
"Kier, apa jadwal hari ini?" Tanya Amabel ketika Kier telah menyelesaikan hiasan rambutnya.
Kier menyemprotkan minyak wangi di leher Amabel. "Tidak ada jadwal resmi, tuan putri. Apa ada yang ingin anda lakukan?"
Amabel langsung tersenyum lebar, "aku ingin berlatih pedang."
Kier langsung melotot saat mendengar permintaan Amabel. "Tuan putri, saya rasa itu tidak mungkin."
Amabel langsung merengut, membuat Kier merasa bersalah. "Maksud saya, hari ini para ksatria tengah berlatih. Namun, jika tuan putri mau kita bisa melihat mereka." Kali ini mata Kier bersinar, bahkan tangannya terpaut di depan dada.
Melihat itu Amabel langsung menyipitkan matanya, "wah, kau begitu bersemangat Kier."
Tanpa rasa bersalah perempuan berambut gelap itu tersenyum. "Jadi, apa tuan putri mau pergi? Oh, aku dengar latihan kali ini akan mengikutsertakan siswa jurusan pedang dari Hugsun."
Kali ini mata Amabel yang bersinar. Tanpa berkata, gadis itu langsung berdiri. "Mari kita pergi!"
Kier di belakang Amabel terkekeh pelan. Keduanya keluar dari kamar dan melewati koridor menuju tempat latihan. Berbeda dari tempat pesta teh kemarin, taman ini lebih mirip lapangan dengan pohon sebagai pembatasnya. Ada sebuah bangunan berlantai dua, mungkin itu markas para ksatria. Dari jarak sejauh ini Amabel dapat melihat kakaknya yang tengah melawan seorang ksatria. Matanya berbinar, meski sudah sering melihat Alec berlatih tetapi kekaguman tetap muncul. Cara Alec mengayunkan pedang bergitu ringan dan indah. Gerakannya seperti angin, tak terlihat namun mematikan.
"Wah, kita kehadiran tamu di sini." Sapa seorang ksatria.
Amabel kaget ketika melihat ksatria di depannya. Dengan cepat ia mengendalikan diri dan memberi hormat. "Mohon maaf kelancangan diriku yang datang tanpa kabar. Saya Amabel Rosemary Lancaster memberi salam."
Ksatria itu langsung tersenyum lebar, "ah! Adik dari Alec!" Pemuda itu kemudian mengulurkan tangannya yang langsung Amabel raih. Kecupan ringan di tangan Amabel menjadi tanda perkenalkan. "Saya, Irwin Sarma, pemimpin pasukan kerajaan."
"Wah, suatu kehormatan dapat bertemu langsung dengan tuan." Ujar Amabel tanpa dapat menahan senyumnya. "Kakakku selalu bercerita mengenai ketangkasan tuan."
Berkat cerita Alec itu, Amabel ikut kagum dengan pria berambut putih di depannya. Irwin tersenyum mendengar hal itu, "kalau begitu bagaimana jika Lady melihat dari dekat?"
"Aku akan menerimanya dengan senang hati." Tangan Amabel kembali menerima uluran tangan Irwin. Dengan tangannya yang digenggam Irwin, Amabel dibawa menuju depan barak. Tentu saja Kier mengikuti di belakang. "Ksatria! Berkumpul!"
Amabel langsung menoleh, ingin menghentikan Irwin namun para ksatria sudah berkumpul. Padahal Amabel ingin melihat dengan tenang. "Nona Amabel Lancaster hari ini datang untuk melihat latihan kita. Jadi, mari berlatih dengan semangat."
"Ya!" Teriak para ksatria.
Dari tempatnya, Amabel bertukar senyum dengan Alec. Oh, betapa Amabel merindukan kakaknya. Bisa-bisanya kakaknya muncul tanpa kabar! Menyebalkan.
Alec menghampiri Amabel, mengusap puncak kepala adiknya lembut. "Padahal aku berencana menemuimu setelah latihan selesai."
"Kalau begitu kakak seharusnya berlatih lebih keras karena hari ini aku yang menemuimu." Balas Amabel dengan senyum jail.
Alec mengangguk, "lihat betapa kerennya aku, oke?"
"Oke! Kakak harus semangat!" Ujar Amabel riang saat Alec berjalan kembali ke lapangan.
Gadis itu menunggu di kursi dan memperhatikan kakaknya. Ini membuatnya merasa di rumah. Amabel jadi ingat ketika ia melihat papa dan Alec berlatih pedang di akhir pekan. Amabel dan Eli akan menunggu di pinggir lapangan sambil memakan camilan kemudian bertaruh siapa yang akan menang. Ah, menyenangkan.
Dinginnya logam di leher Amabel membuatnya menoleh. Lagi-lagi sebuah pedang di lehernya. Astaga, ada apa dengan pedang dan lehernya sih? Apa lehernya begitu menggoda mata pedang?
Si pemilik pedang ternyata adalah lelaki congkak di pasar. "Wah, lihat, siapa yang aku temui. Kau mengingatku bukan?" Nada suaranya menyebalkan.
Amabel malah tersenyum manis, "aku sulit mengingat seseorang yang tak memberikan memori baik dalam kepalaku."
"Wah, lihat, betapa congkaknya dirimu. Kau tak tahu siapa aku?" Tanyanya dengan nada sombong.
Amabel menatap laki-laki di depannya dengan tatapan polos. "Haruskah aku tahu?"
"Tsk! Kau!" Wajahnya mendekat, hingga hidung keduanya menyatu. Dari jarak sedekat ini warna matanya terlihat jelas, emas. "Mari kita bertanding."
"Pangeran, saya rasa itu tidak perlu." Irwin mencoba menenangkan Pangeran ke dua, Ian Ravindra.
Amabel sudah berdiri setelah melihat anggukan dari Alec. Kakaknya sejak tadi memperhatikan ternyata. "Tidak apa, tuan Irwin, saya menerima tantangan dari hm, siapa nama anda?"
Mata Ian memerah, kesal. "Cepat ambil pedangmu!"
"Tuan Irwin, bolehkan aku meminjam sebuah pedang?" Pinta Amabel dan meski ragu, Irwin memberikan pedang pada Amabel.
Kier sempat menahan dirinya, namun Amabel tersenyum. "Tidak masalah, Kier. Tenang saja, aku pasti menang."
Amabel mengikuti Ian dari belakang hingga berhenti di tengah lapangan. Beberapa ksatria yang awalnya berlatih memberi ruang untuk keduanya. "Aku memiliki dua syarat." Amabel berujar saat berhadapan dengan Ian.
Mati-matian Amabel tidak langsung mengayunkan pedang leher Pangeran sombong di depannya. "Pertama, kau akan mengakui segala hasil pertandingan." Amabel menunggu anggukan dari Ian kemudian baru melanjutkan. "Kedua jika pedangku berada di lehermu, tak akan ada yang menyerangku."
Meski Ian mendengus tak percaya, namun ia tetap mengangguk. "Kalian dengar? Kalian semua hanya akan menonton, tak boleh ada yang menyerang gadis kecil ini."
Amabel menggeratkan pegangannya pada pedang. Keduanya kemudian berhadapan dengan jarak satu langkah dan memberi salam. Setelah itu keduanya berbalik dan memberi jarak tiga langkah. Ketika tiga langkah tersebut selesai, Amabel langsung menunduk dan berputar. Dengan pegangan pedang ia mendorong Ian hingga mundur beberapa langkah. Gerakan seorang yang emosi dapat terdengar dengan jelas.
Amabel bersyukur hari ini ia menggunakan gaun yang panjangnya di bawah lutut. Amabel jugs bersyukur karena rambutnya dikepang satu. Terima kasih, Kier.
Suara pedang yang berada terdengar begitu mencekam. Jarak keduanya begitu dekat hingga dalam waktu yang sama keduanya melompat ke belakang. Ian adalah tipe penyerang yang mengesankan. Amabel menyukai fakta bahwa Ian tak memandangnya sebagai seorang perempuan tetapi seorang lawan. Gadis itu tersenyum ketika Ian berlari ke arahnya. Mata Amabel melihat kaki Ian kemudian dengan gerakan yang cepat ia melemparkan pedang milik Ian. Pada detik yang sama Amabel menendang kaki belakang Ian hingga pemuda itu terjatuh. Kali ini posisi Ian bersimpun dengan pedang Amabel di sisi lehernya.
Amabel dapat mendengar langkah para ksatria yang mendekat namun langsung menatap ke arah mereka tajam. "Seorang ksatria akan selalu mengingat janji yang mereka buat." Dengan satu kalimat para ksatria itu berhenti meski penuh keraguan.
Amabel menatap ke bawah, melihat Ian dengan sinar kemarahan. "Bukan begitu? Seorang ksatria sejati tak akan mengingkari tiap janji dan perkataannya bukan?"
Ketika Ian berdiri pedang Amabel masih berada di leher Ian. "Aku, Ian Ravindra Walcote, Pangeran ke dua mengakui kemenangan Amabel Rosemary Lancaster."
Mendengar itu Amabel langsung menurunkan pedangnya dan tersenyum. "Terima kasih atas pertarungan yang menyenangkan ini, Pangeran."
Ian mengangguk kemudian mengambil pedangnya. "Alec tentu mengajarimu dengan baik."
"Terima kasih atas pujian anda." Ucap Amabel.
Ian berbalik kemudian mengepalkan tangannya di depan wajah Amabel. "Buka tanganmu."
Amabel menurut dan sebuah bros dengan berlian berwarna hijau. "Hadiah untuk kemenanganmu. Suatu hari, aku akan mengalahkanmu."
"Saya akan menunggu hari itu tiba." Jawab Amabel sambil memberi hormat. "Terima kasih atas kebaikan hati Pangeran."
Ian mengangguk kemudian meninggalkan Amabel. Gadis itu menatap Ian yang tengah menepuk pundak Alec. Kemudian Amabel tak tahu apa yang terjadi karena pada ksatria mengerumuninya untuk mengucapkan selamat. Alec datang membelah kerumunan itu dan menarik Amabel, posesif. "Nah, kalian bisa melanjutkan latihan sementara aku akan membawa adikku istirahat."
Ucapan Alec dibalas dengan heboh. Amabel sampai tak tahu apa yang mereka katakan. Tangan Alec yang berada di punggungnya menenangkan. Tepukan di punggungnya menjadi tanda bahwa Alec bangga pada kemampuan Amabel tadi. "Aku tak tahu apa masalahmu dengan Ian, tetapi kau harus menjelaskannya padaku." Ucap Alec datar.
"Baik." Balas Amabel tertunduk.
Dari tempatnya Irwin bertepuk tangan, "aku kagum dengan kemampuanmu. Mengalahkan seorang Pangeran ke dua merupakan prestasi." Pujinya tulus.
"Terima kasih atas pujian anda." Balas Amabel sambil memberi hormat kecil. "Terima kasih juga sudah memberikan izin padaku untuk melihat latihan ini dan meminjamkan pedang."
Irwin mengibaskan tangannya, "tak perlu, tak perlu."
Alec kembali dengan salep dan perban. "Duduk dan berikan tanganmu."
Amabel bahkan tak sadar jika tangannya memerah dan tergores. "Kau masih terlalu cepat untuk memegang pedang tadi. Pedang itu berat bukan?"
"Ya, beratnya sama seperti milik papa." Jawab Amabel. "Milik kakak juga seberat itu."
Alec mengangguk sambil melilit tangan Amabel dengan perban. "Itu pedang untuk orang dewasa. Tanganmu nanti akan sakit dan keram. Tapi saat pertarungan tadi kau tak merasakannya bukan? Atau kau menahannya?"
"Aku menahannya." Jawab Amabel karena jujur saja pedang itu sepuluh kali lebih berat dibandingkan pedang miliknya.
"Anak bodoh." Cemooh Alec. "Kembali ke kamarmu dan bersihkan dirimu."
Kali ini Alec menoleh pada Kier, "apa aku bisa bertemu dengannya nanti?"
Kier mengangguk, "tentu. Saya akan menyiapkan teh untuk tuan muda."
Alec megulurkan salep yang tadi ia gunakan untuk tangan Amabel. "Oleskan ini lagi nanti pada tangan dan punggungnya. Masukkan sedikit rempah pada air mandinya. Lalu nanti sebelum tidur, tolong pijak tangan dan punggungnya."
Kier lagi-lagi mengangguk. Pandangannya sekali lagi berubah pada Amabel. Tuan putrinya ini benar-benar luar biasa. Kier percaya, Amabel tumbuh dengan kasih sayang, pengetahuan, dan kemampuan yang luar biasa. Melihat bagaimana kakak adik Lancaster ini saling memberikan cinta dan dukungan membuat hati Kier hangat. Syukurlah ia ditempatkan sebagai penanggung jawab Amabel.
"Mari, tuan putri." Ajak Kier setelah keduanya berpamitan.
Dari salah satu pohon, seorang pemuda berambut merah turun. Sejak tadi ia memperhatikan bagaimana Amabel mengalahkan kakaknya. Sejak tadi juga ia tertawa kencang. Kakaknya yang sombong akhirnya ditampar oleh kenyataan. Matanya menatap pelaku utama yang membuat kakaknya kalah. Lagi-lagi ia tertawa, "ah, menyenangkan sekali. Aku akan pergi dan menemui kakak sekarang. Oh, atau haruskan aku bertemu saudaraku dan memberitahu berita ini? Ah, aku tak sabar mengganggu kakak."