
Pagi hari saat Amabel membuka mata Kier langsung memeluknya erat. "Tuan putri maafkan saya. Saya bersalah."
"Kier, aku sedang tak bisa menenangkan orang lain saat ini." Balas Amabel lelah. Kier akhirnya sadar dan langsung melepaskan dirinya. "Hari ini ujian terakhir akan dilaksanakan. Saya tak tahu bagaimana bentuk ujiannya, akan tetapi penyelenggara mengatakan bahwa ini ujian penempatan antara para calon dengan Pangeran."
Amabel sudah tak peduli dan hanya mengangguk. Ia membiarkan Kier memakaikan gaun berwarna putih dengan aksen emas dipinggirnya. Rambutnya dibiarkan terurai dengan jepit berbentuk daun. Kier perlu memakaikan hiasan yang cukup banyak di mata Amabel. Tentu saja matanya bengkak hingga harus dikompres dengan air es.
"Kier, aku ingin memakai pewarna bibir warna merah." Ucap Amabel.
Hal itu sontak membuat gerakan Kier terhenti. "Tuan putri, saya mohon maaf. Saya tak bisa melakukannya, itu adalah warna untuk wanita tidak terhormat."
*******. Kenapa harus ada warna khusus untuk *******? Ah, betapa bangganya mereka karena memiliki warna khusus. "Taruh warna merah di tengah bibirku kemudian timpa dengan warna merah muda yang pucat."
Kier melakukannya. Siapa sangka teknik itu akan terlihat bagus di bibir Amabel?
"Wuah, cantik sekali." Kagum Kier.
Amabel hanya tersenyum kecil. Di pantulan cermin lagi-lagi ia mendapati wajah Celine. Ah, kini Amabel paham. Entah Celine tengah menghibur atau mengingat bahwa roda takdir masih berputar di antara dirinya dan Celine. Menyedihkan.
Kier dapat melihat kesedihan dalam tatapan Amabel. Betapa menderitanya Amabel. Kier merasa sedih karena tak dapat menjadi sandarannya. "Tuan putri, maafkan saya karena tak menjadi penanggung jawab yang baik selama ini. Akan tetapi, saya terus bersyukur karena dapat melayani anda. Doa saya masih saya. Saya berdoa agar tuan putri bahagia."
Bahagia ya? Pasti lelucon yang lucu. Amabel juga berharap demikian hingga ia harus melewati tiga kehidupan. Dan bahagia itu masih samar.
"Terima kasih, Kier. Kau juga, carilah kebahagiaan yang pasti." Balas Amabel kemudian berdiri. "Mari kita akhir ini semua."
Dan berjalan di petak yang baru.
Ruang ujian kali ini adalah taman labirin. Sudah terdapat sepuluh pelayan yang memegang sepuluh benang wol berwarna merah. Sepuluh putri bangsawan berkumpul, Amabel yang menggenapi itu. Tak ada yang berbicara karena Yang Mulia Raja dan Ratu sudah berdiri di depan mereka.
Keduanya tersenyum seakan tak ada masalah di malam sebelumnya. "Hari ini kita akan mengetahui tujuh putri yang akan menjadi permaisuri kerajaan. Dari sepuluh benang tersebut, tujuh dipegang oleh Pangeran dan sisanya dipegang oleh prajurit. Di ujung taman ini, para Pangeran juga akan memilih masing-masing benang merahnya. Ini akan menentukan takdir kalian. Apakah kalian menjadi permaisuri atau harus pulang ke rumah kalian. Jadi, mari kita mulai."
Amabel langsung tersenyum. Ia memiliki harapan. Tiga dari sepuluh kesempatan. Seandainya ia memilih prajurit ia bisa kembali ke rumah tanpa perlu memikirkan konsekuensi yang akan dihadapi orang tuanya. Ia melirik ke arah Yang Mulia Ratu. Perempuan itu tak mengatakan apapun, hanya tersenyum padanya.
Tolong. Tolong. Tolong biarkan tangannya mengambil prajurit. Raja menepuk tangannya, menarik perhatian para putri bangsawan. "Karena semalam Lady Lancaster bersikap tak sopan, pada ujian kali ini kau akan memilih terakhir."
Amabel melongo sementara yang lain berbincang heboh. Kesempatan mereka semakin besar sementara Amabel hanya bisa memilih sisanya. Pada akhirnya Amabel mengambil benang paling pojok. Gadis pertama mulai berjalan, diikuti yang lain, dan Amabel terakhir.
Tolong jadikan ini sebagai tiga kemungkinan itu. Tolong. Kali ini saja biarkan Amabel hidup tenang. Kali ini saja. Tiap langkahnya, Amabel terus mengulang hal yang sama. Berdoa agar benang merah ini menuju pada salah satu prajurit bukan Pangeran.
Amabel bukan orang yang beruntung, bahkan selalu kalah jika bermain keberuntungan. Jadi, kali ini kesialan tolong datang. Meskipun Amabel terus memohon, namun hatinya merasa berat. Amabel tahu ketika mencoba menghindari yang terjadi adalah sebaliknya.
Sama seperti hari ini. Ia mencoba menghindari Pangeran, namun dihadapannya adalah Pangeran ke Lima. Arion kini menatap Amabel tak percaya. Ia sudah mengubur harapannya sejak tadi malam. Ketika harus bertemu Amabel hari ini, ia tak siap. Begitu matanya bertemu dengan mata bulan itu, jantungnya berdebar kencang lagi. Namun, dengan cepat ia melengos. Ia tak boleh lemah.
Amabel sendiri menghela, mungkin karena semalam ia meninggalkan Arion dan pernyataannya pada Raja membuat Arion sakit hati. Amabel ingin meminta maaf, tetapi perjanjiannya dengan Ratu menghentikannya. Ia harus bertahan.
Semesta begitu lucu. Keduanya didekatkan namun disaat yang sama diberikan jarak sejauh bulan. Keduanya hanya berjarak satu langkah sambil memegang benang merah di tangan, namun jarak diantara keduanya terasa membelah bumi. Adena bahkan tak percaya jika Amabel dan Arion menarik benang merah yang sama. Ia kemudian melirik pada putranya yang bersama putri dari Baron Killian, Callista Valery Killian. Bisa-bisanya ia memilih putri seorang baron?
Adena ingin sekali memaki siapapun perencana di balik ujian ini. Akan tetapi, niatnya akan kentara sekali. Sementara itu Ian menatap ke arah Amabel, diikuti gadis dengan gaun berwarna merah muda di depannya. Dorothy Lauren Esmee telah mendengar tentang pertandingan pedang itu. Ia pun tak berpikir dapat merebut hati Pangeran. Bagaimana bisa ia melakukannya sementara Pangeran telah memberikannya pada orang lain?
Sementara Alterio hanya menatal putri di depannya dengan tatapan menilai. Cantik, anggun, namun terlalu cantik. Ah, ia mengacak rambutnya. "Siapa namamu?"
Alterio menyipitkan matanya, kemudian mengibaskan tangannya. "Astaga, untung kau tak bersama kak Ian, Ryu, atau Noah."
Sementara Jeanne hanya menatap Alterio bingung, Noah sudah menatap Rahel penuh kekaguman. "Kau tahu aku?"
Rahel memiringkan kepalanya, bingung. "Ung? Ya, tentu. Anda Pangeran ke Tujuh, Noah Frank."
"Aku Noah dan karena sepupuku Jeanne, jadi aku akan memanggilmu Rahel. Kau harus memanggilku Noah." Ujar pria itu dengan senyum lebar.
Rahel terkekeh kemudian mengangguk. "Baiklah."
Iris Agatha Conrad sejak tadi hanya dapat melirik ke arah Hendery yang seolah tak tertarik padanya. Namun, kemudian lelaki itu menoleh dan menaikkan satu alis, membuat Iris menunduk. Hendery mengendikkan bahunya kemudian menatap pada Amabel dan Arion. Ada tarikan yang aneh di antara keduanya. Entah apa, namun Hendery tak dapat menjelaskannya.
"Kau tertarik dengan sihir?" Ryu menoleh pada gadis di sampingnya.
Gadis itu menggeleng, "aku lebih tertarik padamu."
Mendengar itu sontak membuat Ryu tersedak. "Wah, jadi siapa namamu?"
Gadis itu tersenyum, "senang jika kau tertarik juga padaku. Aku Megan Reese McKenzie."
"Oke."
"Baiklah. Kalau begitu, kita akan melakukan peresmian pertunangan di musim semi. Untuk itu kalian bisa saling mengenal terlebih dahulu." Jelas Yang Mulia Ratu. "Perlakukan pasangan kalian dengan baik karena mereka adalah penentu masa depan kalian."
Dengan sengaja Adena menatap ke arah Amabel dam Arion. Perempuan itu kemudian tersenyum dan meneruskan pidatonya. Setelah itu mereka diberikan waktu bebas untuk bicara. Amabel menoleh ke arah Arion, "ada hal yang ingin aku sampaikan. Mau bicara?"
Arion mengangguk. Berbeda dengan pertama kali mereka bertemu, kali ini Arion tak banyak berekspresi. Amabel agak sedih melihatnya. Akan tetapi, mungkin ini lebih baik. Keduanya memilih berjalan mengikuti aliran sungai kecil di istana dan berhenti di depan danau.
Angin menyapu pipi keduanya. Bahkan menerbangkan rambut Amabel ke wajah Arion. Wangi dan lembut. Berbeda dengan Amabel yang menatapnya tajam.
"Anda mungkin sudah mendengar pembicaraan saya dengan Raja." Buka Amabel. Matanya menatap Arion, setelah tak menemukan ekspresi di sana ia kembali menatap aliran danau. "Sejak awal saya tak pernah ingin mengikuti ujian ini. Saya tak pernah berniat menjawab soal secara sungguh-sungguh, akan tetapi ketika mendapatkan kertas sihir itu kesadaran menampar saya. Akan ada hukuman bagi mereka yang tak bersungguh-sungguh dalam menjawab soal ujian atau yang sangat menjawab salah. Pada ujian kedua, anehnya Raja memberikan soal tentang teka-teki. Soal yang telah saya dengar dari ayah dan guru saya. Saya kira soal itu hanya bercanda, tetapi benar-benar sama. Saya tak tahu maksud Raja hingga anda kembali. Segalanya terlihat lebih jelas dan nyata."
Arion mengepalkan tangannya, erat. Namun ia tak memotong perkataan Amabel. "Saya tersiksa dengan ini semua hingga saya berharap takdir akan membawa saya pada kesempatan untuk pulang. Akan tetapi, tak semudah itu. Jadi, Pangeran, saya harap kita bisa bekerja sama kedepannya."
Arion paham maksud Amabel. Nyatanya hal itu masih menyakitkan. "Kau tak perlu khawatir. Sebelum musim semi aku akan pergi."
Amabel ingin sekali bertanya kemana Arion akan pergi. Akan tetapi, itu hanya bertahan di kerongkongannya. Arion mendengus, ternyata Amabel tak peduli. "Aku akan pergi ke medan perang. Pasukan Srela mulai menyerang lagi dan kali ini mungkin akan lama."
Angin kembali mengusap pipi keduanya. Arion yang menatap Amabel mencoba mengingat wajah gadis itu dalam memori. Sementara si gadis berambut perak merasa danau di hadapannya lebih menarik. "Kalau begitu aku pergi." Ujar Arion sambil berbalik.
Amabel menggenggam erat gaunnya. Ia tak berkata apapun hingga tak lagi terdengar langkah kaki. Gadis itu berbalik, menatap punggung Arion yang mengecil dan semakin jauh. "Pangeran, kembalilah dengan utuh dan selamat. Dengan begitu rasa bersalah ini akan berkurang."
Ia memejamkan matanya dan berjongkok. Dadanya terasa nyeri dan sesak. Bagaimana ia bisa merasa sesedih ini padahal baru dua kali berbincang dengan Arion? Bagaimana bisa ia ... jatuh cinta dan hancur dalam waktu berdekatan? Amabel menitikkan air matanya.
Sama seperti cinta yang tak sempat ia sapa, kali ini ia malah harus mengucapkan selamat tinggal sebelum berjumpa.