The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Dua Puluh Satu: Pematik



Lima hari berlalu setelah Amabel bertemu dengan Theo. Selama lima hari juga kepala Amabel dipenuhi Theo. Ya ampun, memikirkannya lagi membuat pipi Amabel panas.


"Tuan putri, apa anda sakit?" Kier yang sejak tadi memperhatikan Amabel mendekat. Buru-buru gadis itu menggeleng dan menepuk pipinya, "tidak! Aku sehat. Aku oke. Jadi, tadi sampai mana?"


Nyonya Dolce memukul telapak tangannya dengan kipas lipatnya. Wajahnya terlihat tak puas, membuat Amabel hanya bisa menunjukkan senyum. "Tuan putri, saya mendengar bahwa gerakan permainan pedang anda begitu indah. Jadi, kenapa anda tak bisa melakukan hal yang sama dengan menari."


Amabel melirik ke banyak benda. Menghitung jumlah bandul di bawa lampu meja, menatap warna gorden yang diganti, hingga warna sepatu Nyonya Dolce. "Hm, keduanya hal yang berbeda nyonya. Bagaimana bisa disamakan?" Jawab Amabel setelah mendapat pandangan menuntut dari Nyonya Dolce.


Perempuan dengan gaun merah itu menghela napas. Helaan napas itu membuat Amabel menunduk, meras bersalah namun juga tak merasa bersalah. Bukan salah Amabel jika tubuh tak bisa mengikuti irama musik. "Karena itulah kita belajar, tuan putri."


Amabel dapat mendengar suara frustasi itu keluar dari Nyonya Dolce. Padahal mereka baru seminggu bertemu. Luas biasa. Gadis itu akhirnya mengalah dan membungkuk pada Nyonya Dolce. "Aku akan berusaha lebih keras lagi."


Nyonya Dolce lagi-lagi menghela napas, kali ini mungkin dia sudah ikut menyerah. "Kalau begitu dipertemuan selanjutnya, saya harap anda sudah menghafal seluruh gerakan dansa."


Nyonya Dolce menatap Amabel, lama dan menuntut. Gadis itu akhirnya mengangguk, "akan saya usahakan."


"Tentu, harus anda usahakan." Tekan Nyonya Dolce kemudian memberi hormat. "Kalau begitu saya permisi."


"Hati-hati di jalan Nyonya Dolce." Amabel menahan diri untuk melambaikan tangan pada Nyonya Dolce sebelum pintu ditutup. Setelah pintu tertutup gadis itu langsung merosot dan terduduk di lantai. Kier tersenyum melihat Amabel yang kelelahan.


"Anda sudah berusaha keras, tuan putri. Mari saya bantu ke kamar." Kier memapah tubuh Amabel hingga ke kamar. "Setelah ini saya akan menyiapkan air hangat untuk kaki anda."


"Terima kasih, Kier." Ujar Amabel sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sepatunya sudah terlempar dan matanya langsung terpejam. Tubuhnya sakit dan ia tak dapat menahan kantuk. "Aku akan tidur dulu, Kier."


"Baik, tuan putri. Selamat beristirahat."


Kier tak mendengar jawaban dari Amabel. Gadis itu tersenyum dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Amabel. Setelahnya ia merapikan sepatu Amabel yang tercecer dan keluar dari kamar.



"Aku akhirnya menemukanmu." Ucapan itu terasa begitu dekat dan hangat. Sama hangatnya dengan tangan yang memeluk pinggangnya. "Dewiku, kali ini aku akan bersamamu."


Mata Amabel terbuka dan langsung tertuju pada Kier. "Tuan putri tidur nyenyak sekali. Kemarin saya mencoba membangunkan anda tetapi anda tak bangun. Apa pelajaran berdansa terlalu melelahkan?"


Amabel menggeleng dan menatap pada matahari yang terbit. Dia baru bermimpi sesuatu yang aneh. "Ah, aku tak menyangka bisa tidur selama itu. Apa yang kita lakukan hari ini?"


Kier langsung tersenyum lebar, "pertama tuan putri harus bersiap dan tampil luar biasa cantik." Dengan bersemangat Kier menarik Amabel dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Tempat mandinya dipenuhi dengan kelompok bunga dan aroma susu. "Hari ini anda akan mandi susu. Bahkan kehalusan kulit Cleopatra akan kalah."


Amabel terkekeh, "Cleopatra?"


Ia tak tahu jika mereka mengenal Cleopatra di sini. Pagi Amabel dimulai dengan berendam di kolam susu dan kelopak bunga. Rambutnya diolesi dengan krim khusus yang menguarkan aroma manis yang menyegarkan. Selesai mandi para pelayan mempercantik kuku Amabel sembari wajahnya dipoles dengan hiasan wajah.


Rambutnya diikat setengah dengan hiasan bunga kering. Hari ini ia menggunakan gaun berwarna ungu tua yang dipadu dengan merah muda. Perpaduan yang cantik. Lehernya dihias dengan permata berwarna senada. Tangan kirinya dihias dengan gelang yang menyatu dengan cincin. Sementara tangan kanannya dihias dengan hena.


Saat menatap dirinya di kaca, ia malah melihat sosok Celine yang sedang bersedih. Jantungnya terasa berhenti. "Tuan putri, setelah ini anda akan datang ke pesta kerajaan."


Amabel melirik pada Kier yang terlihat begitu bahagia. Kalau seperti ini, orang dapat salah sangka. "Kau terlihat begitu bahagia, Kier."


Kier tanpa ragu mengangguk, "saya mungkin tak bisa ikut. Akan tetapi, hari ini tuan putri akan bertemu Pangeran. Bahkan Pangeran ke Lima akan datang. Pangeran baru saja kembali dari medan perang. Jadi, usahakan agar tuan putri mengucapkan selamat."


"Akan kuingat." Balas Amabel tak tertarik.


Melihat itu senyuman Kier kembali tercipta. "Oh, tuan putri, hari ini keluarga anda juga akan datang."


Amabel langsung menoleh, kaget. Meski demikian wajahnya terlihat senang. "Sungguh?"


Kier mengangguk, "tentu! Pesta ini sekaligus penyambutan pada para calon permaisuri."


Amabel sudah tak mendengarkan perkataan Kier, gadis itu sudah sibuk dengan dunianya. Ia akan bertemu papa, mama, Alec, dan Eli. Betapa menyenangkannya! Amabel sungguh tak sabar. Setelah selesai, Amabel menatal pantulan dirinya. Entah kenapa Amabel tadi melihat sosok Celine, tetapi sekarang sudah tak ada. Hanya ada Amabel di balik cermin tersebut. Apa artinya? Apa Celine ingin agar Amabel kembali ke kuil?


"Apa ada yang tidak anda sukai?" Kier mendekat, khawatir dengan respon Amabel.


Gadis itu menggeleng, senyumnya tercipta. "Aku menyukai semuanya. Jadi, kapan kita berangkat?"


"Sebentar lagi akan ada yang menjemput tuan putri." Jawab Kier sambil menuntun Amabel duduk di ruang tamu. Ketika pintu terbuka Amabel tak menyangka akan melihat Eli. Kakaknya tampak rapi dengan jas berwarna hitam dan rambut yang ditata rapi. Hari ini Amabel tak melihat Eli yang iseng.


Eli mengulurkan tangannya, "saya bertugas untuk menjemput tuan putri dari keluarga Lancaster."


Wajah serius itu malah membuat Amabel menaha senyum. Dengan senang ia meraih tangan kakaknya. Keduanya saling memberi hormat dengan senyuman. Melihat itu membuat Kier senang. "Kami berangkat, sampai jumpa Kier!" Pamit Amabel.


Kier berdoa agar Amabel dapat menikmati pestanya. Ketika berjalan menuju ruang pesta, Amabel tak berhenti menatap Eli. Wajah kakaknya itu memerah, malu. "Tolong berhenti menatapku seperti itu." Pinta Eli sambil menatap Amabel.


Mendengar respon Eli malah membuat Amabel terkekeh, "aku hanya tak menyangka akan bertemu denganmu seperti itu."


Eli menoleh, mencubit pipi Amabel gemas. "Aku keren 'kan?"


Dengan semangat Amabel mengangguk. "Paling keren sedunia."


"Bagaimana bisa kakak menjemputku?" Tanya Amabel. Ia kira seorang prajurit yang akan menjemputnya.


Eli menunjukkan bentuk gunting dengan jarinya. "Berkat dewa gunting."


Amabel memiringkan kepalanya, bingung. "Maksudnya?"


Eli nyengir, "aku menang bermain gunting-batu-kertas dengan ayah dan Alec. Dengan itu aku bisa menjemputmu dan bisa berdansa denganmu."


Amabel tak dapat menahan dirinya untuk tertawa. Tentu saja kita sedang membicarakan tiga laki-laki dari keluarga Lancaster yang kekanakan. Tidak seharusnya Amabel menganggap sesuatu yang serius.


Pintu di depannya terbuka dan ruangan putih tersebut terlihat begitu mewah. Sebuah aliran sungai dirancang khusus untuk mengitari lantai utama. Beraneka bunga menjadi fokus hiasan hari ini.


"Bel!" Seruan dari Alec membuyarkan fokusnya. Detik berikutnya Alec sudah memeluk tubuhnya erat. Padahal mereka baru bertemu seminggu lalu. "Aku merindukanmu."


"Aku pun." Balas Amabel.


"Kau terlihat cantik." Puji Duke Lancaster dan Mary mengangguk, menyetujuinya.


"Apa kau mengalami kesulitan?" Mary bertanya sambil menyentuh pipi Amabel. "Syukurlah kau makan dengan baik."


"Itu bukan sesuatu yang harus ibu khawatirkan." Eli mulai meledek, "Bel kita akan selalu makan dengan baik."


Keluarga itu kemudian tertawa. Bahkan meski kesal, Amabel ikut tertawa. "Mama, jangan khawatir, Bel ini kuat!"


Bahkan Bel bisa memanggil roh elemen, ucap Amabel dalam hati. "Apa Elena sudah kembali? Bagaimana dengan Pita dan Elle?"


Mary tertawa mendengar pertanyaan tersebut. "Tenanglah sayang. Jangan terburu-buru."


Saat keduanya sibuk dengan obrolan, Duke Lancaster bersama dua anak laki-lakinya menghampiri Duke Hamilton yang baru saja datang. Duke Hamilton datang bersama seorang putra dan istrinya. Kedua keluarga itu berinteraksi dengan nyaman, bahkan para anak laki-laki sudah memipir ke tempat makanan.


Amabel jadi malu. Gadis itu membenarkan posisi berdirinya. "Maaf."


Tangan Mary mengusap puncak kepala Amabel lembut. "Mama secara pribadi menganggapnya sikap Bel manis." Keduanya bertukar senyum, "Elena sudah kembali dari liburannya. Lalu karena Elle ternyata sudah cukup umur untuk sekolah, ia dan Pita masuk di kelas yang sama. Mereka semua merindukanmu dan meminta agar kamu tak terlalu khawatir."


Amabel tiba-tiba meras sedih. Mary memahami perasaan putrinya dan langsung memeluk Amabel. Tangannya menepuk pundak Amabel, memberikan rasa aman. "Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Bel, kamu sudah bekerja keras. Terima kasih untuk itu. Mama akan selalu bangga dengan Bel."


Air mata Amabel mengalir. Pelukan mama selalu membuatnya merasa aman dan nyaman. "Ah, aku jadi menangis. Untung saja hiasan wajahnya tahan air." Canda Amabel dan Mary tersenyum.


Ia membiarkan Amabel menghapus air matanya. "Kalau matamu bengkak seperti itu, para Pangeran akan kabur."


Amabel kembali tertawa. Ia tak peduli dengan para Pangeran itu. Melihat keluarganya lebih penting. Sampai Mary akhirnya menarik Amabel menuju lantai utama. Di depan terdapat sebuah tangga yang menyambung ke istana.


Ketika menoleh Amabel menemukan Rahel yang sedang bertengkar kecil dengan Vincent. Melihat itu membuat Amabel terkekeh, kemudian kembali menatap ke depan. Mereka tengah menunggu kedatangan anggota kerajaan. Tak lama, Raja bersama Ratu masuk. Secara bersamaan seluruh bangsawan yang ada di sana memberikan hormat. Raja langsung mengulurkan tangannya, memberi tanda agar mereka berhenti. "Hari ini, aku mengundang kalian untuk merayakan kepulangan anakku, Arion Saverio. Dia sudah berjuang di daerah perbatasan untuk mengalahkan para pengkhianat. Hari ini secara resmi pula aku akan memperkenalkan tujuh putraku. Secara resmi pula aku menyambut kalian, para putri bangsawan."


Suara tepuk tangan terdengar. Amabel baru menyadari jika di dalam ruangan hanya ada sepuluh keluarga bangsawan. Saat itu matanya bertatapan dengan putri dari Duke Prada. Gadis cantik dengan rambut emas dan mata biru. Tubuhnya tinggi dan ramping, sangat cocok dengan gaun berwarna merah yang ia gunakan. Amabel mengangguk dan tersenyum kecil sebelum akhirnya menatap ke balkon di depannya.


Mata Amabel membulat ketika melihat Rael berdiri di samping Ratu. Bahkan mulutnya terbuka lebar. Astaga! Tidak mungkin. Mungkin karena menyadari wajah bodoh Amabel, Rael- tidak! Maksudnya Pangeran Pertama, menatap ke arahnya dan tersenyum. Wajah Amabel terasa panas, benar-benar memalukan!


Ketika Pangeran ke Dua berdiri di samping Amabel, tatapannya seakan ingin mengajak duel. Melihat itu malah membuat Amabel berdecih. Kemudian si rambut merah masuk dengan senyum jail dan tangan yang melambai riang. Saat Pangeran Ryu masuk, Amabel langsung menunduk. Tak dapat dipungkiri jika ia masih takut dengan Pangeran Ryu.


Tepuk tangan terdengar makin kencang, membuat Amabel mendongak kembali. Kali ini wajahnya memerah secara instan. Jantungnya berdebar kencang. Kaget tentu saja, tetapi ada rasa malu dan bersalah. Bisa-bisanya ia berlaku tak sopan pada Pangeran! Amabel langsung memegang lehernya, apa ia akan dipenggal? Tunggu, bukan salah Amabel! Pangeran itu yang mengaku sebagai Theo. Ah! Amabel hancur.


Rasanya ia ingin bersembunyi di lubang. Hari itu, ia memuji Pangeran ke Lima tanpa tahu apapun. Ah! Amabel ingin berteriak. Ekspresi wajah Amabel membuat Arion menahan senyum. Sepertinya Arion bisa menebak pikiran gadis itu.


Hendery yang menyadari tatapan Arion hanya menaikkan alisnya. Sejak kembali dari peran, kakaknya semakin aneh. Sementara Noah sibuk memperhatikan wajah para putri bangsawan. "Ah, putri keluarga Hutger terlihat manis." Ujarnya pada Hendery.


Tatapan mata putri keluarga Hutger membuat Noah tertarik. Matanya berbinar, tetapi tak menatap ke arahnya. Malah menatap ke arah Kenan, menyebalkan.


"Kalau begitu, mari nikmati pestanya." Ucapan Raja diiringi dengan tepuk tangan. Kemudian satu persatu anggota keluarga bangsawan menuruni tangga menuju lantai utama. Amabel sudah mengambil langkah mundur, ia berencana bersembunyi di meja makan.


Tentu saja tak bisa terjadi karena Mary menahan pinggangnya. "Kita harus menyapa keluarga kerajaan terlebih dahulu, Bel."


Secara terpaksa Amabel mengikuti langkah ibunya untuk berdiri di samping ayahnya. Sebagai seorang Duke, Raja menghampiri keluarga mereka terlebih dahulu. Amabel langsung memberi hormat, "kemakmuran untuk Yerkink."


"Ah, kita bertemu lagi." Sapaan itu membuat Amabel semakin menunduk. Meski baru pernah berbicara sekali, Amabel sudah hafal dengan suara Pangeran ke Lima. "Kenapa menunduk?"


Mati-matian Amabel menggenggam gaunnya. Ia tak tahu harus bagaimana, hingga Mary menyentuh pundaknya. Amabel tahu ia tak bisa lari. Mari hadapi saja. Gadis itu mendongak, namun langsung mundur satu langkah. "Wajah Pangeran terlalu dekat." Ucapnya, membuat Arion tersenyum.


Amabel menarik napas kemudian memberikan hormat pada Arion. "Mohon maafkan saya yang tak sopan pada anda. Tolong lupakan kesalahan saya."


Arion malah menyilangkan tangannya, "kesalahan mana yang kau minta agar aku lupakan?"


Amabel masih menunduk, rasanya tak sanggup melihat wajah Arion. "Pertama saya tidak mengenali Pangeran dan saya berbicara tanpa sopan santun pada pertemuan kita sebelumnya."


Jari Arion mengangkat dagu Amabel, "aku lebih suka kau berbicara sambil menatap mataku."


Bola mata Amabel bergulir cepat, mencari pertolongan. Akan tetapi, kedua kakaknya sibuk berbicara dengan Vincent dan orang tuanya sibuk berbicara dengan Raja. "Pangeran tolong jangan seperti ini." Kata Amabel akhirnya dan Arion menarik tangannya.


"Kalau aku katakan aku tak menerima permintaanmu bagaimana?" Arion menatap Amabel. Lagi-lagi Amabel menunduk.


"Saya yakin Pangeran memiliki hati yang luas untuk menerima permintaan maaf seorang seperti saya." Amabel tak ingin Ario melupakan kejadian hari itu, tetapi rasanya begitu salah.


Arion mengulurkan tangannya, "aku tak akan melupakan hari itu, Bel. Kita sudah setuju untuk berbicara secara santai. Jadi, kenapa harus memulai dari awal?"


Amabel kali ini menatap mata merah Arion. "Karena saya merasa begitu bersalah dan ... sangat memalukan."


Wajah Amabel di mata Arion begitu menggemaskan. "Karena kau memujiku?" Tebakan Arion sukses membuat Amabel salah tingkah. "Tak masalah, aku suka kok."


Seseorang tolong selamatkan Amabel. "Pangeran, mari kita berhenti membahas masa lalu."


Arion langsung tersenyum, "jadi, kau mau membahas masa depan denganku?"


Amabel langsung menggoyangkan tangannya, "bukan begitu. Bagaimana bisa saya berpikir demikian?"


Arion malah mengendikkan bahunya, "kau akan menjadi istriku. Kenapa tidak boleh?"


Perkataan Arion sukses membuat wajah Amabel memerah bagai tomat. Gadis itu menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya. "Bukan anda yang memutuskan."


"Aku punya hak untuk itu." Balas Arion. "Kau tak mau menikah denganku?"


"Itu bukan sesuatu yang bisa saya pilih." Balasan Amabel membuat Arion terdiam. Gadis itu akhirnya memberi hormat, "saya akan merenungkan kesalahan saya. Kedepannya, saya akan berusaha untuk lebih berhati-hati. Semoga keselamatan selalu melindungi Pangeran."


Setelah itu Amabel berbalik dan melangkah menjauh. Arion hanya dapat terdiam di tempatnya. Rasanya ada tempat kosong di hatinya ketika Amabel pergi.


Lelaki itu menunduk, menatap tangannya. Ketika ia mendongak, Amabel sudah tak terlihat.