The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Sebelas: Tujuh Pangeran



Setelah tenang, Alec membawa Amabel menuju ruang bacanya. Eli memberikan secangkir cokelat hangat pada Amabel, "Bel, aku menyayangimu."


Amabel langsung tersenyum, "aku juga, Eli."


Di ruangan tersebut hanya ada tiga Lancaster bersaudara. Alec menghampiri dengan sebuah buku keluarga kerajaan. "Kau akan masuk istana, jadi kurasa akan bagus kalau kau mengetahui keluarga kerajaan."


Eli mengangguk, setuju. Tangannya sejak tadi sibuk mengambil kue kering. "Sini, biar aku pegang." Ujarnya sambil mengambil gelas milik Amabel.


Alec langsung menaruh buku tersebut di atas meja. "Dia adalah Yanha Walcote, raja kita saat ini. Yang Mulia Raja adalah keturunan asli dari Theo Walcote. Dikatakan demikian karena saudaranya yang lain adalah berasal dari kepala keluarga yang berbeda. Theo Walcote hanya meninggalkan seorang putra, Ardean Walcote, kakek buyut dari Yang Mulia Raja."


Kepala Amabel langsung terasa sakit. "Astaga, tunggu sebentar. Kepalaku pusing sekali. Pohon keluarga kerajaan sangat sulit."


Eli tertawa mendengar keluhan Amabel. "Tunggu sampai kau mengetahui tentang Tujuh Pangeran."


Amabel menggeram, kesal. Akan tetapi, Alec tetap melanjutkan. "Yang Mulia Raja memiliki tiga orang istri. Pertama Adena Ivanov, Yang Mulia Ratu adalah seorang putri dari kerajaan Vellian. Kedua Freya Prada, saudara perempuan dari Duke Prada. Ketiga Jovanka Clark, seorang gadis biasa."


"Hoh? Seorang permaisuri yang berasal dari orang biasa? Keren sekali." Amabel berujar dengan takjub. Ia tak pernah mengetahui soal ini. "Pasti permaisuri sangat cantik, ya?"


Eli mengangguk, "sangat! Kecantikannya luar biasa. Kalau aku juga pasti akan jatuh cinta."


"Permaisuri Jovanka bukan hanya cantik, tetapi juga cerdas. Ia yang membuat peraturan untuk pajak bagi bangsawan dan membuat perairan di Plodnavor." Alec menjelaskan, "mungkin jika bukan karena status keluarganya, ia bisa menjadi Ratu."


Alec langsung menoleh dan menaruh jarinya di bibir. "Itu rahasia."


Amabel tertawa melihatnya. "Lalu, siapa Tujuh Pangeran itu?"


Eli langsung tersenyum jail ke arah Amabel. "Oho, Bel penasaran dengan calon suaminya ya?"


Amabel langsung mendorong Eli, hingga kakanya itu terjatuh. "Bel!"


Amabel tak peduli, malah memeletkan lidahnya pada Eli. "Jangan membuatku kesal makanya! Ayo, kakak lanjutkan ceritamu."


"Dari permaisuri Freya, lahir tiga Pangeran. Pangeran ke dua Ian Ravindra, pangeran ke empat Ryu Dominic, dan pangeran ke tujuh Noah Frank." Alec kini berdiri, mengambil sebuah buku lain dari mejanya. "Kemudian dari permaisuri Jovanka lahir pangeran ke tiga, ke lima dan ke enam. Pangeran ke tiga bernama Alterio Evano, pangeran ke lima Arion Saveri dan pangeran ke enam Hendery Damian."


Oh! Pangeran ke tiga si rambut merah itu. Jadi, namanya Alterio. Lalu, kemungkinan yang disebut sebagai kakak adalah pangeran ke dua. "Apa boleh aku tahu umur mereka? Juga gambaran sedikit tentang Tujuh Pangeran."


Alec memberikan buku tipis kepada Amabel. Ketika dibuka, Amabel langsung melihat potret lukisan pangeran pertama. "Itu buku yang diberikan saat tahun baru. Pangeran pertama berumur 17 tahun."


"Pangeran ke dua dan ke tiga berumur 15 tahun. Mereka berdua entah bagaimana bisa berteman dengan Alec." Eli berkata dengan nada menyindir. "Kau tahu Bel, mereka bertiga disebut apa?"


Amabel menatap ke arah Eli penuh rasa ingin tahu. "Pria tampan tanpa ekspresi."


Mendengar sebutan itu membuat Amabel tak dapat menahan tawanya. "Aku bisa paham mengapa Alec kita mendapatkan sebutan itu. Itulah kenapa aku selalu meminta kakak untuk tersenyum."


Alec tak mengindahkan protes dari Amabel. Ia kembali melanjutkan. "Pangeran ke empat berusia 14 tahun, pangeran ke lima berusia 12, pangeran ke enam berusia 11, dan pangeran ke tujuh berusia 9."


Tangan Amabel berhenti bergerak saat melihat lukisan pangeran ke enam. Rambutnya berwarna emas yang cantik, tidak mencolok dan terlihat lembut. Matanya berwarna biru, bukan seperti mata Eli, tetapi biru jernih seperti pantai. Cantik sekali.


"Oh, aku penasaran apa pangeran ke lima sudah kembali?" Perkataan Eli membuat Amabel menoleh, penasaran. "Sepanjang musim dingin lalu, Pangeran ke lima pergi ke daerah perbatasan untuk memberantas para pengkhianat."


Mata Amabel membulat, "diumur semuda itu? Dia menjadi pimpinan pasukan?"


Eli tertawa melihat ekspresi Amabel yang berlebihan. "Bel, kemampuan perang Pangeran ke lima itu luar biasa. Bahkan saat usianya 10 ia telah berhasil membawa kemenangan ketika Yerkink diserang oleh kerajaan Srela."


"Woah," hanya itu yang terucap dari mulut Amabel. "Para Pangeran itu luar biasa ya?"


Sudut bibir Alec terangkat, "mereka harus menjadi luar biasa, bagaimana pun mereka pangeran. Ketika kau berada di istana Bel, menjadi luar biasa itu diperlukan." Alec menoleh, mencuit ujung hidung Amabel dengan senyuman. "Dengan begitu kau bisa bertahan."