The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Dua Puluh Dua: Akhir



Katakan jika Amabel sensitif dengan perkataan Arion tadi. Namun, sungguh mendengar Arion berkata dengan mudahnya soal pernikahan membuatnya sedih. Mungkin itu hak Arion, akan tetapi Arion tak berpikir bagaimana pendapat Amabel. Ia bahkan tak bertanya apa Amabel benar-benar menginginkan pernikahan ini atau tidak. Sejak awal tak ada yang bertanya soal itu pada Amabel.


Mata kelabunya menatap langit. Bulan bersinar terang dan bintang menemaninya. "Bukankah ini malam yang terlalu indah untuk bersedih?" Pertanyaan itu membuat Amabel menoleh.


Gadis itu baru menarik ujung gaunnya, namun langsung dihentikan. "Tak perlu memberi hormat. Kita di posisi yang sama untuk menghindari pesta. Jadi, biar seperti ini saja." Jelas Pangeran Hendery.


Keduanya kemudian terdiam, sibuk menatap ke depan. Dada Amabel masih terasa sesak, namun rasanya canggung untuk memperlihatkan kesedihannya di depan Pangeran. Hendery melirik, menangkap kecemasan di wajah Amabel. "Apa yang kau jawab saat ujian pertama?"


"Ya?" Balas Amabel, tak mendengar pertanyaan Hendery dengan jelas.


Hendery menoleh, menatap Amabel dengan datar. "Esai ujian pertama. Kau jawab apa? Secara spesifik aku ingin kau menjelaskan jawaban nomor satu."


Amabel tersenyum kecil, baru kali ini ada yang bertanya soal ujian. "Saya menjawab pendidikan."


"Kenapa demikian?" Hendery tentu tertarik dengan hal ini. Dalam pemerintahan dan peraturan kerajaan Hendery sangat aktif. Ia butuh mendengar pendapat seseorang seperti Amabel. Sangat disayangkan karena lembar jawaban hanya akan dikeluarkan ketika orang berwenang memintanya. Padahal menurut Hendery, jawaban tersebut wajib diperlihatkan pada publik. Sehingga nantinya publik tahu seberapa pantas seorang permaisuri menjadi Ratu.


Amabel melipat tangannya di atas sandaran balkon. "Jika kita melihat pusat kerajaan tentu itu bukan masalah besar. Di Plodnavor secara khusus Duke Lancaster telah mewajibkan pendidikan bahkan bagi rakyat biasa. Akan tetapi, di luar itu masih banyak anak yang buta huruf. Saya rasa, sebagai salah satu kerajaan besar kita perlu mengatasinya. Dasar pendidikan bagi rakyat adalah sesuatu yang wajib dibenahi. Kita tak kekurangan sumber daya, baik materi ataupun manusia. Lalu, apa yang menahan pemerataan pendidikan? Apakah sebatas ketakutan terebutnya gelar bangsawan, ataukah kita memang belum siap menciptakan peluang tersebut?"


Amabel menghela napas, kemudian melanjutkan. "Sama seperti hak hidup, pendidikan pun adalah sesuatu yang wajib dimiliki. Setidaknya ketika dewasa mereka tak akan mudah dibohongi oleh orang-orang yang sok berkuasa. Dengan pendidikan mereka bisa memilih pekerjaan, bukan hanya menjadi pekerja kasar. Tentu bukan berarti pekerja kasar adalah pekerjaan yang buruk. Akan tetapi, betapa menyedihkannya ketika negeri yang kaya ini bahkan tak mampu memberikan pendidikan dasar kepada rakyatnya."


Hendery menatap lurus ke depan. Amabel mungkin tak menatapnya saat ini, namun Hendery merasa ditusuk dengan pedang. Kata-kata Amabel tak dapat disangkal. Sebagai seorang Pangeran, Hendery merasa malu. Ia selalu merasa untuk memperbaiki kesenjangan, akan tetapi tak pernah benar-benar memikirkan rakyat.


"Kau tahu, tiba-tiba aku merasa malu." Kata Hendery akhirnya.


Amabel menoleh, menatap Hendery tak paham. "Saya tak paham, Pangeran."


Hendery menoleh, "Kau begitu memikirkan rakyat sementara aku hanya memikirkan bagaimana menyelesaikan kesenjangan."


Amabel tersenyum kemudian menggeleng kecil. "Pangeran, saya mungkin terlihat demikian. Akan tetapi, saya yakin anda lebih memikirkan rakyat melebihi saya. Jika Pangeran memang ingin menyelesaikan kesenjangan, bisakah pangeran menghilangkan hierarki kebangsawanan ini?"


Keduanya saling berhadapan dengan jarak lima langkah. Diamnya Hendery dianggap Amabel sebagai jawaban. "Jika memang tidak, lupakan ucapan saya sebelumnya. Saya yakin anda akan melakukan hal besar untuk rakyat nantinya. Saya harap, Pangeran akan lebih memperhatikan sebab-akibat pada sebuah aturan. Jangan sampai menyusahkan rakyat dan menutup mata akan penderitaan mereka."


Mendengar itu Hendery tak dapat menahan senyumnya. "Kenapa perempuan hebat sepertimu ada di sini? Kau harusnya pergi dari istana dan sekolah untuk menjadi perdana menteri."


Keinginan Hendery akhirnya ia keluarkan. "Hei, jika kau gagal dalam ujian ini, maukah kau menjadi tangan kananku dalam mengambil keputusan?"


Tawaran Hendery begitu menggiurkan. Akan tetapi, hanya tinggal satu ujian lagi untuk menentukan tujuh calon yang lolos. Hendery masih tersenyum, "kau tahu, rasanya benar-benar sayang jika kau berakhir sebagai seorang permaisuri. Aku tak pernah membual soal kemampuan seseorang dan aku benar-benar ingin kau masuk ke dalam pemerintahan. Pemikiranmu benar-benar diperlukan untuk kemajuan kerajaan ini. Betul-betul sangat disayangkan jika kau berakhir sebagai permaisuri."


Amabel tak menjawab. Gadis itu malah sibuk menatap ujung sepatunya. "Seorang putri tak pernah dapat memilih, Pangeran. Entah itu untuk mengikuti pemilihan calon istri Pangeran, atau untuk menikah dengan orang lain. Mereka tak pernah punya pilihan saat seorang pria bermartabat datang mengetuk pintu. Atau ketika seseorang mengatakan untuk menikah dengannya."


Perkataan Amabel lagi-lagi menohok Hendery secara telak. Rasa bersalah itu muncul dan bertahan di kerongkongan. Ia tak bisa meminta maaf karena Amabel pamit untuk pergi. Hendery tak tahu jika ada seorang gadis yang tak menyukai pemilihan ini. Ia kira Amabel masuk ke dalam istana sesuai dengan keinginannya. Nyatanya, ia salah.


Malam itu harusnya berakhir dengan tawa bersama keluarganya, tetapi tidak. Saat Amabel kembali ke dalam ruangan keluarganya sudah pulang. Ia bahkan tak sempat berpamitan.


Melihat Amabel yang berdiri di sisi meja minuman, Raja akhirnya menghampiri. "Aku benar-benar meminta maaf."


Amabel segera memberi hormat. "Yang Mulia tak perlu meminta maaf. Keluarga saya memiliki sesuatu yang harus diselesaikan dan itu bukan salah Yang Mulia Raja."


"Betapa besar hatimu." Ujar Raja.


"Saya belajar banyak dari ayah saya. Tentu hati yang besar juga didapat dari kebaikan hati Yang Mulia Raja." Balas Amabel sambil membungkuk kecil.


Yang Mulia Raja menatap Amabel yang menunduk. Sebuah sikap yang memang harus dilakukan ketika berhadapan dengan Raja. "Aku dengar kau bertanding dengan Pangeran ke Dua."


Raja Yanha mengangguk, "kau merasa puas dengan kemenangan itu?"


"Seorang ksatria tak pernah merasa puas dengan satu kemenangan." Jawaban Amabel membuat sudut bibir Raja Yanha naik.


"Harusnya kau merasa puas." Balasan itu terdengar begitu menyakitkan.


Dengan kata lain Raja mengatakan bahwa Amabel bukanlah seorang ksatria. Genggaman tangannya pada gaun menguat. Kenapa malam ini ia harus dipermalukan seperti ini? Hanya karena ia ada di sini sebagai seorang calon permaisuri. Betapa rendahnya ia di mata orang lain. Betapa bencinya ia diperlakukan seperti ini.


Sekalipun Amabel tak pernah memandang rendah orang lain. Tak pernah ia merasa kecil, meskipun dikelilingi orang-orang hebat. Akan tetapi, hari ini, seorang raja mempermalukan dirinya. Betapa hancurnya hati Amabel malam ini.


"Yang Mulia," panggil Amabel masih dengan menggenggam gaunnya erat. "Sebagai seorang rakyat bolehkah saya meminta satu permintaan pada anda?"


Raja Yanha mengangkat satu alisnya, kemudian mengangguk. "Katakanlah, putri dari Duke Lancaster."


Amabel menahan suaranya agar tak bergerat. "Sebagai seorang Raja, saya harap Yang Mulia Raja akan berhenti memotong sayap orang lain. Entah dalam perbuatan maupun perkataan."


"Kau pikir perkataanku menyakitimu? Meskipun itu kenyataan?" Balas Yang Mulia Raja. Suaranya dingin.


Namun, Amabel pun terlalu marah untuk peduli. "Sebuah kenyataan yang dipaksakan akan menyakiti orang lain. Betapa baiknya jika anda dapat memandang orang lain dengan kasih sayang yang sama ketika anda memandang putra anda."


"Bagaimana b-"


"Jika anda tak bisa melakukannya artinya anda tak pantas menjadi raja." Selesai Amabel mengatakan hal itu, pada ksatria yang berjaga langsung mengarahkan pedang ke lehernya.


Pergerakan itu memicu perhatian orang-orang yang hadir. Desas-desus bermunculan. Dari tempatnya, Ian hanya memperhatikan. "Kau tahu jika itu ucapan seorang pengkhianat?" Balas Raja, lebih dingin dan mengerikan dibanding sebelumnya.


Amabel kali ini mendongak, menatap langsung ke mata Raja. Entah kenapa tatapan itu membuat kaki Yanha mengambil satu langkah mundur. "Jika anda bahkan tak dapat menerima masukan, lantas semuanya dikatakan sebagai pengkhianatan? Hukum macam apa itu?"


Duke Hamilton maju, meminta para ksatria menurunkan pedangnya. "Yang Mulia, tolong maafkan Amabel. Dia-"


"Duke Hamilton, dengan segala hormat. Apapun yang aku lakukan akan aku pertanggungjawabkan." Potong Amabel. Mari selesaikan masalah ini sekarang. "Bagaimana bisa seorang Raja begitu egois dengan perkataan dan tindakannya? Anda dengan seenaknya menghancurkan mimpi seorang anak, berkali-kali. Peraturan kerajaan apanya yang hanya memberikan penderitaan bagi rakyatnya?"


Raja Yanha menatap Amabel, kemudian paham arah pembicaraan ini. "Ah, jadi kau berbicara tentang calon permaisuri. Harusnya kau tak berusaha keras kalau begitu."


Mendengar itu Amabel tertawa, "bisa-bisanya anda berkata demikian setelah dengan sengaja menggunakan kertas sihir sebagai lembar jawaban. Anda sengaja memilih kertas sihir tahu siapa yang tak serius menjawabnya, bukan?" Amabel berdiri, begitu tegak dan tatapannya menghunus mata Yanha. "Sejak awal, entah kenapa anda menginginkan saya sebagai calon permaisuri."


Bom terakhir dijatuhkan. "Saya bukan Lalisa Celine. Jadi, berhenti memanfaatkan diri saya untuk kelangsungan kerajaan ini!"


Amabel tahu jika air matanya sudah mengalir. Rantai roda sialan! Berhenti mengikat lehernya semenyakitkan ini. Lepaskan rantai ini dan biarkan ia bebas.


"Akan bijak jika anda memikirkan ucapannya." Yang Mulia Ratu mendekat. Ia memberikan tanda agar para ksatria melepaskan Amabel. "Duke Hamilton, anda bisa mengantar Lady Lancaster ke kamarnya. Yang Mulia, mari kita bicarakan di dalam ruangan."


Adena Ivanov menyentuh tangan Yanha dan menuntunnya ke dalam istana. Arion yang telah mendengar segala percakapan itu kini paham kenapa Amabel pergi. Dadanya terasa sakit. Jika ada satu hal yang bisa ia lakukan untuk Amabel, ia akan melakukannya. Apapun itu, seberapa mahalnya itu.



End of Season 1