The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Tiga Puluh Satu: Tempat Baru



Perjalanan kedua Amabel bersama Alberto dimulai. Keduanya akan melewati Pengunungan Rreze bersama para pedagang. Amabel menoleh, mendapati Rain berdiri di sampingnya dengan jubah berwarna hitam. "Kenapa kau di sini?"


Rain menoleh dan tersenyum, "melindungi sumber daya."


Lagi-lagi ucapan yang tak bisa Amabel pahami. Gadis itu mengendikkan bahunya dan memilih berjalan di belakang Alberto. Perjalan mereka akan memakan waktu tujuh hari. Mereka harus melewati hutan kemudian naik ke Pengunungan Rreze dan turun menuju Iliyä. Jika mereka memiliki kuda tentu akan lebih cepat.


Untungnya hutan di sini masih membiarkan cahaya matahari masuk. Jarak antar pohon tak terlalu dekat dan pohonnya pun tak terlalu tinggi. Ini tak semenyeramkan hutan yang ada dalam bayangan Amabel. Selama perjalanan, entah hanya perasaannya atau memang sejak tadi Amabel melihat cahaya di sekitar mereka.


"Nona pelanggan, tolong fokus." Rain menepuk pundak Amabel, membuat gadis itu tersentak. "Kata orang dulu, jangan terlalu terpesona pada keindahan hutan. Kau bisa dimakan."


"Rain, bisa tidak bicara hal yang bisa aku pahami?" Kata Amabel, gadis itu menyerah.


Rain malah tersenyum, meledek. "Padahal aku dengar nona pelanggan ini pintar. Ternyata tidak." Setelah itu Rain berjalan mendahului Amabel. Gadis itu menggeram sambil mengepalkan tangannya kesal. Suatu hari, ia pasti akan membalas Rain.


"Nona, ayo cepat jalan~ Nanti ditinggal, lho." Teriakan Rain membuat Amabel menggeram kesal. Gadis itu meniup ujung rambutnya yang jatuh ke kening. Amabel kemudian mempercepat langkahnya.


Rombongan itu akhirnya berhenti di sebuah tanah yang cukup datar. Beberapa mulai membuat tenda untuk tempat beristirah, beberapa membuat api unggun, dan yang lain mencari makanan. Amabel dan Rain bertugas mencari buah. Keduanya menelusuri hutan, mengambil beberapa apel, buah beri, dan daun mint.


"Rain, tolong pegang ini." Amabel menyerahkan satu ranting buah beri, namun tak diambil oleh Rain. Gadis itu menoleh dan Rain sudah tak ada.


"Rain? Kau di mana?" Teriaknya, mencari Rain namun yang ia temukan malah sungai. Amabel akan memberi Rain pelajaran jika nanti mereka bertemu, lihat saja!


Ia mengeluarkan kantung minumnya dan mengisinya dengan air sungai. Setelah membasuh wajahnya, Amabel berdiri dan berbalik. Langit sudah semakin gelap dan Amabel tak yakin akan menemukan jalan yang sama jika ia tak pergi sekarang. Gadis itu kembali ke jalan yang sama. Langkahnya menelusuri jalan yang diterangi oleh kunang-kunang. Jalanan tak seseram yang dipikirkan ternyata.


"Dia Celine."


"Celine, Celine!"


"Celine, di sini!"


Amabel dapat mendegarnya dengan jelas, namun ia memilih mengabaikannya. Tak lama ia melihat api unggun dan mendapati Rain sedang malan jagung bakar. Wah, benar-benar santai sekali hidupnya. Gadis itu menghampiri Rain dan memukul kepalanya, cukup keras hingga suaranya terdengar.


"Ah! Untuk apa pukulan itu?" Rain menoleh, menatap Amabel tak terima.


"Untuk meninggalkanku sendirian!" Balas Amabel kesal.


Rain malah tersenyum, tanpa rasa bersalah. Benar-benar tanpa rasa bersalah karena sekarang dia sudah sibuk meminta makanan. Rasanya begitu kesal hingga Amabel memilih duduk di samping Alberto. "Cih, menyebalkan." Ujarnya sambil melirik Rain kesal.


Alberto menoleh, memberikan ubi bakar pada Amabel. "Jadi, apa yang kau dapat?"


Amabel memberikan buah yang didapatkannya pada Alberto. "Hanya itu, sisanya ada di Rain."


Alberto mengangguk kemudian memberikan kain putih berisi buah pada ketua perjalanan. Amabel mulai membuka kulit ubi bakarnya kemudian memakannya. Hangat dan manis. Amabel masih mendengar panggilan nama Celine di sekitarnya. Diam-diam Amabel menoleh, mencari sumber suara. Tak ada yang terlihat. Menyebalkan.


Dari tempatnya Rain menatap Amabel dan menahan senyum. Dia menemukan sesuatu yang menarik. Ah, betapa menyenangkan memiliki sumber daya pribadi. Rain menatap tajam pada sisi kiri Amabel dan menjentikkan jarinya. Tadi, di sisi kiri Amabel ada aura gelap yang sudah Rain singkirkan.


Jangan salahkan makhluk-makhluk yang mendekati Amabel, bagaimana pun energi yang dikeluarkan gadis itu benar-benar menggoda. Energi yang kuat dan murni. Sesuatu yang hanya dimiliki oleh dewa.


Malam ini pasti akan panjang. Rain mendongak, menatap bulan yang bersinar terang meski berbentuk sabit. Malam ini Rain harus bekerja keras untuk menjaga Amabel. Ah, merepotkan memang. Akan tetapi, Rain tak suka berbagi sumber daya.



Tujuh hari berlalu dan akhirnya mereka sampai di Iliyä. Gerbang Iliyä dijaga oleh dua ksatria yang langsung memeriksa identitas. Alberto mengeluarkan surat perinta kerajaan atas nama dirinya dan Amabel. Dengan surat itu, keduanya masuk tanpa masalah. Sedangkan Rain masuk sebagai pengelana.


Saat masuk ke dalam Iliyä, Amabel langsung melihat murid yang berlalu lalang. Mereka menggunakan seragam berwarna putih dengan motif sulur berwarna biru di bagian lengan dan dada. Sederhana namun terlihat cantik. Di sisi kanan dan kiri terdapat banyak toko, mulai dari toko buah, sayur, buku, hingga pedang.


Mata Amabel bersinar, lelah yang ia rasakan menghilang ketika melihat kehidupan di Iliyä. Wajah-wajah yang begitu asing, aroma aneh namun menenangkan, dan suara musik yang bersautan dengan teriakan pedang membuatnya tak sabar tinggal di sini. "Alberto, kapan ujiannya akan dilaksanakan?" Tanya Amabel sembari menyamakan langkahnya dengan Alberto.


"Lusa." Jawab Alberto sembari menoleh kanan-kiri mencari lokasi penginapan.


Kali ini mata Amabel membulat, "lusa? Aku belum belajar! Bagaimana ini?"


"Nona, kau bisa simpan kecemasan itu untuk nanti. Sekarang kita harus mencari penginapan dulu." Alberto menatap Amabel datar.


Gadis itu langsung mengangguk. Nampaknya emosi Alberto sedang buruk. "Apa nama penginapannya?"


"Ah, itu! Bangunan berwarna putih itu!" Alberto langsung mempercepat langkahnya. Amabel masih tak tahu bangunan putih mana yang Alberto maksud. Sebab di Iliyä seluruh bangunan berwarna putih!


Alberto berhenti di depan bangunan putih berlantai dua dengan jendela kayu besar di sisi kanan. Pintunya terbuat dari jati dengan tulisan Clinkton di atas pintu. Ketika masuk, Rain sudah duduk di depan resepsionis. Amabel membulatkan matanya, bagaimana bisa Rain sudah duduk di sana?


"Kau? Kenapa? Bagaimana bisa di sini?" Tanya Amabel tak paham sementara Alberto mengisi administrasi.


Rain hanya tersenyum, "bekerja. Memang apalagi?"


Amabel hanya bisa mendecih pada Rain. Ia kemudian mengikuti Alberto ke lantai dua. Lelaki itu memberikan kunci kamar Amabel sebelum masuk ke dalam kamar. Sepertinya Alberto akan tidur selama beberapa hari. Harusnya Amabel tahu jika Alberto bukan tipe orang yang suka berkelana. Fisik dan energinya seperti orangtua. Gadis itu melepas jubahnya dan langsung masuk ke kamar mandi. Ia harus membersihkan diri kemudian pergi ke perpustakaan atau toko buku. Hari ini Amabel harus mencari informasi soal ujian lusa dan mungkin mendaftarkan diri mengingat Alberto sedang dalam mode tak ingin diganggu.


Semoga saja ia tak terlambat. Untungnya mereka tiba di Iliyä di pagi hari, sehingga Amabel memiliki banyak waktu. Setelah selesai membersihkan diri, Amabel mengeringkan rambutnya dengan sihir. Ya, Amabel bisa melakukan beberapa sihir seperti mengeringkan rambut, mencuci pakaian, juga mengendalikan air. Baru itu yang ia ingat dari buku yang dibelinya dari Rain. Meski tentu saja perempuan itu tak mau mengakuinya.


Jika bisa Amabel ingin mencoba memanggil roh elemen lagi. Hanya saja entah kenapa ia merasa harus melakukannya saat sendirian di tempat yang sepi. Mengingat reaksi Pangeran Ryu saat itu membuat Amabel yakin tak boleh melakukannya di sembarang tempat.


Gadis itu kembali memakai jubahnya. Tentu saja Amabel sudah mencucinya dengan sihir. Amabel bahkan menggunakan sihir agar pakaiannya wangi. Rambut peraknya tersembunyi di balik jubah.


"Oi, nona pelanggan! Mau ke mana?" Rain memanggil dari balik meja.


Rain menunjukkan amplop cokelat di tangannya. "Tadi, Alberto memberikan ini. Kau harus membawa ini jika ingin mendaftar ujian."


Amabel mengangguk kemudian berjalan menghampiri Rain. Ia meraih amplop tersebut dan membukanya. Ada informasi tentang keluarga, surat rekomendasi dari Sir Bennett dan Sir Reginald. Gadis itu kemudian memasukkan dokumen-dokumen tersebut kembali ke dalam amplop. "Terima kasih. Ke mana aku harus mendaftar?"


Rain tersenyum, "dari sini kau pergi saja ke gedung tertinggi. Itu tempatnya."


Kadang Amabel berpikir senyum Rain dipenuhi tipu muslihat. Benar-benar mencurigakan. "Rain, kadang aku tak tahu bahwa kau benar-benar tersenyum secara tulus atau tidak." Perkataan Amabel terdengar menusuk bahkan untuk Rain.


Namun, Rain sungguh pandai mengendalikan diri. "Akan saya anggap sebagai masukan. Oh, nona sepertinya harus pergi sekarang. Sebentar lagi makan siang dan pendaftaran akan ditunda sampai pukul dua."


Amabel mengangguk kemudian berbalil. "Aku pergi kalau begitu, terima kasih!" Gadis itu keluar dengan suara lonceng pintu.


Rain menahan dagunya dengan tangan. "Nona benar-benar menarik."


Amabel mengikuti arah menoleh ke kiri dan melihat sebuah gedung berwarna putih—tentu saja—dengan jam yang berada di puncaknya. Tak terlalu jauh ternyata dari penginapan. Tak ada gerbang, hanya dua pilar besar dengan bendera lambang sekolah. Amabel takjub melihat bangunan sekolah yang besar, hijau, dan para murid terlihat fokus dengan belajar. Ia berjalan menuju administrasi, terdapat dua orang murid yang menyambutnya.


"Selamat siang," sapa keduanya.


Amabel mengangguk, "siang. Saya ingin mendaftar untuk ujian."


Gadis berambut cokelat mengangguk, "tentu-tentu. Aku Silvia dan ini Abraham, kami adalah panitia pendaftaran ujian. Boleh kami melihat data dirimu?"


Amabel langsung memberikan amplop yang dibawanya. "Ini."


Gadis berambut cokelat tersebut kemudian memberikan amplop tadi pada lelaki di sampingnya. "Amabel Rosemary Lancaster." Kata si lelaki berambut hijau gelap itu. Abraham, Amabel harus ingat nama itu.


Amabel mengangguk, "ya."


Mendengar nama Lancaster membuat Silvia menatap Amabel. "Kau dari Plodnavor?"


Ah, jadi dia tahu. Amabel harap Silvia hanya tahu sedikit. "Ya. Kau juga dari sana?" pertanyaan basa-basi. Amabel berharap proses pendaftarannya cepat selesai.


"Pernah ke sana. Aku tak menyangka dapat bertemu dengan putri dari seorang Duke Lancaster." Dari senyumnya, Amabel yakin Silvia tahu banyak hal.


"Jadi, apa pendaftarannya sudah selesai?" Tanya Amabel sambil menatap Abraham. Lelaki itu mengangguk kemudian memberikan tag nama pada Amabel.


"Ujian pertama diadakan lusa pukul tujuh pagi. Jangan sampai lupa membawa tag namamu. Dan silakan tanda tangan di sini." Abraham memberikan pena dan menunjuk lokasi untuk tanda tangan. Amabel membaca kertas itu sekilas, isinya hanya pernyataan bahwa tiap peserta akan mengikuti ujian dengan sungguh-sungguh dan menerima hasil akhir dengan hati yang lapang.


Setelah membubuhkan tanda tangannya, Amabel menunduk kecil. "Terima kasih."


"Sampai jumpa lagi, anak perempuan keluarga Lancaster." Amabel hanya menatap Silvia datar kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Ada perasaan tak suka yang muncul saat ia menatap Silvia. Gadis itu tahu banyak soal dirinya, kemungkinan berasal dari Plodnavor juga. Entahlah. Amabel menggeleng dan menepuk kedua pipinya. Dia tak mau berpikiran buruk, cukup. Sekarang mari cari makanan manis untuk menghilangkan pikiran buruk itu. Butuh beberapa waktu sampai akhirnya Amabel memilih masuk ke toko roti. Ia penasaran, apakah akan menemukan rasa yang sama dengan roti di Andette? Atau lebih banyak variasi. Memikirkannya saja membuat Amabel tak sabar.


Gadis itu masuk ke dalam toko dan tersenyum pada penjaga. "Roti apa yang paling banyak dibeli?" tanyanya.


"Apa nona baru sampai di Iliyä?" tanya pemilik toko dan Amabel mengangguk dengan sebuah senyum manis. "Kalau begitu, silakan coba ini. Nona tak akan menemukan roti ini di tempat lain."


"Kenapa demikian?" tanya Amabel dan mengambil satu roti berbentuk daun.


Pemilik toko langsung membungkus roti tersebut, "ini roti bunga." Kedua mata pemilik toko kini berbentuk sabit, "meski bentuknya daun. Bahan yang digunakan adalah bunga krisan emas yang hanya tumbuh di Iliya."


Amabel baru tahu hal ini. Gadis itu mengeluarkan beberapa koin kemudian menggigit rotinya. "Oh, aromanya benar-benar menyegarkan. Apa kau menambahkan bubuk vanili dan daun mint?"


Mata si pemilik toko berbinar, "anda tahu banyak! Ya, aku menambahkan dua bahan itu agar aroma dari krisan emas semakin menguar."


"Ini lezat sekali. Aku akan datang lagi besok." Janji Amabel dan si lelaki tua pemilik toko mengangguk.


"Tentu!" Gadis itu memberi hormat kecil kemudian keluar dari toko roti.


Berbeda dari Andette yang lebih sering menggunakan kayu manis, roti-roti di sini lebih banyak menggunakan vanili. Meski hanya sebentar ia dapat menebaknya melalui aroma. Kemampuan Amabel menilai makanan adalah sesuatu yang ia banggakan.


Gadis itu kembali berjalan, kali ini tujuannya adalah perpustakaan. Meski selama perjalanan Sir Bennett tak berhenti memberikan pertanyaan dan bacaan, namun Amabel merasa kurang. Gadis itu memilih sebuah buku tentang sejarah Iliyä dan sejarah sekolahnya. Amabel percaya jika mengetahui medan yang akan dilewati, ia dapat menjawab dengan benar.


Tanpa terasa Amabel sudah membaca sepuluh buku mengenai sejarah Iliyä. Gadis itu juga sudah mencatat hal-hal penting tentang Iliyä. Ia menaruh buku yang dibacanya ke keranjang khusus dan keluar dari perpustakaan. Langit sudah gelap ketika Amabel kembali ke penginapan.


"Oho, nona sudah kembali." Rain menyambut dengan senyum lebar.


Amabel hanya mengangguk, ia lelah. "Oh, Rain, apa Alberto sudah turun?"


Rain menggeleng, "aku belum melihatnya turun. Nona ingin makan malam?"


"Nanti. Aku ingin istirahat sebentar." Jawab Amabel, "mau menemaniku makan malam?"


Amabel tak pernah makan malam sendiri dan sejujurnya ia tak suka makan sendiri. Rasanya sepi ketika makan di meja sendirian. "Kalau nona yang meminta, akan aku kabulkan." Balas Rain dengan senyum manis.


Gadis berambut perak itu terkekeh, "terima kasih. Kalau begitu aku ke atas dulu."


Rain mengangguk kemudian menjentikkan jarinya dan aura gelap di sisi Amabel menghilang. Beberapa waktu ini Rain jadi sibuk. Ia merenggangkan tangannya, semenjak ia bertemu Amabel tubuhnya jadi banyak bergerak. Rain tak tahu, tetapi ia suka berada di dekat Amabel. Energinya benar-benar lezat dan menyenangkan melihat ekspresi wajah gadis itu berubah dengan cepat.