The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Dua Puluh Delapan: Jalan Berbeda



Musim semi sudah mulai memasuki Plodnavor. Bunga-bunga mulai bermekaran dengan indah, namun Amabel tak menikmatinya. Berbeda dengan bunga yang mulai bermekaran, bunga tulip di Plodnavor sudah layu. Bunga tulip dianggap sebagai tanda peralihan antara musim panas dan musim semi. Amabel kini tengah berdiri di depan Duke Lancaster dan Mary. "Aku akan pergi, aku harap mama dan papa selalu diberi keselamatan dan kebahagiaan."


Meski dengan berat hati, Mary akhirnya mengizinkan Amabel untuk pergi. Ia tak ingin menjadi penghalang untuk mimpi Amabel. Duke Lancaster mengalungkan sebuah kalung dengan lambang keluarga Lancaster pada Amabel. "Ini akan menghubungkan kita. Maafkan papa, ya Bel. Papa harap kamu menemukan apa yang kamu cari dari perjalanan ini."


Ia kemudian mengecup kening Amabel dan memeluknya. "Kedua kakakmu pasti akan marah nanti." Ujar Duke Lancaster sambil memeluk Amabel. "Pastikan dirimu tetap hangat."


Mary melebarkan tangannya dan Amabel memeluknya erat. Amabel akan merindukan kehangatan dan aroma Mary. "Mama harap, dimana pun Bel akan selalu dicintai dan mencintai. Hati-hati." Mary kemudian mengambil sebuah pedang dari seorang pelayan. "Bawa ini dan lindungi mereka yang harus mendapatkannya."


Mata Amabel langsung bersinar. Ia memeluk Mary erat dan beralih ke Duke Lancaster. "Maaf jika Bel tak bisa menjadi anak yang baik dan egois. Bel akan menjadikan perjalanan ini bermakna. Bel akan kembali saat waktunya tiba."


Kedua orangtuanya mengangguk. Kali ini berbeda dengan saat mereka mengantar Amabel ke istana. Kali ini mereka tak tahu ke mana Amabel akan pergi dan berapa lama ia akan tinggal. Alberto Bennett tiba dengan kereta kuda dan langsung turun untuk menyapa.


Ia menurunkan topinya dan memberi salam pada Duke Lancaster. "Sebuah kehormatan karena anda mengizinkan putriku menjadi murid anda." Duke Lancaster menggenggam tangan Alberto erat. "Tolong ajari Amabel ilmu yang bermanfaat."


Alberto mengangguk, "tentu. Saya minta maaf karena tak sempat menyapa anda, Duke. Saya harus mempersiapkan banyak hal dan bahkan dipertemuan ini saya tak bisa terlalu lama. Kami harus segera pergu agar tiba di penginapan sebelum malam."


Duke Lancaster mengangguk paham dan menepuk punggung Amabel. "Dia sudah siap."


Alberto menatap Amabel yang menggunakan gaun berwarna cokelat di atas mata kaki. Kakinya dibalut sepatu boots dan rambut peraknya dikepang. Tubuhnya di tutup dengan mantel berwarna senada. Alberto melirik ke pinggang Amabel yang dihiasi tas sihir dan sebuah pedang. Ia tersenyum, boleh juga.


"Kalau begitu, mari pergi." Ajak Alberto dan Amabel mengangguk. "Sampai jumpa, Duke, Duchess."


Duke Lancaster dan Mary mengangguk. Dua kali mereka mengantar putrinya. Kali ini terasa lebih berat.


"Nona! Tunggu!" Pita dan Elle berlari saat Amabel telah masuk ke kereta kuda. "Bawa ini! Ini dari kami."


Pita memberikan kotak berisi makan siang. Sementara Elle memberikan kotak yang entah apa. "Nona, hati-hati ya. Kami akan menunggu sampai nona pulang. Aku akan belajar dengan giat." Ujar Elle dengan air mata yang mengalir.


Sementara Pita sudah menangis tersedu, "nona anda harus menjaga diri dan jangan lupa pada kami."


"Tidak akan. Kalian juga jaga diri. Aku harus pergi sekarang." Amabel menghapus air mata Elle dan Pita dari jendela kereta kuda. "Sampai jumpa."


"Sampai jumpa," ujar keduanya sambil mundur dua langkah. Kereta kuda berjalan dan Amabel melambaikan tangannya dari dalam. Kali ini ia tak pergi dengan keterpaksaan, ia pergi atas keinginan, dan rasa ingin tahunya.


Alberto menganggap senyum Amabel menarik. Menarik karena gadis di sebelahnya adalah gadis dengan strata tertinggi di antara pada bangsawan, namun memilih pergi ke pelosok bersamanya. Amabel tak menangis, malah tersenyum seakan ia terbebas. "Kau terlihat begitu siap." Kata Alberto.


"Saya harus siap." Balas Amabel sambil tersenyum. "Omong-omong kemana kita akan pergi, Sir?"


Alberto memberikan buku cokelat pada Amabel. "Pertama kita akan menuju Rezenavor, sebuah desa di dekat pegunungan Rreze. Di sana kita akan tinggal selama tiga hari, selama itu kita akan membuka kelas untuk anak-anak di sana."


Mata Amabel bersinar mendengarnya, "apa yang akan kita ajarkan pada mereka Sir?"


Alberto menatap Amabel, lurus dan tegas. "Kau ada muridku jadi berhenti memanggilku dengan Sir. Panggil aku Alberto dengan begitu kau tak akan segan bertanya."


Meski ragu, Amabel mengangguk. Ia merasa tak sopan, namun tak bisa menolak. "Baik, Alberto. Lalu, apa yang akan kita lanjutkan setelahnya?"


"Kita hanya akan mengajarkan baca dan tulis secara umum. Tujuan kita adalah Iliyä yang berada di balik pegunungan Rreze. Di sana terdapat perpustakaan tertua di Yerkink dan banyak profesor yang dapat kita temui. Secara singkat, Iliyä adalah kota pelajar." Jelas Alberto. Ia menatap ke jalan, mereka sudah melewati gerbang Plodnavor. "Di Iliyä kita akan tinggal selama beberapa bulan. Di sana terdapat ujian khusus untuk mendapatkan sertifikat kelulusan tanpa harus sekolah. Kau harus ikut ujian itu, setidaknya itu dapat membantumu secara formal. Kau paham 'kan?"


Amabel mengangguk. Alberto mungkin tak dapat memberikan sertifikat kelulusan, jadi Amabel harus meraihnya sendiri. Tak masalah, meski Amabel yakin akan sulit. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan meneliti pendidikan di Iliyä sehingga aku dapat melaporkannya pada raja. Oh, berkat jawaban pada esaimu, kerajaan tengah membuat program pembelajaran wajib untuk rakyat." Melihat wajah Amabel yang tak percaya, Alberto melanjutkan. "Kemarin saat aku melapor untuk pergi, raja memberikan misi khusus agar aku membuat laporan soal pengajaran di Iliyä. Aku rasa ada kaitannya dengan Pangeran Hendery karena beliau yang memberikan penjelasan secara detail."


Amabel tersenyum, ternyata Pangeran Hendery mendengarkannya malam itu. Ia merasa senang, meski bukan dirinya yang secara langsung mengurus hal ini. Setidaknya keinginannya dapat dilaksanakan. Sekarang mungkin keadilan itu dapat teraih, meski sangat sedikit.


"Mungkin saat musim gugur kita dapat pergi dari Iliyä." Gumam Alberto. "Oh, satu yang harus kau tahu, aku akan meninggalkanmu beberapa waktu untuk melaporkan ke kerajaan."


Amabel mengangguk, merasa tak masalah dengan hal itu. "Oh, Alberto, bagaimana biasanya ujian dilaksanakan?"


Alberto mengusap dagunya, mencoba mengingat. "Hm, mereka akan memulai dengan beberapa tes untuk mengetahui kekuatan dari tiap calon peserta. Di tes pertama mungkin adalah tes fisik, dari sana mereka akan tahu kemampuan tiap individu dan tes selanjutnya akan berhubungan dengan tes fisik. Tes selanjutnya bisa saja berhubungan dengan kemampuan pedang, sihir, atau pengetahuan. Di tes terakhir kau akan diwajibkan menulis tugas akhir sebagai sebuah pengabdian untuk pengetahuan."


Wah, Amabel tak menyangka akan sesulit ini. Namun, tentu wajah karena di sekolah umum memakan waktu 8 tahun, sementara program ini hanya memakan waktu paling lama 4 bulan. Dari perbandingan inu tentu harus terdapat perbedaan yang besar saat seleksi. Amabel berdeham, ia jadi merasa tak percaya diri. "Alberto, berapa banyak peserta yang biasanya diterima?"


Alberto mengendikkan bahunya, "tergantung hasilnya. Bisa ratusan, bisa juga hanya hitungan jari." Alberto menoleh, menaruh jarinya di antara keduanya. "Perlu kau tahu bahwa diterima dan bertahan sebagai murid adalah dua hal yang berbeda. Kau mungkin diterima akan tetapi, ada kemungkinan kau tak sanggup menjalani pendidikan. Tiap hari akan diisi dengan tugas hingga kau merasa ingin berhenti dan banyak yang melakukannya."


Melihat kekhawatiran di mata Amabel membuat Alberto menyentil dahi muridnya. "Jika kau belajar demi orang banyak, kau tak akan mudah menyerah. Paham?"


Amabel mengangguk meski ragu. Maksud dari perkataan Alberto adalah jika kita belajar untuk memberikan ilmu tersebut pada orang banyak, kita tak akan pernah berhenti mencari. Belajar untuk mengajar adalah cara terbaik untuk bertahan. Amabel menunduk, "apa Alberto berpikir aku dapat melakukannya?"


"Untuk seorang yang dengan lantang menyatakan ketidaksukaan pada sikap Raja, apa yang tidak bisa kau lakukan?" Balas Alberto sambil tersenyum. Anehnya meski itu terdengar sebuah sindiran Amabel jadi ikut tersenyum.


Alberto menoleh, matanya agak menyipit ketika bicara. "Oh, tolong tahan diri untuk mengangkat pedang Iliyä. Orang-orang di sana agak sensitif dengan benda tajam."


"Aku tak akan mengangkat pedang jika tak dibutuhkan." Ujar Amabel, menenangkan dan sebagai janji pada diri sendiri.



Meski persiapan pasukan yang dipimpin Arion hanya memiliki sedikit persiapan, namun mereka bisa mempersiapkan secara maksimal. Barak-barak sudah selesai dibuat ketika Arion tiba. Laki-laki berambut hitam itu turun dari kudanya, disambut oleh Arthur Richmond--tangan kanannya.


"Meski waktunya singkat, kita dapat mempersiapkan secara maksimal. Tempat istirahat dan persediaan pokok sudah tersedia. Selanjutnya tinggal menunggu tim kesehatan dan obat-obatan." Arthur melaporkan hasil pekerjaannya. Lelaki berambut merah itu memberikan papan berisi hasil laporan. "Tuan, tempat kita hanya berjarak beberapa kilometer dari pedesaan. Sedangkan pasukan musuh berada di barat dan sudah bersiap menyerang."


Arion menghela napas, tadi ia melihat para penduduk yang terlihat takut. Ia tak mau mengorbankan penduduk tak bersalah. "Buat pasukan kecil untuk memindahkan mereka ke desa terdekat. Mungkin akan sulit tetapi, aku tak mau ada korban dari rakyat tak bersalah."


Arthur mengangguk. "Akan saya laksanakan. Tempat peristirahatan anda telah selesai, apa-"


Arion langsung memotong, "mari berkumpul terlebih dahulu. Aku rasa kita perlu berbicara banyak hal."


Melihat sorot mata Arion membuat Arthur tersenyum dan mengangguk. Ia dengan segera memanggil seluruh pasukan untuk berkumpul di tengah api unggun. Pasukan mereka lebih banyak dibanding dengan misi sebelumnya. Banyak wajah baru di sini dan Arion mulai menatap wajah di hadapannya satu per satu.


"Aku, putra Yanha Walcote, Arion Saverio Walcote akan menjadi pemimpin kalian selama misi berlangsung." Arion kini menunjuk lurus ke depan, "di medan perang aku tak dapat menjanjikan keselamatan bagi kita semua. Hanya saja aku tahu kalian yang berada dalam pasukan ini akan menjadi pahlawan kerajaan. Ada banyak yang akan kita pertaruhkan dalam misi kali ini dan aku harap kalian siap untuk yang terburuk. Bagaimana pun, kita akan menang. Karena aku tak akan mengizinkan kekalahan masuk ke dalam pasukan ini. Untuk sebuah kemenangan aku perlu kalian, tanpa terkecuali."


Arion menatap tajam pada wajah-wajah di hadapannya. Tanpa terkecuali berarti tanpa pengkhianat dan mata-mata. "Jadi, jika kalian adalah bagian yang akan aku kecualikan, pergi dari sekarang. Aku tak akan ragu untuk membunuh, bahkan seseorang yang sudah mengabdi lama padaku. Ingat itu selama kita menjalankan misi. Sekarang, lakukan tugas kalian."


"Baik!" Ujar mereka bersamaan.


Arion kemudian berbalik dan menepuk pundah Arthur. "Buat pasukan kecil sekarang."


Setelahnya ia masuk ke dalam barak khusus. Malam ini Arion perlu mempelajari daerah di sekitarnya dan merencanakan serangan. Malam-malam berikutnya akan sibuk dan Arion menyukainya. Dengan segala kesibukan ini ia akan melupakan masalahnya. Juga, Amabel.


"Tuan, ini Arthur." Ujar Arthur dan baru masuk saat diizinkan. Ia membawa gulungan kertas, "ini datang dari keluarga Lancaster."


Mendengar itu membuat Arion menoleh dengan cepat. Secepat itu hingga ia menertawai dirinya sendiri sambil mengusap wajah. Amabel dapat mengambil alih refleksnya dengan begitu mudah. Arthur melihat ekspresi sedih di wajah Arion dan ia ikut merasakannya. Selama mengikuti Arion di medan perang, Arthur tak pernah melihat ekspresi seperti itu. Arion di medan perang terlihat begitu dingin dan tak tersentuh, bahkan meski kembali ke istana ia tak memiliki banyak ekspresi. Nona dari keluarga Lancaster begitu luar biasa karena dapat memberikan berbagai ekspresi di wajah Arion. "Saya akan melanjutkan pekerjaan tuan." Ujar Arthur sambil memberikan gulungan tersebut.


Arion mengangguk dan memilih keluar dari baraknya. Ia berjalan menuju salah satu bukit di sekitar barak. Arion memilih duduk di sana dan membuka gulungan tersebut. Ia dapat mencium aroma kayu manis dan vanila dari gulungan tersebut. Mengingatkannya pada Amabel.


Teruntuk Pangeran Arion.


Ketika surat ini anda terima, apakah anda sudah sampai di lokasi dengan selamat? Saya harap demikian.


Pangeran, ketika anda menerima surat ini, saya sudah tak lagi berada di Plodnavor. Saya telah menjadi murid dari Sir Alberto Bennett dan saat ini dalam perjalanan mencari ilmu. Saya rasa pada akhirnya, kita berada di jalan yang berbeda. Akan tetapi, perlu anda ketahui bahwa saya begitu bahagia mengambil jalan ini.


Saya sering bertanya, apakah saya egois karena merasa begitu bahagia dan bebas? Apakah saya pada akhirnya mendapat arti sesungguhnya dari bahagia yang saya cari? Entahlah, tetapi saya akan menemukannya dalam perjalanan ini.


Arion dapat melihat bekas tetesan air mata di atas surat tersebut, membuatnya merasa sakit. Ia dapat membayangkan Amabel yang bertanya pada dirinya sendiri di tengah malam.


Satu-satunya alasan saya menulis surat ini adalah karena tak mau anda mengetahuinya dari orang lain. Entah berapa lama saya akan berada dalam perjalanan ini, entah berapa banyak orang yang akan saya temui, entah berapa banyak darah, keringat, dan air mata yang akan saya keluarkan. Sama seperti anda yang tengah berjuang, saya pun akan melakukan sekuat yang saya bisa.


Saya akan selalu mendoakan keselamatan anda, jadi tolong kembalilah dengan selamat. Sama seperti saya, anda juga berhak bahagia. Jangan hanya mencari sebuah kemenangan, tetapi tolong cari kebahagiaan anda juga.


Jika anda terluka, tolong obati luka anda terlebih dahulu. Jika anda tak sanggup, tolong berhenti sejenak. Anda boleh berhenti, anda boleh mengeluh dan mengeluarkan emosi anda. Hanya, jangan pernah menyerah karena saya yakin anda dapat melewati rintangan di depan anda.


Kedepannya, saya mungkin tak akan dapat mengirim surat lagi. Jadi, dalam surat ini saya akan mengucapkan selamat ulang tahun untuk tahun-tahun yang akan datang. Doa saya akan selalu saya, keselamatan dan kebahagiaan anda. Saya juga akan mengucapkan selamat tahun baru, semoga anda dapat melihat langit yang indah.


Pangeran, saya menggunakan kertas sihir. Setelah anda membacanya, surat ini akan terbakar. Tolong pahami bahwa saya tak ingin menjadi beban anda ke depannya. Meski surat ini terbakar, doa saya tak akan pernah terhenti.


Salam,


Amabel Rosemary Lancaster


Seperti yang Amabel katakan, setelah Arion selesai membacanya kertas tersebut terbakar dengan api biru. Arion memukul dadanya yang terasa sesak. Amabel bahkan tak membiarkan Arion menyimpan surat itu.


"Haruskan kamu sejahat ini? Kamu tak membiarkan aku menyimpannya dan tak memberikan harapan agar kira bertemu." Lirih Arion. Amabel begitu jahat hingga membakar surat itu. Begitu jahatnya dengan mengirim surat pada Arion dan tak membiarkan Arion membalasnya. Salah, Arion memang tak diberi kesempatan untuk membalas surat tersebut.


Kebahagiaan? Bagaimana bisa Arion mencari kebahagiaan lain di saat kebahagiaan yang dia inginkan malah menjauh? Satu-satunya kebahagiaan untuk Arion adalah Amabel. Bahkan meski menang, Arion tak pernah benar-benar merasakan suka cita kemenangan.


"Sekarang, katakan padaku, Bel, bagaimana aku bisa bahagia ketika kamu adalah kebahagiaan yang aku cari? Ketika kamu adalah kebahagiaan itu, namun tak membiarkan aku memilikinya." Arion kini hanya bisa berharap agar kebahagiaan yang Amabel cari ada dalam dirinya.


Begitu abstrak jenis kebahagiaan. Namun, bagi Arion sebuah kebahagiaan muncul ketika ia melihat wajah bahagia Amabel. Cukup dengan gadis itu berada di sisinya. Namun, saat kebahagiaan ada di sisinya, ia memilih pergi. Apa dalam kehidupan ini Arion tak pantas memimpikan sebuah kebahagiaan? Apakah ini hukuman atas dosa-dosanya di masa lalu?


Kalau begitu, betapa menyiksanya hukuman ini. Hingga membuat Arion berkali-kali merasa tercekik dan sesak. "Bel, kamu mungkin mencari kebahagiaan dalam perjalananmu kali ini. Akan tetapi, aku di sini untuk melindungi itu. Jadi, teruslah berjalan dan mencari. Sejauh apapun jarak memisahkan, aku akan selalu menjaga kebahagiaanmu. Selamanya."


Bulan bersinar terang dengan bias warna yang sama dengan mata Amabel. Arion menutup matanya, berharap ia dapat melihat senyuman Amabel. Namun, dalam memorinya ia malah melihat Amabel menangis saat di pesta dengan pedang yang mengarah ke lehernya. Melindungi apa? Arion bahkan tak dapat melakukan apapun malam itu.