
Saat ini Amabel berada di ruang tamu Sir Bennett. Akan tetapi, Sir Bennett belum datang sehingga Amabel hanya bisa menunggu. Matanya menilik tiap rak di sisi kanan dan kiri. Banyak sekali buku yang dimiliki Sir Bennett. Seluruh ruangan dipenuhi buku dan Amanel menyukainya. Ini memberikan suatu perasaan yang menenangkan.
"Maaf membuat nona menunggu." Alberto masuk dan Amabel langsung berdiri. Gadis itu memberi hormat kemudian duduk setelah Alberto memberi tanda. "Banyak sekali dokumen yang saya urus sebelum pergi."
Alberto menaruh topinya di atas meja kemudian menyilangkan kakinya. "Jadi, apa nona kemari untuk menyampaikan salam perpisahan?"
Amabel langsung menggeleng. Tatapan matanya tajam dan penuh keyakinan. "Saya akan memberikan keterbukaan dan kejujuran." Tangan Amabel tertaut, "Sir, sebelum saya memulai yang harus anda tahu adalah saya tak ingin menjadi permaisuri."
Amabel mendongak, menatap Sir Bennett. Ia kira Sir Bennett akan menatapnya aneh atau marah, namun ternyata tidak. Amabel kemudian melanjutkan. "Saya tak ingin menikah dengan pangeran, atau siapapun itu. Saya tak ingin menikah atas suatu keterpaksaan. Tepatnya saya hanya ingin menjadi seorang putri dari ayah dan ibu saya." Amabel berdeham, ia tak sadar jika suaranya bergetar. "Akan tetapi, saya terpaksa demi keluarga saya. Bahkan menjawab soal-soal itu pun karena saya sadar bahwa kertas sihir bukan hanya untuk mencegah kecurangan, tetapi juga untuk mengetahui siapa yang tak sungguh-sungguh dalam mengisinya. Saya ingin pergi mencari pengetahuan dan kekuatan. Saya ingin pergi untuk diri saya dan masa depan saya."
Kali ini Amabel menatap Sir Bennett sungguh-sungguh. "Saya ingin berjalan di atas jalan yang saya pilih. Bukan atas perintah atau kuasa orang lain. Saya ingin mencari diri saya dan kebenaran akan dunia."
Alberto tak pernah melihat mata yang bersinar dan haus akan pengetahuan seperti itu. Bahkan pada dirinya sendiri pun tidak. Ia yakin Amabel tak akan menyusahkan di kemudian hari. Meski ia seorang putri bangsawan, Alberto tahu jika Amabel bukan anak yang manja. Tak pernah Amabel tahu jika Alberto pernah beberapa kali melihat Amabel di pusat kota. Ia pernah melihat bagaimana Amabel berinteraksi dengan pemilik toko Andette dan toko alat tulis. Ia juga pernah melihat Amabel menolong seorang gadis. Dan jika hasil ujian Amabel menjadi syarat penilaian tentu ia sudah lulus menjadi muridnya.
"Pangeran ke lima sudah tahu?" Tanya Alberto. Melihat wajah Amabel, ia kemudian menambah. "Soal keenggananmu atas pernikahan ini dan soal rencanamu untuk ikut denganku."
"Dia tahu. Bahkan Raja dan Ratu pun tahu. Saya membuat masalah saat pesta beberapa waktu lalu." Jawab Amabel sambil menunduk. Ia memainkan jarinya, gugup.
Alberto menghela napas, "lalu keluargamu?"
Amabel menggeleng, "saya berencana memberitahukan pada mereka ketika saya secara resmi telah menjadi murid anda."
Alberto bangkit dari duduknya. Ia melangkah menuju salah satu rak dan mengambil salah satu dokumen. "Kalau begitu apa yang kau tunggu?"
"Ya?" Amabel mendongak, menatap pada Alberto tak paham.
Alberto akhirnya tersenyum, "pulang dan beritahu keluargamu karena lusa kita akan berangkat."
Amabel berdiri dengan senyum lebar. Ia berjalan menghampiri Alberto dan membungkuk berkali-kali. "Terima kasih, Sir! Saya pasti akan bekerja keras."
"Bawa barang yang kau butuhkan. Jangan bawa yang tidak berguna." Alberto menasihati dan Amabel langsung mengangguk.
"Saya akan pergi sekarang kalau begitu. Terima kasih dan sampai jumpa lusa." Amabel kembali membungkuk dan berlari kecil keluar dari ruang tamu Alberto.
Alberto tak tahu apa keputusannya benar, akan tetapi ia yakin tak akan menyesal. "Ah, harus mengurus dokumen tambahan."
Ketika sampai di depan rumah, Amabel langsung berlari menuju ruang kerja Duke Lancaster. "Papa, boleh aku bicara?"
Mata Amabel bersinar, senang karena mama ternyata ada di dalam ruangan. Ia langsung masuk setelah Duke Lancaster mengangguk dan memeluk Mary hangat. "Syukurlah mama juga ada di sini." Kata Amabel sembari memeluk Duke Lancaster.
Ia duduk di hadapan Mary dan menatap kedua orangtuanya dengan senyuman. "Pertama aku harap mama tidak akan syok dan aku harap papa akan memberikan izin." Amabel membuka penjelasan sambil menatap kedua orangtuanya bergantian. "Aku baru saja bertemu dengan Sir Bennett dan memintanya menjadi guruku. Tadi, baru saja aku diterima sebagai muridnya."
Mary tersenyum, terlihat bangga. "Selamat, sayangku."
Berbeda dengan Mary, Duke Lancaster malah terlihat tak senang. Amabel menatap Duke Lancaster, matanya terlihat bersungguh-sungguh. "Melihat dari ekspresi papa, tentu papa tahu apa yang akan aku lakukan ke depannya." Ia menatap ke arah Mary yang terlihat tak paham. "Sebagai muridnya, aku akan pergi mengikuti Sir Bennett mengelilingi negeri. Mama, papa, tolong pahami bahwa ini adalah jalan yang aku pilih. Ini satu-satu yang ingin aku lakukan."
Amabel mengangguk, "aku tahu, mama. Akan tetapi, ada hal lain yang tak bisa aku lakukan di Plodnavor. Aku tak tahu bagaimana dunia luar, aku tak tahu bagaimana kehidupan di luar, dan itu yang aku ingin tahu. Pengalaman yang aku ingin cari."
Mary mengoleh, menghindari tatapan mata Amabel. "Mama, ada banyak hal yang tak akan bisa Bel raih jika di Plodnavor. Mereka sudah tahu soal Bel dan itu akan menyulitkan pengetahuan yang Bel ingin raih. Papa juga tak perlu khawatir, Bel lebih kuat dan bisa melindungi diri sendiri."
"Ya, begitu kuatnya hingga berani melawan Pangeran ke dua dan Raja." Sindiran Duke Lancaster membuat Mary menatap Amabel tajam.
Gadis berambut perak itu menghela napas, "ada alasan di balik kejadian itu."
"Tetap kamu tak boleh melawan Raja, Bel." Ujar Mary, tak suka.
Amabel menatap Mary, tegas. "Bagaimana bisa Bel tak melawan ketika Raja melecehkan dan menyakiti hati Bel? Bagaimana bisa Bel membiarkan orang asing memotong sayap Bel untuk terbang bebas dan menginjaknya di depan mata Bel, mama?" Amabel menarik napasnya, "Mungkin mama tak akan paham. Papa pun, tak akan tahu. Bel tak mau membahasnya."
Ruangan diisi kesunyian setelahnya. Mary dipenuhi perasaan bersalah, sedangkan Duke Lancaster memijat keningnya yang sakit. Amabel menatap keduanya bergantian, "Amabel akan pergi lusa bersama Sir Bennett. Jangan potong sayap Bel lagi karena saat ini Bel hanya punya satu."
Setelah itu ia berdiri dan memberikan hormat. "Selamat malam."
Gadis itu langsung keluar dari ruang kerja Duke Lancaster. Bahkan meski keluarga, merek tak paham. Bahkan meski berkata akan melakukan apapun, mereka tak membiarkan Amabel melakukan satu hal ini.
"Nona, ada apa?" Elle bertanya saat Amabel masuk ke dalam kamarnya. Gadis berambut perak itu menggeleng, "tak ada. Tolong panggil Pita dan bantu aku untuk berkemas."
Elle ingin sekali bertanya banyak hal, namun ia segera menutup mulutnya saat melihat ekspresi wajah Amabel. Gadis itu memilih keluar dan memberi ruang untuk nona mudanya. Ketika Elle keluar, Amabel langsung terduduk di kasurnya. Ia menarik dan menghembuskan napasnya berkali-kali. Ia harus tenang. Setelah merasa cukup tenang, ia meraih kertas dan mulai menulis barang-barang yang perlu dibawa. Amabel harus segera berkemas.
Setelah semua yang ia butuhkan telah ada di dalam daftar, Amabel segera membuka lemarinya dan mengeluarkan tas pinggang kecil berwarna cokelat. Meski ukurannya hanya sebesar tangan orang dewasa, tas ini dapat memuat banyak barang. Tentu karena ini tas sihir. Amabel membelinya tahun lalu karena ia suka membeli banyak buku. Senyum kecil tercipta di bibirnya, Amabel tak tahu jika tas ini akan berguna untuk perjalanannya.
"Nona, saya masuk." Itu Pita dan Amabel langsung menepuk tempat di sisinya. Elle yang berada di belakang Pita mengikuti. "Elle bilang nona ingin berkemas. Apa anda ingin pergi ke suatu tempat?"
"Bukan hanya satu, tapi banyak tempat. Jadi, tolong bantu aku mengemas pakaian untuk empat musim." Elle dan Pita saling menatap kemudian mengangguk. "Pilih sesuatu yang nyaman, tidak berlebihan, dan tak sulit untuk dicuci. Aku tak butuh banyak baju, hanya sesuatu yang cukup digunakan saat melewati empat musim. Sepatu juga."
Keduanya mulai memilih pakaian. Amabel memasukkan beberapa yang akan ia bawa. Masing-masing musim empat pakaian dan dua sepatu. Amabel membawa mantel khusus untuk empat musim. Ia juga membawa buku sihir yang diberikan oleh Pangeran Ryu melalui Kier.
"Aku rasa ini cukup." Ujar Amabel kemudian mengeluarkan tanda pengenal diri dan uang dari laci. "Kalian boleh melanjutkan pekerjaan. Aku akan tidur setelah ini."
Elle menatap Pita, menyuruhnya bertanya melalui tatapan. Pita menghela, ia juga ingin tahu kemana nonanya akan pergi. "Nona, anda akan pergi?"
Amabel mengangguk dan Pita melanjutkan. "Ke mana? Nona baru saja kembali kenapa mau pergi lagi?"
Amabel kali ini menatap Pita dan Elle. "Aku ingin belajar dan melihat dunia. Aku telah menjadi murid Sir Bennett dan aku akan mengikutinya berkelana mengelilingi negeri. Jangan sedih, aku akan kembali saat waktunya tiba."
Pita mendekat ke arah Amabel, "nona, boleh saya memeluk nona?"
Amabel malah tertawa dan mengangguk. "Tentu. Kau juga mau, Elle?"
"Huhu, nonaa." Elle berlari dan langsung memeluk Amabel. Amabel tentu akan merindukan keduanya, tentu yang lain juga. Hanya saja ini jalan yang Amabel pilih dan tentu ia tak akan menyesalinya.