
"Sejak pagi nona aneh ya." Ella berujar sambil memeluk nampannya. Di sisinya Pita mengangguk. Sebenarnya sejak pulang dari pesta nona mudanya memang terlihat aneh. Gadis itu jadi lebih sering bengong, bahkan saat ini pun begitu. Putri keluarga Lancaster itu hanya menatap hamparan bunga di depannya sambil memangku tangan. Sebuah pemandangan yang aneh.
"Apa nona ada masalah?" Tanya Ella dan Pita hanya mengendikkan bahunya, tak tahu. "Ah, aku harap nona cepat pulih. Meski nona tidak sakit."
Pita mengangguk, kembali menatap nonanya sebelum akhirnya berbalik menuju dapur. Sementara Amabel masih saja menatap taman tanpa melakukan apapun. Atau bisa jadi sejak tadi hanya menghela napas yang menjadi kegiatannya. Sejak semalam hanya Arion yang berputar dalam kepalanya. Mereka belum bicara lagi dan rasa bersalah Amabel semakin tinggi.
"Um, nona." Amabel menoleh dan Ella berdiri di sampingnya. "Em, ada pesan dari kerajaan."
Mata Amabel langsung membulat, merasa ada kesempatan untuk berbicara dengan Arion. "Oh? Apa pesannya?"
Ella tersenyum, merasa senang karena nonanya terlihat lebih santai. "Permaisuri Jovanka ingin menemui nona."
Mendengar itu Amabel langsung berdiri. "Aku pergi kalau begitu."
Langkahnya ringan dan Ella tersenyum melihatnya. "Pita sedang menyiapkan kereta kudanya. Oh, nona harus berdandan dulu."
Amabel berhenti, menatap pakaiannya yang dirasa sudah cukup. "Tak perlu, ini sudah-"
Ella menggeleng dan langsung menarik tangan Amabel. Gadis itu hanya bisa menghela napas, pasrah. Jadilah Amabel mengganti gaun putihnya dengan gaun biru pastel. Rambutnya dihias dengan bandana berhias bunga. Ella tersenyum setelah memakaikan hiasan wajah pada Amabel. Sentuhan terakhir dengan memakaikan aroma bunga segar di pakaian dan beberapa bagian tubuh Amabel.
"Sudah selesai. Sekarang nona bisa pergi dan menemui ibu mertua." Ledekan Ella membuat pipi Amabel semakin memerah. "Nah, ayo, ayo. Kita tidak boleh membuat mereka menunggu lebih lama."
"Terima kasih, Ella, Pita." Ujar Amabel setelah duduk di kereta kuda. Gadis itu tersenyum, begitu cantik. "Aku pergi kalau begitu. Sampai jumpa."
Entah kenapa kepergian Amabel kali ini membuat keduanya tersenyum. Rasanya nona mereka sudah lebih dewasa dan ada aura hangat yang keluar saat ia tersenyum tadi. "Rasanya kali ini nona akan kembali dengan senyuman." Pita melangkah kembali ke dalam rumah.
Ella mengangguk, mengikuti langkah Pita setelah melihat kereta kuda keluarga Lancaster keluar gerbang. "Hm, aku tak sabar mendengar berita baik."
Saat tiba di istana Amabel langsung diantar menuju istana Permaisuri Jovanka. Ralat, bukan istana namun kamar. Permaisuri Jovanka sedang berada di kamar khusus miliknya di istana. Pelayan yang menemaninya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum mengizinkan Amabel masuk. Melihat pelayan tadi membuat Amabel merindukan Kier. Bagaimana kabarnya saat ini? Sejak kembali Amabel belum bertemu dengannya.
"Salam Permaisuri Jovanka." Amabel menarik kedua ujung gaunnya sambil menunduk. "Amabel Lancaster memberi salam."
Jovanka tersenyum melihat Amabel yang berdiri di hadapannya. Perempuan itu langsung menepuk sofa kosong di sampingnya ketika keduanya melakukan kontak mata. Ketika mendongak, Amabel sadar bahwa mereka tidak hanya berdua. Ada orang lain yang berdiri di sisi Permaisuri Jovanka. Seseorang yang sejak tadi Amabel pikirkan, Kier. Keduanya saling melempar senyum.
"Ah, kalian pasti saling mengenal." Ujar Permaisuri Jovanka saat Amabel mengambil tempat di sampingnya. Jovanka menepuk punggung Kier beberapa kali, "sejak awal dia adalah pelayanku."
Ah, begitu rupanya. Hanya itu yang ada dipikiran Amabel. Melihat perubahan wajah Amabel membuat Jovanka menepuk lengan Amabel--yang tengah ditumpu di atas paha. "Bukan untuk menyelidiki atau apapun. Secara khusus Baginda Ratu, aku, dan Permaisuri Freya memilih pelayan untuk tiap calon Permaisuri. Aku akan mengatakan ini sebagai takdir karena Kier menjadi pelayanmu."
Amabel tersenyum, menatap Jovanka dan Kier bergantian. "Maaf jika sebelumnya saya menyinggung anda. Juga, terima kasih karena benang takdir mempertemukanku dengan Kier. Dia sangat membantuku saat ujian beberapa tahun lalu."
Di tempatnya Kier menunduk, malu mendengar pujian tersebut. "Bantuan saya hanya sedikit. Sisanya berasal dari ketangkasan Tuan Putri."
Jovankan ikut tersenyum mendengarnya. Perempuan itu kemudian memberi tanda untuk Kier meninggalkan ruangan. Amabel rasa ini adalah pembicaraan pribadi. Setelah Kier keluar, Jovanka menggenggam kedua tangan Amabel. Tatapan matanya terlihat bersemangat dan lembut dalam waktu bersamaan.
"Nah, jadi, bagaimana menurutmu tentang Arion?"
Ah, pembicaraan ini. Amabel berdeham sebelum menjawab, "dia pria yang baik."
Jovanka mendecih mendengarnya. "Terlalu umum! Katakan lebih spesifik! Apa yang Bel sukai dari putraku?"
Amabel mengusap tengkuknya, entah kenapa merasa gugup dan malu dalam waktu bersamaan. "Hng, saya tak terlalu pandai menguraikannya dengan kata-kata. Namun, mungkin alasan yang paling utama adalah dia Arion."
Jovanka memiringkan kepalanya, tak paham. Melihat itu membuat Amabel lebih gugup. "Karena sejak awal dia adalah Arion."
Amabel menutup matanya, frustasi. Alasan dia suka Arion benar-benar tidak jelas. Namun, hanya itu yang ada di kepalanya. Sejak awal entah Arion adalah seorang ksatria atau Pangeran, Amabel akan tetap menyukainya. Karena dia adalah Arion. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, semakin bingung dengan pikirannya sendiri.
Kekehan pelan keluar dari bibir Jovanka. Lama-lama menjadi tawa yang membuat Amabel bingung. Perempuan itu menepuk tangan Amabel lagi. "Jadi, Bel menyukai Arion tanpa memedulikan siapa Arion, benar?"
Pipi Amabel bersemu mendengarnya. "Rasanya tidak sopan." Elak gadik itu, namun Jovanka langsung menggeleng. "Dicoba dulu, ya. Bel akan jadi bagian dari keluargaku dan aku tak ingin ada jarak diantara kita."
"Terima kasih." Balas Amabel tulus. Ia kemudian sadar, "oh, sebenarnya ada apa Per-, um, mama memanggilku ke sini?"
Rasanya mendebarkan. Rasanya seperti Amabel melakukan kesalahan namun terasa benar. Pikirannya kembali tidak jelas. Jovanka menarik cangkir tehnya kemudian menyesapnya pelan. "Untuk bertanya tentang pernikahan. Sejujurnya aku tahu memaksakan sesuatu itu tidak baik. Ketika Arion kembali ke medan perang bersamaan dengan kepergian Amabel pasti ada alasan tersendiri. Baru-baru ini aku menyadari kemungkinan kepergian kalian memiliki alasan yang tak jauh berbeda. Aku tak akan memaksa untuk bercerita. Apa yang telah terjadi di belakang lebih baik kita tinggalkan."
Ada jeda ketika Jovanka menaruh kembali cangkir tehnya. Perempuan itu menatap Amabel lembut, "yang paling penting adalah saat ini. Jadi, apakah Bel bersedia untuk menikah dengan putraku, Arion Saverio Walcote?"
Jovanka tersenyum, lembut tanpa paksaan. Sejak awal ia menginginkan momen ini. Sebuah momen untuk melamar Amabel untuk putranya. Jantung gadis berambut perak itu berdegup cepat. Jovanka menyadari kegugupannya, "aku tak memaksa. Apapun pilihanmu, aku akan menerimanya. Bahkan jika menolak pun, aku akan tetap menganggapmu sebagai putriku dan membantumu bicara dengan Baginda Raja. Tak perlu khawatir akan jawaban yang kamu berikan."
Amabel mengeratkan pegangannya pada gaun. "Aku," dia berhenti dan menarik napas. "Jika Per- mama bertanya padaku tujuh tahun lalu pasti aku akan menolak permintaan ini. Sejak awal aku membenci rencana pernikahan ini. Aku tak suka pernikahan yang dipaksakan. Beberapa kali aku melakukan konfrontasi, dengan orangtuaku, pangeran ke dua, hingga Baginda Raja. Aku begitu menentangnya karena aku tak tertarik berada di istana. Di sini, bahkan meski aku menjadi Ratu di masa depan, masalah politik dan negara tak dapat disentuh. Terdapat banyak dinding yang sengaja diciptakan agar pergerakan perempuan terbatas. Tak terlihat memang, namun itu lebih menyakitkan."
Mendengar penuturan Amabel menampar Jovanka. Tiap ucapanya membawa kilas balik ketika dilamar oleh Raja. Rasanya ia kembali diingatkan secara paksa dan perasaan sesak itu kembali muncul. Amabel saat ini berdiri bagai cermin di hadapannya. Seakan seluruh masa lalu Jovakan dipaksa keluar.
"Kenyataan bahwa Raja memilih Arion sebagai Putra Mahkota menjadikan alasan lain untuk aku menolak pernikahan ini. Aku tak menyukai posisi yang akan kuemban di masa depan. Aku tak siap dan selamanya tak akan siap." Amabel berhenti, ia masih menunduk menatap jemarinya. Ia menarik napas, kemudian melanjutkan. "Namun, anehnya aku tak bisa menolaknya. Mungkin aku dapat menolak semua gelar yang akan diberikan, namun aku tak bisa menolak Arion. Aku bisa menolak pernikahan ini, namun tidak dengan Arion."
Jovanka mendongak, bertemu pandangan dengan Amabel yang tersenyum. "Mama bertanya apakah aku bersedia menikahi putramu dan jawabanku adalah ya. Aku bersedia."
Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Jovanka memeluk Amabel. Begitu erat, seakan ia memeluk dirinya sendiri yang berusia enam belas. Saat ini yang Jovanka lihat adalah dirinya di usia enam belas, bukan Amabel. Dia memeluk dirinya sendiri, "jalanmu tak akan mudah, tetapi percayalah kebahagiaan akan datang padamu."
Tangan Amabel terulur, membalas pelukan Jovanka. "Terima kasih."
Setelah bertemu dengan Jovanka, Amabel langsung keluar dari kamar Permaisuri. Ia tak melihat Kier dan memilih untuk pulang. Matahari sudah berwarna oranye saat Amabel berjalan menuju danau. Tempatnya dan Arion berpamitan tujuh tahun lalu. Angin berdesir, membuat rambutnya menari pelan. Di hadapannya, sosok yang dicari tengah menatapnya. Keduanya bertukar pandangan. Arion lebih dulu memalingkan wajahnya ke arah danau. Ada sengatan menyakitkan di dada Amabel ketika Arion memalingkan wajahnya.
Perlahan Amabel maju, berdiri sejajar dengan Arion. Jika seperti ini Amabel merasa begitu kecil. Tingginya hanya mencapai dada Arion. Meski demikian ia tetap merasa aman. "Aku baru saja bertemu Permaisuri Jovanka." Kata Amabel membuka pembicaraan di antara keduanya. Jarinya yang lentik berayun untuk menyampirkan rambut ke belakang telinga. "Beliau melamarku untuk dirimu."
Arion menoleh sekilas, cukup untuk Amabel merasa senang. "Jika ia melakukan beberapa tahun lalu, aku akan dengan tegas menolaknya." Angin kembali berdesir, membuat rambut keduanya menari pelan. "Namun, untuk saat ini aku tak bisa menolaknya. Aku, tak bisa menolakmu."
Arion menoleh, menatap Amabel dengan tatapan tak percaya. Gadis itu tersenyum, "aneh ya? Harusnya ketika kita berpisah perasaanku dapat berubah. Pada kenyataannya malah semakin membesar. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan berakhir mencintaimu sampai saat ini."
Kejujuran Amabel membuat kinerja otak Arion berhenti untuk beberapa saat. "Ah, aku rasa jika ka- Pangeran tak memiliki perasaan yang sama anda bisa menolaknya. Tak ada paksaan." Tambah Amabel cepat. Bodohnya ia merasa begitu percaya diri ketika mengatakan perasaannya. Bisa jadi, Arion tak merasakan hal yang sama. Ah, lagi-lagi denyutan menyakitkan itu ia rasakan.
Keduanya terdiam. Meski otaknya ingin segera pergi, namun kakinya menolak berfungsi. Seakan ada lem di kakinya. Amabel menunduk sambil menatap sepatunya, memohon agar kakinya bergerak seperti keinginannya. Namun, sia-sia.
"Bagaimana bisa," ucap Arion pelan. Kemudian ia mengulanginya. "Bagaimana bisa aku menolaknya? Entah kamu sadar atau tidak, aku pun sudah mencintaimu. Bahkan jauh lebih dulu dan lebih lama darimu. Berpisah selama tujuh tahun lebih begitu menyiksaku. Kamu pergi seakan menghilang dari hidupku. Begitu mudah seakan aku ini tak memiliki arti dalam hidupmu. Padahal bagiku, kamu adalah orang yang paling berharga. Jika itu demi kebahagiaanmu apapun akan kulakukan."
Arion menoleh, menyentuh pipi Amabel begitu lembut. Ia menunduk, menyatukan kening keduanya. "Terima kasih," ujarnya dengan mata terpejam. "Terima kasih karena sudah menerimaku."
Amabel mengangguk, dadanya bergemuruh hebat dan rasanya begitu hangat. Dari jarak sedekat itu keduanya saling menatap dan sebuah senyum tercipta. Arion menarik dirinya lebih dulu kemudian menepuk puncak kepala Amabel. "Sudah larut, mari kuantar."
Pembicaraan yang biasa dan normal. Seakan sebelumnya mereka hanya membicarakannya soal makanan kesukaan. "Kamu akan mengantarku sambil berjalan di sisi kuda?"
Arion tersenyum miring dan itu terlihat menyebalkan di mata Amabel. "Kamu akan menikah denganku, jadi aku bisa berada di atas kuda denganmu."
"Ah, aku ke sini dengan kereta kuda." Balas Amabel.
Arion mendecih, "akan kusuruh mereka pulang."
"Diktator." Ledek Amabel dan Arion memberengut. Bagi Amabel itu lucu.
Di atas sebuah pohon Rain menguap. Sihirnya berhasil digunakan pada kaki Amabel. Meski ia harus mati-matian menahan diri untuk tidak muntah karena pernyataan cinta keduanya. Ia menghela napas, menyilangkan tangan di belakang kepala. "Sebenarnya apa yang aku lakukan?"
Padahal Rain yang paling tahu akhir dari kisah ini. Namun, entah kenapa ia masih mencoba menjadi peri cinta. Lagi, ia menghela napas kemudian menghilang dari pohon tersebut. Setidaknya, ia dapat melihat Amabel tersenyum.