The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Sembilan Belas: Theo



Amabel tengah berada di ruang belajar saat Kier masuk dan membawa sebuah kertas. "Tuan putri, ini adalah kertas ujian untuk hari ini."


Satu alis Amabel naik, tiba-tiba ia dihadapkan oleh ujian. Gadis itu menghela napas, mengambil kertas dan menaruhnya di atas meja. "Apa yang harus aku tulis?"


Kier menaruh sebuah pena berbulu di atas kertas tersebut. Hanya butuh waktu beberapa detik sampai pena tersebut menuliskan soalnya. Mulut Amabel terbuka lebar menyaksikan sihir tersebut. Matanya yang berbinar menunjukkan betapa tertariknya ia pada benda tersebut.


Tanpa kaki ia bersama, tanpa ikatan ia terlepas. Katakan, apa?


"Kau pasti bercanda." Amabel menatap pertanyaan teka-teki tersebut kemudian berdecih. Dengan cepat ia menulis jawabannya dan mendongak, "setelah aku menjawab, aku harus apa?"


"Ya?" Balasnya bingung kemudian berdeham, "tuan putri yakin tak mau mencari jawaban di buku atau bertanya pada guru?"


Amabel langsung mengibaskan tangannya, "tak perlu terlalu serius. Aku tak berencana mendapat nilai bagus."


"Tapi kalau salah tuan putri akan keluar." Kier tak dapat menahan kesedihannya. Gadis berambut perak itu memiringkan kepalanya, menatap Kier yang menunduk. "Menurutmu aku akan keluar?"


Kier cepat-cepat menggerakkan tangannya dan menggeleng. "Tidak, bukan begitu. Akan tetapi, saya hanya- ah, maafkan saya."


Amabel menggoyangkan penanya dengan gerakan memutar. "Tak perlu. Kier, pertama meski aku memang tak berniat mengikuti pemilihan ini, aku yakin jawabanku benar. Kedua berhenti terlihat sedih, tak cocok denganmu."


Kier akhirnya mendongak dan tersenyum kecil. "Nona hanya perlu menggulungnya kemudian mengatakan aku selesai. Setelahnya kertas tersebut akan terkirim ke ruang khusus."


Sihir benar-benar hebat, ucap Amabel dalam hati. Ia mengikuti instruksi dari Kier, menggulungnya dengan rapi kemudian mengatakan: "Aku selesai."


Menyisakan abu berwarna biru, kertas tersebut menghilang. Amabel tersenyum puas, ia benar-benar kagum dengan pemikiran pencipta barang-barang ini. Kertas sihir ini pasti digunakan untuk orang-orang penting mengirim surat. Jika Amabel ingin membelinya, pasti ia tak sanggup.


Kier berdeham, menghentikan khayalan Amabel. "Tuan putri, kalau boleh tahu, apa jawabnnya?"


Amabel kembali memainkan pena di tangannya, "pengkhianat."


Kier memiringkan kepalanya, bingung. "Kenapa demikian?"


Tangannya berhenti memainkan pena, "para pengkhianat tak memiliki kaki karena mereka bergerak bagai bayangan hingga tak meninggalkan jejak. Mereka tak terikat dengan peraturan kerajaan hingga akhirnya terlepas dan menginginkan ikatan yang baru. Mereka bergerak bersama, tanpa suara, tanpa jejak, dan perlahan melepaskan diri dari kerajaan. Kemudian mereka akan melawan setelah menentukan waktu yang tepat."


"Bagaimana tuan putri bisa mengetahuinya dengan cepat?" Kier masih tak percaya jika Amabel bisa menyelesaikan teka-teki tersebut dalam waktu singkat.


"Hanya menebak dari cerita yang kuingat." Balas Amabel seadanya. Kier jadi penasaran, cerita apa yang sudah didengar oleh Amabel?


"Cerita dari ayahku dan guruku, Kier." Jawaban Amabel langsung membuat Kier kaget dan menunduk, malu. "Tak usah malu, ekspresi wajahmu itu mengingatkanku pada Eli, maksudku kakakku. Mudah ditebak."


Kali ini Kier langsung menutup wajahnya, berusaha untuk menutupi wajahnya yang memerah menahan malu. Melihat itu hanya membuat Amabel menggeleng, "jadi, setelah ini apa yang akan kita lakukan?"


Kier berdeham, membersihkan roknya yang masih bersih dan rapi. Ia melakukan itu sebagai pengalihan kegugupan. "Tidak ada jadwal khusus. Penyelenggara ujian memberikan waktu tiga hari untuk para calon permaisuri menjawab teka-teki tersebut. Akan tetapi, tentu saja tuan putri adalah kasus yang langka!"


Amabel tersenyum seadanya, "kalau begitu apa aku boleh ke pusat kota?"


Kier tersenyum manis kemudian menggeleng. "Kalau itu tentu saja tidak boleh."


Penolakan yang terlalu manis hingga membuat Amabel berdecih kesal. Kier kemudian menepuk tangannya, "sebagai gantinya saya akan membawakan kue-kue manis kesukaan tuan putri. Mohon ditunggu!"


Amabel bahkan belum menjawab saat Kier sudah keluar dari ruang belajarnya. Gadis itu menghela napas, menyandarkan kepalanya di atas meja. Dalam seminggu ini ia tak melakukan hal yang berarti. Hanya membaca buku, mengelilingi istana, berlatih dansa (yang mana kegiatan paling melelahkan untuknya), dan kadang hanya bermalas-malasan. Amabel bosan. Bahkan papa belum mengunjunginya, padahal mereka sama-sama di istana. Helaan napasnya terdengar, cukup kencang.


Gadis itu akhirnya berdiri, menatap keluar jendela ruang baca. Cuaca di luar sangat bagus dan cocok untuk berjalan di pusat kota. Oh, betapa Amabel rindu dengan roti Andette. Bahkan dari jarak ini ia bisa mencium aroma mentega yang manis dan khas dari Andette.


Dari tempatnya Amabel bisa melihat gerbang belakang istana. Dari sini terlihat jalan kecil dari gerbang tersebut menuju pusat kota. Mungkin itu jalan yang digunakan untuk transportasi para pekerja. Sebuah senyuman tercipta dengan ide yang melintas.


"Tuan Putri, kuenya sudah siap." Amabel sampai terlonjak kaget ketika mendengar seruan Kier. "Ya ampun, maafkan saya."


Gadis itu menggeleng, masih sambil memegang dadanya ia berjalan menuju meja. "Tak masalah, Kier."


Kier kemudian merapikan tiap kue yang dibawanya. Hari ini sebuah kue keju dengan cokelat di atasnya, kue cokelat kering, dan manisan stroberi. "Oh, bagaimana dengan permintaanku waktu itu Kier?"


Perempuan berambut gelap itu langsung berdiri tegak, wajahnya lebih serius dibanding sebelumnya. "Dari para pekerja istana, tuan putri dikenal sebagai gadis manis tak tertebak. Mereka menganggap anda sebagai seorang yang pemberani karena mengalahkan Pangeran ke Dua. Bahkan mereka menganggap anda begitu hebat karena menjawab pertanyaan Yang Mulia dengan tenang."


"Lalu bagaimana dengan masyarakat?" Tanya Amabel sebelum memasukkan sepotong manisan stroberi.


Kier tampak ragu sejenak, "orang-orang yang pro pada Duke Lancaster tentu memuji tindakan anda yang berani. Akan tetapi, beberapa yang menentang menganggap anda mencari perhatian. Saya menemukan ada empat bangsawan yang ikut andil dalam penyebaran informasi yang salah ini."


"Siapa mereka?" Jari Amabel mulai memutari cangkirnya.


"Viscount Alberto, Count Briggit, Marquis Esmee, dan Baron Killian." Kier menjawab dengan tenang, "akan tetapi ada yang mengatakan bahwa kemungkinan besar Duke Prada ikut dalam perkumpulan tersebut."


Amabel mengangguk, mulai mengingat nama-nama tersebut. "Dari lima nama itu, putri siapa saja yang masuk ke dalam istana?"


"Putri dari Baron Killian, Marquis Esmee, dan Duke Prada." Kier menatap Amabel yang tengah memotong kuenya. "Sekarang apa rencana anda?"


Amabel tersenyum sambil memasukkan sepotong kue keju. "Menghabiskan kue ini."


Melihat sikap Amabel membuat Kier tersenyum. Ia tahu jika Amabel mungkin tengah memikirkan suatu rencana, namun ia akan menunggu sampai Amabel mengatakan padanya. "Kier, kau bisa beristirahat setelah ini. Kembalilah saat malam hari."


Kier mengangguk dan membawa piring kosong tersebut keluar. Mungkin Amabel butuh waktu sendiri. Kier tak salah, hanya kurang tepat. Informasi dari Kier membuat Amabel sadar bahwa mungkin di istana ini ada orang-orang yang menjadi alat politik. Saat bertemu dengan para putri bangsawan bagaimana pun ia harus membuat aliansi. Kalau pun tidak, ia harus tahu siapa saja yang beraliansi.


Amabel mulai merenggangkan tubuhnya kemudian berjalan menuju kamarnya. Mari pikirkan soal masalah itu nanti, sekarang ia harus fokus untuk kabur! Salah, maksudnya pergi ke pusat kota. Amabel butuh udara segar untuk menyusun rencana yang sempurna.


Gadis itu membuka lemarinya dan mengambil jubahnya yang berwarna ungu gelap dan beberapa uang untuk membeli roti. Amabel mengepang rambutnya kemudian keluar dari kamarnya diam-diam. Jantungnya bergedup kencang tiap ia melangkah menuju gerbang belakang. Aneh memang karena istana ini tak dijaga oleh ksatria di tiap sudutnya, tetapi itu memudahkan Amabel untuk kabur.


Amabel tinggal berbelok dan akan melihat gerbang belakang. Untung saja ia sering mengeliling istana hingga hafal pada tiap tempatnya. Gadis berambut perak itu mengintip dari balik tembok dan melihat empat pelayan tengah berbincang dengan kusir.


"Kenapa kau bersembunyi?" Suara rendah itu langsung membuat Amabel menoleh. Betapa kagetnya ia saat seorang berambut hitam dengan mata merah memergokinya. Gadis itu hingga terduduk sambil menutup mulutnya. Bukannya membantu pemuda berambut hitam itu malah terkekeh, "aku membuatmu takut?"


"Tentu saja! Menurutmu aku akan apa?" Pekik Amabel dalam bisikannya. Ia tak boleh ketahuan penjaga dan menghancurkan rencananya. Mata abu-abunya menatap sosok di depannya, dari atas ke bawah. Pakaiannya mirip seperti yang Irwin gunakan. "Kau seorang ksatria?"


Ia mengangguk, "tentu. Kau bisa melihat dari pakaianku. Jadi, kenapa kau bersembunyi seperti seorang pencuri?"


Amabel langsung cemberut, "aku bukan pencuri. Aku hanya ingin keluar dari istana tanpa diketahui."


Lelaki di depannya kini menyilangkan tangannya, menatapnya penuh curiga. "Kalau bukan pencuri lalu apa?"


Mendengar itu membuat Amabel berdecih, "pesuruh pribadi Lady Lancaster."


Bukannya percaya, lelaki di depannya malah tertawa geli. "Dengan sutra dan satin yang hanya dapat digunakan oleh bangsawan kau pikir aku percaya? Mari, aku akan membawamu ke penjaga."


Buru-buru Amabel mundur dan menahannya, "tunggu-tunggu. Baiklah, aku mengaku. Aku bukan pencuri, bukan juga pesuruh pribadi Lady Lancaster."


"Lalu?" Tanya pemuda itu  dengan mata menyipit.


"Amabel Rosemary Lancaster. Aku putri dari Duke Lancaster dan salah satu calon permaisuri." Gadis itu mendongak, menatap pemuda bermata merah di hadapannya, "kau puas sekarang?"


"Tidak. Bagaimana aku bisa tahu bahwa kau asli?" Tubuhnya menunduk, menyamakan dengan pandangan Amabel.


Dengan lelah, Amabel menunjuk mata dan rambutnya. "Kau tahu, gosip yang beredar? Putri Lancaster satu-satunya dengan mata dan rambut yang berbeda."


Pemuda dihadapannya memiringkan kepalanya. "Tak pernah mendengarnya."


Mulut Amabel terbuka, "hah? Kau ini hidup di hutan ya?"


Dengan enteng pemuda itu mengendikkan bahunya. "Memang aku harus tahu?"


Tangan Amabel langsung terangkat dan menggaruk telinganya. "Aneh. Harusnya kau tahu."


"Kenapa aku harus tahu?" Balasnya dan suara Amabel tercekat.


Gadis itu langsung mengibaskan tangannya, "sudahlah. Lupakan saja." Amabel berbalik, niatnya untuk membeli roti hilang sudah. Lagipula waktunya tak akan cukup karena habis oleh perdebatan tak penting ini.


Pemuda berambut hitam itu menoleh, menatap Amabel yang berjalan melewatinya dengan kepala tertunduk. Senyumnya tercipta dan dengan ringan ia menarik tangan Amabel. "Aku belum bilang kau boleh pergi, nona."


Tangan pemuda itu langsung terangkat, "ops, maaf. Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu."


"Sungguh?" Tanya Amabel dengan mata yang berbinar.


Tiba-tiba saja napas pemuda itu tercekat, "hm, ya. Jadi, ayo pergi."


Amabel mengangguk dan melangkah, namun lagi-lagi ditahan. Kali ini bukan tangannya, tetapi tudung jubahnya hingga Amabel merasa tercekik. "Astaga! Jika kau seperti itu kau bisa membunuhku!"


"Ops, maaf, lagi." Balasnya tanpa rasa bersalah. Dengan jempolnya ia menunjuk ke arah berlawanan. "Kalau lewat sana kau akan langsung ketahuan. Aku punya jalan yang lebih baik di sana."


"Kau tahu hukuman seorang penculik bukan?" Sindir Amabel kalau-kalau pemuda di hadapannya berniat jahat.


"Hukum tak berlaku pada diriku." Mendengar itu membuat Amabel berdecih. Sombong sekali ksatria ini! Amabel berharap Alec dapat mengalahkan keangkuhannya karena Amabel yakin dirinya tak dapat mengalahkannya.


"Apa yang kau cari di pusat kota?" Tanyanya memecah keheningan. Keduanya sudah berada di kandang kuda saat ini.


"Roti dari toko Andette." Jawab Amabel. Pemuda itu mengangguk kemudian masuk ke dalam kandang kuda. Tak lama ia keluar dengan kuda berwarna emas.


"Kita akan naik kuda?" Tanyanya sambil menatap pemuda yang kini mengusap kuda itu.


Dengan santai ia mengangguk. "Kau takut?"


Amabel menggeleng, "bukan begitu." Suara Amabel mengecil dan penuh keraguan. "Perempuan seperti saya naik kuda bersama orang asing. Rasanya begitu salah karena mungkin saya akan segera bertunangan."


Pemuda itu terdiam cukup lama sambil menatap Amabel. "Kalau begitu aku akan berjalan di sampingmu."


Mendengar itu membuat Amabel kaget dan menatap mata merah tersebut tak percaya. "Ta-tapi kau akan lelah."


Pemuda itu tersenyum, "anggap saja aku sedang menjalankan tugasku sebagai ksatria."


Kemudian ia mengulurkan tangannya, "mari aku bantu menaiki kuda ini."


Meski keraguan itu ada Amabel meraih tangan tersebut dan membiarkan tubuhnya diangkat oleh pemuda asing yang baru saja ia temui. Keduanya mulai berjalan dan keluar melalui pintu di samping kandang kuda. Pemuda itu berjalan di sisi kuda dengan tenang. Melihat itu membuat Amabel merasa bersalah, "maaf."


Pemuda itu terkekeh, "tak perlu."


"Jadi, aku harus memanggilmu apa?" Tanya Amabel, memecah keheningan.


"Theo." Jawabnya singkat.


"Omong-omong sejak tadi saya bersikap tak sopan pada tuan dan saya benar-benar meminta maaf." Amabel menunduk, meski Theo tak melihat.


Dengan santai Theo mengibaskan tangannya, "tak perlu. Denganku mari hilangkan segala formalitas."


"Bolehkah?" Tanya Amabel tak percaya.


Theo mendongak dan memberikan Amabel sebuah senyuman. "Kita sudah melakukannya sejak tadi sampai kau tiba-tiba meminta maaf."


Amabel langsung cemberut, "karena kau membuatku merasa bersalah."


Kekehan kembali terdengar, "jadi, boleh aku memanggilmu Bel?"


Entah kenapa pipi Amabel terasa memanas ketika ia mengangguk. "Kalau begitu aku akan memanggilmu Theo."


"Tentu, lakukan sesukamu."


Melalui jalan itu, tak butuh waktu lama untuk mencapai pusat kota. Theo dengan mudah membantu Amabel turun. "Kau bisa pergi membeli roti dan kita bertemu sebelum matahari terbenam."


Amabel langsung menahan ujung baju Theo. "Bagaimana aku tahu kau tak akan meninggalkanku?"


Theo menatap mata Amabel kemudian melepaskan kalungnya. Sebuah kalung dengan batu berwarna hijau berbentuk lingkaran. "Sentuh dan katakan kau sudah selesai dengan begitu aku bisa tahu."


Amabel mengernyit, "bagaimana kau bisa tahu?"


"Lakukan saja. Aku tak memiliki banyak waktu." Ujar Theo kemudian meninggalkan Amabel. Gadis itu cemberut dan memakai kalung tersebut. Ia mulai menjelajahi tiap toko dan berhenti di depan Andette.


"Siang, nyonya Erma!" Seru Amabel riang dari balik jubahnya.


Erma terlonjak kaget kemudian memeluk Amabel erat. "Astaga, nona! Saya rindu sekali! Sudah begitu lama sejak terakhir nona ke sini."


Amabel tersenyum lebar, "oh, nyonya Erma, aku pun merindukanmu. Apa ada roti baru yang harus kucicipi?"


Erma langsung mengangguk dan memasukkan roti-roti baru dengan aroma yang menggoda. "Aku tak sabar mencobanya! Oh, di mana tuan Fergie?"


"Dia sedang menemui Levite untuk membeli beberapa alat." Amabel mengangguk dan memberikan beberapa koin pada Erma. "Tolong sampaikan salamku padanya."


Erma mengangguk. Tatapan sejuknya seolah memberikan kekuatan. "Nona, apapun yang terjadi saya yakin anda memiliki alasan. Jadi, teruslah berjuang."


Amabel tersenyum. Harapan Erma begitu tulus. "Terima kasih. Roti-roti ini tentu kan memberikan kekuatan untukku. Kalau begitu aku pergi. Sampai jumpa lagi."


"Semoga kebahagiaan dan keselamatan menemanimu!" Seru Erma yang dibalas dengan anggukan Amabel. Dalam hati Erma berdoa agar Amabel dapat terpilih menjadi Permaisuri.


Setelah keluar dari Andette, Amabel langsung berbisik ke kalung milik Theo. "Aku sudah selesai."


Tak ada balasan, namun ketika Amabel sampai di tempat tadi, Theo sudah menunggunya. Amabel berlari kecil kemudian memberikan satu buah roti pada Theo. "Makanlah."


"Akan kulakukan sambil berjalan." Jawab Theo kemudian mengangkat tubuh Amabel ke atas kuda. Keduanya kembali ke istana sambil memakan roti. "Tak heran jika kau mati-matian ingin membelinya. Ini sangat lezat."


Ada kebanggaan tersendiri dalam diri Amabel. "Aku tahu. Jadi, sebagai ksatria kau ditempatkan di mana?"


"Barisan terdepan saat perang." Jawab Theo.


Amabel mengangguk, "keren. Aku jadi ingat cerita tentang Pangeran ke Lima."


"Cerita apa?" Theo bertanya.


"Kata kakakku saat ini Pangeran sedang memerangi para pengkhianat." Jawab Amabel kagum. "Dia begitu muda dan mengagumkan."


Amabel menoleh, "bukankah begitu? Eiy, kenapa wajahmu memerah? Aku membicarakan Pangeran, bukan kamu Theo."


Theo langsung mendengus dan menatap ke depan. "Lupakan."


Amabel berdecih. Tak terasa keduanya sudah sampai di istana. Theo menurunkan tubuh Amabel, namun kali ini Amabel dapat melihat mata Theo lebih jelas. Perpaduan aneh antara merah dan biru, namun begitu indah.


"Terima kasih." Ucap Amabel sambil memberikan hormat.


Theo melakukan hal yang sama. Amabel melepaskan kalung milik Theo dari lehernya. "Aku kembalikan."


Theo mengambilnya kemudian mengangguk. "Terima kasih." Ucap Amabel kemudian berbalik. "Aku pamit."


"Hati-hati." Balas Theo singkat.


Amabel berharap ia dapat bertemu dengan Theo lagi. Harapan itu membuat Amabel berbalik, "apa kita akan bertemu lagi?"


Theo yang tengah mengusap kepala kuda putihnya menatap Amabel kemudian tersenyum. "Hanya jika kau menginginkannya."


Sebuah senyum tercipta di bibir Amabel. "Aku akan menantikannya kalau begitu." Ia kemudian berbalik dan memeluk kertas cokelat berisi roti Andette.


Amabel benar-benar menantikannya. Sementara Theo tak dapat berhenti tersenyum.