
Langit sudah berwarna oranye saat kereta kuda Alberto memasuki wilayah Rezenavor. Kereta kuda berhenti di depan penginapan sederhana di pinggir jalan. Alberto tak mengulurkan tangannya untuk Amabel, sehingga gadis itu memilih melompat dari kereta kuda. Sebuah kebiasaan yang tentu saja tak dapat ia lakukan karena tak sopan. Biasanya ia harus menunggu seseorang mengulurkan tangannya untuk membantu turun dari kereta kuda, namun saat ini tak ada yang peduli.
Alberto membawa dua koper di tangannya sementara kereta kuda menjauh. "Ke mana keretanya kan pergi, Alberto?" Tanya Amabel sambil mengikuti Alberto dari belakang.
"Kembali ke Plodnavor." Balas Alberto dan menyelesaikan urusan administrasi.
Amabel tersenyum pada penjaga penginapan tersebut. "Jika keretanya kembali ke Plodnavor bagaimana kita akan pergi ke Iliyä?"
Alberto menghela napas, nona kecil ini begitu banyak bertanya. "Dengan berjalan kaki dan jika beruntung kita dapat menumpang pada para pedagang."
Amabel mengangguk-angguk kemudian meninggalkan Alberto di meja resepsionis. Ia mengamati penginapan ini. Ruang tunggunya cukup luas dengan dua sofa berwarna cokelat yang dibatasi dengan meja kayu panjang. Jendelanya terbuka lebar dengan bunga krisan sebagai hiasan. Di dindingnya tak terlihat lukisan seperti di rumahnya, tetapi banyak pot-pot kecil yang dihias dengan pola tertentu. Saat Amabel mengambil satu langkah mundur, ia dapat membaca tulisan Krisandum. Pasti pemilik penginapan ini sangat menyukai krisan.
Terdapat tiga lantai di penginapan tersebut dengan tangga kayu yang berada di sisi kanan. Alberto kembali sambil memberikan kunci kamar pada Amabel. "Kau istirahat dulu, kita akan bertemu saat makan malam."
Amabel mengangguk dan berjalan mengikuti Alberto. Kamar mereka berada di sisi kanan tangga. Milik Amabel nomor 10 dan Alberto berada di seberang dengan nomor 11. "Oh, aku akan terlambat karena harus menulis surat ke kerajaan. Jadi, kau bisa melihat-lihat terlebih dahulu sebelum makan malam."
Amabel mengangguk, matanya bersinar. "Baik! Selamat istirahat, Alberto."
Mendengar itu membuat Alberto tersenyum. "Selamat istirahat, Amabel."
Kemudian pintu tertutup. Amabel segera membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Begitu nyaman rasanya setelah duduk berjam-jam di kereta kuda. Gadis itu kemudian duduk, melepaskan mantelnya dan melepas kepangan rambutnya. Begini lebih nyaman. Setelah ini ia akan mandi terlebih dahulu baru melihat-lihat Rezenavor.
Amabel keluar dengan rambutnya yang dikuncir satu. Gadis itu mengetuk pintu kamar Alberto, "Alberto, aku akan pergi melihat-lihat. Sampai jumpa saat makan malam."
"Ya." Hanya itu balasan dari Alberto. Gadis berambut perak itu memberengut, namun tak lama karena ia langsung tersenyum setelahnya. Amabel turun dari lantai dua dan melihat meja resepsionis yang kosong. Tadinya Amabel ingin meminta saran tempat yang harus ia kunjungi, kalau seperti ini ia akan pergi mengikuti kakinya saja.
Amabel berhenti di tangga terakhir penginapan, menimbang arah yang ingin diambil. Mari berfikir secara simpel, tadi ia datang dari kanan sekarang ia akan memilih kiri untuk melihat-lihat. Rezenavor hanya sebuah kota, atau lebih tepatnya dikatakan desa. Sepanjang jalan yang Amabel lewati terlihat toko bunga, tidak heran karena Rezenavor menghasilkan bunga terbaik di Kerajaan.
Terdapat lampu jalan yang dihias dengan tanaman rambat. Jalanan tak terlalu ramai, namun cukup besar untuk dua kereta kuda berlalu-lalang. Sebuah toko buku di sisi kiri membuat Amabel berbelok dan masuk ke dalamnya. "Selamat malam," sapa Amabel.
Belum ada yang menjawab, namun gadis itu tetap masuk dan melihat-lihat. Ada rak khusus buku sihir yang menarik perhatian Amabel. Bukunya berwarna cokelat dengan sulur tanaman sebagai hiasan. Di depannya hanya ada tulisan Bulan sebagai judul. "Bagaimana cara aku membeli ini?" Gumamnya.
"Wah, ada tamu ternyata." Ucapan itu membuat Amabel berbalik. Di hadapannya berdiri perempuan cantik dengan gaun berwarna emas. Di kepalanya terdapat hiasan dari permata, "kau ingin membelinya?"
Amabel mengangguk, "berapa harganya?"
Perempuan itu tersenyum, tampak menilai Amabel dengan kepalanya yang dimiringkan. "Tergantung."
"Ya?" Amabel tak paham, apanya yang tergantung? Apa buku ini sangat mahal?
"Seberapa pantas kamu memilikinya." Perempuan itu tersenyum, melewati Amabel dan berjalan menuju pintu masuk. "Hm, sepertinya kau cukup pantas. Jadi, berikan aku lima helai rambutmu."
"Hah?" Amabel masih tak paham namun rambutnya sudah dicabut dengan paksa. "Hei! Untuk apa itu?"
Perempuan itu malah tersenyum, "betapa beruntungnya aku. Terima kasih pelanggan, jangan datang lagi."
Setelah itu, Amabel sudah berada di luar toko. Saat ia berbalik, toko buku tadi sudah tak ada. "Apa itu tadi?" Tanyanya tak paham.
Amabel masih berdiri sambil memeluk buku yang ia beli. Bukunya sudah ia miliki, tetapi tokonya sudah tak ada. Gadis itu menoleh, kembali menatap bangunan kosong di belakangnya. Hanya ada dinding, bukan toko. Amabel menggeleng pelan dan memutuskan kembali ke penginapan. Saat tiba di meja resepsionis sudah ada seorang perempuan yang tadi Amabel temui di toko.
"K-kau?" Ucapan Amabel hanya dibalas dengan senyum polos.
Amabel memijat batang hidungnya, "bagaimana bisa kau ada di sini?"
Senyumnya masih tercipta, "karena saya bekerja di sini. Apa nona pelanggan butuh sesuatu?"
"T-tapi tadi, kau toko buku? Rambutku? Rambutku!" Pekik Amabel sambil memegang kepalanya.
Perempuan itu malah memiringkan kepalanya, menatap Amabel tak paham. "Apa kepala nona baru saja terantuk sesuatu?" Tanyanya dengan tatapan khawatir.
Amabel menghela napas, menyerah. "Kita bicara nanti saja. Di mana ruang makannya?"
"Di lorong sebelah kiri. Silakan nikmati makan malamnya." Perempuan itu tersenyum manis.
Amabel menghentikan langkahnya, menatap mata perempuan itu. "Namamu?"
"Rain." Balasnya dengan senyum yang sama.
"Aku Amabel." Kata Amabel, gadis itu tersenyum manis. "Maaf atas ketidaksopanan saya tadi."
"Tak masalah."
Amabel hanya menatap perempuan itu untuk beberapa saat kemudian ia berbalik dan berjalan menuju ruang makan. Ada sesuatu yang aneh di sini. Juga, benda kecil apa yang sejak tadi Amabel lihat di bahu Rain?
Saat ia membuka pintu, Alberto sudah menunggu. Melihat itu, Amabel langsung berlari kecil. "Maaf, aku terlalu lama ya?"
Alberto menggeleng sambil mengibaskan tangannya. "Aku baru sampai. Kebetulan saja, jadi apa yang kau temui?"
Amabel menunjukkan buku yang ia beli pada Alberto. Melihat buku itu malah membuat alis Alberto naik, "aku tak tahu jika kau tertarik dengan krisan."
"Ya?" Balas Amabel tak paham. Ia langsung membalikkan tubuhnya, menatap buku dengan judul Bulan kini menjadi Krisan. Bahkan isinya pun berubah. Amabel langsung menaruh kepalanya di atas meja. "Alberto, sepertinya saya sudah ditipu."
Alberto langsung tertawa mendengarnya. Jika seperti ini ia melihat Amabel sebagai anak kecil. Tangannya mengusak rambut Amabel, "anggap saja ini sebagai pelajaran. Kau harus memastikan berkali-kali sebelum membeli sesuatu. Sama seperti saat mencari jawaban untuk suatu pertanyaan, kau harus terus mempertanyakan jawaban yang kau tulis. Ketika tak ada lagi pertanyaan, maka kau sudah menemukan jawaban yang kau cari."
Amabel menegakkan tubuhnya, "jika masih tak yakin?"
"Artinya kau sudah ada di jalan yang benar, hanya kau masih ragu. Keraguan dapat menjadi bumerang bagi peneliti. Keraguan benar dan salah pada akhirnya membuat menyerah. Kau bukan tak yakin, tetapi tak percaya diri. Padahal sudah benar, tetapi keyakinanmu goyah hanya karena satu dua hal. Jangan seperti itu. Dalam perjalanan ini bukan benar atau salah yang dicari, tetapi keyakinan." Alberto tersenyum pada pelayan yang membawakan makanan mereka. Setelah itu ia melanjutkan, "ingat itu baik-baik. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang abstrak. Kau dapat meyakini itu benar saat ini, namun di masa selanjutnya kau dapat dinyatakan salah. Jadi, yakini pikiranmu saat ini saja. Itu sudah cukup."
Amabel mengangguk dan makan malam itu diisi dengan obrolan panjang di antara keduanya. "Besok kita akan pergi ke sekolah, jadi persiapkan dirimu. Kau bisa membaca buku yang aku berikan tadi untuk persiapan besok."
Amabel mengangguk, "baik."
"Kalau begitu, malam ini kita istirahat." Setelah itu keduanya berjalan kembali ke kamar masing-masing.
Amabel langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia meraih buku yang dibelinya, sekarang sudah kembali menjadi Bulan. Apa-apaan ini?
Gadis itu membawa buku yang dibelinya ke meja belajar dan membukanya. Isinya tentang sihir dan mantra yang bisa ia gunakan. Lalu kenapa tadi berubah menjadi buku tentang krisan? Lagi, Amabel menaruh kepalanya di atas meja. Dia ditipu.