The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Empat Puluh Dua: Keputusan



Saat ini yang Amabel lakukan adalah menatap bulan. Bulan sabit dan bintang bersinar terang. "Apa yang sedang nona pikirkan?" Tentu saja itu Rain.


Penyihir itu dengan santai duduk di pembatas balkon. Mungkin karena sudah terbiasa, Amabel tak kaget saat Rain tiba-tiba muncul. "Pernikahan." Jawab Amabel.


Rain memiringkan kepalanya, kemudian mendengar suara angin. Ia paham alasan Amabel terlihat seperti rusa kehilangan induk. "Pertemuan dengan Ratu sepertinya tidak berjalan lancar."


Gadis berambut perak itu menghela napas. "Ya, lagi-lagi Ratu membuatku bingung dengan pikirannya. Aku tahu jika baginya aku hanya bidak catur. Awalnya aku kira Arion juga dianggal demikian, namun ternyata tidak. Ratu benar-benar menyayangi Arion dan ini membuatku bingung. Dia menginginkan tahta untuk putranya, namun juga menginginkan kebahagiaan untuk Arion."


Rain menatap langit, "sebelum menjadi Ratu dia adalah seorang ibu. Tentu saja ia akan memilih kebahagiaan untuk masing-masing anaknya dibanding kepentingan pribadi."


Ah, begitu rupanya. Amabel melupakan fakta itu. Sesuatu yang begitu penting baru saja ia lupakan. Rain berdiri, berjalan di pembatas balkon. Setelah dua kali berturut-turut, ia berhenti di samping Amabel. "Apa nona menyukai Pangeran bermata merah itu?"


Bagi Rain, diamnya Amabel adalah jawaban. "Kalau begitu kenapa bingung? Aku lihat Pangeran itu juga menyukai nona. Jadi, menikah saja."


Amabel menghela napas. Ia membalikkan tubuhnya dan bersandar di pembatas balkon. "Menikah ya?" Ia menghela napas lagi. "Aku takut, Rain."


Angin berhembus, menggerakkan rambut perak Amabel dengan lembut. Ini sesuatu yang belum pernah Rain dengan sebelumnya. Rain menatap Amabel, penasaran. Gadis itu akhirnya kembali berbalik untuk menatap taman. "Aku takut hidup sebagai Amabel Walcote. Rain, kamu yang paling tahu soal hidupku bukan?"


Gadis itu menatap Rain yang merasa seolah tertembak. Rain berdeham, "tak sebanyak itu."


Amabel terkekeh mendengarnya. "Pasti bohong. Kamu tahu soal aku adalah reinkarnasi Celine dan hidupku sebagai Amabel Lancaster. Kamu tahu lebih banyak dibanding aku, itu sebabnya kamu selalu muncul tiba-tiba."


Kadang Rain membenci fakta bahwa Amabel begitu pintar. Namun, ia tak memotong dan membiarkan Amabel melanjutkan. "Aku sudah pernah hidup sebagai orang lain dan di kehidupan ini aku hanya ingin hidup sebagai Amabel Lancaster. Aku tak ingin berubah menjadi orang lain. Aku takut. Sangat takut. Aku tak tahu takdir apa yang menunggu ketika aku tak lagi menjadi seorang Lancaster. Apa aku akan bahagia? Atau aku akan panjang umur? Atau bisakah aku kembali bertemu dengan orangtuaku? Kedua kakakku? Banyak sekali pikiran yang menggangguku. Dari semua pertanyaan, pernikahan bukanlah jawabannya."


Amabel mendongak, menatap bulan sekaligus menahan air matanya jatuh. "Apa aku menyukai Arion? Aku jatuh cinta sejak pertama kali bertemu dengannya. Aneh sekali bukan? Menikah dengan Arion tentu akan menjadi mimpi yang indah. Hanya untuk mewujudkannya, aku terlalu takut."


Rain mengusap puncak kepala Amabel kemudian menepuknya lembut. "Meski kamu pernah menjadi Celine, saat ini kamu adalah putri Lancaster, dan di masa depan menjadi Walcote, tak akan ada yang mengubah fakta bahwa kamu adalah kamu. Itu semua hanya nama, nona. Hanya luarnya yang berubah, di dalamnya masih sosok yang sama. Masih orang yang sama. Tak akan ada yang berubah kecuali nama."


Amabel mendongak, menatap mata Rain. Ia baru sadar jika mata Rain sama seperti mata Arion, merah. Namun hanya sekejab, setelahnya kembali menjadi gelap. "Apa kau sedang menghiburku?"


Rain berdecih, sebal. "Anggap saja demikian."


Amabel tersenyum, tulus. "Terima kasih."


Rain hanya menggumam sebagai jawaban. Seandainya saja perkataan Rain bisa menjadi kenyataan pasti akan bagus. Ia kembali menepuk puncak kepala Amabel. "Bagaimana pun kau akan selalu menjadi Amabel Rosemary Lancaster."


Amabel kembali tersenyum mendengarnya. "Tentu."


Rain menghela napas, rasanya ia menjadi sesak sendiri. "Sekarang tidur." Dengan seenaknya Rain mengunakan sihir agar Amabel masuk ke kamarnya dan tidur. Setelah gadis itu benar-benar tertidur pulas, Rain kembali menatap bulan. "Kau akan hidup sebagai Amabel Rosemary Lancaster. Selamanya."



Seluruh persiapan penyambutan Arion akhirnya selesai. Hari ini perayaan akan dilaksanakan. Kesibukan bukan hanya terjadi di istana, namun juga di kediaman Lancaster. Amabel sudah berendam dengan bunga dan susu. Ini sama seperti pertama kali ia masuk ke istana. Pelayan sibuk merawat tubuhnya, bahkan Mary masih sibuk memilih gaun dan perhiasan untuk dikenakan. Amabel sudah menyerahkan semuanya pada Mary, lagipula semua gaun sama saja.


Entah sudah berapa lama, namun saat selesai langit sudah berwarna oranye. Amabel akhirnya bisa bernapas lega setelah semua persiapan selesai. Gadis itu menggunakan gaun gradasi berwarna biru ke putih. Rambutnya dikepang membentuk mahkota dan disatukan menjadi sanggul yang anggun. Di lehernya terdapat kalung ruby berwarna merah muda, selaras dengan anting. Kalungnya terlihat cantik dengan bagian gaun yang berbentuk sabrina. Sepatunya berwarna putih dengan hak yang tak terlalu tinggi.


Elliott mengetuk pintu sebelum masuk, hari ini ia menggunakan tuxedo berwarna putih. Saat membuka pintu, lelaki itu malah terdiam sambil menatap Amabel. "Wah, cantik." Pujiannya membuat wajah Amabel memerah. Elliott langsung menghampiri adiknya dan menepuk pundaknya. "Bel, sudah dewasa. Rasanya aku kehilangan banyak waktu bersamamu."


Amabel terdiam mendengarnya. Elliott berdeham kemudian mengulurkan tangannya, "Aku yang akan menemanimu hari ini."


Uluran tangan itu diterima, "yang lain bagaimana?"


"Ayah dan ibu sudah berangkat lebih dulu. Kau tahu mereka harus berbicara dengan Raja dan Ratu terlebih dahulu bersama Alec." Elliott menggaruk keningnya, "bagaimana pun saat ini Alec menjadi pemegang keputusan di keluarga kita."


Ya, banyak yang berubah. Kadang Amabel masih belum bisa menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Keduanya berbincang ringan saat di perjalanan. "Elli, apa Alec tak memiliki kekasih?"


Elliott langsung tertawa mendengarnya. "Kekasih? Punya teman perempuan saja tidak!" Jawabnya sambil menghapus air mata. "Hh, tahu 'kan dia itu tak suka dekat dengan perempuan. Katanya, mereka tidak semanis Bel. Atau mereka tidak sepintar Bel. Atau, mereka tidak memiliki senyum seperti Bel. Atau-"


"Aku paham." Potong Amabel cepat, dirinya merasa malu sendiri mendengarnya. Bukan rahasia lagi kalau Alec dan Elliott tak suka didekati perempuan. Bagi keduanya, perempuan di luar sana tidak ada yang bisa menandingi adiknya.


"Elli juga pasti berpikir demikian." Kata Amabel dan Elliott mengangguk dengan cengiran khasnya.


"Aku tidak suka." Ucapan tegas itu membuat Elliott membeku. Amabel menatapnya, tajam. Sesuatu yang tak pernah Elliott lihat. "Di pesta nanti akan diadakan pertunanganku. Kemudian dalam waktu dekat pesta ulang tahunku dirayakan juga. Artinya aku akan menikah. Bagaimana bisa aku menikah lebih dulu sementara kedua kakakku bahkan tidak punya kekasih?"


Elliott mengalihkan tatapannya keluar jendela. Tiba-tiba saja ia merasa gugup. Amabel cemberut, "sudah kuputuskan!" Ucapan itu membuat Elliott kembalu menatap Amabel. "Aku tak akan menikah sampai kamu dan Alec menikah!"


Amabel masih cemberut, "tentu ada! Apa kata orang jika anak termuda sudah menikah sementara kedua kakaknya bahkan tak memiliki kekasih? Aku tak mau tahu, katakan pada Alec bahwa kalian harus membawa kekasih saat pesta ulang tahunku." Elliott baru membuka mulut untuk membantah saat Amabel menambahkan, "atau aku tak mau bertemu kalian lagi."


Senyuman di wajah Amabel sangat tak cocok dengan tatapan matanya yang tajam. "Kakak tahu bahwa aku selalu memegang perkataanku, bukan?"


Entah kenapa sekarang Elliott merasakan sekujur tubuhnya merinding. Adiknya terlihat menyeramkan. "Jawabannya?" Tekan Amabel.


Elliott akhirnya menghela napas dan mengangguk. Dia kalah. "Aku paham."


Tepat setelah mengatakan itu, kereta berhenti. Pintu terbuka dan Elliott turun terlebih dahulu untuk mengulurkan tangannya pada Amabel. Gadis itu meraih tangan Elliott dan kemudian mengamit lengan kakaknya saat berjalan memasuki aula istana. Tiba-tiba saja Amabel merasa gugup karena kini seluruh mata tertuju pada mereka. Elliott menepuk tangan Amabel, menenangkan. "Tenang saja, ada aku. Jangan gugup."


Amabel menelan ludahnya, gugup. Ia mengangguk dan menaikkan kepalanya, menatap lurus ke depan. Keluarganya sudah berada di samping Raja. Meski baru beberapa hari lalu bertemu dengan Raja, wajahnya masih sama menyebalkan di mata Amabel. Sepertinya ia memiliki dendam pribadi.


"Elliott dan Amabel Lancaster memberi salam pada Baginda Raja." Ujar Elliott dan Amabel bersamaan.


Raja maju, mengulurkan tangannya yang disambut oleh Amabel. "Rasanya sudah lama tak melihat Putri dengan pakaian yang indah seperti ini."


Itu terdengar seperti Amabel tak pernah berpakaian layak selama ini. Mata Amabel menatal Yanha, tajam namun tetap tersenyum. "Ah, saya juga merasa sudah lama tak melihat senyum Yang Mulia seperti ini. Rasanya benar-benar terlihat muda dan segar."


Amabel tahu jika itu mempertaruhi Raja karena ekspresinya berubah. Dalam hati ia tertawa melihat wajah kesal Raja. Setelah itu Raja pamit untuk menyambut beberapa tamu penting lainnya. Amabel kemudian menatap Elliott, tajam. "Sampaikan pada Alec!"


Alec yang tak paham malah mengernyit. Amabel membuang muka dan melangkah menuju meja makanan. Dia butuh sesuatu yang manis. "Oho, siapa ini?" Seruan itu datang dari Noah.


Amabel langsung memberi salam. "Amabel Lancaster memberi salam pada Pangeran Noah."


Noah dengan santai menepuk pundak Amabel, "santai saja. Kamu adalah sahabat istriku jadi, kita juga sahabat."


Amabel tak pernah mendengar teori itu sebelumnya. Akan tetapi bersama Noah rasanya memang seperti saat ia bersama Rahel. Keduanya memiliki aura yang sama. "Oh, bagaimana dengan Kak Arion? Aku mendengar gosip yang menarik. Kalian pulang ke Plodnavor bersama, jadi apakah kalian selama ini-"


Amabel berdeham, membuat Noah berhenti bicara. "Kenapa Pangeran tak bertanya langsung pada- nya?"


Amabel jadi bingung sendiri memanggil Arion dalam percakapan ini. Noah mengusap dagunya, "aku sudah mencoba tapi kak Arion sangat sibuk! Aku bahkan tak bertemu dengannya sejak dua hari lalu."


Amabel dapat melihat bahwa Noah sangat menyayangi Arion dan kakaknya yang lain. Noah terlihat seperti adik manis yang suka bermanja ria dengan kakaknya. "Hari ini saja aku belum bertemu. Padahal ini pesta khusud untuknya, tapi dia malah terlambat. Menyebalkan."


Kalau seperti ini rasanya benar-benar Amabel sedang berbicara dengan Rahel. Gadis itu terkikik geli, "Pangeran benar-benar mirip Rahel. Kalian pasti pasangan yang manis."


Noah langsung mengangguk. "Aku jatuh cinta padanya. Dia benar-benar menghipnotisku! Tapi butuh waktu lama untuk dia melihatku. Tahu tidak dia itu suka pada Kak Kenan."


Amabel mengangguk, "dia benar-benar suka dengan Pangeran Pertama. Sangat, sangat suka. Sampai tiap bertemu selalu membicarakannya. Bahkan katanya dari belakang saja Pangeran Pertama terlihat tampan."


Melihat perubahan wajah Noah membuat Amabel menutup mulutnya. Sepertinya dia baru membuat kesalahan. Cepat-cepat Amabel mengibaskan tangannya. "Tapi saya yakin saat ini Rahel benar-benar menyukai Pangeran Noah."


Noah menunduk, membuat Amabel takut. Namun, Noah langsung mendongak dan tersenyum lebar. "Tentu! Dia sudah benar-benar jatuh cinta padaku."


Amabel berbincang beberapa lama dengan Noah hingga seluruh aula dipenuhi bisikan. Arion masuk ke dalam aula bersama Permaisuri Jovanka. Ia mengenakan tuxedo hitam, rambutnya ditata ke atas memperlihatkan keningnya. di sampingnya, Jovanka mengenakan gaun berwarna putih. Begitu kontras, namun memikat. Keduanya mempesona seluruh tamu undangan. Begitu indah.


Dari tempatnya, Amabel dapat melihat bahwa Arion begitu bersinar. Ini kali pertama ia bertemu Permaisuri Jovanka. Cantik sekali. Raja dan Ratu memberi sambutan, hingga akhirnya Arion menghampiri keduanya.


"Putraku Arion telah kembali dari medan perang. Kali ini, sekali lagi ia membawa kemenangan untuk kita. Arion, putraku menjadi kebanggaan dengan mengalahkan Kerajaan Srela. Dengan itu, Srela telah tunduk dibawah Kerajaan Yerkink." Raja menepuk pundak Arion, bangga. "Untuk itu, malam ini aku ingin mengumumkan pertunangan putraku dan putri Lancaster. Amabel Lancaster, majulah."


Tentu saja mereka tak memberikan Amabel ketenangan. Gadis itu melangkah, menatap kedua orangtuanya yang mengangguk. Kedua kakaknya tersenyum, memberi semangat. Perlahan ia menaiki anak tangga hingga berdiri di sisi Arion. Keduanya bertukar tatapan untuk beberapa lama untuk kemudian mengalihkan tatapan.


Amabel berdiri di sisi Arion dan dari sini ia dapat melihat semua tamu undangan. Dia pun baru menyadari bahwa Rahel dan istri Pangeran yang lain berada di sisi kanan aula. Amabel dan Arion saling bertukar tatapan


Yanha tersenyum dan Adena tahu arti dari tatapan itu. Ada yang direncanakan oleh Yanha. Yanha berjalan, merangkul bahu Arion. "Malam ini, aku pun ingin mengumumkan sesuatu yang lebih penting. Kepulangan Arion adalah kebanggaan untuk kerajaan, juga diriku. Dan kemenangannya membuatku lebih dari yakin untuk memberikannya tahtaku."


Adena menatap Yanha, tak percaya. "Malam ini, dihadapan kalian aku umumkan bahwa Pangeran ke Lima, Arion Saverio Walcote menjadi Putra Mahkota Kerajaan Yerkink. Di masa depan, Arion akan menjadi Raja yang menggantikan diriku. Dan Amabel Rosemary Lancaster akan menjadi Ratu di Kerajaan ini."


Tatapan mata Adena dan Amabel dengan cepat bertemu. Bahkan dari tempatnya, Amabel dapat melihat kemarahan di wajahnya. Meski Adena tersenyum, kemarahan itu tak dapat disembunyikan. Tepukan tangan dari tamu yang datang tak dapat menghentikan degup jantung Amabel. Dari tempatnya, ia dapat melihat berbagai ekspresi di balik senyuman mereka. Amabel menoleh, menatap wajah Arion. Amabel tak tahu apa yang dipikirkan oleh Arion. Wajahnya datar, tanpa ekspresi.