The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Dua Belas: Tulip Pertama



Kabar mengenai mekarnya tulip pertama menyebar dengan cepat. Mansion keluarga Lancaster begitu sibuk pagi ini untuk mempersiapkan nona muda mereka. Amabel bahkan tak ingat bagaimana ia sudah berdiri di depan cermin untuk memakai gaun. Hari ini gaun berwarna kuning lembut dipilih untuk ia gunakan. Rambut peraknya ditata dengan bunga matahari sebagai hiasan di sisi kanan.


"Rambut nona begitu indah, selalu menyenangkan dapat menata rambut nona." Trian, pelayan yang bertanggung jawab menata rambutnya memuji. "Lembut, tak terlalu tebal, keriting di bagian ujung, dan begitu mudah ditata. Benar-benar cantik."


Amabel tersenyum, "terima kasih, Trian. Aku pasti akan rindu saat kau menata rambutku seperti ini."


Mata Trian langsung berkaca-kaca. "Nona, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan dan keselamatan nona. Saat nona kembali, aku pasti akan menata rambut nona."


Lagi-lagi Amabel tersenyum, "terima kasih Trian."


Trian mengangguk, hatinya benar-benar hangat. Nonanya yang baik hati akan mengikuti pemilihan calon istri Pangeran hari ini. Trian berharap agar nona mudanya selalu mendapat kebahagiaan. Hati nonanya begitu lembut dan sikapnya begitu baik, Trian menyayanginya.


"Nona, saya percaya jika tiap langkah nona akan selalu diiringi dengan cinta. Hati nona yang begitu baik akan membawa cinta pada tiap orang yang nona temui." Trian berujar sambil menatap mata Amabel melalui cermin. "Saya bahagia telah mengenal dan melayani nona. Terima kasih, nona."


Amabel langsung berdiri dan memberikan pelukan pada Trian. "Oh, Trian, aku pun berterima kasih karena kau selalu membuatku tampil begitu cantik setiap harinya. Terima kasih, Trian." Amabel bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Gadis itu memegang tangan Trian, hangat. "Jangan lupakan aku, ya."


"Bagaimana bisa saya melakukan itu." Balas Trian tegas dan Amabel tertawa.


"Amabel," panggilan itu membuat Amabel menoleh dan tersenyum. Mary menghampiri Amabel dan menyentuh pipinya lembut. "Putriku begitu cantik. Bel, mama punya hadiah kecil. Berbaliklah."


Amabel menurut, melakukan yang Mary pinta. Dari cermin ia bisa melihat sebuah kalung berwarna perak dengan bentuk tulip. "Mama harap dengan ini Bel akan selalu mengingat rumah."


Amabel menyentuh bandul kalungnya kemudian berbalik dan memeluk Mary. Perlahan Mary melepaskan pelukannya, ia takut akan menangis lagi. Tangannya memegang bahu Amabel, "Bel, lakukan yang terbaik. Jangan takut untuk bersuara karena jika itu benar, orang-orang tak memiliki hak untuk menyalahkan. Jadilah Amabel yang pemberani dan kuat."


Amabel langsung mengangguk, "baik mama, Amabel akan mengingatnya. Hari ini, aku akan pergi sebagai Amabel Rosemary Lancaster yang pemberani dan kuat. Aku akan pergi sebagai Amabel yang akan menjaga nama baik keluarga. Aku akan membawa kebanggaan untuk Lancaster."


Mary menyentuh ke dua pipi Amabel dan menyatukan kening keduanya. "Amabel tak sendirian. Apapun yang terjadi, mama, papa, Alec, dan Eli akan selalu mendukungmu. Mama akan selalu mendoakan kebahagiaan dan keselamatan untuk Amabel."


Sekali lagi Amabel memeluk Mary erat. Entah berapa lama ia akan berpisah dari ibunya, namun ia sudah merindukannya. "Aku sudah merindukan mama meski aku belum pergi."


Mary tersenyum dan mencium pipi Amabel. "Mama pun, sekarang biarkan mama mengantar Bel."


Amabel mengangguk dan meraih tangan Mary. Keduanya berjalan menuju pintu utama bersama Pita dan Elle yang membawa koper milik Amabel. Di pintu utama, Alec dan Eli sudah menunggu bersama Duke Lancaster. Mary tersenyum dan membiarkan Amabel memeluk kedua kakaknya.


Eli sudah menangis, "Bel, aku akan merindukanmu. Jangan lupa makan dan hajar orang yang menggangumu."


"Bel, di istana jangan mempercayai siapapun. Apapun yang kau dengar dan lihat, biarkan itu berada di istana. Ini hadiah dariku dan Eli." Alec mengeluarkan kotak berwarna merah muda. "Buka saat kau tiba nanti."


Sekali lagi Amabel mengangguk. Duke Lancaster tersenyum, "hari ini papa akan mengantar Bel."


Amabel tersenyum kemudian memeluk Alec dan Eli sekaligus. "Aku akan sering mengirim surat. Kalian harus jaga diri."


Alec mengusap puncak kepala Amabel lembut. "Jangan khawatir. Sekarang pergilah, kamu bisa terlambat nanti."


Amabel menghampiri Mary dan memeluk ibunya untuk yang terakhir. Gadis itu kemudian menghampiri Elle dan Pita. "Aku akan merindukan kalian. Aku juga akan mengirim surat pada kalian nanti. Kalian harus saling menjaga saat aku pergi."


Elle dan Pita mengangguk, seperti tadi Amabel memeluk keduanya sekaligus. Setelah itu ia berlari menuju kereta kuda, diikuti Duke Lancaster. Kereta kuda mulai berjalan meninggalkan kediaman Lancaster. Amabel mengeluarkan kepalanya di jendela, "jangan khawatir! Aku pasti akan kembali!"


"Hati-hati, Bel!" Teriak Eli yang berlari di belakang kereta kuda.


Ketika kereta sudah berada di luar kediaman keluarganya, Duke Lancaster berdeham. "Bel, kau benar-benar tak masalah dengan ini semua?"


Amabel tersenyum, ia tahu kekhawatiran papanya. "Awalnya Bel membenci ini semua, sampai sekarang pun masih tak menerimanya. Akan tetapi, Bel sadar bahwa Bel tak bisa menghindari ini. Ini takdir yang tak bisa Bel hindari, papa. Mungkin kedepannya akan lebih sulit, tetapi Bel tak akan kehilangan apapun. Bel akan tetap menjadi putri dari papa dan mama. Bel akan tetap menjadi adik dari Alec dan Eli. Tak akan ada yang berubah. Dan itu cukup untuk Bel."


Sebagai seorang ayah, Duke Lancaster begitu bangga dengan pemikiran anaknya. Lelaki itu mengulurkan tangannya dan memeluk Amabel erat. "Bel, kalau suatu saat rasanya terlalu sulit untuk Bel tanggung, bahkan meski papa harus menjadi pengkhianat papa akan mengeluarkan Bel dari sana."


Amabel langsung menggeleng cepat, "papa tak boleh berpikir begitu! Kalau ada sesuatu yang menyulitkan, aku akan bilang pada papa. Kalau aku sudah tak sanggup, aku akan mencari cara untuk menyelesaikannya. Papa jangan khawatir, lagipula kita bisa sering bertemu bukan?"


Duke Lancaster mengangguk, jika di istana ia akan dengan mudah bertemu dengan Amabel. "Bel, berhati-hatilah."


Amabel mengangguk, tegas. "Aku akan berhati-hati, papa. Jangan khawatir."


Karena Amabel tak ingin membuat orang lain khawatir lagi. Ia akan berdiri sebagai Amabel Rosemary Lancaster. Ia akan mengikuti segala birokrasi dan ujian yang ada dengan baik, sebagai seorang Lancaster.


Amabel akan memulai segalanya dengan sempurna dan mengakhirinya segalanya dengan damai. Ia hanya butuh seorang Pangeran yang dapat diajak bekerja sama dengan baik.