
Tiga hari di Rezenavor memberikan banyak pelajaran bagi Amabel. Ia dapat mengetahui kualitas pendidikan di sini meski hanya tiga hari. Begitu disayangkan karena meski jarak Rezenavor dan ibu kota hanya beberapa hari, namun fasilitas pendidikan di sini sangat jauh berbeda. Sekolah di sini hanya memiliki dua ruang kelas yang menampung puluhan murid. Agar seluruh kelas mendapat kesempatan yang sama, mereka membaginya dengan kelas pagi dan siang. Guru-guru di sini mengajar seluruh kelas dan pelajaran.
Melihat fasilitas yang seperti ini membuat Amabel sedih. Di Plodnavor, Duke Lancaster memberikan kualitas terbaik dalam fasilitas pendidikan. Bahkan tiap murid yang bersekolah mendapat tunjangan uang saku per bulan, tentu hal ini harus sebanding dengan prestasi mereka. Sekolah rakyat bahkan memberikan jaminan untuk mendapat pekerjaan di pemerintahan atau sektor publik lainnya. Di sini tak ada jaminan tersebut.
"Padahal daerah ini tak terlalu jauh dari Plodnavor. Kenapa kualitas yang diberikan tidak sama, Alberto?" Tanya Amabel. Saat ini mereka tengah istirahat makan siang. Di hadapan mereka, ada murid yang pulang dan pergi.
"Rezenavor adalah sebuah daerah bebas. Kau tahu artinya?" Balas Alberto sambil membuka air minumnya.
Amabel menggeleng, "aku pernah mendengarnya, namun tak tahu apa maksud sebenarnya. Apa ada kaitannya dengan ekonomi? Atau politik?"
Alberto menoleh, ia menenggak air mineralnya dan menutupnya dengan satu tangan. "Ada kaitannya dengan dua hal tersebut. Rezenavor dulu adalah sebuah kerajaan kecil yang akhirnya memilih ikut masuk ke dalam Kerajaan Yerkink. Ini ada kaitannya dengan Celine karena dulu dia membantu Rezenavor."
"Tanah ini subur karena berkah darinya dan Celine memberikan bibit bunga untuk ditanam. Bisa kau lihat saat ini Rezenavor menjadi kota bunga." Alberto kemudian meremukkan kertas pembungkus makanan dan melemparnya masuk ke dalam tong sampah. "Kerajaan memberikan kebebasan pada Rezenavor untuk mengatur kotanya sendiri. Awalnya ada seorang Viscount yang menguasai tanah ini, namun akhirnya masyarakat memutuskan untuk mengatur kehidupan mereka. Di sini strata bangsawan dihapuskan. Mereka hanya memiliki struktur penjaga kota, pembuat peraturan, dan jika diharuskan memilih sesuatu mereka akan bermusyawarah. Dapat dikatakan pemilih suara tertinggi adalah seluruh masyarakat."
Hukum demokrasi. Rezenavor mengikuti hukum tersebut. Sesuatu yang tak mereka sadari telah mereka lakukan. "Lalu soal pajak Kerajaan?"
"Tentu mereka membayarnya. Rezenavor bukan hanya memproduksi bunga, tetapi juga tanaman obat. Dari sana mereka mendapat uang untuk membayar pajak. Mereka bahkan memiliki pengadilan dan penjara sendiri." Alberto tersenyum saat menceritakannya. "Mungkin jika saat itu Celine yang memimpin, kita akan menciptakan kota seperti ini. Seperti Rezenavor."
Amabel menunduk. Jika saat itu Celine tak memilih membaur dengan alam tentu bentuk pemerintahan bukan kerajaan. Akan menyenangkan jika hal itu dapat terjadi. Alberto berdiri, menepuk belakang celananya kemudian merenggangkan tangan. "Yah, tentu itu hanya keinginan semata. Jadi, mari kita lanjutkan perjuangan ini."
Amabel mengangguk, mengikuti Alberto untuk masuk ke kelas selanjutnya. Tiga hari di Rezenavor memberikan banyak sekali pelajaran baginya. Ia tak sabar membagi ini semua, pada seseorang. Entah siapa, mungkin ayahnya, atau dua kakaknya. Ah, bisa juga ia bercerita pada Hendery. Lelaki itu pasti akan tertarik dengan sistem di Rezenavor. Gadis itu mendongak, hari ini langit begitu cerah. "Cuaca yang bagus."
"Cuaca hari ini sangat cerah, Alec. Kau tak ingin melakukan sesuatu?" Alterio menggoyangkan lengan Alec. Dia bosan dengan pelajaran dan Alec selalu murung. "Hei, kau tak mau cerita padaku?"
Alec tak menjawab, malah menenggelamkan wajahnya di balik lipatan tangannya. Melihat itu Alterio camberut. "Jika kau seperti ini dalam waktu yang lama, berarti ada hubungannya dengan adikmu. Kau merindukannya? Bukannya dia sudah kembali ke rumah?"
Mendengar rentetan pertanyaan Alterio membuat Alec akhirnya menyerah. Ia menegakkan tubuhnya dan wajahnya terlihat sedih. "Dia pergi dari rumah. Sudah dua minggu."
Alterio terkejut. Ia pikir Amabel bukan tipe gadis yang suka melarikan diri. "Dia kabur?"
"Siapa yang kabur?" Ian masuk lalu menaruh hasil ujian di meja guru. Setelahnya ia duduk di depan Alec. "Eli kabur lagi?"
Alec menghela napas, ia tiba-tiba merasa lelah. "Bukan. Baik Amabel dan Eli tidak ada yang kabur dari rumah." Alec langsung menatap Alterio tajam ketika temannya membuka mulut. "Aku akan cerita. Amabel pergi dari rumah dan bukan kabur." Sekali lagi Alterio mendapat tatapan tajam dari Alec.
Ian tanpa sadar menegakkan tubuhnya saat mendengar nama Amabel. Sudah lama ia tak melihat gadis itu dan sekarang ia mendapatkan fakta bahwa Amabel sudah pergi. Alec menghela napas dan melanjutkan ceritanya. "Dia pergi bersama Sir Bennett sebagai muridnya. Amabel tak menulis tujuannya, ia hanya menulis bahwa ia akan pergi dalam waktu lama."
"Selama apa?" Ian bertanya. "Maksudku memang biasanya berapa lama seorang murid akan pergi bersama gurunya?"
Alec menggeleng, "aku tak tahu, bahkan ayah pun tidak. Saat kembali ke rumah Bel hanya meninggalkan surat untukku dan Eli."
"Apa Eli mogok makan?" Alterio penasaran. Adiknya Alec yang satu itu pasti akan melakukan hal seperti itu.
Alec terkekeh, "tentu. Anak itu langsung mengunci diri di kamar dan baru keluar dari kamar saat akan berangkat sekolah. Dia bahkan tak berbicara pada ayah dan ibu. Katanya dia merasa dikhianati."
"Pangeran ke lima?" Pertanyaan Alec dijawab dengan anggukan. Alterio kemudian tersenyum lebar. "Eh, tapi kau harus tahu. Sebelum berangkat dia datang ke rumahmu dan memberikan cincin pada adikmu. Bukankah keren? Dia masih mengutamakan adikmu."
Alec malah langsung berdecih, tak suka. Bisa-bisanya mereka bertemu sementara Alec tidak. Ia kembali memberikan tatapan tajam pada Alterio, "semoga adikmu selamat jadi aku bisa mengajaknya bertarung pedang."
Alterio memiringkan kepalanya, tak paham. "Kenapa adikku harus selamat untuk bisa bertarung denganmu?"
"Agar aku tahu kemampuannya untuk melindungi adikku." Mendengar jawaban dari Alec membuat Alterio berdiri sambil berkacak pinggang. "Hei, adikku itu seorang pemimpin pasukan. Sudah pasti kau akan kalah. Dengar ya, Arion itu yang terbaik!"
Alec ikut berdiri, menatap Alterio dengan tatapan tak suka. "Hei, meski dia menjadi pemimpin pasukan bukan berarti dia lebih baik dariku."
"Pasti lebih baik!"
"Tidak akan!"
Keduanya kemudian saling berdecak kesal dan melipat kedua tangannya di depan dada. Setelah itu mereka saling memunggungi. Berbeda dengan dua temannya yang berdebat tak jelas, Ian malah menatap keluar jendela. Amabel telah bertunangan, sedangkan dirinya akan bertunangan minggu depan. Gadis itu saat ini berada entah dimana, membuat Ian khawatir. Tentu jika melihat kemampuan pedangnya, Ian tak perlu khawatir. Hanya saja, jika ada kejadian buruk siapa yang akan menolongnya?
Terlebih, kemana sebenarnya Sir Bennett membawa Amabel? Ian harus tahu tujuan mereka dengan begitu ia bisa menyusul.
Elliott mengayunkan tubuhnya di atas ayunan. Dia merindukan Amabel. Sudah dua minggu adiknya pergi dari rumah dan ia merasa sedih. Rumah terasa kosong dan rasanya tak menyenangkan.
"El, kenapa di sini?" Callista Valery Killian menyapanya. Melihat temannya yang memilih duduk di sampingnya, Elliott tersenyum.
"Tuan putri sendiri kenapa di sini?" Balas Elliott, meledek. Mendengar itu membuat Callista memajukan bibirnya, sebal.
"Aku yang bertanya duluan. Dan berhenti meledek dengan panggilan tuan putri itu." Callista mendorong tubuhnya dengan kaki dan ayunan bergerak lembut. "Jadi, ada apa? Terjadi sesuatu di rumah?"
Elliott mengangguk. "Bel pergi dari rumah. Maksudku, dia menjadi murid dari Sir Bennett dan saat ini sedang dalam perjalanan untuk belajar."
Callista mengangguk. "Kau sedih karena tak bisa melihatnya untuk sementara waktu atau karena tak bisa mengantarnya?"
Elliott menunduk, ia menghela napas panjang. "Mungkin aku lebih sedih karena Bel tak menceritakan masalah ini padaku. Bel mengambil keputusan sendiri. Aku yakin dia pasti memiliki waktu yang sulit. Semenjak masuk ke istana Bel menutupi banyak hal, termasuk perasaannya."
Sejak pulang ke rumah, Amabel tak benar-benar tersenyum. Ia menjadi lebih tertutup dan itu membuat Elliott sedih. Ini seperti saat Amabel menutupi soal rambutnya dulu. "Aku merasa tak berguna sebagai kakak. Aku tak ada di sampingnya saat ia butuh."
Callista turun dari ayunan dan berdiri di depan Elliott. Tangannya menepuk puncak kepala Elliott, "jangan khawatir. Aku yakin Amabel tak akan berpikir demikian. Dia pasti tak suka jika kau berpikir seperti ini. Jangan khawatir, Amabel pasti akan baik-baik saja."
Elliott tersenyum dan menatap wajah Callista. "Terima kasih."
Setelah itu keduanya tertawa. Keduanya tak menyadari jika dari lantai dua, Kenan memperhatikan. Raut wajah Kenan datar, namun matanya tajam. Ia mendengus kemudian menjauh dari sana.