
Ketika Amabel selesai membersihkan diri, Alec masuk ke dalam kamarnya. "Kakak!" Tangannya langsung memeluk leher Alec erat.
Alec membalasnya dengan mengacak-acak rambut Amabel. Senyum kecilnya tercipta, "kau tak membiarkan aku masuk dan duduk?"
Amabel tersenyum, menarik tangan Alec menuju sofa. Di meja sudah terdapat kue kering dan teh yang saat ini dituang oleh Kier. Amabel meraih satu cangkir dan memberikannya pada Alec. "Ayo, coba! Teh yang dibuat Kier sangat enak! Benar-benar menyegarkan!" Amabel menoleh pada Kier dengan senyum lebar. Suasana hatinya benar-benar baik hari ini.
"Tuan putri sungguh berlebihan." Balas Kier sambil menunduk hormat.
Alec mulai menyesap teh tersebut. Warnanya merah muda, beraroma manis, namun saat dicicip terasa segar. "Oh, aku rasa Amabel tidak berlebihan. Ini benar-benar enak dan menyegarkan." Alec menoleh pada Kier yang langsung membungkuk sebagai rasa terima kasih.
"Terima kasih atas pujian tuan muda." Balas Kier rendah diri.
Alec mengangguk kemudian menaruh cangkirnya di atas meja. Melihat Amabel yang memakan kue dengan riang membuatnya geleng kepala. "Siapa yang menyangka kamu baru saja mengalahkan Pangeran ke dua?" Alec mengulurkan tangannya, membersihkan sisa kue di sudut bibir Amabel.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Ian? Maksudku Pangeran ke dua." Alec cepat-cepat membenarkan kalimatnya.
Amabel berhenti mengunyah makanannya. Ia meminum tehnya kemudian mulai bercerita, mengenai pertemuannya dengan Pangeran ke dua dan kemungkinan juga Pangeran ke tiga. Tentang sikap congkak dan menyebalkan, juga si rambut merah yang menghentikannya. Selama bercerita, Alec hanya memandangi Amabel sambil menggeleng. Ya, memang begitulah yang akan Amabel lakukan. "Ya, sikapnya kadang memang lebih sering didasari emosi. Aku salut kamu bisa menangani Ian. Aku dan Rio saja kesulitan mengendalikannya. Dia itu ... hhh, sumber masalah."
Melihat kakaknya yang frustasi membuat Amabel terkekeh pelan. "Ternyata kakak bisa berekspresi seperti itu juga. Kalau begitu artinya mereka teman yang baik."
Alec tersenyum mendengarnya kemudian menepuk kepala Amabel. "Ya, meski Ian sering bersikap buruk sebenarnya dia sangat baik. Hanya sulit mengekspresikan diri saja."
"Seperti kakak?" Ledek Amabel dan Alec langsung mengunci lehernya. Suara tawa terdengar dari mulut keduanya.
Alec kemudian terdiam dan memeluk Amabel, erat. "Berhenti membuat masalah." Ujarnya membuat Amabel kaget.
Gadis itu mendongak, menatap manik mata kakaknya langsung. "Kakak tahu?" Tanyanya kaget.
Alec tersenyum, kali ini seolah tengah menilai Amabel. "Apa yang aku tahu?"
Gadis berambut perak itu tiba-tiba merasa gugup. Semua perbuatannya selama seminggu langsung berputar. Mulai dari masalah di ruang ujian sampai masalah setelah pesta minum teh. Ah, jangan lupa insiden perpustakaan dan taman labirin itu. Mana yang Alec tahu?
"Jadi, kamu akan membuatku mendengar dari sudut pandangmu atau membiarkanku dengan persepsi masyarakat?" Mendengar pertanyaan dari Alec membuat Kier sadar. Meski sikap Alec terlihat memanjakan Amabel, namun tak sekalipun Alec memperlakukan Amabel seperti anak kecil. Dalam bercerita dan berdiskusi, ia menempatkan Amabel seperti teman diskusi. Mungkin ini yang membuat pemikiran Amabel lebih dewasa, juga dalam bersikap.
Dari sudut pandangnya, cara Amabel duduk dan memandang lawan bicara memperlihatkan bagaimana ia sudah biasa dilatih seperti itu. Sosoknya tenang dalam menjawab. Tidak terburu-buru dan tahu apa konsekuensi dalam tiap sikapnya. Kier tak melihat Amabel seperti seorang lady, tetapi lebih seperti seorang ksatria. Jika Kier dapat membuat ungkapan yang berlebihan, Amabel terlihat seperti seorang Emperor. Pemikiran itu akan Kier simpan sendiri. Untuk saat ini, Kier akan menjaga Amabel.
Setelah beberapa saat Amabel akhirnya menjawab. Duduknya tegak dan tatapannya tertuju pada tangannya yang bertumpuk di atas paha. "Aku akan membiarkan kakak memiliki persepsi masyarakat kalau begitu. Kakak, apa yang terjadi di istana tentu harus tinggal di dalam istana bukan?"
Senyuman Amabel membuat Alec mengangguk. Bukan karena Amabel tak ingin bercerita, namun ia tak bisa. Saat ia masuk ke dalam istana, papa sudah mengingatkan bahwa apapun yang ia lakukan, apapun yang ia dengar, apapun yang terjadi pada dirinya tak boleh diketahui orang lain di luar istana. Hal itu pun diketahui Alec. Alasan satu-satunya kenapa kakaknya tak pernah bercerita soal pertemanannya dengan pangeran. Jika, soal Irwin Sarma itu adalah hal yang lain.
"Aku tahu kamu akan menjawab itu. Baguslah, aku tak perlu khawatir." Alec berdiri, kemudian mengeluarkan setumpuk surat dengan tali berwarna perak. "Ini surat dari rumah. Bacalah nanti, sekarang aku harus kembali ke asrama."
Amabel menerimanya kemudian memeluk Alec. "Aku akan merindukanmu." Bahkan meski mereka baru bertemu Amabel sudah merasa kosong.
Alec menepuk puncak kepala adiknya beberapa kali. "Aku pun. Bel, tiap perbuatan dan perkataanmu kedepannya akan selalu menjadi pembicaraan orang-orang. Bahkan hanya butuh sedikit waktu untuk membuat orang-orang mengubah hal fakta yang ada. Berhati-hatilah."
Amabel mengangguk, ia tahu akan hal itu. "Akan kuingat dan kedepannya aku akan lebih berhati-hati lagi."
"Aku pergi kalau begitu." Alec melepaskan pelukannya dan Amabel memberikan hormat kecil. "Semoga keselamatan tak pernah meninggalkan kakak."
"Semoga Bel selalu bahagia." Ujar Alec kemudian keluar dari kamar Amabel.
Amabel masih menatap pintu yang tertutup sejak tadi. "Kier, mulai hari ini kau akan menjadi mata dan telinga untukku."
Kier langsung menegakkan punggungnya. "Baik, tuan putri. Perintah tuan putri akan saya lakukan dengan baik."
Amabel mengangguk, matanya menatap Kier lurus. Tatapan begitu datar, hingga Kier tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. "Temukan gosip tentang diriku di masyarakat. Aku ingin tahu seperti apa persepsi yang kakak maksud."
Kier langsung mengangguk dengan patuh. "Akan saya lakukan."
Amabel mengangguk kemudian melangkah menuju kamar tidurnya. Hari ini begitu panjang dan ia lelah.

"Jadi, maksudmu, kak Ian baru saja dikalahkan seorang gadis? Haha! Sungguh! Astaga, mari kita lakukan pesta!" Ujar seorang pemuda berambut biru gelap. Dia adalah pangeran ke enam, Hendery Damian.
Alterio Evano, nyengir, memperlihatkan bentu senyumnya yang kotak. "Lain, kali harusnya kamu ikut jika kuajak."
Noah langsung cemberut, anak terakhir dari Yang Mulia Raja itu memang tak terlalu dekat dengan Ian. "Tidak mau. Kalau ikut, entah kamu atau Ian pasti akan iseng!"
Alterio langsung menjitak kepala Noah. "Aku sepertinya harus memberi pelajaran padamu, ya? Bisa-bisanya kamu tidak memanggilku dan Ian kakak!"
Noah langsung menghindari dan bersembunyi di balik tubuh Kenan. "Kakak~" rengeknya membuat Alterio makin sebal.
"Lihat! Kamu memanggilnya dengan kakak dan aku tidak!" Seru Alterio sebal.
"Bisa tidak kalian diam? Berisik." Komentar Ryu yang baru datang.
"Kamu bahkan baru datang." Rutuk Alterio. "Oh! Mau dengar gosip dariku tidak?"
Ryu langsung mengangkat tangannya. "Aku tahu lebih baik darimu. Jadi, kalian mau melihatnya langsung atau tidak?"
Mata Hendery langsung berbinar, "kak Ryu memang luar biasa! Tunjukkan pada kami!"
Noah yang awalnya bersembunyi di balik Kenan kini menarik bangku dan duduk di samping Alterio. Kakaknya itu langsung menggerakkan dua jarinya ke matanya dan mata Noah, memberi kode bahwa ia memperhatikan. Noah langsung memberikan tatapan memohon dan Alterio tentu saja lemah dengan itu.
Kenan memilih duduk di samping Hendery. Ryu langsung membuat sihir dengan tangan kanannya dan secara ajaib memperlihatkan pertarungan tadi. Saat pedang Ian berhasil dilepar, secara otomatis Noah, Hendery, dan Alterio bertepuk tangan. Kekaguman terlihat di mata ketiganya. Di tempatnya Kenan tersenyum, ternyata gadis yang ditemui saat itu memiliki kemampuan yang luar biasa.
"Padahal kakak berada di tingkat yang lumayan dalam berpedang." Hendery menoleh pada Kenan. "Akan tetapi, gadis itu mampu mengalahkannya dengan mudah. Padahal ia menggunakan gaun dan sepatu seperti itu. Bukankah itu hebat?"
Ryu menghilangkan sihir yang dibuatnya dan duduk di samping Noah. Alterio menyilangkan tangannya di belakang kepala. "Jika setiap pekan dia dilatih oleh Duke Lancaster dan seorang Alec Lancaster tentu kemampuan tersebut tidak berlebihan. Level mereka berbeda."
"Jadi, menurutmu levelku terlalu rendah?" Nada suaranya begitu dingin dan rendah, membuat Alterio bergidik. "Katakan itu di depanku, Alterio."
"Hehe, maafkan aku." Alterio langsung menyerah. Bagaimanapun ibunya bilang untuk tak mencari masalah dengan saudara-saudaranya.
Ian menghela napas dan menarik bangku kosong di sisi Hendery. "Di memiliki kemampuan yang hebat."
"Aku rasa kakak salah makan." Noah berbisik pada Alterio yang langsung diangguki. "Kakak, jika ingin marah luapkan saja. Kalau seperti ini kakak lebih menyeramkan."
Ryu langsung menutup mulut Noah dengan tangannya. "Di saat seperti ini, kau lebih baik menutup mulut."
Noah kembali cemberut. Jika dilahirkan kembali ia berdoa untuk menjadi seorang kakak, atau biarkan dirinya menjadi anak tunggal! Selalu saja seperti ini karena ia paling kecil, menyebalkan.
"Dia gadis yang menarik." Ujar Ian, tiba-tiba.
Noah langsung menoleh pada Ryu yang tangannya turun. Lelaki itu langsung menggaruk telinganya, "kak Kenan, tolong pukul kepala kak Ian agak ia sadar."
Kali ini Alterio yang menutup mulut Noah karena Ian menatap ke arah mereka tajam. "Hh, sudahlah. Lupakan. Aku ke sini membawa berita lain. Anak itu, mendapat peringkat pertama di ujian tertulis dan juga berani menjawab pertanyaan dari Ibu Ratu dan Baginda Raja. Lalu, di akhir pertemuan minum teh ia mengangkat pedang ke leher dua anak bangsawan."
Kenan terkekeh mendengarnya. "Kombinasi yang luar biasa. Namun, aku tak akan mau menjadikannya istri."
"Hm, dia begitu kuat dan tak mengenal takut." Ujar Hendery. "Dibanding menjadi seorang istri aku lebih ingin menjadikan perdana menteri. Pasti lebih menguntungkan."
Dibanding yang lain Hendery memang lebih tertarik pada struktur kerajaan dan politik. "Syukurlah dia dilahirkan sebagai perempuan." Ujar Hendery dingin.
Dari keheningan tersebut, pemikiran di antara enam saudara itu sana. Jika Amabel dilahirkan sebagai laki-laki, dia tentu akan menjadi ancaman untuk mereka.
"Ah, aku rindu Arion. Anak itu terlalu suka dengan perang." Perkataan Alterio berhasil memecah keheningan tersebut.
Ryu menoleh pada Alterio. "Aku bisa mengirimmu ke tempat Arion jika kau mau."
Alterio langsung mengangkat tangannya, menyerah. "Aku lebih suka kau membawanya ke sini, dibanding aku yang ke sana."
Ryu mengendikkan bahunya, tak peduli. Meski pikiran tertuju pada Amabel. Ia menginginkan Amabel. Bukan, tepatnya kekuatan Amabel.