The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Tiga Puluh Delapan: Berbagai Sisi



Rain menarik bangku di depannya, membuka kembali gulungan kertas yang diberikan Alberto tadi. Ia sudah mengetahui keadaan Amabel setelah mendengarnya dari angin. Para penyihir sudah bergerak. Ternyata lebih cepat dibanding dugaan mereka.


"Mereka sudah bergerak." Ujar Rain dan Alberto menghela napas. "Aku agak menyesal mengirim nona ke sana."


Alberto menyalakan rokoknya dengan pematik. "Ah, urusan kerajaan dan ini membuatku stres. Aku yakin dia akan aman. Di sana ada Pangeran. Kita hanya dapat berharap dia tak mengunakan kekuatan elemen dan hanya menggunakan manna."


"Dia melakukannya dengan baik tadi. Aku rasa dia sudah tahu keadaannya. Entah apa yang akan terjadi setelah trol menyerang. Menurutmu bagaimana?" Rain menatap Alberto. Lelaki itu hanya mengendikkan bahunya, "entah. Kau yang mencoba mengubah takdir keduanya. Bagaimana kita bisa tahu apa yang terjadi nantinya? Pergerakan mereka berbeda dengan ramalan. Kau mengubahnya, Rain. Jadi, jangan tanya pendapatku."


Rain menghela napas. Ia menutup gulungan tadi--sebuah peta yang memperlihatkan pergerakan Amabel. "Ah, sekarang aku benar-benar menyesal."


Alberto menepuk puncak kepala Rain, "akhirnya kau bisa merasakan penyesalan. Sering-seringlah kau merasakan itu."


Rain memukul udar dalam duduknya, kesal luar biasa. "Ah! Harusnya aku tak mendengarkan keinginannya! Arg!"


Sekali lagi Alberto menepuk puncak kepala Rain dengan rokok di mulut. "Teruslah menyalahkan dirimu. Ini lumayan menghibur."


Dalam duduknya ia kembali memukul udara. Memang seharusnya Rain tidak boleh bersikap seperti ini. Mengubah ramalan untuk akhir yang lebih baik? Harusnya Rain sadar, bagaimana pun ia mencoba takdir akan tetap mencari cara sesuai jalan yang seharusnya.



Setelah dua hari akhirnya mereka selesai melewati bukit Tiagar. Ketika menyusuri jalan biasanya barulah Amabel merasa lebih baik. Ia merasa lebih aman dibanding saat berada di bukit tersebut. Pergelangan tangannya terasa dingin, sepertinya Ro ingin berkomunikasi dengannya. Hanya saja ia tak bisa melakukan kontak dengan Ro saat ini. Ia harus bertemu dengan Rain terlebih dahulu.


"Kenapa?" Tanya Arion di belakang telinganya. Keduanya berakhir di kuda yang sama setelah Arion merasa keadaan lebih aman.


Amabel menggeleng, lagi-lagi ia merasa gugup. "Tak ada."


Arion menyentuh pinggang Amabel, membuat gadis itu kaget. "Kenapa?"


"Tak ada." Balasan Arion membuat Amabel mendecih sebal. "Pangeran, mendendam itu tak baik. Begitu juga dengan balas dendam."


"Memang," Arion berhenti sejenak. Ia kemudian memajukan dirinya, mendekat ke telinga Amabel. "Tapi menyenangkan."


Kalau tidak ingat bahwa mereka berada di atas kuda, Amabel pasti sudah mendorong Arion. Setelahnya Amabel lebih banyak diam. Ia tak mau Arion melakukan sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang. Benar-benar tidak baik untuk kesehatan.


Arion menaikkan tangannya, kembali membuat pasukan berhenti. "Kita akan istirahat di sini."


Tak butuh waktu lama untuk para ksatria menyiapkan barak dan api unggun. Kebanyakan dari mereka memilih berkumpul di api unggun dan membakar ubi. Sementara Arion langsung masuk ke dalam barak, tentu saja diikuti Amabel.


Saat masuk, Arion langsung membuka pakaiannya, membuat Amabel berbalik. Tadi meskipun hanya sebentar, Amabel kembali melihat bekas tebasan pedang di punggung Arion. Bekas yang terlihat sepanjang punggung itu Amabel yakin adalah luka yang dalam. Selain itu, terdapat luka bekas tusukan juga. Sebanyak apa Arion pernah terluka di medan perang?


"Kau tak mau istirahat?" Tanya Arion di atas kasur. Amabel hanya bisa diam. Bagaimana ia bisa istirahat kalau Arion berada di sana?


Seolah tak peduli, Arion menepuk tempat kosong di sampingnya. "Aku tak keberatan berbagi tempat tidur denganmu."


Amabel mendengus mendengar tawaran tersebut. "Aku yang kebetatan, Pangeran. Aku ingin menulis sesuatu terlebih dahulu, Pangeran bisa istirahat."


Arion tahu ia tak bisa memaksa Amabel, jadi lelaki itu memilih untuk memejamkan matanya. Amabel bergerak menuju meja kerja Arion dan mengeluarkan buku yang diberikan Alberto. "Aku ingin mengirim tulisan ini pada Rain, penyihir dari Barat." Bisiknya sambil mengusap halaman kosong dalam buku.


Amabel mulai menulis tentang trol dan keanehannya, juga cerita soal penyihir hitam. Ia juga bertanya mengenai langkah yang harus diambil selanjutnya. Sejujurnya, Amabel tak tahu soal masalah ini. Dia belum pernah bertemu penyihir hitam sebelumnya. Kekuatan mereka pasti berbeda dan pasti ada maksud di balik kejadian ini. Namun, apa?


Entah para penyihir tidak menyukai dirinya atau ternyata bukan Amabel yang diincar. Gadis itu menatap Arion yang tengah tertidur. Jika, penyihir hitam melakukan sesuatu karena perjanjian dan bayaran, bisa jadi sejak awal mereka bukan mengincar dirinya. Benar, sejak awal tak ada yang tahu soal kedatangan Amabel. Bukan dirinya, tetapi Arion.


Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa? Kenapa mereka menyerang Arion? Amabel mengetuk penanya di atas buku, berkali-kali hingga mendapatkan hipotesa. Gadis itu berhenti mengetuk penanya dan menatap Arion, lagi. Kemenangan Arion di Srela, pasti ada hubungannya dengan itu. Kemenangan dari Pangeran ke Lima akan membawa kepercayaan rakyat dan dukungan untuk maju sebagai Putra Mahkota. Serangan trol yang berjumlah lima kemungkian hanya sebuah serangan ringan. Mereka mungkin hanya ingin menilai kemampuan Arion. Kalau begitu mereka tak tahu jika Amabel ada di tempat kejadian pula.


Soal kepulangannya hanya diketahui oleh papa, Rain, dan Alberto. Hanya mereka bertiga, jika ada orang lain yang tahu Amabel dapat menganggapnya sebagai tersangka. Gadis itu menghela dan mulai menulis kesimpulannya untuk dikirim pada Rain. Di akhir suratnya, ia menambahkan untuk mencari tahu soal trol di bukit Tiagar. Ketika selesai, Amabel langsung merobek halaman buku yang kemudian terbakar dengan api biru.


Semoga Rain membalasnya dengan cepat. Amabel menyandarkan tubuhnya di kursi dan tanpa sadar ia tertidur. Ketika bangun, tangan Arion sudah melingkar di pinggangnya.


Gadis itu dengan cepat berguling, mencoba menjauh dari Arion, dan berakhir terjatuh dari kasur. "Oh? Kamu bersemangat sekali." Ujar Arion sambil mengusap matanya. Suaranya lebih berat dan serak. "Kenapa di lantai? Kamu tidur di lantai?"


Amabel tidak menjawab, malah kembali berguling kemudian duduk. "Olahraga pagi."


Dalam hati ia merutuk, alasan macama apa itu? Arion menaikkan alisnya, bingung. "Ah, kita harus bersiap."


Amabel masih memunggungi Arion dan membentuk O dengan jarinya. "Aku akan menyusul."


Arion masih tak paham dengan kelakuan Amabel. Entah gadis ini terlalu bersemangat atau, yah memang tak ada yang bisa menebaknya. Arion keluar setelah berganti pakaian dan Amabel masih duduk di tempatnya. Tangannya mengacak rambut, frustasi dengan kelakuannya sendiri. Akhir-akhir ini ia tak merasa seperti dirinya sendiri. Dia jadi sering bersikap konyol.


"Ah, memang tak boleh seperti ini." Ujarnya kemudian berdiri. Ia meraih buku di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Dengan satu jentikan jari, pakaiannya sudah berubah. Rambut peraknya disanggul, tak terlalu rapi hingga anak rambutnya masih berjatuhan. Ia keluar setelah mengatur napas.



"Kau mendapatkan sesuatu?" Alnorth bertanya saat Alec masuk. Temannya itu langsung melemparkan buku ke atas mejanya. "Tolong berikan dengan lembut." Dengus Alnorth, ia meraih buku tersebut dan membacanya cepat. "Berapa banyak yang bertemu pedang denganmu?"


Alec menyandarkan tubuhnya pada bangku. "Aku hanya masuk dan melakukan sedikit trik. Ternyata mereka terlalu bodoh. Lalu untuk saksi, dia sudah aman."


Alnorth mengangguk dan menaruh buku tersebut di atas meja kembali. "Sekarang sudah cukup. Menurutmu kapan kita harus menemui Raja?"


Alec menggeleng, ia tak tahu. Sebentar lagi perayaan kepulangan Pangeran akan diadakan. Alec membuang napasnya, kasar. Ia melompat kecil dan berdiri sambil menatap Alnorth. "Sekarang."


Alnorth masih duduk dan menatap Alec bingung, hingga temannya itu menoleh. "Cepatlah Duke Hamilton." Dengan itu ia berdiri dan mengikuti Alec dari belakang, tentu dengan membawa bukti yang mereka perlukan.


Alec selalu cepat dan ini yang kadang membuat Alnorth tak bisa ikuti. Alnorth lebih suka membuat rencana yang matang sebelum masuk ke medan perang, di sisi lain Alec lebih suka langsung terjun, dan menebas siapapun yang menghalangi. Meski berbeda, Alnorth suka kerja sama dengan Alec.


"Kami datang untuk menemui Raja." Ujar Alec pada penjaga. Dua penjaga tersebut saling menatap kemudian mengangguk. Pintu berwarna emas di depan mereka terbuka. Sebuah karpet berwarna merah dipasang hingga menuju singgasana.


Yanha Walcote duduk di bangku kebesarannya sambil membaca beberapa dokumen. Pria itu mendongak, menatap kehadiran Duke Lancaster dan Duke Hamilton. Senyumnya tercipta, "apa yang membawa dua Duke muda ini datang menemuiku?"


Alec dan Alnorth langsung memberi hormat. "Kemakmuran untuk Raja."


Yanha mengangguk dan menaruh dokumen yang dibacanya tadi. "Jadi, katakan maksud kedatangan kalian."


Alec mengangguk dan menatap Alnorth. Keduanya langsung menjelaskan kecurigaan mereka pada Duke Prada, serta memberikan bukti yang mereka temukan. Wajah Yanha menjadi datar dan rautnya terlihat tak suka. "Aku paham. Kalau begitu, buatlah kelompok khusus untuk kasus ini. Kita harus menghukum semua orang yang terlibat, tanpa terkecuali. Rahasiakan dari orang lain."


Yanha menatap Alec, lurus. "Bahkan dari sahabat atau keluarga kalian. Hanya kalian dan kelompok khusus yang boleh mengetahuinya. Aku ingin surat penangkapan Duke Prada secepatnya. Lakukan diam-diam. Aku ingin mereka semua ditangkap sebelum pesta penyambutan."


Alnorth merutuk dalam hati. Pesta penyambutan tinggal tiga hari dan artinya mereka harus kerja keras. "Baik, Yang Mulia." Alec menjawab dengan tegas.


"Kalau begitu, kami pamit." Salam Alnorth dan Alec. Keduanya keluar dari ruangan Raja.


Alnorth langsung mendorong tubuh Alec hingga temannya hampir terjatuh. "Gila! Kita hanya punya tiga hari!"


"Aku bahkan bisa menyelesaikannya besok." Jawah Alec, terlalu santai.


Akhirnya Alnorth menghela napas, menyerah. "Tolong katakan saja rencanamu sebelum kepalaku benar-benar pecah."


"Kita bicarakan di ruanganku." Kata Alec sambil melangkah menuju ruangannya. Alnorth bahkan sudah tidak kaget saat menemukan lima orang di ruangan Alec. Ya, inilah Alec yang dia kenal.


Sementara Raja tengah mengusap dagunya. Ia menyandarkan tubuhnya pada bangku sambil memejamkan mata. Ternyata lebih mudah. Perlahan orang-orang yang ia singkirkan mulai menunjukkan kelakuan kotor mereka. Dengan ini, ia tak perlu mengotori tangannya sendiri.



"Kak!" Panggilan itu datang dari Hendery. "Kak Ryu!"


Ryu menghentikan langkahnya dan menatap Hendery. "Ada apa?"


Hendery malah tersenyum, menampilkan deretan giginya. "Kau sudah dengar belum soal Amabel yang akan kembali?"


Dengan santai Ryu mengangguk. Melihat itu malah membuat Hendery mencebik, "cih, aku lupa kau adalah penyihir. Ah, aku iri dengan kemampuanmu. Oh! Bagaimana kalau kita lihat keadaan Arion?"


Ryu malah tersenyum. Tangannya mengusak puncak kepala Hendery lembut. "Akan lebih baik jika kita menunggu dengan sabar. Lebih baik kau kembali sekarang, para menteri pasti sudah menunggu."


Hendery menghela napas. Semenjak ditunjuk sebagai menteri dia jadi semakin sibuk. "Ah, aku malas sekali. Oh, tapi ada kakaknya Amabel di sana. Dia menjadi salah satu staf kementerian pendidikan."


"Putra Duke Lancaster? Elliott? Kenapa jadi staf?" Tanya Ryu tak paham. Seingatnya, pemuda itu ditunjuk sebagai kepala departemen politik di akademi.


Hendery menaikkan bahunya, "dia menjadi kepala departemen selama beberapa bulan kemudian berhenti dan mengikuti ujian di kementerian. Aku tak tahu alasan pastinya."


Aneh sekali. Namun, Ryu tak tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Ia menepuk bahu Hendery, "rahasiakan soal Amabel akan kembali."


"Hm, baiklah." Balas Hendery. "Kalau begitu aku kembali ke rapat menyebalkan dulu."


Ryu mengangguk dan keduanya berpisah. Ia masih diam sambil menatap air mancur. Amabel dan Arion akan kembali. Ryu merasa bahwa kehidupan tenang di istana akan berubah sebentar lagi.