The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Lima Belas: Skema



"Kier, mari kita pergi ke perpustakaan istana." Ajak Amabel. Ini hari ke tiga ia berada di istana, namun tak ada yang ia lakukan.


Kier mengangguk, "baik, tuan putri."


Keduanya kemudian keluar dari kamar. Ada aturan yang melarang tiap calon istri Pangeran untuk bertemu, jadi Amabel tak bisa bertemu dengan Rahel. Ia kira ketika di istana bertemu Rahel akan lebih mudah. Perpustakaan berada di dekat ruang ujian kemarin.


Pintu berwarna putih terbuka saat Amabel berada di depannya. Matanya membola, bersinar saking senangnya melihat isi perpustakaan. Perpustakaan istana berlantai tiga, lantainya dibuat dari marmer, dinding dihias dengan ukiran cantik berbentuk bunga, dan yang paling Amabel suka adalah rak bukunya berwarna perak. Cantik.


"Kier, aku akan lama berada di sini. Kau bisa kembali sore nanti," ujar Amabel sambil menatap pembagian buku di tiap lantai.


Kier mengangguk kemudian menyipitkan matanya, "tuan putri, anda tidak boleh pergi seperti kemarin oke? Saya akan menunggu di sini lagi menjelang matahari terbenam."


Amabel tak menoleh saat menjawab, "oke, oke! Sampai jumpa nanti!"


Kier terkekeh melihat Amabel yang saat ini sudah berjalan menuju rak buku. Perempuan muda itu kemudian keluar dari perpustakaan, meninggalkan Amabel yang melangkah menuju lorong sihir. Amabel ingin tahu mengenai sihir, awal mula, dan kalau ada ia ingin mempelajarinya sedikit.


Amabel melangkah menuju lorong pertama, melihat beberapa judul kemudian melewatinya. Ia terus berjalan hingga mencapai lorong terakhir. Sebuah buku dengan ukiran kayu menarik perhatiannya. Tinggi Amabel hanya sampai empat rak buku, sementara buku tersebut berada di rak ke tujuh.


Amabel menoleh, ke kanan namun tak ada orang. Ia menghela napas, akhirnya Amabel melepaskan sepatunya, dan mulai memanjat rak tersebut. Jantung Amabel berdegup kencang, antara takut terjatuh dan senang mencoba hal baru. Buku tersebut akhirnya dapat ia pegang, namun masalah Amabel tak bisa turun. Tangannya tak bisa memegang rak untuk menahan keseimbangan karena harus memegang buku yang ia pegang. Amabel melihat ke bawah, "astaga, tinggi sekali."


Amabel akhirnya hanya diam di tempatnya. Tangannya mulai pegal, Amabel ingin turun. Amabel mulai berpikir untuk melompat atau melempar buku yang diambilnya, namun hal itu akan menciptakan suara yang berisik. Gadis itu akhirnya menarik napas dan memilih untuk melompat, "aku takut." Gumamnya.


Harusnya Amabel tidak menaiki rak ini. Harusnya ia memanggil penjaga atau siapapun. Saat itu ia merasa seseorang memegang pinggangnya, "eh?"


Tak butuh waktu lama sampai Amabel akhirnya menginjak lantai lagi. "Ung, terima kasih."


Amabel masih diam, menunduk sambil menyembunyikan kakinya. Kenapa dia harus melepaskan sepatu dan ditemukan oleh laki-laki asing seperti ini? Lelaki di hadapan Amabel menatap pada kaki Amabel, kemudian mengambil sepatu Amabel. "Jika, kau begitu malu kenapa kau lepas dari awal?"


Amabel masih menunduk dengan wajah yang memerah, kalau ada Elena pasti Amabel sudah dimarahi sepanjang hari. "Saya berniat mengambil buku ini, jadi- um, begitulah."


Laki-laki itu akhirnya menunduk, meraih kaki Amabel dan memakaikan sepatunya. "Jadi, kau memanjat rak buku dan tak tahu cara untuk turun?"


Saat laki-laki itu mendongak, Amabel dapat melihat matanya yang hijau dengan rambut berwarna emas. "Ya."


Situasi ini begitu aneh untuk Amabel. Seorang laki-laki asing membantunya turun dan memakaikan sepatunya. Entah kenapa Amabel merasa malu. "Sekali lagi terima kasih."


"Tak perlu." Ada jeda panjang di sana hingga Amabel ingin pergi. Namun, ia merasa tak sopan jika pergi sekarang. "Kau siapa? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Tak mungkin kau seorang pelayan dengan pakaian semewah ini."


Amabel langsung menarik kedua ujung gaunnya dan memberi hormat. "Amabel Lancaster memberi salam. Terima kasih atas bantuan tuan dan maaf atas peristiwa ini."


Peristiwa tadi begitu memalukan hingga Amabel tidak dapat mengangkat wajahnya. Laki-laki di depan Amabel terkekeh pelan kemudian mengulurkan tangannya. Tentu saja langsung diterima oleh Amabel. Tangan Amabel diraih dan dikecup lembut. "Ryu Dominic, memberi salam pada Lady Lancaster."


Namanya tak asing. Di mana Amabel pernah mendengarnya? Butuh beberapa lama hingga ia akhirnya sadar. Amabel langsung memberi hormat, "maaf atas kelancangan saya Pangeran."


Mendengar itu membuat Ryu kembali terkekeh. "Kau tak berbuat hal yang salah, kenapa harus meminta maaf?"


Ryu mengangguk, meraih satu buku, dan membukanya singkat. "Tak masalah, kau tak tahu siapa aku sebenarnya. Mau ikut ke ruang baca?"


Tawaran itu langsung Amabel terima karena niatnya pun memang begitu. "Anda tertarik dengan sihir juga?"


Ryu tak menoleh, hanya menatap lurus ke depan. "Hm, daripada tertarik aku rasa sihir menjadi tanggung jawabku."


Amabel tak paham, "kenapa demikian?" Buru-buru Amabel menambahi, "tentu, jika saya boleh tahu."


Ryu membuka pintu menuju ruang baca dan membiarkan Amabel masuk lebih dulu. Ruangan tersebut begitu terang karena langit-langitnya terbuat dari kaca. "Aku pemimpin dari perkumpulan penyihir di kerajaan."


"Woah," ucapan kekaguman itu tak dapat ditahan oleh Amabel. "Keren sekali. Anda masih muda dan sudah menjadi pemimpin para penyihir. Apa itu artinya anda tinggal di menara penyihir?"


"Tiba-tiba kau begitu ingin tahu, nona." Balas Ryu datar.


Amabel langsung merasa tak enak dan menunduk, "maaf."


Ryu hanya mengangguk kemudian melanjutkan bacaannya. Amabel pun melakukan hal yang sama. Dalam buku yang ia ambil terdapat penjelasan mengenai kekuatan Celine. Ternyata Celine dapat memanggil roh elemen suci. Dikatakan saat perang, Celine memanggil roh empat elemen. Roh air bernama Aora, roh api bernama Pier, roh bumi bernama Sila, dan roh udara bernama Ro.


Cara memanggilnya tinggal memfokuskan pada roh yang ingin dipanggil dan menyebutkan nama si pemanggil. "Aku, Amabel Lancaster memanggil Ro pemilik elemen udara."


Amabel hanya bergumam dan ketika itu angin kencang melewati dirinya. "Woah."


"Apa yang kau lakukan?" Tegur Ryu sambil menatap Amabel tajam, sama tajamnya dengan pedang yang berada di leher Amabel.


"A-saya, hanya mencoba memanggil Ro. Maksud saya roh elemen udara." Suara Amabel dibuat setenang mungkin meski ia ketakutan.


Pedang yang berada di leher Amabel cukup tajam hingga meninggalkan luka. "Saya minta maaf karena membuat Pangeran merasa terancam. Akan tetapi, tak pernah saya memiliki niat untuk melukai Pangeran."


Amabel dapat merasakan darahnya yang mengalir perlahan. Ryu belum berniat untuk menurunkan pedangnya, tatapan matanya begitu dingin. Mata itu tengah menilai apakah Amabel dapat dipercaya atau tidak. Setelah beberapa lama akhirnya ia menurunkan pedangnya, "pergi dan obati lukamu."


Amabel menghela napas, lega. Ia memang merasa ketakutan, namun Amabel masih dapat memberikan hormat pada Ryu. "Terima kasih atas kemurahan hati Pangeran. Saya permisi."


Ryu masih diam ditempatnya hingga suara pintu tertutup ia dengar. Bagi seorang yang bahkan baru mempelajari sihir, memanggil roh elemen adalah hal yang mustahil. Amabel memang belum sempat berinteraksi dengan roh elemen yang dipanggil, tetapi angin tadi bukan angin biasa. Ryu yakin itu adalah Ro, roh elemen udara yang sedang memberi salam pada Amabel.


Bagaimana bisa Amabel memanggil Ro dengan mudah? Sementara Ryu baru bisa memanggil Ro ketika ia berusia sepuluh, itu pun dengan ribuan percobaan. Ryu memalingkan wajahnya, menatap pintu. Kemampuan tersebut terlalu sayang jika hanya dibiarkan.


Sementara Amabel begitu bersyukur saat melihat Kier di lantai pertama. Saking senangnya Amabel langsung memeluk Kier, "Kier aku senang sekali bertemu denganmu."


Kier menatal Amabel tak paham, kemudian matanya menangkap luka di leher Amabel. "Astaga, tuan putri anda terluka! Ayo, kita kembali ke kamar dan mengobati luka anda."


Bahkan celotehan Kier dapat membuat Amabel merasa aman. Amabel tak pernah merasa takut pada pedang yang melukai dirinya tetapi aura Pangeran Ryu tadi begitu gelap dan menakutkan. Bahkan Amabel yakin, Pangeran tak akan ragu untuk menebas lehernya. Memikirkan itu membuat Amabel kembali ketakutan.