The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Empat Puluh Tiga: Menggema



Pengumuman itu menggema, berulang, dan menghasilkan berbagai persepsi. Kemarahan, keterkejutan, tak percaya, dan berbagai emosi lain berkumpul di ruangan tersebut. Amabel menuruni tangga dengan Arion yang menggenggam erat tangannya. Dari genggaman itu, Amabel dapat merasakan getaran tangannya. Entah Arion gugup atau emosi lain yang tak terbaca oleh Amabel.


"Pa.. kamu gugup, Arion?" Tanya Amabel akhirnya setelah mereka melewati sekian banyak ucapan selamat. Keduanya melipir ke balkon, tempat mereka tak dapat diganggu.


Arion tak menatap Amabel, melainkan langit. Hari ini bulan hanya terlihat setengahnya. "Entahlah. Aku tak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Kamu sendiri?"


Amabel memainkan jemarinya yang bertaut. Apa yang harus ia jawab? Amabel tak tahu bagaimana ia harus memposisikan dirinya. Takutkah dirinya? Atau marah? Atau tak siap?


"Sejujurnya aku tak tahu. Aku bahkan tak percaya dengan keputusan Raja. Membayangkan diriku di masa depan menjadi Ratu rasanya sangat aneh." Amabel diam sejenak, terkekeh pelan. Suara tawanya mengundang Arion untuk menoleh. "Sebagian diriku merasa tak pantas. Selama lebih dari tujuh tahun aku pergi dari Plodnavor dan kembali dengan banyak perubahan. Bisakah nantinya aku bertanggungjawab atas posisiku? Aku mungkin takut mengecewakan orang banyak."


Amabel menoleh, menatap mata Arion dengan senyum kecil. "Namun, selama kamu menjadi Rajanya, aku rasa semua akan baik-baik saja. Jika kamu bisa memimpin pasukanmu dan membawa kemenangan, kerajaan ini pun pasti akan mendapatkan kemamuran. Singkatnya aku percaya kamu bisa menjadi Raja yang baik."


Sudut bibir Arion tertarik, "bagaimana denganmu? Kamu akan menjadi Ratu?"


Amabel langsung mengendikkan bahunya. "Entahlah. Tak ada yang tahu masa depan." Ia kembali menatap Arion, "tapi, jika kamu Rajanya aku tak akan menolak."


Tatapan mata keduanya bertemu. Saling mencari makna dari tatapan tersebut. Hingga akhirnya keduanya tersenyum. Malam itu, keputusan Amabel dibuat. Dalam genggaman tangan Arion, Amabel merasa harus berdiri di sisinya. Entah apa dan bagaimana, namun Amabel ingin melindungi Arion. Amabel ingin mendukung Arion dan berjalan di sampingnya.


Mungkin sejak pertemuan pertama mereka, itu satu-satunya yang Amabel inginkan. Ia hanya menghindar karena terlalu takut. Benar kata Rain, hanya nama yang akan berubah. Di dalam dirinya tak ada yang berubah. Amabel tetap Amabel, meski namanya nanti berubah menjadi Walcote atau siapapun. Dia tetaplah dia, bukan orang lain.


"Jadi, kamu akan menikah denganku?" Tanya Arion setelah keduanya terdiam cukup lama.


Amabel menoleh, menilai Arion dari atas ke bawah. "Kamu terlihat cukup baik untuk dinikahi olehku."


Arion tertawa mendengarnya. Pemilihan kata Amabel begitu lucu untuknya. "Rasanya aneh mendengarmu bicara seperti itu."


Gadis berambut perak itu menyentuh lehernya, malu sendiri. "Aku tahu. Lagipula, jika aku tak menikah denganmu, tidak ada yang mau menikah denganku. Tak ada yang mau menikahi gadis yang pernah menjadi tunangan seorang Pangeran."


Arion tahu hal itu dan entah kenapa ia merasa tak suka mendengarnya. "Kalau kamu tak mau menikah denganku, aku pun tak akan menikah dengan siapapun. Aku akan mengabdi sebagai ksatria sampai aku tua."


Dengan cepat gadis berambut perak itu menoleh, tak menyangka jika Arion akan mengatakan hal tersebut. "Jangan bicara seperti itu. Kalau kamu tak menikah denganku, artinya memang kamu bukan takdirku. Jangan menjadi ksatria seumur hidup. Nanti kamu akan kesepian."


Amabel tak tahu balasan yang harus ia berikan pada Arion. Kata-kata tulus dan itu membuat Amabel takut. "Arion ... jika bukan aku, pasti akan ada orang lain."


Arion menghela napas, melepaskan genggamannya pada Amabel. "Kamu bicara seakan tak menginginkan pernikahan ini." Ia menatap Amabel, di mata itu dapat terlihat kekecewaan yang membuat Amabel terhenyak. "Jika kamu memang tak menginginkannya aku bisa bicara pada ayah. Aku tak akan memaksamu untuk menerimanya."


Lelaki itu berbalik dan Amabel hanya dapat melihat punggung Arion. Kenapa terlihat begitu kesepian?


"Sejak awal, aku sudah jatuh cinta padamu. Sejak awal aku hanya ingin bersamamu. Namun, jika kamu tidak merasa demikian aku tak akan memaksa." Arion berbalik, kembali menatap Amabel dengan pandangan terluka. "Aku ingin kamu menikah denganku atas keinginanmu. Tanpa paksaan atau kewajiban. Aku ingin kamu menerima pernikahan ini karena kamu mencintaiku. Tapi, seperti aku salah. Kamu tak menginginkannya. Karena kamu tak merasakan apa yang aku rasa."


Setelah itu Arion kembali berbalik dan berjalan menjauh. Amabel ingin menghentikan Arion, namun kakinya terasa kaku. Ia hanya bisa memandangi Arion yang menghilang di balik kerumunan. Amabel tak ingin Arion salah paham. Apa yang ia rasakan ternyata tak sampai ke Arion. Perasaannya tak sampai ke Arion. Dan itu membuatnya merasa sesak.


Saat kembali ke aula istana, Arion tengah berbincang dengan Duke Hamilton. Jika ada Duke Hamilton artinya akan ada banyak gadis yang mengerumuni. Pengumuman dari Raja menambah banyak orang yang berkumpul di sekitar Arion.


"Kau terlihat sedih." Amabel mendongak, menatap Ryu kaget. "Tidak senang dengan pengumumannya?"


Amabel dengan cepat menggeleng. "Bukan soal itu. Pangeran sendiri bagaimana?"


Ryu menaikkan alisnya, bingung. "Aku? Aku senang. Akhirnya ada yang mau mengurus persoalan kerajaan. Bagiku yang mengurus persoalan sihir tentu itu sangat membantu. Lagipula aku tak terlalu menginginkan posisi yang ribet seperti itu."


Mata Amabel membulat. "Pangeran tak ingin jadi Raja?"


Dengan tegas Ryu mengangguk. "Mengurus menara penyihir saja sudah ribet. Lagipula aku tak suka politik, aku lebih suka bereksperimen dan membuat benda yang berguna bagi orang banyak." Ryu menatap Arion, "kalau itu dia aku bisa tenang. Dia tak memiliki ambisi, kecuali ingin melindungi seseorang."


Kali ini Ryu menatap Amabel, lebih tegas dari sebelumnya. "Adikku itu sejak kecil sudah berada di medan perang. Dia tak bisa mengerti jika tidak mengatakan maksudmu secara langsung. Arion butuh seseorang yang bisa berbicara terbuka dan jujur, dengan begitu ia bisa paham. Dia anak yang kesepian dan hanya ingin dicintai, meski ia sudah mendapatkan namun ia tak merasakannya secara langsung. Kau paham 'kan putri keluarga Lancaster?"


Ucapan Ryu sejak tadi seperti tengah menasihati Amabel. Gadis itu mengangguk dan Ryu berjalan menemui entah pejabat lain. Amabel kini paham, mungkin Arion tak mendengar secara jelas dan Amabel tak mengatakan secara langsung pula. Kesalahan pahaman keduanya harus diluruskan, namun kini Arion sudah tak ada di aula istana. Lagi, tatapan kecewa Arion terlintas di kepalanya. Rasanya Amabel sudah menyakiti Arion.