The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Lima Puluh: Akhir



Tak mudah untuk berlari ke tempat Arion. Sepanjang perjalanan, ia harus membunuh para pemberontak, hingga napasnya tersengal saat sampai di taman. Arion ada di sana, bertarung dengan puluhan pemberontak. Dengan cepat Amabel langsung membantunya. Saat ia telah berdiri di sisi Arion, ia langsung membuat perisai. Amabel fokus untuk melindungi Arion dan melawan balik. Ketika pemberontak terakhir dijatuhkan, Amabel langsung terduduk. Napasnya masih tersengal dengan keringat bercucuran.


"Kamu kelelahan, 'kan?" Amabel mengangguk. Tak ada gunanya berbohong seperti ini. "Kita harus mencari tempat berlindung sekaligus dalang dari semua ini."


Amabel mengatur napasnya, ia kemudian menatap Arion. "Ini hanya perkiraanku, namun di mana Putri Jeanne? Aku tak melihatnya. Dia mungkin tahu siapa dalang semua ini."


"Jeanne?" Ucap Arion kemudian matanya bersinar, "Jeanne Prada? Jika itu dia, aku rasa kita bisa memeriksa ruangan Duke Prada."


Amabel mengangguk dan mulai berdiri. Para pemberontak di taman istana tak terlalu banyak. Keduanya berjalan beriringan. Entah bagaimana keadaan di kota saat ini. Keduanya kembali masuk ke dalam istana dan masuk ke dalam aula. Para pemberontak telah dikalahkan, ayah dan kakaknya saat ini sedang memeriksa tubuh para pemberontak. Amabel menghampiri, melihat luka di tubuh keduanya. "Ayah, biarkan aku mengobatimu." Ujar Amabel sambil meraih tangan John. Ia memejamkan matanya dan mulai fokus dengan sihir. Cahaya hijau keluar dan luka di tubuh John tertutup sempurna.


Ia juga melakukannya pada Elliott. "Kakak, jika ini selesai kakak harus menemui Maya. Aku menyukainya, tahu. Tetapi, hari ini aku bersyukur karena Maya tak datang. Semoga keselamatan tak pernah meninggalkan dirinya."


"Kamu harusnya mencemaskan dirimu sendiri. Kamu belum menjadi seorang Walcott, tahu?" Amabel tertawa mendengarnya. Namun, masih terus mengobati Elliott. "Khawatirkan dirimu sendiri."


"Hm," jawab Amabel seadanya.


Ryu menyentuh bahu Arion, "jangan khawatir, semua akan berakhir. Tenanglah."


"Tunggu, di mana ayah?" Tanya Arion. Ia belum melihat ayahnya sejak kekacauan terjadi. Ryu menegakkan punggungnya, ia pun belum melihat ayahnya.


John mendekat, melihat kekacauan pada wajah kedua pangeran. "Firasatku mengatakan ia ada di singgasananya. Di sana mungkin kita dapat bertemu dengan dalang dari semua ini."


Amabel mendorong punggung Arion, "pergilah bersama Pangeran Ryu. Aku akan menyusul nanti."


Arion mengangguk dan kemudian melangkah bersama Ryu. Sementara Ryu menoleh, mendapati Amabel yang terhuyung dalam pelukan ayahnya. Gadis itu menyuruh Arion pergi karena tahu bahwa tubuhnya sudah tak kuat. Benar-benar ceroboh. Amabel membuat perisai besar, mengobati luka ayah dan kakaknya, juga melakukan pembersihan ruangan. Tentu saja tenaganya habis. Seberapa besar kekuatannya tetap saja akan melelahkan jika mengeluarkan semuanya sekaligus.


Ryu menghela, bukan saatnya ia khawatir dengan orang lain. Di singgasana raja duduk seseorang dengan jubah putih. Di kepalanya terdapat mahkota milik raja, sedangkan raja telah mati. Tubuhnya berada di lantai dengan sebilah pisau di dadanya. "Kau! Apa yang kau lakukan?"


Suara tawa terdengar, si pemilik jubah mulai menuruni tangga. Wajahnya ditutup dengan topeng putih. "Aku? Membunuhnya tentu saja. Pria tua itu tak pernah belajar dari kesalahan."


Arion dan Ryu saling menatap, mereka mengenal suara ini. Saat jarak antara mereka hanya tiga langkah, si pemilik jubah membuka topengnya. "Halo, kakak."


Di hadapan mereka berdiri seorang Mika Rosalind Walcott, anak perempuan satu-satunya di keluarga Walcott. "Mika?" Ucap Arion, tak percaya.


"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?" Tambahnya, bingung. Mika mereka selama ini terlihat manis dan penurut. Mika mereka adalah adik perempuan yang baik hati.


Namun yang dihadapan mereka adalah perempuan dengan tatapan dingin. Ekspresi dingin itu tak dikenal oleh Arion. Mika tertawa, "kenapa? Karena pria tua itu memilihmu. Padahal ada aku, kenapa harus kamu? Padahal aku lebih berkompeten. Kamu yang hanya tahu tentang bertarung mana bisa menjadi Raja."


Arion menutup mulutnya, tak percaya. Ia masih tak percaya jika Mika berpikir demikian. "Kalau memang begitu, kenapa tidak bilang?"


Mika memiringkan kepalanya, "aku bilang pada pria tua itu, tetapi apa kamu tahu apa yang ia bilang? Katanya seorang perempuan sepertiku tak dapat menjadi raja. Hah, brengsek."


Tatapan matanya kembali menjadi dingin. Ia mengeluarkan pedangnya, "mari kita lihat siapa yang lebih pantas."


Mendengar itu kini Ryu yang tertawa. "Jangan bercanda. Aku masih di sini."


Tak lama, para pemberontak masuk. Ryu mengira mereka hanya prajurit biasa, namun lima di antaranya adalah penyihir. Ujung bibirnya tertarik, "kalian tahu bagaimana cara bermain ternyata."


Meski tak tahu harus bereaksi seperti apa, namun tubuhnya bergerak untuk melawan. Para pemberontak di sini berbeda, mereka lebih kuat dan berpengalaman dibanding pemberontak yang mereka lawan sebelumnya. Tawa Mika berlanjut hingga ia duduk di tangga, di samping tubuh ayahnya yang dingin. "Lihat ayah, anak kebanggaanmu itu kesulitan melawan prajuritku."


Tawa Mika membuat Arion menggertakkan giginya. "Brengsek!" Pekiknya dan menghunuskan pedangnya pada tubuh pemberontak di hadapannya.


Mika terus tertawa hingga pintu terbuka, Amabel masuk. Kedua perempuan itu saling bertatapan. Mika bertepuk tangan sambil tersenyum lebar. "Wah, wah, calon kakak ipar! Apa kakak tahu siapa aku?"


Amabel berdiri, membeku. Perempuan ini adalah adik dari Arion. "Putri Mika?" Gumamnya dan Mika mengangguk.


"Wah, kakak tahu." Mika berjalan menelusuri anak tangga. "Hebat. Ah, tapi aku tak suka padamu."


Tatapannya kembali dingin, "bunuh dia."


Kejadian itu berlangsung dengan cepat. Secepat Arion yang mengeluarkan aura merah, membuat seluruh musuhnya mengeluarkan darah dalam tubuhnya. Ia menatap Mika yang tertawa senang dan mengulurkan tangannya, mencekik--dari jarak jauh--Mika hingga tubuhnya terjatuh.


"Arion." Panggilan itu menarik kesadaran Arion. Tangannya berhenti mencekik Mika dan membaringkan tubuh Amabel. Gadis itu terbatuk dan darah keluar dari mulutnya. "Jangan menangis."


Ryu menatap adiknya, takjub. Ada alasan kenapa Arion dipanggil iblis. Kekuatannya luar biasa. Hanya dengan auranya, belasan musuh kalah secara langsung. Bahkan penyihir yang kesulitan ia hadapi dapat dikalahkan. Ryu tak pernah melihat Arion di medan perang secara langsung, namun saat menyaksikannya ia merasa ketakutan.


"Aku mungkin terlihat kesakitan, namun rasanya aman saat di pelukanmu." Ujar Amabel terbata. Ia kesulitan bernapas karena darah masuk ke dalam paru-parunya. Ia tersenyum, "jadilah raja yang bijak."


Arion menggeleng, tangannya menyentuh Amabel. "Hanya jika kamu menjadi ratunya, Bel. Jangan bicara. Kak Ryu, lakukan sesuatu dengan sihirmu!"


Ryu diam, ia memalingkan wajahnya. Ada batas penyembuhan yang dapat ia lakukan. Untuk keadaan Amabel, sudah tak dapat ia sembuhkan lagi. "Maaf."


Amabel masih tersenyum, "Arion, kamu percaya takdir?"


Arion mengangguk. Amabel kemudian meneruskan, "kalau begitu, percayalah bahwa kita akan bertemu lagi."


Amabel kembali terbatuk. Dadanya seakan terbakar dan terasa sesak. "Aku ingin bertemu ayahku."


Arion mengangguk. Ia mengangkat tubuh Amabel, begitu lembut dan hati-hati. Sebelum keluar ia menatap Ryu, "kakak tolong selesaikan."


Ryu mengangguk. Ia mendongak, hari ini langit akan menangis. Saat berhadapan dengan Mika, Ryu langsung membuat belenggu pada tangan dan kaki. Juga menutup mata dan mulut adiknya.


"Aku bersyukur bertemu denganmu." Ujar Amabel dalam pelukan Arion. "Entah sebagai Celine atau Amabel, aku bersyukur bertemu denganmu. Bertemu dengan dirimu sebagai Theo dan dirimu sebagai Arion. Aku bersyukur."


Arion menggigit bibirnya, Amabel tahu soal reinkarnasi. "Aku pun bersyukur dapat bertemu denganmu lagi. Maafkan aku tak bisa menjagamu. Maafkan aku karena menyakitimu di masa lalu."


Amabel menggeleng pelan. Ia diam sebentar sebelum menjawab, "aku memaafkanmu. Salahku karena bersikap pengecut. Ada satu hal yang belum aku katakan. Aku mencintaimu, sebagai Celine dan Amabel. Aku jatuh cinta padamu, saat kamu sebagai Theo dan kamu sebagai Arion. Berkali-kali aku jatuh cinta padamu."


Air mata Arion mengalir. Lagi, ia tak dapat melindungi Amabel. Ia membiarkan Amabel terluka. Arion menggeleng, "tolong berhenti bicara."


"Kalau aku berhenti sekarang. Aku tak memiliki kesempatan lain." Balas Amabel. Ia mengulurkan tangannya, "Arion, aku bahagia. Terima kasih. Kamu pun harus demikian."


Arion tak menjawab karena John sudah lebih dulu menggendong Amabel. Ayahnya memeluk Amabel erat. Di saat yang sama Alec datang bersama Mary. Keduanya langsung berlari. Elliott sudah menangis, ia tak bisa melihat Amabel seperti ini. Alec hanya dapat berlutut di hadapan Amabel, hatinya terasa sakit melihat adiknya terluka.


Wajah Amabel pucat dan bibirnya berubah menjadi biru. Gaun putihnya sudah berubah menjadi merah. Amabel menatap keluarganya, satu per satu. "Terima kasih. Aku bahagia hidup sebagai Amabel Rosemary Lancaster. Terima kasih karena telah menjadi keluargaku."


Air matanya mengalir. Dadanya terasa semakin sesak dan batuknya tak berhenti. Mary menangis, menggenggam tangan Amabel erat sementara John memeluk putrinya sambil menciumi kepalanya. "Aku bahagia. Terima kasih."


Setelah itu perlahan air matanya tertutup dan napasnya berhenti. John memeluk putrinya semakin erat sementara Mary menangis sambil menggenggam tangan anaknya. Elliott memilih menatap langit-langit, membiarkan air matanya mengalir. Sedang Alec menatap Amabel dengan tatapan kosong dengan air mata yang mengalir.


Di tempatnya, Arion tak bergerak. Pemberontak telah selesai mereka kalahkan dengan harga yang mahal. Rain menyandarkan tubuhnya di pembatasan balkon. Ia menatap Amabel yang tersenyum padanya sebelum menutup mata. "Selamat beristirahat, nona pelanggan."



"Apa kau bahagia?"


"Ya."


"Kalau begitu raih kebahagiaan itu. Ini hadiah dariku."


Tangan dengan selang infus itu bergerak perlahan. Seorang suster yang sedang memeriksa langsung melihat keadaan pasien tersebut. Setelah tangan itu bergerak, perlahan kelopak matanya terbuka.


"Dokter! Pasien sadar!"