
"Kakak!" Teriakan Noah membuat perhatian empat Pangeran terpusat padanya. Noah sudah memeluk erat Arion Saverio. "Ah! Kakak kembali dengan utuh!"
Arion langsung mengusak rambut Noah, "ya, aku kembali. Senang mendapat sambutan seperti ini darimu."
Setelah itu Alterio melebarkan tangannya dengan senyum lebar. Namun, Arion malah memeluk Kenan dan Ryu terlebih dahulu. Bahkan ketika melewati Alterio, ia sengaja menuju Hendery terlebih dahulu. Alterio menatapnya sedih, sementara saudaranya tertawa. "Ah, adikku, Arion! Syukurlah kau kembali."
Ryu datang dengan kekuatan sihirnya dan langsung memeluk Arion. Terlepas dari bangku kekuasaan yang harus mereka rebut, mereka adalah saudara yang tumbuh bersama. "Kenapa lama sekali menyelesaikan misi ini?" Rengut Noah yang masih memeluk Arion. Noah memang paling manja. Hobinya memeluk dan bersandar pada kakaknya, kecuali Ian. Noah akan langsung ditendang jika berani memeluk Ian.
"Para pemberontak itu memiliki rencana yang cukup matang. Aku harus mengamati mereka terlebih dahulu sebelum menyerang. Terlebih mereka menguasai daerah tersebut dengan baik." Arion berbicara dengan nada lelah. Tangannya bermain di rambut Noah. "Lalu, ada yang aneh. Ketika kami menyerang para pemberontak, mereka ternyata menggunakan sebuah pelindung. Seperti sihir namun berwarna hitam. Kau tahu apa itu, kak?" Pandangan Arion tertuju pada Ryu yang langsung berpikir.
"Kemungkinan mereka pengguna sihir hitam. Arion, aku rasa setelah ini kau harus ikut denganku." Ryu berbicara dengan tegas. "Perubahan pada fisikmu ini perlu kita cari tahu alasannya."
Arion mengusak rambutnya yang kini berwarna hitam. "Aku suka yang seperti ini."
Ryu menghela, "kita harus tahu penyebabnya sehingga kita dapat melihat akibatnya nanti."
Arion mengangkat tangannya, menyerah. "Baiklah. Kita pergi setelah ini."
Ryu mengangguk, kemudian berdiri. "Sekarang."
Arion langsung melongo. "Ah, kakak!"
Ryu tak mendengarkan dan menarik Arion, kemudian mereka menghilang. Alterio menghela napasnya, "aku belum dipeluk."
Arion sampai di menara sihir. Ryu langsung menyuruh Arion duduk di bangku kristal. "Kakak apa kau percaya reinkarnasi?"
Ryu menaikkan satu alisnya, "aku belum pernah melihatnya langsung. Jadi, aku belum percaya."
Arion diam dan membiarkan Ryu menyebarkan kekuatannya dalam tubuh Arion. Setelah selesai, Ryu menarik tangannya dan mengeluarkan api berwarna putih. "Kau melawan para pemberontak dengan sihir hitam. Ketika kau membunuh mereka, kekuatannya terserah sedikit demi sedikit. Kemudian terserap. Orang biasa tentu tak akan dapat menahannya, akan tetapi keluarga kita memiliki gen yang berbeda. Pada akhirnya kekuatan itu terkurung dalam dirimu. Aku sudah mengeluarkannya, tetapi rambut dan matamu tak dapat kembali. Itu sebagai tanda bahwa kau sudah membunuh pengguna sihir hitam."
"Mata merahmu sebagai tanda banyaknya nyawa yang telah kau habisi. Hitamnya rambutmu sebagai tanda jiwamu yang hitam." Jelas Ryu kemudian memberikan secangkir air pada Arion. "Untunglah itu bukan karena kutukan."
Arion menatap gelas di tangannya kemudian mengangguk. "Ya, untunglah bukan kutukan. Terima kasih, kak."
Mendengar itu membuat Ryu mengusak rambut Arion. "Kau sudah bertemu dengan Permaisuri Jovanka?"
Arion menggeleng, "belum."
Ryu menghela napas, "temuilah dulu. Kau tahu beberapa waktu lalu Permaisuri sakit karena mengkhawatirkan dirimu."
"Aku tahu." Jawab Arion pelan. Ryu hanya dapat menepuk pundak Arion, "kau adalah kebanggaannya. Jangan ragukan itu."
"Hanya, melihatku pasti akan membuatnya menangis lagi. Terlebih karena mata dan rambut ini." Jelas Arion. Ia masih menggenggam gelasnya erat.
"Aku bisa mengembalikan rambut dan matamu, tetapi kau tahu itu tak akan mengubah apapun bukan?" Ryu membuka portal untuk Arion. "Jadi, pergi dan jadi seorang anak yang baik."
"Hm, sampai jumpa Theo."
Ketika Arion menoleh, ia sudah sampai di depan kamar ibunya. Ryu tahu soal kejadian Theo. Hah, memalukan.
Ia menghela napas, kemudian membiarkan pelayan memberi kabar pada ibunya. Tak berapa lama pintu terbuka dan tubuhnya langsung dipeluk erat. "Arion. Arion. Arionku!" Serunya di tengah isak tangis.
Arion langsung membalas pelukan ibunya. "Aku kembali, ibu. Utuh dan selamat."
Permaisuri Jovanka mengangguk dan kembali memeluk Arion. "Kali ini ibu tak mau melepaskanmu lagi. Kau harus tinggal."
"Aku akan berusaha." Balas Arion sambil tersenyum.
Arion memasuki ruang tahta kerjasama, memberi hormat pada raja. "Maaf karena saya datang begitu terlambat. Yang Mulia, saya kembali dengan kemenangan dan kebanggaan pasukan Yerkink."
Raja mengangguk dan turun dari bangku kebesarannya. "Aku sudah mendengar berita kemenanganmu. Kau, putraku tak pernah membuatku kecewa." Tangannya menepuk pundak Arion. "Persiapkan pesta untuk kepulangan anakku dan untuk menyambut para putri bangsawan!"
Titah Raja langsung dilaksanakan oleh para pelayan. Ia kemudian menepuk pundak Arion, "hari ini aku menjadi orang yang paling bahagia. Duke, bukankah putraku benar-benar luar biasa?"
Duke Lancaster langsung mengangguk, "tentu Yang Mulia."
Duke Hamilton langsung melirik pada Raja dan Duke Lancaster. Ah, rencana Raja sungguh terlihat. Untung saja Duke Prada sedang sibuk. "Selamat datang kembali Pangeran." Sambut Duke Hamilton.
Arion mengangguk, "kalau begitu saya permisi."
Raja mengangguk. Setelah Arion keluar, ia kembali duduk di bangkunya. "Akan bagus jika Arion putraku bisa bersama dengan Amabel putrimu. Bukan begitu Duke?"
Duke Lancaster hanya dapat terdiam. "Jika takdir mereka memang bersama, tentu akan bagus."
Raja tersenyum, "mari lanjutkan pembicaraan mengenai serangan kerajaan Srela."
Arion tengah berjalan mengitari taman ketika ia menemukan si gadis dengan jubah ungu. Gadis bernama Amabel, putri dari Duke Lancaster. Pertemuan yang aneh dan Arion tak tahu kenapa ia mengaku sebagai Theo, Raja terdahulu.
Ada perasaan yang hangat ketika ia bersama Amabel. Arion merasa senang dan rasa untuk melindungi Amabel begitu kuat. Ia suka ketika mata bulan Amabel menatap padanya. Ya, mata Amabel seperti warna bulan. Cantik dan begitu mempesona.
Ketika keduanya akhirnya berpisah, perasaan kosong itu kembali muncul. Rambut peraknya mengingatkan Arion pada seseorang yang tak ia ingat. Begitu aneh karena Arion merasa begitu mengenal Amabel. Seakan mereka pernah bertemu.
Suara di kepala Arion terus berteriak untuk memiliki Amabel, seakan di masa lalu ia pernah hampir memiliki Amabel. Akhir-akhir ini Arion sering mendengar suara di kepalanya. Dan sering kali ia abaikan tetapi, untuk Amabel ia tak ingin mengabaikannya. Ah, Arion jadi tak sabar bertemu dengannya lagi. Bagaimana ekspresi wajahnya nanti ya? Arion menahan tawanya, pasti menyenangkan.