
Diam-diam Ian mengikuti Raja dan Ratu. Ia mengintip dari pintu dan mendengarkan pendapat keduanya.
"Kau dengar perkataannya tadi? Dia pantas dihukum mati." Ujar Yanha sambil menatap Adena frustasi.
Adena menghela napas, "apa yang kau harapkan saat membuat peraturan yang tiba-tiba ini? Kau berharap semua anak untuk tunduk dan patuh?"
Adena tak pernah menganggap dirinya lebih rendah dibandingkan Yanha. Ia lahir dari seorang Raja hebat dengan kekuatan militer yang luar biasa. Tentu tak mengherankan jika Yanha mati-matian menginginkan dirinya. "Seorang seperti Amabel tak akan mampu kau buat tunduk. Kau menghancurkan dirinya, dua kali. Dan kau melakukan ini hanya karena dia adalah putri Duke Lancaster. Apa kau tak merasa puas dengan apa yang kau miliki?"
"Adena Ivanov, jaga bicaramu!" Suara Yanha meninggi.
Adena tak gentar dengan suara menggelegar itu. "Kau yang harusnya menjaga tindakan dan perkataanmu. Sudah sering kukatakan, suatu hari kau akan hancur karena perkataanmu."
"Aku tak peduli, tetapi anak itu akan kuhukum." Yanha melewati tubuh Adena.
"Jangan kau lupa bahwa aku memiliki seluruh wewenang pada pemilihan ini. Aku yang berhak menghukum siapapun yang bersalah. Jangan juga kau lupakan bahwa pendapat seorang calon permaisuri dilindungi oleh undang-undang. Kau tak berhak menghukum atau melakukan apapun padanya." Penjelasan Adena menghentikan langkah Yanha. Perempuan itu membalikkan tubuhnya, menatap punggung Yanha. "Jika kau memang tak menginginkan anakku naik tahta, katakan sejak awal. Kau hanya membuat segalanya lebih rumit."
Adena kini melewati tubuh Yanha dan keluar dari ruangan. Ian merasa ia tak seharusnya ada di sana. Dengan cepat ia bersembunyi. Ia tak tahu jika orang tuanya memiliki hal serumit ini. Dari dalam ruangan Ian dapat mendengar suara barang yang dibanting. Ayahnya pasti sedang marah.
Adena Ivanov tak langsung kembali ke ruangannya, tetapi melangkah menuju kamar Amabel. Di dalam kamar, Amabel tak mengatakan apapun pada Duke Hamilton. Ia hanya mengeratkan pegangannya pada gaun setelah berkata bahwa keluarganya tak boleh tahu soal ini. Gigi Amabel bergemelutuk, menahan tangis dan amarahnya.
Hingga akhirnya pintu terbuka dan Adena masuk. "Duke, anda bisa pergi. Saya akan menjaganya."
"Baik, Yang Mulia." Jawab Duke Hamilton meski dengan berat hati.
Setelah Duke Hamilton keluar, Adena Ivanov duduk di samping Amabel. Lama tak ada yang berbicara, hingga Amabel menoleh. "Ada apa Yang Mulia ke kamar saya? Apakah hukuman saya sudah ditetapkan?"
Adena terkekeh mendengarnya. "Apakah aku terlihat datang untuk mengatakan hal itu?"
Amabel terdiam, menatap Adena sejenak kemudian menggeleng. "Saya tak akan minta maaf."
Adena menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Kau tak perlu melakukan itu. Apapun pendapat dan ucapanmu selama mengikuti pemilihan calon permaisuri dilindungi oleh undang-undang. Semua itu dianggap sebagai masukan dari akademisi."
Ah, padahal Amabel pernah mengatakannya. Ia terlalu marah hingga melupakan hal penting. Syukurlah karena keluarganya tak akan dihukum. "Kau tahu apa yang kau katakan tadi adalah benar. Raja begitu menginginkan dirimu sebagai permaisuri atau mungkin sebagai ratu di masa depan. Dia menginginkanmu untuk Pangeran ke Lima dan dengan itu posisi Pangeran ke Lima akan semakin kuat. Dia menginginkan kalian menjadi masa depan Yerkink." Tatapan kosong Adena kini bertemu dengan mata bulan Amabel. "Singkatnya, dia tak menginginkan putraku menjadi penerus."
Amabel langsung menunduk. "Saya merasa mendengar hal yang tak seharusnya saya tahu."
Adena mengibaskan tangannya, "jangan terlalu sungkan. Aku melakukan ini semata-mata untuk melindungi putraku. Tak perlu terlalu berharap padaku."
Amabel mulai paham dengan pembicaraan ini. "Jadi, apa yang dapat saya lakukan untuk Yang Mulia Ratu?"
Adena tersenyum. "Baguslah jika kau cepat paham. Aku tak memintamu menikah dengan putraku karena kau akan merepotkan di masa depan."
Anehnya ia tak merasa sakit hati dengan perkataan dari Adena. Mungkin memang langsung dan tajam, namun tak tersirat. "Aku akan membuatmu keluar dari kerajaan. Mungkin tak bisa sampai membuatmu tak menikah, tetapi bisa memberikan kebebasan sampai usia legalmu. Jadi, selama itu carilah kekuatan dan cara agar kau tak kembali ke kerajaan."
Cara ini tak merugikan Amabel. Ia tak harus berhenti dan membuat keluarganya malu. Ia tak perlu kabur dan menjadi pengkhianat pula. Ia bisa keluar secara resmi dan mencari kekuatan seperti yang disarankan Adena. "Selama itu, jangan pernah kembali ke kerajaan dan jangan pernah berhubungan dengan Pangeran ke Lima."
Tiba-tiba Amabel mengeratkan genggamannya pada gaun lagi. Dadanya terasa sesak. Namun kemudian ia mengabaikannya dan mengangguk. "Saya paham. Akan saya lakukan."
Apapun itu. Seberapa pun ia harus membayar. Amabel akan melakukannya. Adena berdiri, "ini hanya ada di antara kita."
Sekali lagi Amabel mengangguk. "Yang Mulia ... tentang keluarga saya ... "
Adena berhenti melangkah. "Lakukan sesukamu. Jika alasan yang kau berikan bagus, mereka tak akan menyentuhmu juga keluargamu."
"Ibunda Ratu." Sapaan itu datang dari si rambut hitam. Matanya yang merah berpendar dalam gelapnya malam. Arion memberi hormat pada Adena yang baru sampai di depan kamarnya.
"Putraku Arion, ada apa? Mari masuk dan kita bicarakan terlebih dahulu." Ajak Adena. Tanpa Arion ketahui, Adena menggunakan sihir di dalam kamarnya. Sehingga pembicaraan mereka tak akan terdengar. Seperti yang ia lakukan pada kamar Amabel tadi. Akan tetapi, untuk ruang baca tadi ia membiarkan Ian mendengar semuanya. Ia butuh seorang pematik.
Tidak, tidak. Adena bukan orang jahat. Ia hanya seorang ibu yang menginginkan anaknya mendapatkan hak yang harus diterima sejak lama. "Jadi, ada apa putraku datang selarut ini? Apa ada sesuatu yang begitu penting?"
Arion menarik napas kemudian membuangnya. "Soal Putri Duke Lancaster, apakah ia akan dihukum?"
Ah, jadi ini. Adena menyilangkan kakinya, menjadikan pangkuan untuk tangannya. "Itu akan diputuskan besok. Kau bisa beristirahat untuk mengetahuinya."
Secara tiba-tiba, Arion berlutut. Sesuatu yang seharusnya tak dilakukan oleh ksatria sepertinya. "Ibunda Ratu, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Bisakah Ibunda Ratu melakukan sesuatu? Sesuatu agar Amabel tidak dihukum? Saya mohon."
Adena menggenggam bahu Arion dan membuatnya berdiri. "Jangan seperti ini, Pangeran. Kau membuatku kesulitan."
"Saya mohon. Apapun akan saya lakukan." Arion menatap mata Adena penuh permohonan.
Adena menghela napas dan mendudukkan Arion dengan lembut. "Tentu akan aku lakukan. Ini adalah permintaan dari putraku dan aku tentu harus mengabulkannya."
Sebuah senyuman penuh harap tercipta di bibir Arion. "Sungguh? Saya akan melakukan apapun untuk membalas kebaikan Ibunda Ratu."
Adena menghela napas, "kau tahu akan mudah jika Yang Mulia Raja tak memiliki rencana itu."
Arion terdiam. Ia kemudian mengingat perkataan Amabel sebelumnya. Persoalan bahwa Raja menginginkan pernikahan antara dirinya dan Amabel. Ia tertunduk, betapa menyenangkannya jika itu bisa menjadi nyata. Akan tetapi, betapa egoisnya untuk ia berharap demikian. "Saya akan melakukan apapun agar Amabel tak dihukum."
Adena tersenyum, menyentuh pundak Arion menenangkan. "Jangan khawatir putraku. Hal itu tak akan terjadi hingga Amabel berusia legal bukan?"
Arion menatap ibunya. Ia ingat bahwa pernikahan hanya dapat dilakukan ketika kedua mempelai berusia legal. "Akan tetapi, agar itu tak terjadi ... kau tahu maksudku bukan? Putraku sayang kau baru kembali, tolong jangan lakukan ini."
Arion menunduk. Baru beberapa hari ia sampai di rumah. Baru ia berjanji agar bisa menetap kepada ibunya. Akan tetapi bagaimana bisa ia egois? Membiarkan Amabel terpaksa menikah dengannya dan sengsara tak ada dalam rencananya. Jika nantinya mereka menikah, itu harus berasal dari keinginan keduanya.
Ia mengepalkan tangannya. Arion sudah berkata jika apapun dan sebanyak apapun akan ia lakukan. Demi Amabel. Demi bulannya.
"Tak apa, Ibunda Ratu. Jangan khawatir. Aku akan pergi hingga Amabel berusia legal." Ucap Arion mencoba meyakinkan Adena.
"Lalu apa yang akan kau lakukan saat kembali, anakku?" Adena membutuhkan jaminan.
Arion tersenyum, "aku akan melakukan sesuatu. Hanya saja jika Amabel memang tak menginginkan pernikahan itu, aku akan mengabdikan hidupku sebagai ksatria."
Adena kaget. Ia tak menyangka jika Arion akan mengatakan hal itu. Air matanya lolos, "tidak, putraku. Bagaimana bisa? Jangan pertaruhkan hidupmu seperti ini."
Arion kembali tersenyum, "tak apa Ibunda Ratu. Jadi, aku mohon bantu aku."
"Jika sudah begini bagaimana bisa aku menolak?" Adena merengkuh tubuh Arion dan memeluknya erat.
Ia tak menyangka akan semudah ini. Arion tak menyangka jika harus seperti ini. Tak apa, demi kebahagiaan Amabel. Berapapun, apapun, sebanyak apapun. Arion akan mengorbankannya. Amabelnya harus bahagia.