The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Tiga Belas: Istana



Amabel sekarang tahu kenapa banyak orang yang ingin ke istana. Bangunan di hadapannya begitu indah. Terbuat dari kristal dan dikelilingi dengan taman bunga. "Cantik sekali." Pujinya sambil membawa koper di kedua tangannya.


Duke Lancaster tersenyum kemudian mengusap puncak kepala Amabel. "Banyak yang terpesona dengan keindahannya, seperti bunga mawar. Menarik namun berbahaya."


Amabel menoleh, menatap papanya. Ia kira papanya akan melanjutkan pembicaraan, namun tidak. Duke Lancaster malah memegang bahunya dan menatapnya lurus. "Sebentar lagi akan ada pelayan yang menjemputmu. Papa tak bisa mengantarmu sampai ke dalam."


Kekehan terdengar dari mulut Amabel, "bahkan kalaupun boleh aku akan menolaknya, papa. Jangan khawatir, aku akan menjadi gadis yang kuat!"


Duke Lancaster mengangguk kemudian mengecup puncak kepala putrinya hangat. "Semoga keselamatan dan kebahagiaan tak pernah meninggalkanmu."


"Dan semoga papa selalu diberi kekuatan." Balas Amabel sambil tersenyum simpul.


"Dayang istana, Kier memberi salam pada Duke Lancaster dan tuan putri." Seorang perempuan menghampiri mereka, membuat Amabel menaruh kopernya dan membalas salam tersebut.


"Apa kau yang bertanggung jawab atas diriku di istana, Kier?" Tanya Amabel lembut. Kedua tangannya tertumpuk di depan.


Kier mengangguk, kemudian membiarkan dua pelayan laki-laki membawa koper Amabel. "Mari, tuan putri, saya akan mengantar anda ke kamar."


Amabel mengangguk kemudian berbalik pada Duke Lancaster. "Aku pamit, papa. Semoga kebahagiaan dan keselamatan tak pernah pergi dari sisi papa."


Duke Lancaster memberikan kotak yang sedari tadi ia pegang. Kotak hadiah dari Alec dan Eli. Amabel menerima dengan senyuman, "sampai jumpa, papa."


Duke Lancaster mengangguk dan menatap kepergian putrinya. "Semoga keselamatan tak pernah meninggalkanmu, Amabel."


Amabel mengikuti Kier dari belakang. Istana benar-benar cantik. Lantainya dihiasi permata dan berlian, benar-benar cantik. Akan tetapi juga menyedihkan. Jika mereka bisa menghias istana semewah ini seharusnya mereka bisa memberikan pendidikan gratis pada orang yang tak mampu.


Sampai saat ini meski Comma merupakan sekolah umum bagi rakyat biasa, namun pendidikan yang didapat masih jauh dari kata layak. Beruntung di Plodnavor, Comma diberikan tunjangan yang besar hingga rakyat biasa dapat menikmati bangku pendidikan setingkat dengan sekolah khusus bangsawan. Sayangnya, hal ini tidak berlaku di daerah lain.


"Tuan putri, ini kamar anda." Kier membuka pintu berwarna emas di hadapan Amabel dan membiarkan gadis itu masuk.


Kopernya ditaruh di samping sebuah lemari berwarna putih. Kamar tersebut dilengkapi dengan ruang tamu. Terdapat dua pintu di sisi kanan yang kemungkinan adalah kamar tidur dan ruang belajar. Kurang lebih sama dengan kamarnya di rumah.


"Tuan putri bisa beristirahat dulu. Saya akan pergi untuk menyiapkan makan siang." Kier berujar, matanya berwarna hitam legam seperti rambutnya. Sejak tadi, Kier selalu menatap lantai ketika berbicara. "Apa ada yang tuan putri butuhkan?"


Amabel menggeleng, "tidak Kier ini semua sudah cukup. Kalian bisa menyelesaikan urusan kalian. Terima kasih."


Mata Kier bergerak cepat dan kembali menunduk. Ucapan terima kasih dari Amabel membuatnya terkejut. "Tidak perlu berterima kasih, tuan putri. Ini sudah menjadi tugas saya."


Amabel malah terkekeh mendengarnya, "tetap saja kalian sudah membantuku dan kedepannya akan membantuku. Jadi, terima kasih dan tolong bantuannya."


Kier lebih terkejut lagi ketika Amabel membungkuk. Perempuan muda itu langsung bersimpuh, tindakan tersebut tentu saja diikuti oleh dua pelayan laki-laki di belakangnya. "Saya akan berusaha untuk membantu tuan putri ke depannya."


"Hm, terima kasih sekali lagi. Kalian boleh pergi sekarang." Amabel melambaikan tangannya pada Kier yang hanya menunduk sebagai balasan. Pelayan di istana menginginkannya saat pertama kali bertemu Pita. Hari itu juga Pita bersikap seperti Kier.


Sejujurnya Amabel tak menyukai ketika seseorang bersimpuh di hadapannya, ia merasa tak enak. Mereka sama-sama manusia, kenapa harus menghormati sampai seperti itu?


"Ah, aku belum sempat pamit kepada Sir Reginald." Gumam Amabel. Ia mulai mengeluarkan barang-barang pribadinya dan merapikannya.


Amabel tak banyak membawa gaun karena tentu saja istana akan menyediakan gaun untuknya. Kopernya lebih banyak diisi oleh buku dan kertas. Setelah selesai, Amabel memasukkan koper kosongnya ke dalam lemari di bawah tempat duduk. Gadis itu kemudian melangkah menuju meja belajar.


Amabel bukan hanya menulis surat untuk Sir Reginald, tetapi juga untuk orang-orang di rumah. Untuk Alec, Eli, mama, Pita, dan Elle. Gadis itu tersenyum saat menulis surat-surat tersebut.


Setelah semuanya selesai, Amabel memasukkan masing-masing ke dalam amplop dengan warna berbeda. Untuk Sir Arnold berwarna putih karena ia tahu gurunya tak suka sesuatu yang berlebihan. Untuk mama berwarna perak. Untuk Alec dan Eli berwarna biru. Sedang untuk Pita dan Elle berwarna merah muda. Setelah selesai, Amabel menutupnya dengan cap keluarga Lancaster.


"Aku akan menitipkannya pada Kier nanti." Gumamnya sambil merapikan surat-surat yang sudah disusun tersebut.


Ah, Amabel jadi penasaran, di mana Rahel? Gadis itu harusnya masuk ke dalam istana juga. Amabel akan mencarinya nanti.


"Tuan putri, makan siang anda sudah siap." Kier mengetuk pintu. "Saya akan masuk."


Amabel berdiri dan berjalan menghampiri Kier. "Kier, apa calon istri Pangeran yang lain sudah tiba?" Tanya gadis itu saat membuka pintu ruang belajar.


Kier tengah memerintahkan dua orang pelayan merapikan makan siang untuknya. "Jika anda mencari putri dari Count Hutger, saya belum mendengar kabar darinya."


Amabel langsung menyipitkan matanya. "Bagaimana kau bisa tahu soal itu?"


Kier menunduk, "tentu saya harus mencari informasi tentang tuan putri sebelum menjadi pelayan anda."


Amabel meraih roti kering dan mencelupkannya ke dalam sup. "Hm, ini lezat. Katakan pada juru masaknya bahwa aku menyukai makanan ini."


"Tentu."


Rasanya begitu sepi. Biasanya ia akan makan siang bersama Pita. Tentu saja Pita akan menolaknya karena perbedaan status mereka, tetapi Amabel adalah gadis yang keras kepala. "Di mana tuan putri Rahel akan tinggal? Apa di samping kamarku?"


Kier diam sejenak sebelum menjawab. "Tiap nona calon istri Pangeran ditempatkan di lokasi yang berbeda."


Aneh. Ada yang mencurigakan di sini. "Dan di mana lokasi tuan putri Rahel berada nanti?"


Kier menunduk, memohon maaf. "Itu bukan sesuatu yang saya tahu, tuan putri. Akan tetapi, kemungkinan nona muda Hutger berada di istana selatan."


"Oh, aku ingin meminta tolong untuk mengirimkan surat di atas meja belajarku." Amabel mencoba menatap Kier, tetapi lagi-lagi ia menunduk. Gadis itu mendorong piringnya yang sudah kosong. "Kier, kenapa kau menunduk sejak tadi? Apa ada yang menarik dengan lantai-lantainya?"


Dengan cepat Kier menggeleng, "tak ada, tuan putri."


"Kalau begitu tatap mataku saat aku berbicara padamu." Balas Amabel tegas.


"Bagaimana bisa saya melakukan hal tersebut?" Ujar Kier sambil menggeleng.


Amabel menghela napas, "anggap saja ini perintah untukmu."


Mau tak mau Kier mengangguk. Amabel menyanggah dagunya dengan tangan sambil tersenyum. "Sekarang tatap mataku."


Kier dengan ragu-ragu mengangkat kepalanya dan menatap Amabel. "Bagus, sekarang tolong kirimkan surat-surar di meja belajarku ya. Aku akan mandi setelah ini dan kau tak perlu memanggil pelayan lain untuk membantuku."


Kier mengangguk dan Amabel melangkah ringan menuju kamar tidurnya. Dia ingin berendam di air dingin agar kepalanya dapat berpikir dengan jernih. Kenapa Kier menyebutkan tuan putri pada dirinya sementara Rahel disebut nona. Ada yang aneh di sini.