
Pagi tiba dan Amabel sudah siap di meja makan. Gadis itu tersenyum pada ayahnya yang tengah membaca surat kabar dan ibunya yang menyiapkan kopi. "Pagi, mama, papa!"
"Pagi, Bel." Sahut keduanya hangat. Mary memberikan segelas susu hangat pada Amabel. "Senang rasanya melihatmu di meja ini."
Amabel tersenyum, "aku juga, mama."
Pintu terbuka dengan heboh. Elliott masuk dengan rambut yang masih berantakan. "Ah! Aku kira kemarin hanya mimpi." Ujarnya sambil memegang dada. "Ah, Bel!"
Lagi, Amabel mendapatkan pelukan. "Eli, kalau seperti ini aku tak bisa makan." Ujar Amabel sambil menepuk tangan Elliott. Lelaki itu tersenyum kemudian mengacak rambutnya dan duduk di sisi kanan Amabel.
Alec datang tak lama kemudian. Lelaki itu mengusak rambut Amabel dan mengambil sepotong pancake. "Pagi, ayah, ibu, Eli, Bel." Sapa Alec sambil memotong pancake. "Hari ini aku akan ke istana dan menyelesaikan urusanku. Mungkin aku tak pulang."
Amabel menoleh, "kakak jangan terlalu lelah." Tangannya mengusap puncak kepala Alec penuh perhatian. "Jangan terlalu memaksakan diri, ya?"
Elliott memajukan bibirnya, sebal. "Bel! Aku juga akan ke istana! Aku sekarang menjadi staf di kementerian!"
Amabel menoleh, kaget dan senang dalam waktu bersamaan. "Sungguh? Astaga! Luar biasa! Kakak luar biasa!"
Pujian itu membuat Elliott membusungkan dadanya, bangga. Sementara Mary dan John terkikik geli melihat kelakuan anak-anaknya. Bahagia rasanya melihat ketiganya berinteraksi. "Bel sendiri bagaimana? Apa rencanamu hari ini?" Tanya Mary sambil mengoleskan selai di atas roti.
"Aku juga akan ke istana. Bagaimana pun aku harus memberi salam pada Baginda Raja dan Ratu." Kata Amabel tenang.
Mary mengangguk, tiba-tiba ia merasa sedih. "Tiga anakku pergi ke istana, suamiku pun dulu bekerja di sana. Hanya aku yang tak memiliki urusan dengan istana."
Mendengar itu membuat Amabel mencebik, "meski demikian, berkat didikan serta kasih sayang mama kami bisa menjadi seperti sekarang. Di balik kesuksesan suami ada istri yang hebat. Di balik kesuksesan anak ada kasih sayang luar biasa dari ibu. Meski mama tak bisa ke istana setiap hari, namun mama akan selalu mengantar kami dengan penuh kasih."
Mary terharu mendengar ucapan Amabel. "Ya ampun, anakku. Ucapanmu indah sekali."
"Lagipula istana hanya sebuah bangunan. Di sini lebih hangat." Tambah Amabel, "mungkin karena ini adalah rumah untuk Bel."
Lagi, Elliott mengusak rambut Amabel. "Karena di sini rumah kamu harus pulang, Bel."
"Itu alasan aku ada di sini." Balas Amabel sambil memamerkan deretan giginya.
Kehangatan keluarga Lancaster terus berlanjut hingga satu per satu anggota keluarga keluar dari ruang makan. Amabel ditarik oleh Mary untuk berganti pakaian sebelum ke istana. Padahal menurut Amabel gaun kuningnya sudah pantas untuk ke istana. Namun, Amabel paham jika Mary hanya ingin dirinya terlihat cantik. Ditambah sudah lama ia kehilangan momen untuk mendandani Amabel.
Amabel berakhir menggunakan gaun berwarna gradasi merah ke putih, seperti warna mawar. Bagian roknya berwarna merah dengan hiasan bunga. Bagian atasnya memperlihatkan pundaknya dan terdapat hiasan bunga di bagian lengan. Sebuah kalung berwarna emas melingkari leher Amabel, selaras dengan anting di telinganya. Rambut peraknya disanggul dengan hiasan bunga, namun masih menyisakan anak rambut yang berjatuhan secara natural.
Bibir dan pipinya berwarna merah muda. Manis dan simpel. Mary sampai memeluk Amabel erat. Putrinya sangat cantik. "Sekarang mama bahagia."
Suara tawa Amabel terdengar halus. "Mama bahagia karena mendandaniku? Betapa sederhananya."
Ledekan Amabel malah membuat Mary menjawil pipi putrinya itu. "Seorang ibu akan bahagia melihat pakaian yang dipilihnya digunakan oleh anaknya. Sederhana namun membuat puas. Nah, sekarang ayo pergi. Matahari nanti akan terlalu tinggi jika kamu belum berangkat."
Mary menyampirkan jubah berwarna putih di leher Amabel. "Pakai ini, angin musim gugur saat ini sudah cukup dingin."
Amabel memeluk Mary erat dan menggandeng tangannya saat berjalan melalui koridor. Ayahnya pergi menemui Duke Hamilton. Oh, ralat Duke Hamilton terdahulu, ayah dari Alnorth. Kereta kuda milik Amabel sudah menunggu, bersama Pita dan Elle. "Aku pergi ke istana dulu. Aku akan pulang sebelum matahari terbenam."
Pita tersenyum, "kalau anda ingin bertemu Pangeran tak perlu terburu untuk pulang."
"Hm, nikmati waktumu." Tambah Mary dengan senyum jail.
Amabel mendengus mendengarnya kemudian naik ke kereta kuda dengan bantuan Elle. "Sampai jumpa!" Ujarnya sambil melambai di jendela.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya. "Yo, nona!" Sapaan itu datang dari Rain.
Amabel terlonjak, kaget. Untung saja ia tak berteriak. "Kau! Kenapa di sini? Astaga! Tolong jangan muncul secara tiba-tiba seperti ini."
Rain hanya nyengir sambil menyampilkan lambang V dengan jarinya. "Aku datang untuk menjawab suratmu."
Amabel menghela napas, "jadi apa yang kau temukan?"
"Trol yang nona temui di Tiagar sudah dikendalikan oleh penyihir hitam. Aku tak tahu siapa, namun para penyihir itu dibayar oleh seseorang. Target mereka bukan anda, tetapi Pangeran Arion. Tampaknya mereka juga tak menyadari bahwa anda adalah Amabel Lancaster." Jelas Rain sambil menatap kuku jarinya. "Untuk saat ini aku sedang mencari tahu siapa yang melakukan hal itu. Hanya aku butuh energi."
Amabel paham permintaan Rain. Jadi, ia mengulurkan tangannya dan Rain dengan riang langsung menempelkan telapak tangannya. Sejujurnya tiap kali Rain mengambil energi darinya, ia merasa tubuhnya menjadi lebih ringan. "Ah, sekarang sudah lebih baik." Ujar Rain sambil melakukan perenggangan. "Nona, kalau anda memotong kuku, tolong berikan padaku."
"Saat bertemu kau mengambil rambutku sekarang meminta kukuku. Kau ingin membuat boneka voodoo?" Tanya Amabel, curiga. "Kau ingin menyiksaku?"
Rain malah tertawa mendengarnya. "Nona lucu sekali. Aku tak perlu perentara untuk menyiksa manusia kotor. Aku jauh lebih kuat untuk membunuh manusia dengan jentikan jari."
Kadang Amabel lupa kalau Rain memiliki sifat yang luar biasa. Terlalu percaya diri maksudnya. "Sudahlah. Lebih baik kau pergi dan mencari orang lain untuk diganggu."
Rain menjentikkan jarinya, "nona kalau ingin bertemu Ratu pastikan anda duduk dengan tegap. Tatapan matanya langsung dan katakan apa yang ingin anda sampaikan dengan tegas. Jika itu tak merugikan, Ratu pasti akan mengizinkan."
Setelah itu Rain menghilang. Benar-benar seenaknya. Bahkan tak membiarkan Amabel bertanya lebih jauh.
Alterio menghela napasnya ketika tahu bahwa Jeanne mengunci diri di kamar. Ia sudah mendengar berita soal hukuman Duke Prada sehingga membuat Jeanne menghancurkan barang-barang di kamarnya. Alterio bisa paham kelakuan istrinya. Jeanne tumbuh sebagai seorang gadis yang menjunjung tinggi harkat dan martabat ayahnya. Dia tak tumbuh sebagai seorang ksatria yang akan mengakui kesalahan, begitu berbeda dengan Alterio.
Lelaki itu menghela napas, ingin menghibur namun takut salah bicara. Berbeda dengan dirinya, Ian dan Kenan malah terlihat biasa. Terlalu biasa malah. Alterio ingin bertanya, namun di ruangan ini terlalu banyak orang.
"Kalian di sini ternyata." Kata Noah dan langsung memeluk Kenan. "Kakak aku sudah mendengar beritanya. Apa kakak ipar baik-baik saja?"
Noah benar-benar. Alterio menutup wajahnya, tak tahan dengan mulut adiknya yang sembarangan. "Dia baik. Jangan khawatir."
"Kalau kak Dorothy bagaimana?" Tanya Noah pada Ian. Lelaki itu mengangguk, "baik."
Alterio hanya menjawab dengan cengiran. "Begitulah."
Noah kini memeluk Ian, menepuk punggungnya beberapa kali. "Kakak pasti kuat."
"Noah, kamu ini sudah besar. Jadi kalau duduk di pangkuanku rasanya benar-benar berat." Kata Ian namun, Noah malah merapatkan pelukannya.
"Aaa, aku sayang kakak." Noah malah memeluk Ian semakin kuat, tak peduli bahwa kakaknya kesulitan bernapas.
Tentu saja Ian sudah mendengar berita hukuman yang diberikan oleh pamannya. Ian bukan manusia naif, dia tahu kesalahan pamannya jadi untuk apa menangisi hal tersebut? Lebih baik ia menghabiskan tenaganya untuk bekerja.
"Oh," Noah tiba-tiba berdiri. "Tadi aku bertemu Amabel!"
"Dia sudah kembali?" Tanya Kenan. "Tiba-tiba sekali."
Alterio langsung tersenyum lebar. "Dia kembali bersama Arion! Ah, kalau mendengarnya aku jadi tersenyum sendiri. Mereka manis sekali."
Noah ikut bersemangat mendengarnya. "Sungguh? Bagaimana bisa? Ceritakan!"
Alterio malah menyisir rambutnya ke belakang kemudian berdiri. "Minta pada Arion. Kalian harus melihat wajahnya yang memerah. Nah, aku pergi dulu."
Noah mendecih mendengarnya. Alterio benar-benar menyebalkan. "Kakak, aku akan mencari kak Arion dulu!" Pamitnya kemudian berlari keluar ruangan. Beberapa pelayan yang melihatnya sampai heran.
Kenan mengangkat cangkir tehnya. "Kamu yakin baik-baik saja?"
Mendengar itu malah membuat alis Ian naik. "Tentu. Memang aku harus apa? Menangisi paman bodoh itu hanya akan menyia-nyiakan emosi yang aku miliki."
Kenan tersenyum, menatap Ian. Ia mengacak rambut adiknya kemudian berdiri. "Bukan soal pamanmu, tetapi Amabel."
"Apa maksud kakak?" Balas Ian, pura-pura tak paham.
Kenan kembali tersenyum. "Entah." Ia mengendikkan bahunya, "kamu yang harusnya paling tahu apa maksudku. Aku pergi ya, sampai jumpa."
Setelah Kenan pergi Ian hanya bisa terdiam di tempatnya. Tak berapa lama, Ian berdiri dan meninggalkan ruangan. Dia baik-baik saja.
Amabel kini berada di taman bersama Ratu. Keduanya menikmati secangkir teh dengan kudapan manis. Gadis itu baru selesai bertemu Raja ketika ia bertemu dengan Ratu. "Bagaimana kabarmu?"
Amabel tersenyum, "baik tentu saja."
Adena menaruh cangkir tehnya dan menatap Amabel. "Jadi kau sudah menemukan kekuatan?"
Mendengar itu Amabel langsung menggeleng. "Selama tujuh tahun ini saya terlalu sibuk mencari ilmu sehingga tidak sempat mencari kekuatan."
Amabel tak bohong. Saat di Iliyä, ia berencana mendekati ketua Iliyäkool namun gagal karena fokus belajar. Adena kembali menghirup tehnya. "Sayang sekali. Lalu bagaimana dengan pernikahan?"
"Saya masih belum memutuskan." Balas Amabel. Meski hubungannya dengan Arion sudah cukup baik, namun ia masih ragu soal pernikahan.
Adena mengitari kepala cangkir dengan jarinya. "Aku akan bertanya sebelum pesta penyambutan putraku dimulai. Kau tahu di pesta itu akan diadakan pertunanganmu juga bukan?"
Amabel mengangguk sebagai jawaban. "Saya akan memikirkannya dengan baik."
"Kau sadar bahwa Arion mencintaimu, bukan?" Balas Adena. Mendengar itu punggung Amabel menegak. Adena tersenyum melihat reaksi Amabel. "Menikahlah dengannya atau kau akan melihatnya menjadi ksatria seumur hidup."
Lagi, Amabel terkejut. "Apa maksud Yang Mulia?"
Adena kembali mengitari cangkir tehnya. "Kau mendengarnya dengan jelas."
Jika menjadi ksatria, berarti Arion akan mengabdi pada kerajaan tanpa menikah. Kepala Amabel rasanya kini berputar. Ia tak tahu soal ini. Adena melihat ekspresi wajah Amabel dan menarik cangkir tehnya. "Aku lebih benci melihat putraku menjadi ksatria seumur hidupnya. Menikahlah dengannya, ini permintaan dariku sebagai ibunya."
Amabel menunduk, perkataan Rain soal berbicara dengan Ratu tiba-tiba saja menghilang. "Saya mengerti."
Adena mengangguk kemudian berdiri. "Waktu yang menyenangkan. Aku pergi."
"Kejayaan untuk Baginda Ratu." Gumam Amabel.
Pernikahan ya? Amabel mendongak, menatap langit biru. Ia belum siap untuk itu, namun apa dirinya tega membiarkan Arion hidup sebagai ksatria? Akan sangat egois jika Amabel membiarkan Arion hidup sendirian. Amabel tak ingin Arion kesepian. Gadis itu menghela napas kemudian berdiri. Ia melangkah kembali ke dalam istana.
Adena begitu berbeda. Meski dirinya benci mengenai Arion yang naik tahta, namun ia lebih benci memikirkan soal Arion hidup sendirian. Soal tahta, Adena bisa memikirkannya nanti. Namun, soal Arion ia tak bisa mengabaikannya.
Amabel melangkah tanpa melihat ke depan sehingga ia menabrak pilar. Cukup kencang hingga meninggalkan bekas merah. "Kau tak apa?" Uluran tangan di depannya membuat Amabel menoleh.
Matanya membulat saat melihat Ian. "Ah! Pangeran Ian. Apa kabar?" Tanya Amabel, berdiri sendiri sambil mengusap keningnya. Ian menatap tangannya kemudian menariknya masuk ke saku celana. "Apa anda sehat?"
"Mari berhenti bicara dan ambil pedangmu." Ucap Ian dan Amabel langsung tersenyum lebar.
"Tentu! Ayo kita lihat siapa yang akan menang. Kalau aku menang, apa yang akan aku dapatkan?" Tanya Amabel, masih tersenyum.
"Apapun yang kau inginkan." Balas Ian, menatap Amabel dengan lembut.
Amabel mengibaskan tangannya, "ei, tak usah begitu. Aku hanya ingin kue."
Ian mengangguk. "Baiklah kalau begitu."