The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Sepuluh: Perintah Raja (2)



"Nona!" Panggilan dari Pita membuatku menurunkan pedangku. Sir George, ksatria yang menjadi lawabku memberikan hormat kecil. "Terima kasih sudah menjadi partnerku Sir. Sampai jumpa lagi." Pamitku sambil menunduk kecil sebagai hormat pada Sir George.


"Tentu, nona." Sir George pamit dan kembali ke prajuritnya.


Setelah itu aku berjalan menghampiri Pita yang membawa sebuah surat. Aku memberikan pelindung kepala dan pedangku pada salah satu pelayan, kemudian mengambil surat yang dibawa Pita. "Surat dari kerajaan? Untuk apa?"


Pita tak menjawab, ada keresahan di sana. Aku menghela dan membuka surat tersebut. Sudah pasti ini bukan surat undangan pesta ulang tahun Pangeran pertama.


Surat Perintah Kerajaan


Salam,


Kami berharap kebaikan dan keselamatan tak pernah meninggalkan kita semua. Ketika daun tulip pertama mekar di kota Plodnavor, seluruh putri bangsawan di usia 8--16 tahun diwajibkan untuk mengikuti pemilihan calon istri untuk Tujuh Pangeran.


Mataku langsung membelo ketika membaca surat tersebut. "Apa-apaan ini? Bahkan aku belum legal menikah! Kenapa raja-"


Pita langsung terduduk, kepalanya tertunduk. "Mohon ampun, Yang Mulia Raja."


"Pita, berdirilah. Aku yang salah, akan kupastikan untuk berhati-hati berbicara." Ujarku setelah mengendalikan diri. Pita belum juga berdiri, jadi aku mengulurkan tanganku. "Pita, berdiri."


Dengan wajah menahan tangis Pita akhirnya berdiri. "Nona, tolong jagalah ucapan anda. Bagaimana pun meski tidak di istana, mempertanyakan perintah Raja adalah tindakan yang dilarang. Saya tak ingin nona dihukum sebagai pengkhianat."


Aku menghela napas, "aku tahu. Aku akan lebih berhati-hati lagi."


Kembali kulihat surat tersebut. Ada hukuman bagi keluarga yang tak mengirimkan putri mereka. Aku tak ingin menikah, tetapi aku pun tak bisa membiarkan keluarga Lancaster dihukum. "Kapan bunga tulip pertama mekar Pita?" Aku bertanya sambil menatap langit yang hari ini mendung. Cuaca benar-benar tahu apa yang aku rasakan.


"15 malam dari hari ini, nona." Jawaban Pita membuatku menutup mata. Waktuku sebentar sekali. "Sekarang apa yang nona ingin lakukan?"


"Berlatih pedang." Jawabku sambil mengambil pedangku. Saat ini aku perlu mengeluarkan emosiku.


"Argh!" Teriakku sambil menebaskan pedang pada boneka kayu dihadapanku. Celine, apa ini yang kau rasakan saat tiga bangsawan ingin menikahimu? Bagaimana bisa mereka dengan egois melakukan ini? Memaksa seorang anak perempuan menikah tanpa mendengar pendapat mereka. Kenapa sebagai anak perempuan kami tak memiliki hak untuk memilih? Pada akhirnya kami hanya menjadi alat untuk menyambung kehormatan keluarga. Tanpa sadar air mataku turun, sesak sekali rasanya.



Pada akhir pekan nyonya dan tuan Lancaster sampai di rumah. Keduanya langsung masuk ke dalam kamar tidur putri mereka, Amabel. Dari kabar yang mereka dengar, Amabel terus berlatih pedang dan setelahnya mengurung diri di kamar. Untuk anak berumur delapan tahun, latihan pedang yang berlebihan tak baik untuk pertumbuhan mereka.


Duke Lancaster mengetuk pintu kamar putrinya kemudian membukanya. Mary--Duchess Lancaster--masuk terlebih dahulu. Dalam kamar tersebut, keduanya bisa melihat Amabel yang tengah menatap keluar jendela.


"Amabel?" Mendengar panggilan itu membuat Amabel langsung menoleh. Mary berjalan menghampiri putrinya kemudian memeluknya erat. "Sayang, kami pulang."


Air mata Amabel kembali mengalir. "Mama, mama, mama."


Hati seorang ibu sangatlah lembut. Mendengar panggilan itu cukup untuk membuat hatinya hancur. Nama Amabel ia berikan agar anaknya selalu mendapat kasih sayang dimana pun ia berada. Amabel yang selalu ia cintai dan lindungi harus ia lepas. Bahkan meski anaknya sejak awal menolak pernikahan. Mary sadar jika Amabel adalah anak yang istimewa. Pengetahuan dan pengertian dalam diri Amabel luar biasa, kadang bahkan Mary lupa bahwa putrinya berumur delapan.


"Sayang, kamu harus kuat." Ujar Mary sambil menghapus air mata putrinya.


Duke Lancaster sejak tadi hanya menatap dua perempuan yang paling ia cintai. Melihat Amabel menangis membuatnya terluka. Dulu, ia pernah berjanji untuk selalu membuat putrinya tersenyum. Akan tetapi, hari ini ia menyakiti putrinya.


Langkahnya maju, mendekati Amabel. Tangannya menyentuh puncak kepala Amabel. "Maafkan papa, Amabel."


"Aku marah sekali, papa, mama." Amabel berujar, tatapannya terluka hingga ia membalikkan tubuh. "Apa aku, sebagai putri dari seorang Duke harus menerima perlakuan ini? Hanya karena aku putri dari seorang bangsawan aku tak memiliki pilihan dala hidup. Aku, seorang putri bangsawan harus terkekang oleh pernikahan yang tak kuinginkan. Apa yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa mereka akan menghukum keluarga kita jika aku menolak untuk mengikuti pemilihan ini."


Mary hanya dapat menggenggam lengan suaminya. Sementara Duke Lancaster tak dapat membalas apapun. Perasaan bersalah itu mengunci mulutnya. "Aku bahkan tak memiliki hak untuk berbicara betapa tidak adilnya keputusan ini."


Amabel kali ini menghadap kedua orangtuanya dan bersimpu. "Aku mohon maafkan ucapanku. Papa, mama, aku akan pergi sebagai seorang putri dari keluarga Lancaster. Bukan sebagai Amabel."


Malam itu, mansion Lancaster dipenuhi air mata. Rasa bersalah begitu kuat dirasakan oleh Duke Lancaster dan Mary. Sedangkan Amabel merasa hancur dan putus asa.



Alec dan Eli masuk ke dalam rumah mereka dengan perasaan yang berat. Kedua bersaudara itu sudah mengetahui perihal perintah kerajaan. Mereka juga tahu jika Amabel mendapatkan surat dari kerajaan.


"Di mana Amabel?" Tanya Alec pada salah satu pelayan. Suara Alec begitu dingin hingga membuat pelayan tersebut takut.


"Taman belakang, tuan." Jawabnya dengan suara bergetar.


Alec langsung berjalan menuju taman belakang, diikuti oleh Eli. Rumah jadi terasa dingin dan menyesakkan. Padahal biasanya Amabel akan menunggu di depan pintu utama dan berlari menyambut mereka. Hari ini mereka malah melihat Amabel yang berlatih pedang.


Alec tak berbicara apapun dan langsung mengeluarkan pedang yang dibawanya. Mata Eli langsung membola, kaget. "Alec, apa yang akan kau lakukan?"


"Diam, Elliot." Eli langsung diam di tempatnya. Alec jarang memanggil namanya seperti itu. Eli tak paham apa yang ada di kepala kakaknya saat mengayunkan pedang ke leher Amabel.


"Alec, kau gila!" Teriakan Eli hanya dibalas dengan tatapan tajam. Eli ingin sekali memisahkan keduanya, tetapi tentu saja Alec telah membuat sihir pelindung hingga tak ada yang bisa mendekat.


"Angkat pedangmu dan lawan aku, Amabel." Itu perintah dari Alec. Tatapannya tajam, namun tak membuat Amabel takut. "Kalahkan aku dan kita lihat apa kau layak menjadi ksatria."


Amabel mengangkat pedangnya. Ia tak pernah menghadapi Alec secara langsung, namun ia tak mau mengalah. Kita tak akan tahu jika belum mencoba, bukan?


Amabel berlari, menyerang Alec secara langsung dan berturut-turut. "Tak ada ksatria yang mengangkat pedang dengan emosi." Ujar Alec dan dengan mudah menghindari pedang Amabel. Dengan sekali serang pedang Amabel jatuh. "Kau tak layak menjadi ksatria."


Di hadapannya, Amabel menatapnya dengan marah. "Kau terus saja berkata soal ksatria!" Pekik Amabel marah.


Alec memasukkan pedangnya, kemudian mendekati Amabel. "Kau marah?"


"Ya! Aku marah! Padamu! Pada papa! Pada kerajaan!" Pekik Amabel. "Kau tak tahu bagaimana perasaanku, kakak."


Alec menghela, "Amabel, jika kau tak ingin maka tak usah kau lakukan."


"Dan membuat seluruh keluarga dihukum?" Balas Amabel kesal.


Alec malah tertawa, membuat amarah Amabel semakin naik. "Dan sekarang kau tertawa!"


"Maaf," ujarnya sambil menghapus air mata. "Kau lucu, kau bertingkat seolah kau akan menjadi istri salah satu dari Pangeran. Kau hanya ikut untuk pemilihan, belum tentu terpilih bukan? Jangan terlalu dibuat pusing, Amabel."


"Lalu jika aku terpilih?" Balas Amabel.


Alec tersenyum, "kau tidak akan menikah. Mereka harus menunggu sampai kau berusia legal. Kemungkinan kau hanya akan bertunangan."


Amabel diam. Beberapa hari ini ia begitu emosional. Rasanya seperti sayapnya dipotong secara paksa. Akan tetapi, setelah mendengar Alec ia merasa sedikit lebih lega.


"Kau tak akan kehilangan siapapun. Kami akan selalu mendukungmu, apa yang kau takutkan?" Alec kini menyentuh bahu Amabel, "kau tak akan berhenti menjadi adikku atau berhenti menjadi putri dari ayah dan ibu. Kau, tetap menjadi keluarga Amabel."


Apa sebenarnya yang Amabel takutkan? Amabel tak tahu. Harapannya hanyalah hidul bahagia dengan keluarganya. Emosinya selama beberapa hari ini membuatnya lupa bahwa bukan hanya dirinya yang terluka. Papa, mama, Alec, dan Eli pasti juga terluka. Bahkan mungkin Pita pun merasa demikian.


Amabel menunduk, "maafkan aku."


Alec mengangguk dan menarik Amabel dalam pelukannya. "Bertahanlah, aku tak akan membiarkanmu masuk ke istana sendirian."