The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Delapan: Arkean



"Kamu benar-benar mau ke Arkean? Tapi itu jauh," Eli saat ini tengah memelukku erat. Ugh, berat! Masalahnya dia menyandarkan kepalanya pada kepalaku. "Aku ingin sekali menemanimu, tapi aku harus kembali ke asrama."


"Tak apa, Eli. Aku pergi dengan Pita dan Elle." Jawabku sambil melepaskan diri, tetapi dengan cepat Eli kembali memelukku. Kalau begini aku hanya bisa pasrah.


"Ugh, baiklah. Tapi tolong berhati-hati oke?" Eli menatapku lurus, tangannya menekan bahuku pelan. "Kalau ada yang menggangu langsung tendang saja!"


Eli kadang-kadang sangat barbar. "Daripada menendangnya aku lebih suka kabur."


Dengan itu Eli tertawa. Ia memelukku erat kemudian mengecup puncak kepalaku. "Aku akan kembali akhir pekan nanti. Jangan buat masalah, oke?"


"Katakan pada dirimu sendiri." Ujarku sambil melambaikan tangan padanya.


Eli sudah berumur dua belas, sedang Alec berumur lima belas. Keduanya sudah berada di akademi Hugsun dengan jurusan yang berbeda. Eli memilih jurusan politik, sedang Alec memilih jurusan pedang. Tentu saja keduanya adalah murid terbaik di angkatannya. Ugh, kalau aku masuk ke akademi Hugsun aku tak mau orang-orang tahu bahwa keduanya adalah kakakku.


"Nona, persiapannya sudah selesai." Pita datang sambil memberikan jubah berwarna putih. Gaunku hari ini berwarna emas dengan aksen putih.


"Kita berangkat." Ujarku sambil berjalan menuju pintu utama. Dari tempatku kereta kuda berwarna perak sudah menunggu. Pada bagian luar terdapat ukiran bunga yang menjalar dan simbol keluarga Lancaster. Akan tetapi, tentu saja simbolnya hanya akan terlihat dengan menggunakan sihir.


Kereta kuda melaju dengan cepat. Kereta kuda ini spesial karena dapat melewati jalur khusus sihir, jadi perjalanannya lebih cepat.


"Oh, nona! Kita sudah hampir sampai!" Elle berujar sambil melihat keluar jendela.


Arkean berbeda dengan Plodnavor yang padat dan ramai. Jika Plodnavor dipenuhi dengan bangunan, Arkean dipenuhi dengan padang rumput. Rumah penduduk bersisian dengan jarak yang diatur sedemikian rupa. Arkean indah sekali, entah kenapa rasanya menenangkan.


"Nona," panggilan Pita membuatku tersadar dari lamunan. Aku turun dari kereta kuda dan berjalan menuju kuil Celine.


Saat kami sampai, sebuah patung perempuan dengan memegang tongkat di tangan kanan menyambut. Patung tersebut mungkin setinggi tujuh orang dewasa. Di tangan kirinya terdapat sebuah api berwarna biru. Bagaimana bisa api muncul di tangan patung itu?


"Bagaimana bisa ada api di sana?" Tanyaku takjub.


"Itu berkah lain yang diberikan pada tanah ini. Api abadi yang berada di patung dewi." Elle menjelaskan, tangannya terpaut sambil menatap patung tersebut.


"Aku akan masuk dulu. Kalian bisa menunggu di sini dan kita akan bertemu saat matahari berada di atas kepala." Pamitku dan keduanya mengangguk.


Aku mulai menaiki tiap anak tangga hingga sampai di bangunan utama. Sebuah pintu berwarna cokelat tua menyambut. Di sisi kanan terdapat seorang wanita, mungkin penjaga kuil karena ia langsung menyambutku dengan senyuman. "Puji dewi Celine dan keturunannya." Sambutnya sambil memberikan mahkota bunga di kepalaku.


"Aku kira dewi Celine tak memiliki anak." Jawabku dan wanita itu mengangguk. "Lalu kenapa anda menyebut keturunannya?"


Aku belum sempat bertanya bagaimana ia bisa tahu karena tubuhku sudah terdorong masuk. Aneh sekali, kenapa di sini kosong? Padahal tadi saat menaiki anak tangga banyak orang yang keluar masuk dari kuil. Aku hanya bisa mendengar langkah kakiku.


Di hadapanku terdapat patung yang sama, kali ini setinggi mama. Aku melangkah, mendekati patung tersebut. Kalau seperti ini aku seperti melihat sosok Lalisa. "Siapa sebenarnya kau? Apa hubungannya dengan Lalisa, juga Amabel? Dan siapa aku sebenarnya?"


Aku pasti gila. Berbicara sendiri di depan patung. Kegilaanku pasti berlanjut karena aku melihat patung tersebut berkedip. Dengan kasar aku mengucek mataku. Saat itu keajaiban terjadi, cahaya mengelilingi patung tersebut dan kemudian patung tersebut berubah menjadi manusia! Astaga!


Saking kagetnya aku sampai terjatuh. "Kau? Kau hidup?"


Perempuan itu malah tertawa. Ya ampun, dia seperti Lalisa versi dewasa dengan wajah yang lebih cantik karena terawat. "Berdiri, Amabel. Baik aku ataupun kamu tak memiliki banyak waktu."


Masih dengan rasa takjub dan takut aku berdiri. Kali ini aku dapat melihat matanya yang berwarna abu-abu mendekati putih, seperti mataku. Rambutnya berwarna perak, sama seperti rambutku. Dia ... seperti aku.


Tangannya terulur dan aku menyambutnya meski keraguan itu masih ada. Entah bagaimana sekarang aku sudah berada di luar kuil. Ini bukan Arkena atau Plodnavor, ataupun bagian lain dari Yerkink. Tanahnya hitam tanpa ada tanaman. Orang-orangnya kurus, mungkin kurang makan.


"Ini dimana?" Tanyaku semakin mengeratkan genggaman pada tangannya.


"Ini Arkean saat masih dikuasai iblis." Jawabnya dan kami duduk di sebuah batu besar sambil melihat perang antara empat bangsawan dan pasukan iblis. "Itu adalah aku saat memerangi kegelapan dan yang aku harapkan adalah kebahagiaan untuk semua orang."


Dengan cepat semua bergulir saat kemenangan diraih oleh empat bangsawan. Empat bangsawan muda itu tengah berada di ruangan. Ada ketegangan di antara tiga bangsawan dan kesediaan di mata Celine.


"Itu adalah saat ketiga sahabatku memperebutkan diriku. Sorak-sorai kebahagiaan rakyat membuat mereka buta untuk menjadikan aku istri mereka. Tapi, Amabel yang aku inginkan hanyalah menjadi berguna dan dicintai, bukan diperebutkan dan dimanfaatkan. Aku kecewa, terlebih karena mereka hanya menginginkan tahta." Di hadapanku seperti sebuah pertunjukan dimana tiap gambarnya berubah sesuai urutan cerita. "Akhirnya aku memilih melebur bersama alam. Aku hanya ingin bermanfaat."


"Dan dicintai." Tambahku sambil menunduk. Begitu aneh karena keinginan kami hanya dicintai, namun harus menghadapi segala kesulitan ini. "Aku harus merasakan penderitaan dan kematian sampai akhirnya merasakan cinta dari keluarga Lancaster. Aku harus melupakan Lalisa untuk menjadi Amabel dan kini harus mengetahui tentang dirimu. Apa aku ini sebenarnya, Celine?"


Celine tak menjawab, matanya menatap lurus ke depan. Kali ini kami sudah berada di Arkean yang aku lihat saat di kereta kuda. Aku bisa melihat Pita dan Elle yang tengah berbincang sambil tersenyum. "Aku, kau, dan Lalisa adalah satu."


Aku menatapnya, kali ini ia menatapku teduh. Tangannya terulur dan menyentuh keningku. "Kenangan buruk yang aku lewati akan tetap aku simpan sendiri, Amabel. Kau sudah melewati banyak hal dan aku hanya akan memberikan kekuatanku."


Ketika tangannya berada di keningku perasaan hangat itu menjalar ke seluruh tubuhku. "Satu yang harus kau ingat, meski kita adalah satu, kehidupan ini adalah milikmu. Kau adalah Amabel Rosemary Lancaster tanpa perlu mengkhawatirkan tentang Lalisa ataupun diriku. Kau adalah dirimu saat ini."


Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena tubuhku terasa berat, bahkan aku tak bisa membuka mataku.