
"Damian memberi salam pada Raja." Seorang ksatria berambut cokelat panjang masuk. Pada baju zirahnya terlihat bercak darah yang telah mengering. "Para pemberontak mulai memasuki Plodnavor."
Raja menghela napas. Alberto yang sejak tadi berdiri di sampingnya hanya dapat terdiam. Nyatanya meski ia mengetahui banyak hal, ia tetap merasa tak percaya dengan kejadian ini. Para pemberontak telah masuk ke Plodnavor di saat pernikahan Putra Mahkota hanya tinggal menghitung hari. Mereka tak bisa mengambil langkah yang terburu. Para undangan mulai berdatangan dan jika mereka tahu situasinya keadaan akan semakin parah.
Alec maju, memberi salam pada Raja. "Baginda, jika mengizinkan saya dan pasukan akan menjaga di daerah perbatasan. Kami juga akan memasuki penginapan untuk mencari para pemberontak."
Mendengar hal itu membuat Alnorth maju, "Duke, anda tak bisa melakukan hal itu. Jika kita memasuki penginapan dan memeriksa tiap tamu maka undangan dari negara lain bisa merasa tak aman. Saat ini yang dapat kita lakukan hanyalah mengawasi pergerakan mereka. Pertama jaga gerbang masuk ke Plodnavor, kedua gerbang istana, dan terakhir terus lalukan penjagaan selama 24 jam penuh. Itu yang dapat saya pikirkan saat ini."
Ian--yang telah ditunjuk menjadi Duke untuk memimpin Loftnavor--mengangguk setuju. "Saya rasa selain penjagaan di luar istana, kita pun harus mulai mendaftar para ksatria dan pekerja lain di istana. Semakin sering orang keluar masuk, semakin kita lengah tentang para pekerja."
Ian menjadi Duke setelah pertimbangan panjang dan rekomendasi dari Permaisuri Freya. Terlebih karena Jeanne--sang pewaris--tak dapat memenuhi kursi sebagai Duke. Alasannya karena Jeanne telah menikah dan perempuan itu tak pernah mendapat pengajaran untuk menjadi Duke. Di sisi lain, Ian merupakan anak pertama dari Freya Prada dan pada akhirnya gelar Duke beserta kepala keluarga Prada diberikan padanya.
Raja mengangguk, menyetujui ide tersebut. "Kalau begitu, Duke Lancaster akan mengawasi penjagaan di daerah perbatasan dan kota. Lalu Duke Hamilton akan mengawasi di sekitar istana dan Duke Prada akan mengawasi di dalam istana. Jangan sampai terlihat, jadilah bayangan kemudian serang seperti cahaya."
Tiga Duke di hadapannya mengangguk. Yanha menghela napas, tentu saja hal ini akan terjadi. Pergantian pemimpin akan selalu diwarnai pemberontakan. "Panggil Putra Mahkota, bagaimana pun ia harus tahu keadaan ini."
Alberto mengangguk dan langsung melangkah keluar. Saat pintu tertutup, Alberto menatapnya dan menghela napas. Takdir ini, apa bisa ia ubah? Lelaki itu langsung menggeleng setelahnya. Ia pasti sudah gila. Takdir bukan sesuatu yang dapat ia ubah seenaknya. Jika ia lakukan, takdir malah akan berjalan lebih liar dan mengerikan dibanding yang seharusnya.
Arion memutuskan untuk menemui Amabel setelah ia selesai berbicara dengan Raja. Sepanjang perjalanan, lelaki itu terus berpikir. Ia tahu jika keamanan kerajaan, bahkan mungkin negara sedang dipertaruhkan. Kenyataan itu membuatnya ingin membawa Amabel keluar sejauh mungkin. Ia ingin melindungi Amabel.
Tanpa sadar ia telah tiba di kediaman Lancaster. Lelaki itu turun dari kereta kudanya dan disambut oleh seorang pelayan. "Salam saya pada Pangeran Mahkota."
Arion mengangguk dan memberikan tanda agar pelayan tersebut berdiri. "Aku ke sini untuk menemui Tuan Putri."
Pelayan tersebut langsung tersenyum cerah dan mengangguk. "Mari saya antar ke ruang tamu. Tuan Putri sedang mencoba beberapa gaun di kamarnya."
Arion hanya diam. Ia duduk di kursi yang menghadap lukisan keluarga Lancaster. Itu adalah lukisan baru. Amabel berdiri di samping kedua kakaknya, sedangkan orangtua mereka duduk di depan. Potret keluarga yang hangat dengan senyum yang membuat orang lain iri. Amabel terlihat cantik dalam lukisan tersebut. Ia tersenyum tipis, kemudian menatap potret lukisan Amabel di samping lukisan keluarga tersebut.
Apa Arion bisa menjaga senyum tersebut? Arion ragu. Hanya saja, ia ingin menjaga Amabel dan segala hal berharga dalam hidupnya.
Suara ketukan pintu membawa Arion kembali pada kenyataan. Lelaki itu menoleh dan mendapati Amabel dengan gaun berwarna biru pastel. Rambutnya digerai dengan indah. Amabel terlihat mengagumkan.
"Maaf membuatmu menunggu. Aku harus mengganti pakaian dulu." Ujarnya kemudian memberi salam. "Amabel Lancaster memberi salam pada Pangeran Mahkota, Arion Walcott."
Sudut bibir Arion terangkat, Amabel masih saja memberikan salam padanya. "Duduklah, ada yang ingin kukatakan."
Gadis itu menatap wajah Arion dan menyadari bahwa apapun yang akan dikatakan pasti merupakan masalah besar. Amabel duduk, membiarkan seorang pelayan menaruh teh untuknya kemudian menatap Arion. "Ada apa?"
"Baru saja aku bertemu Raja." Arion membuka. Tubuhnya membungkuk, menahan berat tubuh pada kedua tangannya dan pahanya. "Para pemberontak mulai memasuki Plodnavor dan kemungkinan terbesar akan menyerang saat pesta pernikahan nanti."
Amabel terdiam, mendengarkan dengan seksama. Arion tak menoleh, masuk fokus pada pemikirannya sendiri. "Pesta pernikahan kita akan menjadi ajang penobatan juga. Hari itu gerbang istana akan dibuka dan tentu saja keamanan berkurang. Ini menjadi kesempatan untuk para pemberontak."
Tentu saja Amabel terkejut, ia melupakan hal tersebut karena fokus pada persiapan pernikahan. Selain itu, beberapa hari ini ia juga menemani Rahel, membuatnya melupakan soal keamanan kerajaan. "Lalu apa yang membuatmu khawatir?"
Arion terdiam. Ia menegakkan tubuhnya dan menoleh, menatap Amabel lurus. "Semuanya. Soal keamanan rakyat, keluargaku, dan kamu."
Mendengar itu malah membuat Amabel tertawa geli. "Aku? Hei, Pangeran, jangan khawatir aku bisa menjaga diriku sendiri saat kamu harus melindungi yang lain. Kemampuan pedangku tak dapat kamu remehkan, bukan?"
Arion mendengus, tentu saja. Kemampuan pedang Amabel di atas rata-rata, bahkan dapat dikatakan setara dengan Arthur. Amabel juga dapat mengendalikan manna dengan baik. Amabel meraih tangan Arion, menggenggamnya lembut. "Jangan khawatir, semua mungkin tak akan baik-baik saja, tetapi semua akan berakhir. Kita memiliki hal yang harus dijaga, bukan? Maka kita harus kuat. Arion, saat kamu ragu untuk bertindak, musuh dapat melihatnya. Jadi, jangan pernah ragu ketika pedang ada dalam genggamanmu."
Arion menatap Amabel, ia menutup wajahnya dengan tangan sambil terkekeh. "Benar. Kenapa aku ragu?"
Amabel mengulurkan tangannya, merengkuh Arion dalam pelukannya. Saat itu, Arion sadar bahwa ia tak ragu, tetapi takut. Arion takut hal buruk akan menimpa Amabel. "Jangan khawatir, aku dapat menjaga diriku sendiri."
Arion memejamkan matanya. Kata-kata Amabel tak mempu menghilangkan kekhawatiran dalam dirinya. Gambaran tentang Celine yang menyatu bersama alam kembali dalam ingatan Arion, membuatnya memeluk Amabel begitu erat. "Aku tak ingin kehilangan dirimu lagi."
Amabel tak paham kenapa Arion mengucapkan lagi? Namun, ia tersenyum. "Arion, bahkan sebelumnya kita bertemu tanpa direncanakan. Jika kamu adalah takdirku, kita pasti akan bertemu. Terus bertemu hingga kita bersatu."
Hari pernikahan pun tiba. Sepanjang jalan Plodnavor dihias dengan bunga segar dan kain putih. Rakyat berdandan dengan pakaian terbaik mereka. Toko-toko tutup untuk mengucapkan selamat pada mempelai.
Tentu hal itu wajar karena ini bukan hanya pesta pernikahan tetapi juga penyerahan tahta. Tentu kesibukan bukan hanya dilakukan oleh mereka yang senang dengan hari pernikahan. Akan tetapi, juga orang-orang yang menyiapkan pemberontakan. Hingga hari pernikahan tiba, satu per satu dari mereka bergerak. Para ksatria di dalam istana satu per satu terganti tanpa ada yang menyadari.
Ditambah banyaknya kunjungan di istana membuat keamanan perlahan mulai runtuh. Meskipun Ian dan pasukannya telah bekerja keras, namun pihak pemberontak telah lebih duduk melakukan persiapan. Rasanya seperti melawan mereka yang mempersiapkan diri bertahun-tahun dengan mereka yang baru menyiapkan diri di malam sebelumnya. Tentu mereka yang baru menyiapkan diri satu malam sebelumnya akan kalah. Para pemberontak telah lebih dulu menguasai istana dan hal tersebut terlalu lama disadari oleh pihak istana itu sendiri.
Para ksatria pemberontak saling menatap, mereka telah bersiap. Beberapa menyiapkan diri di balkon lantai dua dengan panah di tangan. Namun, pasukan milik Arion pun telah ditempatkan di seluruh penjuru istana tanpa diketahui oleh pihak musuh. Pasukan militer Arion telah terbiasa menjadi bayangan hingga mereka dengan mudah bersikap seperti tamu undangan.
Pesta pernikahan dimulai.
Amabel berjalan di aisle dengan karpet berwarna merah. Di sisi kanan, sang ayah menggandengnya dengan erat. Ia tak menyangka hari ini akhirnya tiba. Gaunnya berwarna putih dengan ornamen cantik di bagian pinggang dan ujung gaun. Rambutnya digulung dan kepalanya di hias dengan penutup kepala berwarna putih.
Elliott duduk di samping ibunya, sementara Alec berdiri di dekat pintu masuk bersama Ian dan Alnorth. "Papa, terima kasih karena telah menjadi papa terbaik. Aku menyayangimu."
John menoleh, terharu dengan ucapan Amabel. "Terima kasih karena telah tumbuh menjadi putri yang sempurna. Papa juga menyayangimu. Kali ini papa harap kamu dapat menemukan kebahagiaan bersama Pangeran."
Amabel mengangguk, ia melepaskan tangan ayahnya dan meraih tangan Arion. Upacara pernikahan dimulai. Telapak tangan Amabel dan Arion bertemu, membuat janji dengan senyum bahagia. "Amabel Rosemary Lancaster, apakah anda bersedia menjadi istri dari Arion Saverio Walcott? Apakah anda bersedia menjadi istri serta pendamping untuknya? Apakah anda bersedia memangku beban sebagai Ratu dari Yerkink dan berdiri di sisi Baginda Putra Mahkota?"
"Ya, saya bersedia." Jawab Amabel tanpa keraguan. Bersama Arion, ia percaya dapat melakukan banyak hal bersama.
Pendeta tersebut mengangguk, kini menatap pada Arion. "Arion Saverio Walcott, apakah anda bersedia menerima Amabel Rosemary Lancaster dalam suka dan duka? Apakah anda dapat menerima segala--"
Arion menoleh, mengeluarkan pedangnya dan melemparkan panah yang melesat ke arah Amabel. Aula langsung ramai dengan teriakan. Panah-panah tersebut tidak hanya mengincar Amabel, tetapi juga tamu undangan. Bahkan pendeta tersebut menjadi korban. Amabel tidak tinggal diam, ia langsung membuat perisai untuk para tamu. Ia menoleh, menatap Arion sambil tersenyum. "Sudah kukatakan, jangan khawatir." Ia kemudian menarik gaunnya dan merebaknya hingga batas dengkul. "Aku akan membawa mereka ke tempat yang aman, kamu bisa menyelesaikan sisanya."
Arion langsung mengangguk dan memanggil Arthur. "Serang para pemberontak tersebut, berhati-hatilah untuk tidak menyerang ksatria sesungguhnya."
Amabel menoleh, pada ibunya dengan senyuman. "Ibu juga harus berlindung. Kakak dan ayah akan mengawal, jangan khawatir."
Mary tahu bukan saatnya bersedih, jadi ia menyentuh bibirnya dengan dua jari dan menaruhnya di dada kiri. "Semoga keselamatan selalu berada di pihakmu." Ia kemudian tersenyum, "aku akan membawa mereka ke tempat yang aman. Jadi, kamu berhati-hati lah."
Amabel masih memberikan perisai hingga panah berhenti mengarah ke aula. Para perempuan sudah berada di tempat yang aman bersama Ratu dan ibunya. Amabel menoleh dan menerima pedang dari ayahnya. "Kamu harus memiliki sesuatu untuk melawan."
Elliott bahkan sudah memiliki bekas darah di pakaiannya. Tatapan matanya dingin, sesuatu yang tak pernah Amabel lihat. "Perisai itu tak bisa kamu gunakan terlalu lama, bukan? Sekarang berhenti menggunakan perisai, para tamu sudah berada di tempat yang aman."
Amabel mengangguk dan melepaskan kekuatannya. Tangan kanannya bergetar, kekuatannya mungkin besar namun pengendaliannya masih belum sempurna. Amabel menggenggam pedang peraknya dan melawan para pemberontak.
Pergerakan ayah dan kakaknya begitu halus. Perbedaan itu dapat Amabel rasakan. Meski ia pandai bermain pedang, namun Amabel tak pernah berhadapan langsung dengan musuh. Ia pun tak pernah melawan musuh sebanyak ini. Napasnya mulai terengah.
"Jangan dipaksakan jika kamu sudah lelah." Saran ayahnya dan masih melayangkan pedangnya pada musuh. Entah sudah berapa banyak yang mereka lawan, namun para pemberontak terus berdatangan.
Saat Amabel terjatuh, Ryu datang. Lelaki itu mengeluarkan sihirnya dengan cepat dan menepuk punggung Amabel. "Kau terlalu gegabah. Tenanglah sedikit."
"Tiga Duke sedang bertarung di kota bersama pasukan mereka." Lapor Ryu. "Pangeran Hendery dan Noah membantu evakuasi. Sedangkan Pangeran Alterio dan Kenan menjaga lokasi evakuasi. Para korban sedang dirawat oleh para permaisuri, jangan khawatir. Keadaannya tak terlalu buruk."
Amabel menghela napas, entah kenapa ia masih merasa cemas. "Arion? Di mana?"
Ada jeda cukup lama sebelum Ryu menjawab. "Dia berhadapan dengan para pemberontak di taman istana."
Para pemberontak di aula masih belum berhenti berdatangan. Amabel menatap Ryu, "kalau begitu yang di sini tolong selesaikan. Aku akan membantu Arion."
Ryu bahkan belum sempat menjawab karena Amabel langsung berlari setelahnya. Ia menghela napas, menyelesaikan pertarung dalam tiga detik tentu dapat ia lakukan. Namun, setelahnya ia tak akan bangun selama tiga minggu. Pada akhirnya Ryu hanya membuat para pemberontak pingsan. Ia tak bisa rubuh di saat seperti ini.