
Alberto kembali dengan membawa surat dari Duke Lancaster. Hanya dari orangtuanya karena baik Alec dan Eli tak ada yang mengetahui keberadaannya. Meskipun Amabel menuliskan surat untuk keduanya. Alberto bukan hanya membawa surat dari Duke Lancaster, tetapi juga dari Pangeran Hendery dan Ryu. Memang hanya dua Pangeran itu yang dekat dengan Alberto.
"Alberto, apa rencanamu setelah ini?" Tanya Amabel setelah selesai makan malam. Keduanya masih menikmati makan penutup.
Alberto menggerakkan jarinya malas. "Ini dan itu. Aku harus kembali ke istana untuk waktu yang lama. Kebijakan tentang sekolah rakyat harus dilaksanakan pada semester baru, jadi aku harus turun langsung ke lapangan. Sebenarnya ini yang ingin aku bahas juga denganmu. Apa kau masih ingin ikut denganku?"
Amabel menarik napas sebelum menjawab, "sejujurnya ada jalan lain yang ingin aku tempuh bersama Rain. Aku ingin mengendalikan kekuatanku, sesuatu yang tak aku temui di akademi."
Alberto menarik gelasnya, "baiklah. Aku tak akan menahanmu."
Amabel tersenyum kemudian membungkuk kecil. "Terima kasih atas ilmu yang sudah kau berikan."
Alberto langsung mengibaskan tangannya. "Aku baru memberikan sedikit yang aku tahu. Dengan Rain lihatlah sisi dunia yang belum pernah kau lihat. Cari banyak pengalaman, bantu orang lain, dan manfaatkan apa yang kau bisa lakukan. Perubahan kecil dapat mengubah dunia."
"Aku akan mengingatnya dengan baik." Balas Amabel. "Kapan kau kembali ke istana?"
Alberto menghela napas sambil menyandarkan tubuhnya ke bangku. "Setelah berdiskusi dengan guru besar Iliyäkool. Kau ingin aku mengatakan apa pada orangtuamu?"
"Katakan saja apa adanya. Aku akan menulis surat untuk mereka sebelum berangkat." Ujar Amabel.
Alberto mengangguk kemudian berdiri. Wajahnya nampak lelah, "baiklah. Kau bisa memberikan padaku nanti. Aku duluan ya."
Amabel mengangguk. "Sekali lagi terima kasih."
Alberto hanya mengibaskan tangannya dan berjalan menuju kamarnya. Ia harus menyusun laporan untuk Iliyäkool dan istana. Kebijakan ini begitu terburu dan harus sempurna. Sayangnya, pihak istana hanya mempercayakan masalah ini pada Alberto--meski sering kali Alberto meminta pendapat Amabel--sehingga lelaki itu harus bekerja keras.
Amabel melangkah menuju meja resepsionis dan Rain sudah mengangkat tangannya. "Malam, nona. Jadi, Alberto sudah memberikan izin dan kita berangkat besok."
"Besok? Tunggu, bagaimana kau tahu?" Tanya Amabel bingung. Ia bahkan belum mengatakan apapun.
Rain menjentikkan jarinya, "aku ini penyihir hebat. Jika hanya itu tentu saja aku tahu. Aku bahkan tahu alasanmu pergi dari Plodnavor."
Tatapan Amabel langsung berubah, "kau tahu?"
Rain menahan senyumnya. "Aku bisa mendengar semua rahasia. Manusia mungkin bisa menyembunyikannya, namun benda mati dapat bersuara." Lelaki itu menepuk tangannya di depan wajah Amabel. "Aku tak akan mengatakan apapun jika nona tak mau bercerita. Nah, lebih baik nona bersiap karena kita akan pergi besok pagi."
Amabel ingin menggeleng, namun Rain menjentikkan jarinya dan tubuhnya bergerak tak sesuai keinginan. Ia masuk ke dalam kamar dan mulai merapikan barang-barangnya. Setelah selesai baru tubuhnya dapat ia kendalikan. Sepertinya Amabel meremehkan Rain. Gadis itu meraih kertas dan mulai menulis untuk orangtuanya. Ia juga menulis surat balasan pada Pangeran Hendery dan Ryu. Setelah selesai, Amabel keluar dari kamar dan mengetuk kamar Alberto.
Lelaki itu keluar dengan kacamata di kepala. "Kau ingin memberikan surat? Cepat sekali."
Gadis berambut perak di hadapannya mengangguk. "Kami akan berangkat besok." Setelah memberikan surat, ia mengeluarkan gelang dari kantung sihirnya. "Aku harap ini dapat melindungimu. Aku membuatnya belum lama ini."
Alberto tersenyum saat menerimanya. "Terima kasih. Aku pasti akan memakainya. Besok mungkin aku tak dapat mengantarmu. Aku pun tak memiliki kado khusus, namun aku harap ini dapat membantumu." Alberto masuk ke dalam kamarnya dan kembali dengan buku berwarna merah gelap. "Buku tulis sihir. Jika kau menulis sesuatu dan ingin mengirimnya, kau hanya perlu merobeknya. Tulisanmu akan muncul di media tulis penerima. Kau hanya perlu menulis nama penerima di ujung kiri."
"Dengan ini, kau bisa menulis surat pada orangtuamu." Alberto menepuk pundak Amabel pelan. "Kau sudah berusaha keras dan aku bangga pada pencapaianmu. Teruslah bekerja keras saat bersama Rain."
Amabel tersenyum lebar dan mengangguk. Ia memeluk buku dari Alberto erat. "Terima kasih, Alberto. Selamat beristirah."
"Selamat beristirah." Setelah itu pintu tertutup.
Pagi-pagi sekali Amabel sudah berangkat bersama Rain. Keduanya melangkah menuju utara, menelusuri sungai. "Ke mana tujuan kita, Rain?" Tanya Amabel sambil mengikuti langkah panjang Rain.
"Negeri para peri." Jawab Rain sambil menaruh jarinya di telunjuk.
Amabel mengerutkan alisnya. "Kenapa ke sana? Memang negeri para peri benar-benar ada?"
Amabel menggeleng, ini pertama kali ia dengar. Rain malah mengendikkan bahunya, tak peduli. "Pokoknya begitu. Kekuatanmu itu begitu kuat dan murni. Yah, tak heran karena kau memiliki kekuatan Celine. Bahkan kau sudah membuat perjanjian dengan Ro. Tentu itu menjadi bukti bahwa kau memiliki kekuatan besar. Hanya saja, bagaimana kau bisa mengendalikannya? Di dunia ini, kita tak bisa melakukannya. Akan tetapi, kita bisa melakukannya di negeri para peri."
"Oh, perjanjian dengan Ro." Gumam Rain kemudian menoleh. "Apa lambang perjanjiannya memudar atau kau merasa sakit?"
Amabel menggeleng, "tidak keduanya. Aku sudah memperlajarinya dari buku yang kubeli darimu. Efek itu hanya akan dirasakan jika roh elemen tak merasa diuntungkan dari perjanjian." Gadis itu menatap pergelangan tangannya, "munkin karena aku memiliki banyak manna jadi tak masalah."
Rain mengangguk. Ya, untuk apa juga khawatir pada seorang Amabel. "Kau harus memutuskan perjanjian jika lambangnya berubah menjadi merah."
Amabel mengangguk. "Tapi, kenapa?"
"Itu artinya hidupmu dalam bahaya. Entah energi atau mannamu tak cukup untuk menahan roh elemen dalam tubuh." Rain meraih tangan Amabel, memperhatikan lambang di pergelangan tangannya. "Jangan mati konyol."
Amabel mendecih mendengarnya. Siapa juga yang ingin mati konyol? Mereka terus menyusuri sungai. Semakin lama, Amabel sudah tak dapat mendengar suara hewan apapun lagi. Semuanya jadi sunyi.
Keduanya berhenti di samping sebuah air terjun. Terdapat pohon besar di hadapan mereka. Rain menyentuh batang pohon tersebut. "Aku Rain penyihir dari Barat, putera dari Thales bersama Amabel puteri dari Lancaster meminta izin agar gerbang antar dimensi terbuka." Bentuk sulur berwarna biru langit tercipta membentuk sebuah gerbang. Perlahan batang pohon membelah dan Amabel mengikuti Rain masuk ke dalam.
Amabel seperti masuk ke dalam sebuah gua dengan permata sebagai hiasan. "Indah sekali."
Rain mengangguk. "Ada yang perlu kau ketahui, satu bulan berada di sini sama dengan satu musim berlalu. Pergerakan waktunya lebih cepat. Mungkin tak terasa saat berada di sini, namun ketika kembali kita akan merasakannya."
Amabel akan mengingatnya dengan baik. Rain mengulurkan tangannya dan Amabel meraihnya. "Seberapa lama kita di sini tergantung dengan seberapa cepat kau dapat mengendalikan kekuatanmu."
Ketika keluar dari gua, Amabel dapat melihat padang bunga dengan danau yang jernih. Di tengah danau terdapat pohon yang sangat besar dan ia dapat melihat peri-peri yang tinggal di sana. Selama ini Amabel mengira peri bertubuh kecil, ternyata ukuran tubuh mereka sama. Telinga peri lebih runcing dan kulit mereka begitu putih. Rambut mereka berwarna-warni seperti bunga.
"Putera Thales," panggilan itu berasal dari seorang peri wanita berambut merah panjang. Gaunnya berwarna emas dan di belakangnya terdapat pasukan trol. "Datang bersama darah Lancaster."
Tangan dingin peri itu menyentuh dagu Amabel dan tatapan matanya seolah tengah menelanjangi Amabel. "Celine." Ucapnya dan langsung memeluk Amabel. "Lama kami menunggu."
Rain malah menguap saat Amabel meminta penjelasan. Lelaki itu melangkah menuju Amabel dan melepaskan pelukan keduanya. "Aku datang sesuai ramalan. Amabel, dia adalah Ratu Evangeline, penguasa negeri peri."
Amabel menarik ujung gaunnya, menyapa secara formal. "Amabel Lancaster memberi salam."
Evangeline tertawa, "tentu kami tahu kau siapa. Mari pergi, kami sudah menunggu untuk kau datang."
Amabel mengikuti bersama Rain di sisinya. Sepanjang jalan ia melihat para peri melambaikan tangan dan tersenyum. "Kalau boleh tahu, ramalan apa yang kalian maksud?"
"Ramalan bahwa reinkarnasi Dewi Celine akan datang bersama Putera Thales." Jawab Evangeline. "Jadi, selama hidupnya Putera Thales akan menunggu hingga kau datang. Mereka seperti anjing yang menunggu tuannya. Jadi, perlakukan saja mereka seperti itu."
Rain mendecih mendengarnya. "Hoi, jangan sembarangan. Aku ini bukan hanya putera Thales, tetapi juga penyihir dari Barat!"
"Terserah." Balas Evangeline tak peduli. Ia membuka pintu di pohon besar. "Pohon ini adalah tempat kami hidup. Sumber energi dan sumber kehidupan. Ini kamar kalian dan berlatihlah selama yang kalian perlukan. Aku akan pergi sekarang."
"Terima kasih." Ujar Amabel tulus.
Evangeline tersenyum, "aku yang harus berterima kasih karena kau akhirnya datang."
Kemudian ia berbalik meninggalkan Rain dan Amabel. Rain menjentikkan jarinya dan sebuah cekungan tercipta di lantai. Di dalam cekungan tersebut terdapat air panas. Rain menjentikkan jarinya dan sebuah kertas tertumpuk di depan cekungan berukuran enam puluh senti tersebut. "Mulai latihan. Kertas di hadapanmu akan jatuh ke dalam air setiap dua puluh detik dan kau memiliki waktu lima detik untuk mengangkatnya agar tidak hancur."
"Untuk apa latihan ini?" Tanya Amabel.
Rain sudah duduk di kursi goyang. "Melatih manna. Gunakan manna untuk mengambil kertas itu. Mulai."
Amabel bahkan tidak tahu cara melakukannya. Namun, Rain sudah memejamkan matanya di atas kursi goyang.