The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Tujuh: Pria Itu



Selesai dari pusat kota aku memilih untuk beristirahat. Badanku lelah sekali. Hm, entah kenapa aku merasa ada yang lupa aku beli. Kertas, tinta, roti, apalagi ya? Oh! Buku! Hah, dasar Amabel bodoh!


Aku ingin tahu, apa hubungan ini semua. Bagaimana aku bisa mengetahuinya?


"Nona, saya membawakan teh dan beberapa camilan." Itu suara Pita.


Aku segera bangun, "masuklah."


Setelah itu Pita masuk bersama Elle. Gadis itu sudah lebih bersih dan segar. Tangannya dibalut perban, aku jadi merasa sedih. "Kau sudah merasa lebih baik, Elle?"


Gadis itu mengangguk, membuatku tersenyum. "Pita, kau boleh keluar. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Elle."


Pita mengangguk kemudian memberi salam. "Aku permisi kalau begitu."


Setelah pintu tertutup, aku menatap Elle lurus. "Duduklah."


Elle tampak tak enak. Matanya bergerak cepat, "bagaimana bisa aku duduk di hadapan nona?"


Dasar birokrasi menyebalkan! Aku menghela, "lalu kau ingin aku mendongak selama berbicara? Leherku bisa sakit."


Sedikit keluhan bisa membuat Elle akhirnya duduk. Maaf ya, Elle. "Kalau begitu, beritahu tentang dirimu."


"Um, aku tinggal di rumah Nyonya Grace sebagai pelayan sejak berumur tujuh. Aku dibuang oleh orangtuaku saat berumur lima. Ada sedikit permasalahan keluarga yang aku ingat. Mereka terlilit hutang dan memiliki tiga anak, situasi ekonomi yang menyulitkan. Akhirnya mereka membuangku alasannya karena aku adalah anak perempuan." Elle menunduk selama menceritakan hal tersebut. Gadis itu mendongak, wajahnya terlihat panik. "Astaga, nona! Maaf. Tolong jangan menangis."


Meski Elle berkata demikian, tangisku malah semakin menjadi. Mendengar cerita Elle mengingatkanku pada Lalisa. Aku yang hidup sebagai Lalisa tahu bagaimana sakitnya dibuang, tak diinginkan, dan dilupakan.


"Nona, tolong jangan menangis lagi." Elle sudah berlutut di hadapanku. Gadis itu menyentuh tanganku dan tersenyum, "itu cerita yang menyedihkan memang. Tapi, sekarang aku sudah memiliki nona. Tolong jangan menangis lagi."


Aku menarik napas, kemudian tersenyum kecil. "Terima kasih sudah bertahan, Elle."


Pundak gadis itu bergetar dan aku tahu ia menahan tangisnya. "Ah, mari berhenti bersedih!" Aku berdiri, menghapus air mataku dengan semangat. "Sekarang duduk denganku dan makan kue kering itu. Oh, Elle, siapa laki-laki menyebalkan tadi?"


"Um, aku tak yakin, nona. Tapi, dari desas desus yang kudengar dia adalah salah satu pangeran. Kalau tak salah Pangeran kedua." Perkataan Elle sukses membuatku tersedak.


Pangeran? Dengan sifat seperti itu? Astaga, lindungilah negeri ini. "Sifatnya buruk begitu dan dia adalah pangeran? Tsk."


Elle langsung menatapku, "nona, anda tak boleh bicara demikian jika berada di luar. Akan tetapi, karena bersama saya, anda boleh bicara seperti itu."


Elle yang sudah menuangkan teh kini kembali duduk di hadapanku. "Lalu, si rambut merah itu?" Tanyaku lagi. Kalau si pria congkak pangeran, kemungkinan besar si rambut merah juga.


"Dia juga pangeran. Pangeran ketiga." Nah, tebakanku benar.


Aku menggigit sepotong kue cokelat dan menatap Elle. "Ada berapa banyak pangeran sebenarnya?"


"Kudengar ada tujuh. Akan tetapi, bukankah harusnya nona lebih tahu?" Tanya Elle, aku tahu dia penasaran.


Aku mengendikkan bahu, "aku belum pernah ikut ke pesta apapun dan aku belum melakukan debut di pergaulan bangsawan."


Elle mengangguk, paham. Soal, Lalisa Celine apa Elle tahu ya? Dia sudah lama berada di jalanan, mungkin dia tahu. "Oh, Elle, apa kau tahu soal Lalisa Celine?"


Mata Elle kini berkilat, semangat sekali. "Tahu! Dia itu dewi! Dia adalah dewi penyelamatan negeri ini dari iblis. Dewi memiliki kekuatan sihir yang luar biasa dan kami, rakyat biasa menyebutnya sebagai dewi kehidupan."


"Kenapa demikian?"


"Karena dengan kekuatannya dia menciptakan kehidupan bagi tanah ini. Ada sebuah cerita yang mengatakan bahwa tiga bangsawan memperebutkan Lalisa Celine, akan tetapi ia memilih melebur menjadi tanah. Sebab itu, tanah ini menjadi subur dan dapat kita tinggali." Cerita ini akan aku tanya pada Sir Reginald nanti. "Oh! Ada sebuah kuil di dekat Arkean. Nama kuil itu adalah Celine, dibuat untuk mengingat jasa Lalisa Celine. Katanya di sana kita bisa merasakan kekuatan dewi Celine karena itu adalah tempat dewi melebur."


Arkean tak terlalu jauh dari rumah. Aku bisa pergi ke sana besok. Kebetulan papa dan mama masih berada di luar kota. "Elle, tolong panggil Pita."


Selama Elle keluar, aku kembali membuka buku yang diberikan oleh Sir Reginald. Pada bagian Lalisa Celine terdapat cerita yang sama seperti yang Elle katakan. Tiga bangsawan terdahulu menginginkan Lalisa Celine sebagai pendamping katanya mereka mencintainya. Akan tetapi, aku rasa itu hanya untuk merebut simpati rakyat dan akhirnya mereka bisa menjadi raja. Entah kenapa aku merasa Lalisa Celine menyedihkan. Pada akhirnya dia sendirian.


"Nona, anda memanggil?" Pita masuk kembali dan aku mengangguk.


"Pita, besok kita akan ke Arkean."


"Eh? Um, baik nona. Saya akan mempersiapkan kereta dan perlengkapan nona. Kalau begitu saya permisi."


"Saya juga permisi nona." Tambah Elle dan aku mengangguk.


Besok. Semoga besok aku bisa mendapat jawaban yang aku cari.