
Amabel tak tahu sudah berapa lama ia berada di negeri peri. Waktu berlalu begitu cepat hingga Amabel tak menyadarinya. Dari latihan kertas itu, kini ia dapat mengendalikan manna yang keluar dari tubuhnya. Ia juga bisa membentuk manna sesuai keinginan. Mereka juga berlatih dengan pedang dan kemampuan elemen udaranya.
Begitu banyak latihan hingga Amabel tak menyadari waktu yang dilewati sudah tujuh tahun di dunianya. Tujuh tahun berlalu begitu cepat untuk Arion. Pasukan Srela sudah berhasil ia kalahkan, bahkan kerajaan Srela sudah tunduk di bawah kekuasaannya. Ia tak bisa menolak kembali ke kerajaan sekarang.
"Pangeran, pasukan sudah siap." Arthur berujar membuat Arion mengangguk. Lelaki itu berjalan lebih dulu, diiringi dengan pasukan di belakangnya.
Bagi Arthur yang melihat perkembangan Arion, tuannya itu jadi semakin dingin. Saat di medan perang seakan ia tengah melampiaskan kemarahan. Tatapannya begitu tegas dan dingin, berbeda dengan tujuh tahun lalu. Tatapan mata itu seakan siap membunuh.
Tujuh tahun cukup untuk membuat hati Arion semakin dingin. Sorak-sorai rakyat atas kemenangannya tak membuat ia senang. Desa-desa yang hancur mulai dibangun kembali, kali ini bahkan dibuat pagar pembatas disertai beberapa prajurit yang melindungi desa. Bahkan secara khusus Arion membuat sekolah untuk anak-anak di desa itu.
"Pangeran, saya harap saat kembali ke kerajaan anda dapat bahagia." Ujar Arthur.
Arion tak menjawab, hanya menatap langit yang berwarna biru. Kalau sudah tujuh tahun, artinya gadis itu akan berumur enam belas. Saat ini, di mana ia berada? Bagaimana keadaannya? Banyak hal yang berkecamuk di kepala Arion dan pada akhirnya berhenti pada satu nama, Amabel.
Kabar bahwa kerajaan Srela dikalahkan oleh Pangeran Arion sudah menyebar luas. Plodnavor ramai dengan hiasan untuk menyambut kemenangan Pangeran. Kerajaan juga tak jauh beda. Secara khusus Baginda Raja akan membuat pesta rakyat sebagai penyambutan putranya itu.
"Aku ingin segalanya sempurna. Mulai dari keamanan hingga makanan." Titah Adena. Ia bertanggungjawab atas persiapan pesta. "Hias seluruh istana dengan bunga terbaik, kain terindah, dan lampu-lampu berwarna."
Adena tak sabar bertemu dengan Arion. Bagaimana pun Arion adalah putranya. Sejauh ini belum ada gerakan dari Raja, jadi Adena juga tak akan melakukan apapun. Ia hanya tahu jika putri keluarga Lancaster juga akan diperintahkan untuk pulang. Harusnya dengan jarak selama ini, keduanya tak akan memiliki hubungan yang baik. Itu saja sudah cukup untuk saat ini.
"Permaisuri Jovanka memberi salam pada Yang Mulia Ratu." Salam Jovanka sambil menarik kedua ujung gaun berwarna putihnya. "Apa Yang Mulia Ratu sibuk?"
Adena menggeleng dengan senyum lebar. "Tadi aku begitu sibuk karena pesta penyambutan putraku. Permaisuri Jovanka harus mencoba semua makanan yang akan disajikan. Aku ingin semua sempurna sesuai selera Arionku."
Jovanka tersenyum. Adena begitu mencintai putranya Arion dan itu terlihat dengan jelas. "Aku berterima kasih karena Yang Mulia begitu perhatian dengan Pangeran Arion. Sejujurnya aku sudah tak tahu bagaimana selera Arion. Dia putraku, tetapi kami tak memiliki banyak waktu bersama."
Dengan lembut Adena merangkul Jovanka. "Jangan bersedih. Arion tak akan berubah. Mungkin fisiknya, namun ia tetap putramu. Seleranya pun tak akan jauh berbeda, aku yakin."
"Yang Mulia begitu murah hati." Balas Jovanka. "Sebenarnya, aku ingin mendiskusikan tentang pernikahan."
Adena mengangguk dan keduanya duduk di ruang tamu. "Benar juga. Bahkan Pangeran Noah sudah menikah. Kapan kita akan melangsungkan pernikahan?"
Jovanka menghela napas, "aku tak tahu kapan Putri Amabel akan kembali. Bagaimana pun kita juga harus mendiskusikan ini dengan keluarga Lancaster."
Adena mengangguk, setuju. Sudah banyak pembicaraan tak enak soal pertunangan Amabel dan Arion. Berhembus kabar bahwa Arion mencampakkan Amabel dan ada juga yang mengatakan Amabel tak menyukai Arion. Keduanya tak pernah terlihat bersama, bahkan tak memiliki kesempatan datang ke pesta pertunangan. Bagaimana pun, hal ini tak baik untuk kesan kedua belah pihak.
"Aku yakin Raja sudah memikirkan hal ini. Permaisuri tak perlu khawatir. Mungkin, kita bisa membuat pesta pertunangan yang formal untuk keduanya saat menyambut Arion nanti." Saran Adena langsung diangguki oleh Jovanka dengan senang.
"Aku rasa itu akan baik untuk kedua belah pihak. Terima kasih, Yang Mulia." Ucap Jovanka bersungguh-sungguh.
Adena mengangguk dan keduanya melanjutkan pembicaraan mengenai persiapan pesta. Adena tak dapat melihat Jovanka sebagai saingan. Toh ia tak peduli soal cinta atau apapun itu. Jadi, ketika Raja mengatakan akan menikah dengan Jovanka dan memberikan cinta yang luar biasa, Adena tak ambil pusing. Jovanka adalah perempuan baik dan cerdas. Ia tak berniat menyingkirkan siapapun, hanya berniat memberikan hak kepada anaknya.
Amabel tersenyum simpul. Rambut sebahunya ia ikat menjadi satu. Jika Pita melihat rambutnya seperti ini ia pasti akan memekik heboh. Keputusan Amabel memotong rambutnya diambil saat rambutnya terbakar saat berlatih elemen api. Akhirnya Amabel memotong rambutnya sebahu.
Bagi perempuan bangsawan, rambut panjang adalah salah satu nilai kecantikan. Itu sebabnya rambut Amabel selalu dibiarkan menutupi punggung. "Ah, lelahnya." Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas rumput.
"Setelah ini kita akan kembali ke Plodnavor." Ujar Rain. "Kau harus kembali."
Amabel menghela napasnya. Ia tahu hal itu karena sebuah surat datang padanya beberapa hari lalu. Surat dari rumah yang memintanya kembali dan surat undangan dari kerajaan. "Aku ingin di sini saja." Lirihnya dan Rain hanya bisa menatap Amabel.
"Jangan berlari dari tanggung jawab, nona. Meski kau tak suka, namun keputusan mengikuti ujian sudah kau ambil. Jika, kau akhirnya terpilih dengan cara menarik benang merah, artinya kau memang sudah ditakdirkan bersama Pangeran." Rain memainkan bunga di tangannya. "Takdir tidak bisa diubah, nona."
Amabel megulurkan tangannya, langit seolah dapat ia raih namun ternyata tidak. Rain menatap Amabel, mata gadis itu kosong. "Setiap orang memiliki pasangannya masing-masing. Mereka telah terikat benang merah di jari kelingking. Bahkan meski benang itu terlilit dan kusut, pada akhirnya akan kembali di ujung yang sama. Sebesar apapun kita menghindar, ada ikatan bernama takdir yang memiliki lebih banyak cara untuk menyatukan."
Amabel hanya dapat menghela napas. Ia tahu bahwa perkataan Rain benar. "Lagipula, nona 'kan menyukai ksatria kuda itu. Jadi, berhenti menghindar."
"Dan berhenti juga membaca ingatanku." Dengus Amabel sebal.
Rain hanya mengendikkan bahu, "kalau itu tentu saja sulit. Benda-bena mati bahkan angin pun membisikkan ingatan nona. Jadi, bagaimana bisa aku pura-pura tak dengar."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Gadis itu mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Rain. "Jika aku kembali ke Plodnavor apa yang akan kau lakukan?"
Rain tersenyum, "tentu saja ikut denganmu."
Amabel mengangguk dan berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada Rain. Dengan satu tarikan Rain sudah berdiri. "Tak ada yang bisa memastikan bahwa nona bisa mengendalikan kekuatan dengan sempurna. Aku harus ada di samping nona."
"Terima kasih kalau begitu." Balas Amabel, ia masih menggenggam tangan Rain.
Rain menatap gadis di sampingnya, "tenang saja, nona. Sudah menjadi tugasku untuk melindungimu."
"Karena ramalan." Sahut Amabel sambil terkikik.
Rain mengangguk, "betul."
Salah. Ia harus ada di samping Amabel karena itu adalah janji yang dibuat dirinya di masa lalu. Rain akan menghindarkan kemalangan dari hidup Amabel. Ia akan melindungi Amabel, bahkan meski harus mempertaruhkan hidupnya.
Rain kembali menatap Amabel. Ada banyak rahasia yang ia sembunyikan dari Amabel. Seperti hubungannya dengan Alberto misalnya. Amabel tak tahu jika kedua sering membahas mengenai kekuatan dirinya. Bahkan sejujurnya Alberto sudah lebih dulu tahu rencana Rain untuk mengajari Amabel mengendalikan kekuatannya. Keduanya cukup sering membahas Amabel dan kemampuannya, hingga sepakat bahwa mereka harus membantu. Akan tetapi, itu akan mereka simpan untuk beberapa lama. Mungkin hingga Amabel bertanya. Atau mungkin juga tidak akan pernah.