The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Empat Puluh Delapan: Bunga Matahari



Amabel merasa badannya remuk. Seluruh tubuhnya terasa sakit karena harus menyapa banyak orang semalam. Sebuah pot berisi semanggi empat kelopak membuatnya terbangun. Terdapat surat di bawah pot kecil tersebut.


***Hadiah dariku.


Semoga keberuntungan berada di pihakmu kali ini.


ps apa kamu sudah merasa bahagia?


pss untuk sementara aku akan pergi


Salam,


Rain***.


Rain sudah pergi ternyata. Sejak awal ia memang pengelana, tentu tak dapat ditahan. Rahel dan Rain pergi, Amabel berdoa untuk keselamatan keduanya. Mata Amabel kembali membaca tulisan Rain kemudian tersenyum. "Ya, Rain, aku bahagia."


Pot tersebut kemudian ia pindahkan ke dekat jendela. Pagi ini matahari tertutup dengan awan berwarna kelabu, bahkan sejak tadi sudah gerimis. Aroma air bertemu tanah dapat Amabel hirup, aroma yang khas. Gerimis tersebut kemudian semakin deras dan berubah menjadi hujan. Rasanya ia ingin kembali ke bawah selimut tebal dengan secangkir cokelat panas.


"Syukurlah nona sudah bangun." Pita berujar saat membuka pintu. Ia menaruh nampan berisi sarapan untuk Amabel di atas meja. Gadis itu kemudian melangkah mendekati Amabel dengan membawa jubah dan memakaikannya di bahu Amabel. "Nona bisa masuk angin jika berdiri di sini lebih lama lagi. Saya sudah membawakan sarapan untuk nona."


"Hm, terima kasih." Balas Amabel dan melangkah menuju meja di depan kasurnya. Ia memotong telur dan memakannya dalam satu suapan besar. "Telurnya lembut sekali. Lezat, Tuan Geral menambahkan oregano ya? Ini terasa lebih gurih dan aku menyukainya."


Seperti biasa, lidah Amabel untuk menyicip makanan tak perlu diragukan lagi. Pita tersenyum lebar melihat Amabel menikmati sarapannya. Setelah selesai, Pita mengeluarkan sapu tangan berwarna merah muda. Ia mengulurkan sapu tangan tersebut di depan Amabel. "Kemarin saya belum sempat memberikan hadiah. Sapu tangan ini saya jahit sendiri. Saya harap sapu tangan ini bisa berguna untuk nona."


Amabel menatap motif bunga di sisi sapu tangan dan inisial namanya. Perpaduan yang cantik. "Terim kasih, Pita. Aku menyukainya."


Pita mengangguk kemudian meraih tangan Amabel. "Nona, selama ini anda sudah memendam banyak kesulitan. Saya berdoa agar nona bisa bahagia. Saya tak pernah menyesal menjadi pelayan nona. Bahkan jika saya terlahir kembali, saya akan dengan senang hati melayani nona."


Amabel terkekeh mendengarnya. "Pita, jika kamu terlahir kembali jangan menjadi pelayanku. Aku ingin kamu menjadi temanku."


Pita menunduk, menahan agar dirinya tak menangis. "Nona, terima kasih. Aku akan membawa ini ke dapur. Elle akan datang untuk mempersiapkan nona."


Setelah itu, Pita keluar dari kamar Amabel. Sementara si pemilik kamar masih memegang erat sapu tangan pemberian Pita. Terlahir kembali ya, pikir Amabel. Dia sudah melaluinya sebanyak tiga kali. Ini kehidupan ketiganya dan akhirnya ia bisa merasakan bahagia. Dicintai oleh keluarga, memiliki sahabat yang menyayanginya, juga menemukan seseorang yang mencintainya. Semua harapannya terpenuhi. Ia jadi berpikir, apakah pantas dirinya mendapat semua kebahagiaan ini?


Dirinya sebagai Lalisa, apakah akan merasa dicintai oleh keluarga? Dirinya sebagai Celine, apakah bisa merasakan kehangatan dari seorang kekasih? Rasanya Amabel telah hidup begitu lama untuk mendapatkan itu semua. Rasanya begitu egois jika dipikir lagi. Namun kali ini ia sadar bahwa harapan atas dua kehidupan sebelumnya telah terpenuhi dalam kehidupannya saat ini.


Amabel memejamkan matanya, membiarkan angin menyentuh pipinya perlahan. Cipratan air hujan dapat ia rasakan bersamaan dengan angin yang menerpa tubuhnya. Hujan semakin deras tanpa berniat untuk berhenti. Hari ini akan menjadi hari yang panjang.



Alterio membuka pintu kamar Jeanne perlahan. Sudah berhari-hari istrinya itu tidak keluar dari kamar. Lelaki itu melangkah, mendekati Jeanne yang tengah bersandar di jendela. Wajahnya tampak muram dan itu membuat Alterio gelisah. "Jeanne."


Panggilan itu membuat si pemilik nama berdiri dengan cepat. Jeanne langsung memberi hormat dan mendekati Alterio. "Apa ada sesuatu Yang Mulia?"


Alterio menggeleng, ia kemudian memberikan bunga matahari pada Jeanne. "Aku hanya ingin memberikan ini."


Jeanne meraihnya kemudian mengangguk. "Terima kasih."


Lagi, Alterio menghela napas. "Jangan terlalu lama bersedih Jeanne. Kamu masih memiliki aku di sini, kamu tidak sendirian." Setelah mengatakan itu Alterio berjalan menuju pintu. Ia memegang hendel pintu lalu menoleh. "Jangan lakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal. Kebencian tidak akan menghasilkan kepuasan dalam diri." Ia membuka pintu, "aku pergi. Juga Jeanne, kamu adalah istriku, ingat itu."


Selalu. Selalu seperti itu. Alterio seperti menelanjangi Jeanne. Seakan tiap langkah dan keputusan Jeanne diketahui, bahkan sebelum ia mengambil pilihan tersebut. Alterio selalu tahu. Hanya saja, pilihan Jeanne telah dibuat dan ia tak akan mengubahnya.


"Kamu salah, Pangeran." Ujar Jeanne sambil memegang bunga matahari. "Balas dendam yang berasal dari kebencian akan memberikan kepuasan luar biasa pada diri. Terutama ketika sang tokoh kehilangan yang berharga di depan mata."


Saat mengatakan itu, tatapan mata Jeanne begitu kosong dan dingin. Tak ada emosi di sana.



"Bendungan terbesar sudah kami kuasai, Tuan. Seperti rencana sebelumnya, aliran airnya telah disumbat." Lapor si jubah oranye. "Perlahan, istana juga telah kami susupi dengan prajurit khusus. Dipastikan saat penobatan, kita akan mengambil alih istana."


Seorang dengan jubah berwarna putih mengangguk. Ia kemudian berdiri, membuat semua orang dalam ruangan berlutut. "Hingga waktunya tiba, terus jalankan rencana hingga sempurna. Panggil para penyihir dan siapkan mari kirim hadiah kepada para Pangeran."


Si jubah putih kemudian menghilang, begitu pula dengan orang-orang di ruangan tersebut.


Hadiah yang dimaksud sampai di istana dua hari kemudian. Hadiah tersebut sampai di kediaman Lancaster bersama dengan kepulangan Elliot. "Bel, aku rasa saat ini kamu harus menemui Rahel."


Amabel menaruh rajutannya dan menoleh, bingung. "Apakah Rahel sudah kembali dari liburannya?"


Elliot menatap Amabel, lurus dan tegas. Terakhir kali Elliot menatapnya seperti ini adalah ketika ia mengabarkan bahwa Alec cidera saat latihan pedang. "Temani Rahel karena saat ini dia sangat membutuhkanmu."


"Kenapa?" Tuntut Amabel.


Elliot terlebih dahulu memeluk Amabel, erat. "Dia kehilangan anaknya. Di perjalan kereta Pangeran Noah dan Rahel diserang. Saat itu mereka kehilangan anak yang bahkan baru mereka kenal saat kehilang tersebut. Temani Rahel, Bel."


Perlahan air mata Amabel luruh. Ia hanya dapat memeluk Elliot erat. Bagaimana perasaan Rahel saat ini? Amabel masih ingat senyum bahagia Rahel saat ingin pergi beberapa hari lalu. Mereka bahkan bercanda dan Rahel bahkan meledeknya. Sekarang, sahabatnya merasakan kehilangan pada sesuatu yang belum pernah ia sapa. Rahel belum mengenal jabang bayi di perutnya, namun ia harus mengucapkan selamat tinggal tanpa pernah saling mengenal.



Saat tiba di kamar Rahel, Amabel hanya melihat sahabatnya duduk menghadap jendela sambil memeluk lututnya. Tatapannya kosong sementara Dorothy hanya bisa menemani tanpa melakukan apapun. Amabel menahan air matanya sebelum menghampiri. Perlahan ia mendekat dan berjongkok di depan Rahel.


"Rahel." Panggil Amabel, namun tak direspon. "Rahel, ini aku. Ini aku Rosemary."


"Rahel." Panggil Amabel lagi dengan suara tercekat. "Katakan sesuatu, Rahel."


"Apa yang ingin kamu dengar, Rosemary?" Tanya Rahel, datar.


Apa yang ingin Amabel dengar? Amabel tak tahu. Ia hanya ingin tahu bagaimana perasaan Rahel saat ini. Amabel memilih diam hingga Rahel akhirnya berdiri dari duduknya. Ia bersandar di jendela, menyentuh kaca jendela dan menatap ke arah danau. "Dia anak yang cantik, Rosemary. Tatapan matanya sehangat Noah, rambutnya seperti diriku. Dia begitu cantik bahkan ketika mengatakan selamat tinggal."


Amabel tahu Rahel tengah menangis, namun kakinya seakan terpaku di lantai. Ia tak dapat bergerak. Rahel menyentuh perutnya, mengusapnya perlahan dengan tatapan penuh kasih sayang. Hal itu membuat Dorothy membuang muka, rasanya menyakitkan. "Aku bahkan tak menyadari kehadirannya, namun ia tetap mengatakan selamat tinggal dengan senyum lebar. Aku-"


Rahel langsung berjongkok, menangis dengan raungan menyakitkan. Dengan sisa tenaganya Amabel berlari dan memeluk Rahel, erat. Begitu erat hingga keduanya menangis bersama. "Bagaimana bisa aku tak mengetahui kehadirannya? Sekarang aku harus bagaimana?"


Amabel tak tahu. Ia tak pernah kehilangan seperti ini. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia hanya bisa memeluk Rahel erat. "Bel, katakan sesuatu. Aku harus apa?"


"Katakan selamat tinggal dengan senyum terbaikmu." Itu bukan Amabel, namun Dorothy. Ia melangkah perlahan dan duduk bertumpu di hadapan Rahel. Ia menyentuh pipi Rahel lembut dengan senyum simpul. "Butuh keberanian untuk mengatakan selamat tinggal, jadi hargai usaha tersebut. Kamu harus bisa membalas ucapan itu dengan senyum lebar yang sama. Dia anak yang cantik bukan? Tentu ia ingin melihat ibunya tersenyum dengan cantik pula. Tak masalah jika kamu bersedih karena dirinya, hanya jangan terlalu lama. Putrimu tak akan suka."


Dorothy berhenti sejenak kemudian meraih tangan kanan Rahel. Tangan tersebut ia bawa ke dada kiri Rahel, tepat di jantungnya. "Dia ada di sini. Dia tak akan pernah pergi."


Sekali lagi Rahel menangis. Namun, kali ini Amabel yakin Rahel sudah lebih baik. Ia menatap Dorothy, berterima kasih. Perempuan itu tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia keluar dari kamar, meninggalkan dua sahabat yang masih berpelukan.


"Aku akan membuat taman krisan dan menamai taman tersebut, Helena. Itu nama putriku." Rahel mengangguk. "Di sana aku akan memberikan senyuman terbaikku."


Amabel mengangguk sambil terus memeluk kepala Rahel. "Boleh aku menanam bunga mawar? Juga bunga anggrek dan pohon pinus?"


Rahel mengangguk. "Tentu. Kita juga akan menanam lavender. Aku akan membuat taman yang akan selalu berbunga di empat musim. Helenaku akan selalu tampil cantik di empat musim."


Helenanya akan menjadi taman bunga tercantik di masa depan. Di saat itu, Amabel berdoa Rahel dapat membawa adik-adik Helena dan mengucapkan selamat tinggal dengan senyuman. Seperti yang dikatakan Dorothy.