The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Enam: Pasar



Pusat kota ramai seperti biasa. Jalanan Vessbian merupakan pusat para pedagang berkumpul. Mereka biasa menjajakan dagangannya di sepanjang jalan tersebut. Aku menutupi rambutku dengan jubah berwarna ungu muda. Pita berdiri di sampingku, mengawasi tiap pedagang yang ada.


Kami masuk ke dalam toko alat tulis. "Selamat siang, tuan Lavite." Sapaku pada pria paruh baya di balik meja kasir.


Pria itu mengangguk dan tersenyum. "Sebuah berkah bagiku karena nona datang jauh-jauh. Apa persediaan kertas dan tinta nona habis?"


Aku mengangguk, mulai menilik tiap kertas yang ada. Sebuah kertas berwarna-warni menarik perhatian. "Tuan Lavite, aku ingin menambah kertas berwarna ini untuk dikirim ke rumah."


"Akan kumasukkan nanti ke dalam pesanan nona. Aku memiliki tinta berwarna emas dan perak, apa nona menginginkannya juga?" Tuan Lavite membawa contoh tinta berwarna emas dan perak.


Warna yang indah, tetapi rasanya aku tak membutuhkannya. "Aku akan memilih tinta yang biasa saja. Kalau tak keberatan, bisakah pesanan tersebut dikirim hari ini? Aku sangat membutuhkannya."


Tuan Lavite menggeleng, menampilkan wajah tak enak. "Nona, maaf. Akan tetapi, hari ini kami harus mengurus pesanan kerajaan. Pesanan nona mungkin baru kami kirim besok siang. Atau jika nona mau kami bisa membungkusnya sekarang dan nona bisa membawanya. Tapi nona harus menunggu beberapa waktu, bagaimana?"


Aku langsung mengangguk sebagai jawaban. "Kalau begitu aku akan melihat-lihat ke toko lain dan akan kembali lagi siang nanti untuk mengambil pesananku."


Tuan Lavite mengangguk dan langsung memberikan catatan pesananku pada salah satu pekerjanya. Setelah itu aku pamit dan mengajak Pita menuju salah satu toko roti. "Pita, apa kau lapar?"


Pita mengangguk, "sudah waktu makan siang. Nona ingin makan apa?"


"Aku ingin makan roti nyonya Erma. Kau mau?" Tanyaku sambil melangkah ke dalam toko roti Andette. Pemilik toko roti ini merupakan sepasang suami-istri yang sudah tua. Tuan Fergie Andette menciptakan resep roti yang sangat nikmat. Tiap roti di toko ini memiliki kulit luar yang renyah dan bagian dalam yang selembut kembang gula. Membayangkannya saja membuat liurku menetes.


"Nyem! Ayo, Pita!" Ujarnya senang sambil menarik tangan Pita.


"Selamat siang, nyonya Erma!" Sapaku riang.


Wanita berambut oranye itu menoleh, "o oh, liat siapa yang datang! Selamat siang, nona! Sudah lama nona tak berkunjung, aku benar-benar rindu."


Erma selalu menyambut tamunya dengan hangat. Fergie kemudian muncul dengan nampan berisi roti hangat. Aromanya bercampur antara cengkih, kayu manis, dan vanili. "Wuah! Ini roti baru ya? Apa namanya?"


"Kãnil. Aku akan senang jika nona mau mencobanya." Tuan Fergie memberikan sepotong roti dan aku langsung membaginya pada Pita.


Aroma cengkih dan kayu manis masuk ke dalam rongga mulutku. Saat menggigitnya terasa kulitnya yang renyah. Mataku membola ketika merasakan vanili yang meleleh di mulut. "Astaga! Ini luar biasa! Lezat sekali!"


Aku yakin mataku saat ini berbinar. Sungguh, rasanya luar biasa enak! Pita di sampingku mengangguk sebagai persetujuan.


"Aku ingin roti ini! Tolong bungkus sebanyak dua belas buah." Ujarku dengan senang. Tanganku kembali mengambil sepotong roti untuk kunikmati sendiri. "Lezat sekali. Aku akan meminta pada papa untuk membelinya lagi besok!" Aku menoleh pada Pita yang mengangguk setuju.


Aku dan Pita keluar dari Andette dengan membawa dua kantung cokelat. Sementara Pita menaruh kantung berisi roti ke dalam kereta kuda, aku kembali melangkah menuju toko alat tulis.


"Tuan, kalau boleh tahu apa yang telah dilakukan gadis ini sehingga anda mempermalukan dirinya di tengah jalan?" Tanyaku sambil menatapnya langsung.


Lelaki itu tak menjawab, tetapi setidaknya kakinya tak lagi menginjak tangan gadis muda ini. "Perempuan sialan ini sudah mengotori pakaianku dengan tangannya. Aku rasa itu cukup untuk menghukum tangannya."


Pikiran *****. Cih, bangsawan sialan!


Aku memilih membantu gadis muda di hadapanku dan membantunya berdiri. "Tuan, tak ada yang berhak untuk disakiti meski orang tersebut melakukan hal yang buruk. Pikirkan bahwa dia adalah manusia."


"Dia hanya lalat." Jawaban itu membuatku marah. Namun, aku tak boleh memperlihatkannya. Aku tak boleh merusak nama keluargaku.


"Bahkan seekor lalat pun memiliki hak untuk hidup, kakak." Aku menoleh, menatap pria asing dengan rambut merah yang kini merangkul si pria congkak. Si rambut merah tersenyum, "setidaknya kita harus melindungi citramu, kak."


Si pria congkak kembali berdecih. Astaga, ingin rasanya aku melempar wajahnya dengan sepatu kuda! Tanpa berkata apapun ia berbalik dan meninggalkan kami. Sementara si rambut merah tersenyum jail sambil memberikan hormat kecil.


"Hah, sikap macam apa itu?" Rutukku sebal.


"Eung, nona. Terima kasih." Aku menoleh, gadis yang tadi aku tolong menatapku tak enak. Tiba-tiba ia langsung berlutut. "Nona tolong izinkan saya membalas budi dengan menjadi pelayan anda."


"Eh? Tak perlu." Ucapku cepat namun wajahnya mendadak murung. Aku menghela, "sekarang tolong berdiri dulu."


Rambutnya yang berwarna cokelat dikepang dan kini terlihat berantakan. Kalau dilihat pakaiannya pun kotor. "Siapa namamu?"


"Aku tak memiliki nama." Balasan itu membuatku semakin merasa bersalah.


"Elle."


Gadis itu menatapku bingung, namun aku tersenyum. "Elle, namamu. Jika kau tak memiliki nama, bagaimana bisa kau bekerja untukku?"


"Eh, jadi, aku boleh bekerja untuk nona?" Tanyanya. Mata yang berwarna hitam itu bersinar, "aku pasti akan bekerja keras!"


Aku mengangguk, kembali tersenyum pada Elle. "Kalau begitu, pertama-tama mari tolong aku membawa barang dari tuan Lavite."


Saat kami sampai, Pita datang bersama kereta kuda. Tuan Willy, kusir kuda keluarga Lancaster ikut turun untuk membantu membawa barang-barang yang aku pesan. "Oh, Pita, ini Elle. Mulai hari ini tolong bantu dia dan perkenalkan pada tuan Josh. Katakan bahwa Elle akan menjadi pelayan di rumah."


Pita mengangguk dan dengan itu kami pulang menuju rumah. Akan tetapi, aku masih kesal! Siapa sih pria congkak itu?