The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Enam Belas: Pesta Kebun



Di hari ke empat Amabel memilih berdiam diri di kamar. Ia tak mau keluar kamar karena luka di lehernya terlihat jelas. Amabel tak ingin memberikan gosip pada orang lain. Kier masuk ke dalam ruangan belajar Amabel dengan sebuah surat. "Tuan putri, ini surat undangan minum teh esok hari."


Alis Amabel menyatu, bingung dengan kabar yang tiba-tiba ini. "Besok? Tiba-tiba sekali. Apa Rahel Hutger akan datang?"


Ah, Amabel rindu Rahel. Kier hanya menggeleng, "untuk itu saya tidak tahu. Akan tetapi, saya tahu bahwa Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu akan datang."


Jika dua orang penting di kerajaan datang, sudah pasti ini bukan sebuah pesta minum teh biasa. Kemungkinan besok akan diumumkan para calon istri Pangeran yang lulus ujian tulis. Artinya yang datang akan lebih sedikit. Amabel menatap Kier yang matanya berbinar. Melihat itu ia merasakan punggungnya dingin. "Ada yang ingin kau katakan, Kier?"


Kier langsung tersenyum lebar. "Saya ingin mendiskusikan tentang gaun yang akan tuan putri gunakan."


Buru-buru Amabel mengibaskan tangannya, "tak perlu. Aku percaya padamu. Aku percaya Kier pasti akan membuatku cantik. Aku hanya minta untuk tidak terlalu mencolok."


Kier mengangguk, tegas. "Kalau begitu, serahkan pada saya! Saya akan mempersiapkan air untuk tuan putri dulu kalau begitu."


Amabel mengangguk kemudian Kier keluar dari ruang belajarnya. Amabel penasaran, apa yang akan terjadi besok? Apapun itu, semoga dia tak bertemu Pangeran ke empat. Amabel masih takut dan itu mengganggunya.



Amabel menatap pantulan dirinya di kaca. Hari ini ia menggunakan gaun berwarna biru muda, setengah rambutnya diikat dengan pita berwarna merah muda dan sisanya tergerai dengan indah. Seperti yang Amabel inginkan, tidak terlalu mencolok.


Hm, entah kenapa Amabel tak merasa puas. Ia akhirnya menarik pita di rambutnya dan melilit pita tersebut di pinggangnya. Setelah melihat hasilnya tersenyum lebar. "Ini lebih baik. Kier sematkan jepit berbentuk bunga itu di kunciranku."


Kier menurut kemudian tersenyum. "Tuan putri terlihat cantik."


Amabel mengibaskan rambutnya, "aku tahu." Kemudian kekehan terdengar dari mulutnya. "Mari kita berangkat sekarang, Kier."


Kier mengangguk dan berjalan lebih dulu seperti sebelumnya. Hal ini mungkin terlihat aneh, namun mengingat Amabel tak mengetahui istana dengan baik jadi Kier berjalan di depan. Keduanya mencapai taman labirin dan menuju sisi kanan, jauh dari pintu masuk labirin. Kejadian memalukan kembali melintas di ingatan Amabel.


"Tuan putri, silakan duduk." Kier menarik bangku untuk Amabel. Gadis itu mengangguk dan duduk. Setelahnya Kier langsung berdiri di belakang Amabel.


Meja di depannya berbentuk persegi panjang dengan 19 bangku. Jika 2 kursi untuk Yang Mulia, artinya ada 17 putri bangsawan yang lulus. Amabel duduk di samping bangku Yang Mulia. Di tiap bangku terdapat nama keluarga masing-masing bangsawan. Sayangnya, Amabel tak dapat melihatnya.


Rahel berada tiga bangku darinya dan sejak tadi Amabel mencuri pandang. Akan tetapi, begitu sulit mengobrol dengan para penanggung jawab yang berdiri di belakang tubuh mereka. Akhirnya, Yang Mulia Raja dan Ratu tiba. 17 gadis yang berada di meja tersebut langsung berdiri dan memberi hormat. "Salam kami pada Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu. Semoga Yerkink selalu damai."


Yang Mulia Raja langsung memberi tanda agar para gadis mengangkat kepalanya. "Semoga kedamaian tak meninggalkan kalian. Duduklah dan tuangkan teh hangatnya."


Para putri bangsawan mulai menyesap tehnya setelah melihat Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu meminum tehnya. Rasa tehnya begitu menyegarkan, mungkin ada campuran mint, camomile, dan sedikit perasaan lemon. "Lezat," gumamnya sambil mengunyah kue kering.


"Apa Yang Mulia Ratu menyukai kuenya? Ini benar-benar lezat." Puji salah seorang putri bangsawan. Amabel tak berniat mencari tahu siapa karena ia lebih fokus pada kue kering di piringnya.


"Begitukah? Aku tak suka kue kering karena terlalu manis." Jawabannya terdengar manis namun tajam..


"Tehnya juga lezat."


"Untukku terlalu asam." Balas Yang Mulia Ratu datar.


Bagaimana Amabel harus bereaksi? Dia pada akhirnya hanya menyesap tehnya dalam diam. Yang Mulia Ratu melihat keheningan tersebut, "ada seseorang yang membuatku penasaran." Ucapan itu menarik perhatian para putri bangsawan. "Lady Lancaster, kau yang menulis jawaban untuk menentang perintah kerajaan bukan?"


Amabel dapat mendengar jeda panjang setelah pertanyaan itu dikeluarkan. Namun, saat ini Amabel tak perlu takut. "Ya, Yang Mulia Ratu."


"Katakan, kenapa kau menentang perintah mengenai pencarian permaisuri kerajaan?" Yang Mulia Ratu bertanya sambil menyesap tehnya.


Amabel menarik napas kemudian menjawab dengan tenang. "Karena saya merasa ini semua tidak adil." Jawab Amabel, ada keheningan yang dingin di sana. Amabel tak menatap ke arah Yang Mulia Raja dan Ratu, karena itu tak sopan.


"Betapa lancangnya!" Teriak salah satu putri bangsawan. Amabel tak ingin mencari tahu karena kemudian banyak suara yang menyahut.


Yang Mulia Ratu menaikkan tangannya, memberi tanda untuk diam. "Lanjutkan, Lady Lancaster."


Amabel menatap lurus ke depan. "Tak semua perempuan di kerajaan menginginkan pernikahan ini dan saya adalah salah satunya. Ketika peraturan kerajaan disebarkan, negera ini dengan sengaja memotong sayap para perempuan muda. Sebagai anak dari seorang bangsawan, para putri di sini memiliki kemampuan yang lebih. Akan tetapi, ketika kami masuk ke dalam istana ini segalanya tak dapat kami raih lagi. Yang Mulia, masuk ke dalan istana berarti segala mimpi dan harapan kami harus dilepas begitu saja."


"Kalau saya tak bisa menggunakan kami, biarkan itu menjadi saya." Amabel menarik napas, kemudian melanjutkan. "Saya bukan seorang gadis yang memiliki mimpi, satu-satunya keinginan saya hanyalah hidup sebagai Amabel Lancaster. Saat saya masuk ke dalam istana, saya tahu bahwa saya harus menjadi yang terbaik. Terbaik sebagai seorang Lancaster. Akan tetapi, ketika saya keluar dari istana meski tanpa status sebagai istri Pangeran, orang-orang akan terus bertanya alasan saya gagal. Mereka akan terus bertanya hingga pada akhirnya itu menjadi label untukku."


"Tiap langkah yang aku ambil akan dipertanyakan. Tiap usaha yang aku buat akan diragukan. Tiap laki-laki yang berniat menikahiku akan diragukan pula oleh masyarakat." Amabel kini memainkan jarinya di atas cangkir. "Hal yang paling tidak adil adalah ketika saya ingin menolak, hukuman akan dijatuhkan pada seluruh keluarga. Apa itu adil, Yang Mulia?"


"Meragukan keputusan bukan berarti menurunkan kepercayaan. Saat rakyat merasa ragu ada kepercayaan bahwa pemimpin mereka akan menjadi lebih baik. Keraguan dapat menggiring kepercayaan dan kesetiaan." Balas Amabel tenang.


Di tempat Rahel berteriak dalam hati. Temannya benar-benar luar biasa! Sementara Kier menatap Amabel dengan tatapan kagum.


"Menarik sekali, kau meragukan keputusanku namun tetap setia. Kenapa demikian?" Yang Mulia Raja ikut bertanya. Ia tahu kabar mengenai putri Lancaster yang begitu cerdas dan dewasa, namun baru kali ini ia berinteraksi secara langsung.


"Keraguan dari sebuah putusan dapat membuat seorang pemimpin memikirkan jalan keluar yang lebih baik. Sebuah jalan keluar yang dirasa dapat memberi keadilan. Dari sana kepercayaan rakyat akan bertambah dengan kesetiaan yang meningkat." Amabel masih menatap lurus ke depan. "Sama seperti peraturan yang dibuat oleh Permaisuri Jovanka ketika meningkatkan pajak untuk bangsawan. Pada saat itu seharusnya pajak rakyat yang dinaikkan, namun rakyat yang merasa tak adil mengeluarkan pendapatnya. Keraguan muncul dan hampir menciptakan kekacauan. Akan tetapi, Permaisuri Jovanka berhasil menciptakan keadilan dengan meningkatkan pajak bangsawan. Lagipula aneh jika kerjaan meningkatkan pajak untuk rakyat yang memiliki harta tak begitu banyak, namun membiarkan para bangsawan hidup mewah tanpa beban."


"Dan kau bagian dari lingkaran bangsawan." Balas seorang gadis di depan Amabel. Tatapannya datar, namun nada bicaranya begitu tajam.


Amabel membalas tatapan tersebut, seolah tak tertarik. "Dan seringkali aku merasa muak dengan orang-orang yang membanggakan statusnya. Hanya karena gelar bangsawan, bukan berarti kita lebih baik dibandingkan rakyat biasa."


Yang Mulia Ratu menepuk tangannya, kemudian terkekeh. "Ah, kau membuatku senang hari ini. Kau tahu jika kau bicara seperti itu kau akan dianggap sebagai seorang pengkhianat."


"Apa yang saya katakan berdasarkan jawaban saya di atas kertas ujian. Berdasarkan peraturan kerajaan, segala yang saya tulis didasari asas ilmu pengetahuan." Balas Amabel dan itu alasan ia tak takut menjawab.


"Artinya?" Yang Mulia Raja sengaja bertanya.


"Artinya, apapun yang saya tulis dianggap sebagai opini seorang peneliti. Hasil akhir dari tulisan tersebut berada di bawah tanggung jawab kerajaan dan untuk itu saya tak takut dihukum. Kerajaan akan melindungi tiap peneliti dan hasil penelitiannya." Balas Amabel tanpa ekspresi.


Kali ini Yang Mulia Raja ikut tertawa. "Aku mendapat hiburan yang menyenangkan. Seperti yang diharapkan dari putri Duke Lancaster. Kami tak bisa berlama-lama, jadi nikmati waktu kalian."


Yang Mulia Raja mengulurkan tangannya pada Yang Mulai Ratu dan langsung diraih. Begitu anggun, begitu indah. "Nikmati waktu kalian."


"Semoga Yerkink selalu damai." Hormat para gadis di sana.


Amabel bisa mendengar bisikan tak suka dari para gadis bangsawan, namun tentu saja ia mengabaikannya. Ia lebih memilih menatap langit biru. Amabel ingin ini cepat berakhir.


"Dia pasti melakukan itu sengaja untuk mencari perhatian Yang Mulia." Ucap seseorang, terlalu kencang hingga Amabel mendengarnya.


"Tentu saja begitu. Aku yakin dia hanya menghafal jawaban tersebut." Balas yang lain.


"Memang apa yang diharapkan dari putri keluarga Lancaster? Mereka keturunan penyihir!"


Cukup. Kali ini Amabel tak dapat menahannya. Gadis itu langsung menoleh, menatap tiga gadis yang berada di samping Rahel. Matanya bersitatap dengan Amabel, dengan gerakan pelan Rahel menggeleng. Ia memberi kode agar Amabel menahan diri. Akhirnya Amabel berdiri, "Kier mari kita pergi. Aku ingin berendam air dingin."


Kekehan meledek terdengar dari belakang. "Lihat, pasti ia kabur. Lancaster pengecut."


Gerakan Amabel yang menarik pedang dari penjaga dan menghunuskanya ke leher gadis berambut cokelat menciptakan pekikan di sana. "Katakan sekali lagi dan aku tak ragu menebas lehermu."


"Kau! Turunkan pedangmu!" Jerit temannya dan Amabel dengan mudah mengayunkan pedangnya ke leher gadis itu. "Kau gila!"


"Kau berpikir untuk melakukan pembelaan? Ini adalah pembelaan yang aku lakukan atas ketidaksopanan mulutmu. Secara hukum aku akan dinobatkan sebagai pahlawan karen membela harga diri keluarga dan kalian dianggap sebagai pecundang karena bergosip tentang hal yang tak penting."


Dua gadis itu ketakutan, terlebih karena Amabel mengayunkan pedangnya di antara leher mereka. "Jadi, katakan, mana yang kau pilih? Membuatku menjadi pahlawan atau membuat diri kalian sebagai pecundang?" Kata-kata begitu datar dan dingin. Ketakutan di mata mereka mungkin sama dengan ketakutan yang dirasakan olehnya kemarin.


"A-saya minta maaf." Si rambut cokelat langsung bersimpuh di atas tanah. Pedang Amabel masih setia di sisi lehernya, "untuk?"


"Untuk ucapanku yang tak masuk akal. Untuk mencemooh nama keluarga Lancaster. Saya benar-benar minta maaf." Ujarnya dengan nada bergetar.


Si gadis berambut hitam yang tadi ikut berbicada dengannya ikut bersimpuh. "Saya juga minta maaf, tuan putri. Saya telah begitu lancang karena menyebarkan berita bohong."


"Jika di masa depan kalian melakukan hal yang sama, aku akan membuat kematian kalian begitu menyakitkan." Amabel berkata dengan tatapan tajam.


Setelahnya ia mengembalikan pedang tersebut pada ksatria. "Kier, ayo kembali."


Kier mengikuti Amabel dari belakang. Hari ini ia melihat sosok Amabel yang berbeda. Seorang gadis yang memintanya untuk bertatap mata hari ini malah membuat gadis lain mengeluarkan air mata. Hari ini Kier semakin yakin bahwa Amabel bukan gadis biasa.


Ketika pedang ksatria itu ditarik, Kier tak melihat ketakutan tetapi keyakinan. Tiap tindakannya dilakukan dengan pasti dan penuh perhitungan, namun Kier tahu Amabel tak akan melupakan ucapannya.