The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Dua Puluh Enam: Sampai Jumpa



Hari ini Amabel akan kembali ke rumahnya. Seluruh putri bangsawan akan kembali untuk mempersiapkan diri sebelum pesta pertunangan. Kamar yang Amabel tinggali sudah rapi, seperti saat pertama kali ia datang. Sambil memeluk kotak musik dari kakaknya, Amabel tersenyum pada Kier. "Jaga dirimu, Kier. Kita akan bertemu lagi di waktu yang tepat."


Kier mengangguk kemudian memberikan salam penghormatan. "Akan saya ingat. Tuan putri, jaga diri anda dan saya berdoa agar anda selalu sehat."


"Terima kasih. Sampai jumpa." Pamit Amabel sambil menaiki kereta kudanya.


Setelah kejadian pesta itu, tak ada yang membicarakan soal sikap impulsif Amabel. Mungkin mereka menggunakan sihir, bahkan Kier tak mengingat kenapa ia menangis di hari sebelumnya. Akan sangat bagus jika mereka bisa melakukan sihir pada ingatannya juga. Terutama pada rasa sakit yang menyiksa ini.


Tatapan mengarah pada luar jendelanya. Mereka mulai memasuki pusat kota. Jalan ini tiba-tiba mengingatkan Amabel pada Arion. Apa yang sedang dilakukannya? Amabel tak tahu. Ia belum bertemu Arion lagi. Bahkan jika melihatnya di istana, Arion akan langsung membuang wajahnya. Seakan lelaki itu tengah tak ingin melihatnya. Dan rasanya menyedihkan.


Kereta kuda mulai memasuki kediaman keluarga Lancaster. Amabel menepuk kedua pipinya, mencegah terlihat sedih. Ia menarik napas dan mengeluarkannya. Tak boleh ada yang tahu soal kesedihannya. Amabel sudah memasang sebuah senyuman lebar ketika pintu kereta kuda terbuka.


"Aku pulang!" Teriaknya riang. Dan syukurlah semua orang berpikir demikian.



"Arion! Bagaimana bisa kau pergi sebelum pesta pertunangan di mulai?" Suara Raja menggema di ruangannya. Di hadapannya Arion tengah berlutut dengan menjadikan pedang sebagai tumpuan.


Arion masih menunduk, "bagaimana bisa aku menunggu pesta pertunangan jika di luar sana musuh sudah menajamkan pedang? Kita tak bisa mengorbankan rakyat di daerah perbatasan."


Raja mengeratkan giginya, ia begitu marah dan frustasi. "Dan kau mengabaikan kehormatan keluarga Lancaster? Kau mengabaikan tunanganmu?"


"Sebelum saya datang ke sini, saya telah mengatakan segalanya pada Amabel. Jangan khawatir, ia mengerti dengan baik." Jawab Arion dengan nada datar.


Duke Lancaster akhirnya mengeluarkan pendapatnya. "Yang Mulia, jika anda mengizinkan boleh saya memberi pendapat?"


Raja menoleh, kemudian mengangguk. Duke Lancaster memberi hormat kecil sebelum menjawab, "jika anda mengkhawatirkan kehormatan keluarga kami, saya tentu sangat bersyukur. Akan tetapi, tak perlu khawatir karena putriku akan baik-baik saja. Jika takdir telah mengikat tangan keduanya, tak akan ada yang memisahkan keduanya."


Ucapan Duke Lancaster menohok dada Arion. Takdir saat ini mungkin tengah melakukan pesta karena berhasil mempermainkan dirinya. Raja menghela napas, "aku tak bisa menahan kepergianmu lagi. Akan tetapi, sebelum pergi datanglah ke kediaman Lancaster. Ikat takdir kalian di sana."


Arion mendongak ketika mendengar perkataan Raja, kemudian ia menoleh pada Duke Lancaster yang mengangguk. "Ini perintah atau tarik pasukanmu untuk mundur."


Ario menghela napas, ia mengangguk kemudian memberi hormat. "Perintah Yang Mulia akan saya laksanakan dengan baik. Kalau begitu, saya permisi."


Arion melangkahkan kakinya keluar dari aula Raja dan menemui pasukannya. "Aku akak pergi ke kediaman Lancaster terlebih dahulu, kalian bisa menunggu di luar gerbang Plodnavor."


"Ya!" Sahut prajut itu dan mereka berpisah. Arion harus melakukannya dengan cepat karena semakin lama, ia dapat berubah pikiran.


Tak butuh waktu lama untuk Arion tiba di mansion keluarga Lancaster. "Hormat kami Pangeran. Apa yang membawa anda mampir ke sini?" Seorang butler bertanya padanya.


Arion turun dari kudanya, tatap matanya begitu dingin. "Katakan pada nona muda bahwa tunangannya menunggu di sini. Aku tak memiliki banyak waktu."


"Pangeran ke lima menunggu nona di depan. Ia tak memiliki banyak waktu karena akan segera pergi." Ujarnya dengan napas terengah.


Amabel mendengar hal itu dan langsung berdiri. Ia meraih sebuah kotak kecil sebelum keluar. Gaun berwarna merah muda melekat di tubuh Amabel. Rambutnya terurai dan langkahnya terburu menuju pintu. Ia menarik napas sebelum membuka pintu. Dari tempatnya ia dapat melihat punggung Arion. Hari ini ia memakai baju baja.


Perlahan, Amabel mendekat dan memberi salam. "Keselamatan untuk Pangeran."


Mendengar itu Arion menoleh. Ia menatap Amabel yang terlihat cantik dengan gaun merah mudanya. "Aku ke sini atas perintah Raja."


Amabel merasa napasnya tercekat ketika mendengar itu. Ia mengangguk, mengabaikan rasa sesak itu. "Anda tak perlu repot-repot, saya bisa datang jika diperintahkan."


Arion tak tahu jika formalitas akan memberikan jarak sebesar ini pada mereka. Tinggi Amabel saat ini sudah sedagunya, ketika mereka bertemu berapa banyak perubahan yang ada dalam dirinya?


"Apa ada hal lain yang ingin anda sampaikan?" Tanya Amabel.


Apa sekarang Arion tak memiliki hak untuk menemui Amabel?


"Ulurkan tanganmu." Titahnya dan Amabel melakukannya.


Tak lama Arion mengeluarkan cincin perak dengan batu berwarna merah di tengahnya. "Kita tak bisa melakukannya di pesta pertunangan kerajaan, jadi aku harap kau mengerti."


Amabel mengangguk, ia kemudian meraih cincin di kotak dan memakaikannya di jari Arion. Warna merah di batu tersebut terlihat bagai benang merah yang mengikat jari keduanya. Amabel mendongak dan ia tenggelam dalam mata Arion. Apa yang sedang Arion pikirkan? Kenapa terlihat begitu kosong?


Ia menunduk setelahnya kemudian megulurkan kotak yang sedari tadi dibawanya. "Aku membuat gelang ini dan berdoa agar Pangeran diberi keselamatan."


Arion mengangguk dan menerimanya. "Kalau begitu, aku pergi."


"Ya. Saya akan selalu berdoa untuk keselamatan Pangeran." Amabel menunduk, memberi hormat pada Arion yang kini duduk di atas kudanya. "Kembalilah dengan selamat dan utuh."


Arion tak mengatakan apapun, hanya menatap wajah Amabel dan mencoba mengingat tiap detail di wajahnya. Entah berapa musim akan terlewati untuk mereka kembali bertemu. Entah mereka akan dapat memanggil nama satu sama lain ketika bertemu di jalan. Entah mereka akan memberikan sebuah senyum atau pekukan hangat nantinya. Akan tetapi, untuk saat ini keduanya berharap keselamatan untuk satu sama lain.


Ego Arion menginginkan agar Amabel menahannya. Akan tetapi, Amabel malah mengangguk, membuat Arion langsung menarik tali kudanya. Sekali lagi Amabel menatap punggu Arion. Ia memeluk tangannya dan mengecup cincinnya. Dalam hati ia berdoa agar Arion kembali dengan selamat dan utuh.


Jika takdir memang mengikat mereka, Amabel berdoa agar keduanya tak akan saling menyakiti. Jika takdir ini mengharuskan Amabel berjalan di atas beling, ia akan melakukannya. Lagipula sejak awal menjadi Amabel Lancaster memang tak mudah.


Arion pergi tanpa keraguan dan Amabel akan menemui Sir Alberto tanpa keraguan. Keterbukaan dalam kejujuran akan ia berikan. Dan Amabel rasa itu harga yang harus dibayar olehnya untuk mencapai tujuan.