The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Tiga Puluh Dua: Iliyä



Amabel berangkat menuju Iliyäkool--nama sekolah yang akan ia masuki--setelah membiarkan Rain mengendusnya selama lima belas menit. Bahkan ia tak tahu kenapa dirinya membiarkan perlakuan aneh Rain itu. Gadis itu berdiri di antara ratusan peserta dengan gaun berwarna hijau dan jubah cokelat. Ia masuk ke dalam koridor khusus untuk nomor panggilnya.


"Silakan masuk." Hanya itu, tanpa ada instruksi.


Amabel masuk ke dalam ruang putih kosong. Hanya ruang putih, ia sampai harus menginjak tanah dan memukul dindingnya. Tak ada apapun. Ia bahkan tak menemukan petunjuk. Amabel hampir saja terjatuh jika ia tidak menyanggah tubuhnya dengan pedang. Ruang putih tersebut berubah menjadi hutan. Di hadapannya terdapat sebuah jurang dan naga.


Apa ini sihir? Atau hanya ilusi? Namun, ketika naga itu maju dan menyerang ia bisa merasakan pipinya yang berdarah. Apapun itu, Amabel harus menghentikannya. Ia tak bisa meminta tolong pada siapapun.


Ia memejamkan matanya, memfokuskan sihirnya pada pedang hingga pedang miliknya diselimuti warna perak. Itu adalah manna, sumber sihirnya yang ia taruh pada pedangnya. Saat naga tersebut terbang ke arahnya, Amabel bersiap untuk berlari dan mengarahkan pedangnya. Namun, itu tak cukup. Bahkan menggores tubuhnya saja tidak.


Ia berdecih, namun senyumnya tercipta. Lawannya begitu kuat dan Amabel tak sabar mengalahkannya. Ini perasaan yang sama saat ia melawan Ian. Gadis itu mengeratkan pedangnya, mengeluarkan manna lebih banyak. Kali ini cukup untuk menggores tubuh naga. Merasakan tubuhnya terluka, sang naga mengamuk.


Amabel mundur, ia harus mengatur strategi. Di kanan kirinya ada pohon dan batu besar. Namun tak cukup untuk bersembunyi. Ia dengan cepat menggigit jempolnya, membiarkan darahnya mengalir. Amabel tak tahu ini akan berhasil atau tidak, namun tak ada salahnya mencoba.


"Aku Amabel Lancaster memanggil Ro, pemilik elemen udara dan membuat perjanjian dengannya." Darah tersebut kemudian ia taruh di pedangnya.


Dari ruang ujian, Profesor Bennett menaikkan alisnya. Ya, Alberto Bennett menjadi salah satu penilai ujian dan tentu saja ia tak memberitahukannya pada Amabel. "Dia membuat perjanjian dengan roh elemen." Ujar Alberto. Betapa potensialnya Amabel dan akan sangat sayang jika hanya berakhir sebagai permaisuri.


Sima Geonia--salah satu Profesor di Iliyäkool--mengangguk. Ia mencatat beberapa kalimat sambil menatap Amabel yang berhasil mengacaukan pergerakan naga dengan bantuan perjanjian bersama roh elemen. "Bahkan Pangeran Ryu hanya bisa memanggil roh elemen di usia yang sama dengan anak ini. Dia memiliki banyak manna dalam tubuhnya. Begitu kuat dan murni."


"Juga berbahaya." Sahut Professor Ken. Jean Ken Doris, menatap Amabel tajam. Tatapan matanya mengikuti gerak-gerik gadis itu. "Dia seperti kotak Pandora. Begitu kuat, menarik, namun juga berbahaya."


Amabel mengayunkan pedangnya, mencoba agar arah angin yang membawa sang naga kacau. Dan ia berhasil, gadis itu kemudian berlari. Matanya bersinar dengan ketegasan dan dengan sekali tebas ia membelah tubuh naga di hadapannya. Amabel masih menyesuaikan napasnya saat ruangan tersebut kembali menjadi ruang kosong berwarna putih. Tadi hanya sihir, namun begitu nyata. Bahkan luka di pipinya masih ada. Sekuat apa yang menciptakan dan mengendalikan ruangan ini?


Gadis itu keluar setelah memasukkan pedangnya ke dalam selongsong pedang. Saat di luar, Amabel baru merasakan tubuhnya lelah luar biasa. Bahkan ia sampai jatuh terduduk di pinggir koridor. Untung saja tak terlalu ramai. Tubuhnya berkeringat dan ketika menatap tangan kirinya, di pergelangannya tercipta garis berwarna biru langit dengan motif lingkaran tak sempurna. Lambang perjanjian dengan roh elemen udara.


Tadi saat ia membuat perjanjian, tubuhnya terasa begitu ringan. Sekarang malah sangat lelah. Efek sampingnya baru ia rasakan. Memang benar, harusnya seseorang baru dapat membuat perjanjian dengan roh elemen saat tubuhnya siap. Hanya saja, satu-satunya cara yang Amabel ingat hanya membuat perjanjian.


Ia duduk di sana untuk beberapa saat hingga napasnya stabil. Rasanya begitu lama hingga Rain muncul dengan senyum lebarnya. "Halo, nona pelanggan!" Saat melihat Rain, tubuhnya langsung terasa lemas dan kesadarannya menghilang.


Rain dengan cepat menangkap tubuh Amabel. Ia menyentuh kening Amabel dan cahaya putih keluar dari tangannya. "Kamu belum siap, nona pelanggan."


Dengan mudah ia mengangkat Amabel dalam gendongannya dan detik berikurnya mereka sudah berada di kamar Amabel. Perlahan, Rain menaruh tubuh Amabel di atas kasur. Ia meraih tangan Amabel, menyentuh lambang yang tercipta dari perjanjian dengan Ro. "Aku, Rain, penyihir dari barat memangil Ro."


Angin lembut menyentuh wajah Rain dan awan berwarna biru tercipta dari angin tersebut. "Ah, Master Rain! Lama tidak berjumpa."


Rain langsung mendengus, "ya, ya. Tak perlu basa-basi. Lihat, dia." Ujarnya sambil menunjuk Amabel dengan dagu. "Tubuhnya belum siap dan sudah membuat perjanjian denganmu. Kau tahu jika sudah ada perjanjian artinya manna yang ia keluarkan akan semakin besar. Jika ia tak bisa mengendalikannya, dia bisa tak sadarkan diri seperti ini untuk waktu yang lama."


Ro malah sibuk memutari tubuh Amabel. "Dia hanya memiliki kekuatan Sang Dewi, pikirannya tetap miliknya sendiri. Aku tak bisa melakukan apapun, aku hanya mengikuti perjanjian yang dibuat."


"Cih, apa bagusnya hidup lama kalau hal seperti ini saja kau tidak tahu?" Sindiran Rain membuat Ro kesal dan membuat gambut Rain berantakan.


"Tak usah bahas umur!" Ro kembali berputar di kamar tersebut. "Oh, kenapa kau tak mengajarinya untuk mengendalikan kekuatannya?"


Rain menyilangkan tangan di belakang kepala. "Tentu saja karen merepotkan." Balas Rain dengan wajah pongah. "Aku hanya menikmati energinya."


"Apa untungnya kau memiliki kekuatan." Sindir Ro. "Kalau begitu berikan dia hewan peliharaan."


Rain menghela, "hewan yang kau maksud itu adalah siluman berusia ribuan tahun yang sulit dicari tahu!"


Sarannya benar-benar menyulitkan semua. Ro kembali mengacak rambut Rain dengan angin. "Kau saja yang tak mau repot!"


"Memang." Tandas Rain cuek.


"Kalau begitu, segel kekuatannya." Ujar Ro, masih berputar di atas tubuh Amabel. Napas gadis itu masih tersengal, bahkan tubuhnya berkeringat. Dampak dari membuat perjanjian dan menggunakan terlalu banyak manna. "Kau bisa melakukan hal kecil itu bukan? Aku pergi sekarang."


Dan wujud awan biru tadi menghilang. Rain meraih rambut Amabel, lembut. Kemudian ia menarik beberapa helai hingga membuat Amabel mengernyit. "Maaf, ya nona. Ini demi kebaikanmu."


Rain tak suka hal merepotkan, akan tetapi ia tak suka memakan energi Amabel yang lemah seperti ini. Dengan sihir, rambut Amabel tadi berubah menjadi sulur tembaga yang kini bergabung pada rantai kalungnya. "Begini kurasa cukup. Tolong jangan berbuat hal aneh saat tidak di sampingku."


Jari telunjuk dan tengahnya menyentuh kening Amabel yang berkerut. Berangsur-angsur napas Amabel kembali normal. "Jangan salah sangka, ini demi kebaikanku. Bukan kamu."


Rain kemudian meninggalkan Amabel. "Aku akan pergi sampai ujianmu selesai. Saat itu, aku harap kau sudah lebih kuat."



Empat bulan berlalu dan Amabel sudah lulus dari Iliyäkool. Gadis itu kini tengah menikmati waktu santainya sambil menunggu Alberto kembali dari Plodnavor. Dari hasil ujian, Amabel dapat memilih untuk mengusai ilmu pengetahuan, pedang atau sihir. Dan ia memilih ilmu pengetahuan, tepatnya ilmu politik dan kenegaraan.


Amabel merasa ilmu pedang dapat ia pelajari seiring dengan waktu sementara ia merasa ilmu sihir yang diajarkan di Iliyäkool tak terlalu menarik. Ia hanya merasa tak pas dengan guru yang mengajar di sana.


"Hai, nona pelanggan." Sapaan itu datang dari seorang laki-laki berambut hitam pendek.


Hanya Rain yang memanggilnya seperti itu. Seingat Amabel rambut Rain panjang dan Rain itu perempuan!


Melihat ekspresi Amabel membuat pria di depannya terkekeh. "Ini aku, Rain."


"Rain? Kau laki-laki?" Tanya Amabel tak percaya.


Mendengar itu membuat Rain menaruh tangannya di dada kiri. "Ya ampun, aku terluka. Lagipula aku tak pernah mengatakan bahwa aku adalah perempuan atau laki-laki. Aku adalah apa yang kau lihat. Gender bukan hal yang penting. Lagipula jika hanya menilai dari rambut, bukankah memalukan?"


Amabel merasa bahwa ia baru saja ditampar oleh Rain. Tidak secara fisik, namun melalui kata-kata. Gadis itu langsung membungkuk, "maafkan aku."


Rain mengibaskan tangannya, "tak masalah. Jadi, kenapa kau duduk sendirian di sini?"


Amabel kembali duduk. Ia mengulurkan es loli yang dibeli pad Rain. "Menunggu."


"Siapa?" Balas Rain dan memakan es krim tersebut.


Amabel hanya mengendikkan bahunya. "Mungkin Alberto, mungkin Rain. Atau mungkin hanya menunggu jika ada surat yang datang."


Rain mengangguk, ia melirik leher Amabel dan melihat kalungnya masih sama seperti saat terakhir ia pergi. "Jadi, kau sudah lulus?"


"Ya, dua minggu lalu." Balas Amabel. "Aku mengambil ilmu politik dan kenegaraan. Di ujian akhir aku membahas soal kebijakan Rezenavor dan hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat."


Sudah lama Amabel tak memiliki teman bercerita. Selama ini, ia hanya bertemu Alberto beberapa kali karena kesibukan keduanya. Amabel lebih sering pergi ke perpustakaan dan mengecek berbagai buku rekomendasi dari Alberto. Ia juga beberapa kali berkunjung ke Rezenavor dan difasilitasi dengan kereta sihir sehingga hanya memakan waktu sedikit.


"Apa rencanamu setelah ini?" Tanya Rain, ia menatap Amabel yang mengendikkan bahunya.


"Aku tak berencana kembali ke Plodnavor dalam waktu dekat." Jawab Amabel. Ia tak tahu apakah ia akan ikut dengan Alberto atau tidak. Lelaki itu sudah pasti akan semakin sibuk karena kebijakan sekolah umum harus dilaksanakan saat tahun ajaran baru nanti. "Mungkin aku akan pergi sendiri."


Rain mengulurkan tangannya, membuat Amabel menatap lelaki itu bingung. Dari jarak sedekat ini Amabel baru sadar jika Rain memiliki mata berwarna emas. "Kalau begitu pergi denganku. Kau sudah mempelajari buku yang dibeli dariku dengan baik, tetapi apa kau bisa mengendalikannya?"


Pertanyaan itu membuat Amabel menunduk. Ia belum bisa mengendalikan kekuatannya. "Kau ini sebenarnya apa, Rain?"


Rain melipat tangannya di depan dad sambil tersenyum bangga. "Tentu saja penyihir terhebat yang dimiliki Yerkink."


Amabel sampai tersedak mendengarnya. Rain memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. "Wah, kepercayaan diri yang luar biasa. Kenapa tidak tinggal di menara kalau memang hebat?"


Rain tertawa mendengarnya. "Hoi, bocah. Menara sihir itu hanya dibuat untuk mengendalikan para penyihir. Jika aku masuk ke sana, kebebasanku akan mereka renggut."


Amabel tak tahu tentang ini. Rasanya banyak hal yang masih belum ia ketahui. Rain berdiri mengulurkan tangannya pada kalung Amabel. "Kau begitu kuat namun begitu lemah. Bahkan aku harus menyegel sebagian kekuatanmu agar kau bisa hidup."


"Kau menyegelnya?" Tanya Amabel kemudian menyentuh kalungnya. Ia baru menyadari ada motif sulur di kalungnya.


Rain terkekeh, "nah, sudah kukatakan bukan kau itu lemah. Sayang sekali, padahal kau memiliki kekuatan yang besar."


Lelaki itu berbalik. Perjalanan jauh membuatnya lapar. Amabel buru-buru menarik lengan jubah Rain. "Jika aku ikut denganmu, apa aku bisa kuat?"


Rain mendecih, "aku bahkan bisa membuat mereka menyebutmu dewi."


Amabel tertawa pelan mendengarnya. Rain begitu berlebihan. Sementara Rain serius dengan ucapannya. "Diskusikan dengan Alberto kemudian baru datang padaku, oke?"


Amabel mengangguk. Bagaimana pun ia masih murid Alberto. Sisa hari itu ia habiskan bersama Rain.