
Saat aku membuka mata yang aku lihat adalah langit-langit berwarna putih. Suara teriakan suster, suara mesin pencatat detak jatung, suara pintu terbuka, kemudian pertanyaan. "Nona, apa anda mendengar suara saya? Kalau ya, kedipkan mata anda."
Aku melakukannya. Dokter dihadapanku ini mulai melakukan pemeriksaan. Di jasnya terdapat tulisan Kim Hyun Seok. Rambutnya berwarna hitam dan matanya ditutup dengan kacamata berbingkai tipis. Mungkin umurnya baru dua puluhan. Ia tersenyum padaku. "Nona baru sadar dari koma. Keadaan nona luar biasa baik. Mungkin saat ini tubuh anda terasa kaku dan itu adalah hal wajar. Kami akan melakukan hal terbaik agar nona sembuh. Besok kami akan melepas alat bantu napas nona. Untuk saat ini beristirahatlah."
Aku mengedipkan mata, sebagai jawaban. Suster tadi kembali tersenyum. "Anda sudah bekerja keras. Selamat beristirahat."
Sebenarnya apa yang terjadi? Berapa lama aku tertidur? Lalu bagaimana dengan Arion? Apa ia baik-baik saja? Apa ayah dan ibu makan dengan teratur? Apa Alec dan Elliott akhirnya menikah? Apa semua itu hanya mimpi? Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku mulai terisak. Rasanya menakutkan. Aku tak tahu apa yang terjadi atau siapa aku saat ini. Apakah aku Celine? Ataukah Amabel? Atau aku kembali sebagai Lalisa? Pemikiran itu terus berlanjut hingga aku tertidur.
Besoknya saat terbangun, alat bantu pernapasanku sudah dilepas. "Nama." Kataku dengan suara serak.
Suster yang kemarin mengurusku menoleh dengan tatapan bertanya. "Apa nona butuh sesuatu?"
"Namaku." Suaraku masih serak.
Suster itu tersenyum, senang. "Lalisa. Nama nona Lalisa."
Ah, Lalisa. Aku kembali menjadi Lalisa yang sendirian. Jadi, semua itu mimpi? Tentu saja. Mana ada hal yang seperti reinkarnasi. Rasanya dadaku terhimpit, sesak dan menyakitkan. Jika semua hanya mimpi, kenapa rasanya begitu nyata?
"Pasti sulit ya kareja bangun di tempat ini? Tapi, nona hebat lho. Selama dua tahun nona terus berjuang sampai akhirnya sadar. Saya sangat senang karena nona akhirnya sadar." Suster itu mendekap filenya, "namaku Victoria Grece. Nona bisa memanggilku Vic."
Aku mengangguk. Dua tahun ya? Lama sekali. Kenapa aku masih terbangun? Akan lebih baik jika aku tak bangun. Aku tak ingin hidup sebagai Lalisa lagi. Lalisa yang kesepian itu menyedihkan.
"Nona, jangan sedih." Kata Vic lagi, mungkin ia melihat ekspresi wajahku tadi. "Nona sadar hari ini karena nona telah berjuang. Jangan menyesal. Oh, saya belum bilang ya? Keluarga anda sedang dalam perjalanan ke sini. Mereka berdua adalah keluarga muda."
Keluarga? Aku tak punya. Hanya Amabel yang memiliki keluarga. Aku tidak. Vic akhirnya menyelesaikan pemeriksaan kemudian pamit dan keluar dari ruangan. Bagaimana bisa aku punya keluarga sedangkan aku baru kabur dari panti asuhan?
Aku kembali menutup mata, kembali memikirkan semua hal yang terjadi. Selama dua tahun tubuh Lalisa koma, lalu bagaimana dengan Amabel? Jika mimpi, kenapa terasa begitu nyata? Aku bahkan masih merasakan panah yang tertancap pada dada kananku. Rssa sesak saat darah perlahan naik ke paru-paru dan pelukan dari ayah. Sekarang siapa yang akan menggenggam tanganku? Aku merindukan keluargaku. Tunggu, kalau ini Lalisa artinya aku tak memiliki siapapun. Kenapa harus seperti ini?
Aku tak tahu apa yang terjadi saat ini. Rasanya seperti aku terbangun tanpa menyadari perubahan. Rasanya seperti disadarkan dari mimpi. Mimpi yang terlalu nyata.
Berulang kali aku memikirkannya, namun semua terasa tak masuk akal. Siapa yang akan percaya bahwa aku masuk ke dunia lain saat tubuhku koma? Kepalaku berdengung, menyakitkan.
"Bagaimana keadaannya?" Pertanyaan itu perlahan membawaku pada kesadaran. Pagi sudah datang lagi. Di rumah sakit waktu berlalu dengan sangat cepat.
Vic tersenyum, pada tamu yang tak aku ketahui identitasnya. "Sejauh ini kondisinya sudah lebih baik. Mulai besok kami akan mulai menjalankan terapi untuk saraf motoriknya. Secara prosedur, nona akan menjalani terapi jalan dan menyentuh beberapa benda agar ia kembali peka pada sentuhan. Juga beberapa terapi lainnya yang akan memudahkan nona dalam bergerak seperti sebelumnya."
Aku mendengarkan dengan baik, hingga tatapan mataku bertemu dengan orang asing itu. Tubuhnya tinggi dengan mata biru gelap dan rambut cokelat. "Ah, kamu sadar. Halo, Lalisa."
Ada getaran aneh saat ia memanggil namaku. Dan tanpa sadar aku sudah menangis. Suaranya, matanya, mirip sekali dengan Alec. Pria di hadapanku panik, begitu juga dengan Vic. "Ah, ada apa? Apa ada yang sakit?"
Aku menggeleng, "tidak. Aku hanya berpikir kamu mirip dengan seseorang yang kukenal."
Ia tersenyum, lega. Mungkin karena ternyata aku tak kesakitan. Pria itu menarik kursi dan duduk di sampingku. "Apa orang itu baik?"
Aku mengangguk dan menatap matanya. Orang asing yang terlihat begitu dekat. "Ya, sangat baik. Dia memperlakukanku seperti adiknya."
Aku mengangguk kecil, "ya. Kakak."
Wajahnya kembali berubah, lebih cerah. Senyumannya masih berada di bibirnya. "Oh, namaku Damian Hamilton. Kamu boleh memanggilku Kak Damian."
Hamilton ya, nama yang tak asing kembali muncul. Namun, tentu saja nama itu di sini bukanlah sesuatu yang aneh. "Bagaimana kakak bisa menjadi waliku?"
Akhirnya aku bertanya. Biaya rumah sakit untuk anak sepertiku tentu tak murah. Terutama aku berdiam di kamar sebagus ini selama dua tahun, pasti banyak yang harus mereka keluarkan. Untuk anak yang kabur dari panti, harusnya aku hanya mendapat kamar di kelas biasa dengaj bantuan dari dinas sosial.
Wajah Damian berubah, mungkin ia baru saja mengingat hal yang tak mengenakkan. "Dua tahun lalu aku melihatmu kecelakaan. Aku tak berhasil menarikmu menjauh dari truk dan satu-satunya yang dapat aku lakukan adalah membawamu ke rumah sakit. Aku selalu berharap jika saja aku berhasil menarik tanganmu, pasti kamu tak harus berada di sini selama dua tahun. Maaf karena aku hanya bisa membawamu ke rumah sakit."
Aku menyentuh tangannya dan tersenyum kecil. "Kenapa kakak harus merasa bersalah? Aku bersyukur karena kakak mau membantuku dan membiayaiku selama ini. Jangan menyalahkan diri sendiri karena aku bersyukur bisa bertemu denganmu."
Lagi. Sekali lagi aku bertemu dengan kakak. Entah kenapa aku yakin bahwa di hadapanku saat ini adalah Alec. Damian kemudian menangis dan aku hanya bisa menepuk tangannya. "Maaf baru membuka mata setelah sekian lama."
"Tak apa, aku sudah sadar saat ini." Jika ini adalah Alec, satu-satunya yang ingin aku lakukan adalah memeluknya erat. Aku merentangkan tanganku dan Damian memelukku. "Terima kasih karena sudah berusaha dan percaya aku akan sadar."
Alec, apa ia baik-baik saja? Aku harap dia tak akan menyalahkan diri sendiri. Aku harap Alec tahu bahwa aku pergi tanpa penyesalan.
Setelah tiga bulan melakukan terapi dan banyak pemeriksaan, akhirnya aku diizinkan pulang. Ya, pulang bersama Damian dan istrinya, Sarasa. Keduanya adalah pasangan muda yang belum memiliki anak. Aku diangkat sebagai anak dan masuk dalam kartu keluarga mereka. Namun, menyebut keduanya sebagai ayah terasa aneh.
"Lalisa, biasakan memanggilku ibu, oke?" Sarasa adalah wanita yang paling sering tersenyum. Ia memelukku, erat. "Hah, ini salah Damian. Harusnya saat bangun dia tak membiarkanmu memanggil kakak. Harusnya ayah! Cih!"
Meski sering tersenyum, Sarasa juga sering marah-marah. Terutama pada Damian. "Tapi, rasanya aneh. Kalian terlihat masih sangat muda. Mana ada yang percaya kalau aku-"
Sarasa langsung menutup mulutku dengan jarinya. "Tidak boleh. Aku adalah ibumu. Lagipula kamu ini baru lima belas!
Ya dan kalian baru dua puluh sembilan. Mana ada yang percaya kalau aku anak kalian? Aku menghela. Pada akhirnya hanya bisa menyerah. "Baiklah, ibu."
Senyum Sarasa langsung mengembang. Mood-nya luar biasa.
"Kamu akhirnya berhasil membuat Lisa memanggilmu ibu, ya wanita keras kepala." Ledekan Damian langsung membuat Sarasa melayangkan pukulan di punggung. Damian tertawa dan aku ikut tertawa melihat keduanya.
Dari belakang, aku dapat melihat Alec dan Sofia. Aku mendongak, hari itu juga langitnya cerah seperti ini. "Lisaaa! Ayo, pulang!"
Ya, pulang. Lalisa akhirnya punya rumah untuk pulang. Aku tersenyum kemudian berlari kecil dan mengamit lengan keduanya. "Aku sayang kalian."
Damian dan Sarasa saling menatap, namun kemudian tersenyum. "Ya, kami juga."
Mungkin ini hadiah yang dimaksud. Sebuah keluarga baru yang sama hangatnya dengan keluarga Lancaster. Jika seperti ini, apa kebahagiaan yang aku rasakan saat ini adalah kenyataan? Ataukah suatu saat nanti mereka akan menghilang dan aku akan terbangun seorang diri?
Aku, takut. Rasa sakit yang kualami apakah tanda bahwa ini adalah kenyataan? Aku menatap keluar jendela mobil, aku tak bisa berhenti berpikir tentang hal ini. Rasanya seperti tercekik.
Pada akhirnya, aku kembali menciptakan jarak pada mereka.