
Setelah pertemuan itu, kami memutuskan untuk turun dari kereta. Pertama tentu karena kami menjadi pusat perhatian. Aku menggenggam tangannya, erat. Banyak sekali yang ingin aku tanyakan. Kami akhirnya duduk di taman dekat stasiun.
Aku menoleh, menatap Arion. "Jadi, aku harus memanggilmu apa?"
Arion tertawa, mungkin dia merasa lucu dengan pertanyaanku. "Darel. Darel Lee. Kamu?"
Aku tersenyum, "Lalisa Hamilton."
Darel mengangguk, memainkan jarinya pada lekukan jariku. "Aku, berdoa agar saat aku dilahirkan kembali aku akan selalu mengingatmu. Aku berdoa agar aku tak pernah melupakanmu."
Mendengar suara Darel membuat hatiku sakit. "Banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Akan tetapi, itu akan kukatakan nanti. Sekarang, aku ingin tahu bagaimana keadaanmu."
Darel menyentuh pipiku, membuat mata kami bertemu. "Aku terbangun dari koma selama dua tahun. Mereka bilang aku hanya mengalami lucid dream. Aku terbangun dengan kebingungan. Aku takut, takut jika kamu dan keluargaku hanya mimpi. Aku begitu takut hingga aku tak tahu perbedaan antara kenyataan dan mimpi. Saat aku mulai percaya bahwa semua kejadian di Yerkink adalah mimpi, kamu datang. Saat ini aku akhirnya sadar bahwa kamu dan segala kejadian yang aku alami adalah nyata."
Air mataku mengalir. Semua mimpi buruk yang aku hadapi selama ini seakan menguap begitu saja. Darel menghapus air mataku, kemudian memelukku. Pelukannya terasa nyaman dan hangat. Rasanya sama seperti saat dalam mimpi. Bukan, ini nyata. "Aku bahkan tak tahu jika ini adalah kenyataan atau bukan. Apa kamu benar-benar nyata?"
Darel langsung mencubit kedua pipiku. "Kamu merasakan sakit, jadi ini nyata."
Aku menunduk. Saat di Yerkink pun aku merasakan sakit, namun kemudian aku terbangun dari koma. Darel mungkin menyadari pemikiranku, ia menyentuh kedua pipiku dan menyatukan kening kami. "Aku dan kamu saat ini adalah kenyataan. Arion dan Amabel juga sebuah kenyataan bersama Theo dan Celine. Semua adalah kenyataan, Lalisa. Jangan meragukan satu dari hal itu."
Air mataku semakin deras mengalir. "Kamu nyata."
Aku meraihnya, memeluknya erat. Rasa takut itu masih nyata. Aku takut jika aku melepaskan Darel saat ini, aku akan kehilangan dirinya lagi. "Lalisa, aku tidak akan menghilang."
Aku mengangguk, masih memeluknya kemudian perlahan melepaskannya. Darel meraih tanganku, menggengamnya erat. "Kita punya banyak waktu untuk bicara. Sekarang kamu harus pulang."
Aku langsung menggeleng, tanganku menahan lengan Darel. "Tidak mau."
Darel malah tertawa, "aku tak tahu kamu punya sisi manis seperti ini."
Mendengar itu membuatku mendongak, pasti wajahku merah saat ini. "Hei! Jangan meledek."
Darel mengacak rambutku, "tapi kamu yang manja ini tak buruk juga."
Ia kembali merengkuh wajahku, "aku sudah bilang kita punya banyak waktu, kamu tak percaya?"
Aku menghela napas dan mengangguk. "Kapan kita akan bertemu lagi?"
Kata secepatnya itu datang pada keesokan harinya. Darel masuk ke dalam kelasku dengan senyum lebar. Sebuah kombinasi aneh terjadi saat Darel dan Nick berinteraksi. Keduanya terlihat dekat.
"Oh, Nick, ini Lalisa." Darel merangkul Nick kehadapanku. "Lalisa, ini Nick dia saudara kembarku."
Ah, itu alasan lelaki menyebalkan ini auranya mirip dengan Arionku. Ah, maksudku Darel. "Ah, halo." Sapaku, canggung.
Kalau ini Nick, mungkin ia adalah Alterio. Keduanya kembali menjadi saudara ternyata. Keduanya terlihat akrab dan senang. Aku menatap keluar koridor dan mataku menangkap sosok berambut emas. Aku langsung berlari dan menghampirinya. Tanpa sadar aku meraih tangannya, ia menoleh. Elliott. "Ah, maaf. Kakak mirip saudaraku." Ujarku saat ia menatap dengan bingung.
Aku melepaskan tanganku dan menunduk, "maaf."
"Heh? Kenapa minta maaf?" Ia menepuk puncak kepalaku ringan. "Kebetulan aku juga sedang mencari saudara untuk membantu di klub basket. Kalau mau datang saja ke gimnasium setelah pulang sekolah ya."
Aku mengangguk kemudian kakak itu melangkah. Tanpa sadar aku meraih ujung kemejanya. "Nama kakak?"
"Yoon Eunjoo. Kamu?"
"Ah, Lalisa Hamilton." Jawabku dengan senyuman lebar. "Aku akan datang nanti! Pasti datang!"
Eunjoo mengangguk kemudian kembali melangkah. Saat berbalik, Darel menungguku dengan tatapan bingung. "Aku menemukan kakakku."
Tangan Darel menepuk puncak kepalaku beberapa kali. "Jangan terlalu dipikirkan. Kamu harus menjalani hidup saat ini tanpa penyesalan."
Aku mengangguk dan meraih tangannya. "Hm, aku tahu. Untuk itu aku tak ingin melepaskan tanganmu."
Entah sebagai Celine, Amabel, atau Lalisa. Aku adalah aku. Dan untuk itu, aku akan menemukan kebahagiaan dengan caraku sendiri. Satu yang tak akan pernah berubah adalah tangan yang aku genggam saat ini. Tangan ini akan selalu aku genggam dalam keadaan apapun. Aku harap kali ini kebahagiaan datang pada kami. Aku harap kesalahan di Yerkink akan diperbaiki dengan senyuman.
Aku menoleh, menatap Darel. "Ada satu hal yang belum sempat aku katakan."
Aku memberi kode agar Darel menunduk. Aku berbisik kemudian mencium bibirnya cepat. Wajah Darel memerah dan aku langsung melangkah santai menuju kelas. "Darel, kita harus cepat sebelum kelas dimulai."
Kali ini kami pasti akan bahagia.