnya dengan air dan menghela napas. Seandainya ia tak memiliki memori ini, apakah segalanya akan berubah? Apakah perasaan bersalah ini akan berhenti datang?
Tiap kali melihat Amabel, ia merasa begitu bahagia dan sakit hati di waktu bersamaan. Ia begitu bahagia dapat melihat Celine lagi, namun hancur karena teringat kesalahannya. Seandainya ia tak haus kekuasaan, mungkin Celine tak harus membaur dengan alam. Mungkin meski ia tak bisa memiliki Celine, ia dapat melihat Celine hidup. Tanpa sadar air matanya menetes, ia merasa begitu sesak hingga sulit bernapas.
Arion ingin bebas dari penderitaan ini. Menjauh dari Amabel akan menjadi solusi tercepat, meski ia malah merasa lebih sesak. Betapa egoisnya Arion karena tak mau melepaskan Amabel namun, ingin penderitaannya berakhir. Jika seperti ini, apa yang harus Arion lakukan?