The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Empat Puluh Enam: Hari H



Hari ulang tahun Amabel tiba. Kediaman Lancaster sudah dipenuhi kereta kuda yang mengantri untuk menurunkan penumpang. Para gadis dengan usia yang sama datang dengan harapan dapat menemukan pria idaman. Beberapa berharap dapat melihat pangeran dan keluarga kerajaan.


Kediaman Lancaster sudah dihias dengan banyak bunga dan lampu yang cantik. Bahkan untuk menuju aula utama terdapat hiasan bunga yang dibentuk atas nama pemilik pesta, Amabel. Warna pastel menjadi dominan sebagai hiasannya. Ucapan kagum terus keluar dari mulut para undangan.


Elliott mengetuk pintu kamar Amabel, "Bel. WUAH! Cantik sekali!" Seruan kagum langsung terdengar dari mulutnya.


Amabel menggunakan gaun berwarna satin dengan tali spageti yang melingkari lehernya. Pada bagian bawahnya terdapat aksen sulur berwarna emas. Rambutnya panjangnya tergerai dan dibuat bergelombang pada bagian ujung. Pada bagian atas teling dikepang kecil dan menyatu di bagian tengah kemudian diberi hiasan batu ruby merah.


Elliott memeluk tubuh Amabel erat. "Aku butuh kekuatan." Ujarnya. Amabel tak paham, namun menepuk puncak kepala Elliott beberapa kali.


Setelah menyatakan keinginannya, Elliott malah ditampar. Gadis itu mengembalikan lencana pada Elliott. "Saya membantu anda kembali pada kenyataan."


Bukannya syok, Elliott malah tersenyum. Benar-benar hilang akal. "Hei, hei. Aku serius. Baru kali ini ada perempuan yang menamparku."


"Terima kasih pujiannya." Balas perempuan itu, datar dan tanpa minat. Ia memilih duduk di ujung meja, sejauh mungkin dari Elliott. Berbeda dengan perempuan lain yang sibuk mendekati Elliott atau pun Aldric, perempuan itu malah sibuk dengan gelas birnya. Tangannya membuka kacang yang disediakan sebagai camilan.


Satu yang paling menarik adalah bibirnya. Polesan warna merah terukir di sana, warna yang identik dengan perempuan penggoda. Namun, Elliott tak terlalu memusingkannya. Baginya perempuan ini benar-benar menarik. Dengan sengaja Elliott duduk di samping perempuan itu. "Aku Elliott Lancaster. Maaf untuk yang tadi, namun aku tak berniat menarik ucapanku. Kalau boleh tahu, siapa namamu?"


Perempuan itu berhenti membuka kulit kacang dan menoleh. Tatapan matanya tajam, seakan menelanjangi. "Maya Athens."


Mata Elliott berbinar. "Nama yang cantik, seperti dirimu."


Entah Elliott sedang merayu atau terlalu jujur, Maya tak tahu. "Omong kosong."


Elliott buru-buru menggeleng. "Tidak. Sama sekali tidak. Aku serius. Selain ibuku dan adikku, kamu adalah perempuan yang paling cantik. Rasanya aku jatuh cinta pada pandangan pertama."


Maya langsung tersedak mendengar ucapan Elliott. Salah satu saraf dalam otaknya sudah pasti terganggu. Perempuan itu membalik posisinya, berhadapan dengan Elliott. "Entah kau terlalu naif atau bodoh, hanya bukankah sudah jelas jika aku adalah perempuan tidak baik? Lihat bibirku, ini simbol-"


Dengan cepat jari Elliott menghapus warna merah di bibir Maya. "Ah, bisa terhapus ternyata. Sama seperti pewarna bibir lainnya. Kenapa hanya warna menjadi masalah? Lagipula, tak ada orang yang mengaku menjadi penjahat. Jika beberapa perempuan tidak menggunakan warna merah hanya karena persepsi seperti itu bukankah mereka hanya pengecut? Atau mungkin mereka hanya tak berani menghadapi sindiran masyarakat." Elliott tersenyum, begitu lembut sambil menatap Maya. "Bagiku kamu bukan perempuan yang buruk. Bagiku kamu adalah perempuan yang cantik dan mempesona. Lagipula, ada perbedaan pada seseorang yang sengaja memakai warna merah dan menyukai warna merah itu sendiri."


Maya saat ini merasa tengah ditelanjangi. Seakan melalui matanya, Elliott dapat melihat semua permasalahan dan segalanya dalam diri Maya. Jenis tatapan yang paling Maya benci.


"Kalau memang kamu perempuan tidak baik pun aku masih akan menerimamu. Selalu ada alasan dalam pilihan. Kalau memang kamu perempuan seperti itu, bukankah seharusnya kamu malah menerima lamaranku dan kemudian mempermainkanku?" Elliott masih tersenyum. Bagi Maya ini adalah senyum orang bodoh. Lelaki itu mengeluarkan sebuah undangan dari saku jasnya. "Aku akan senang jika kamu datang ke pesta adikku. Kamu yang memutuskan."


Setelah itu Elliott kembali ke tempatnya dan pamit. Tak ada alasan untuknya lebih lama di tempat ini.


"Pengisian energi selesai!" Seru Elliott sambil melepas pelukannya. Ia kemudian memberikan sebuah kotak berwarna putih. "Ini hadiah untukmu."


Amabel membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam saku berwarna putih dengan ukiran lambang keluarga. Untaian rantainya berwarna emas-merah muda. Jarum di dalamnya berwarna perak sedang angkanya berwarna hitam, begitu kontras dengan dasar yang berwarna putih. Pada bagian belakang penutup terdapat ukiran namanya dan nama Elliott.


"Cantik sekali. Terima kasih." Ujar Amabel kemudian memasukkan jam tersebut kembali ke dalam kotak. Ia kemudian menaruhnya di laci teratas. "Malam ini siapa yang kakak ajak?"


Elliott hanya tersenyum, penuh rahasia. "Doakan saja dia datang. Aku yakin kalau bertemu kamu pun akan menyukainya. Sekarang ayo kita temui ayah."


Amabel mengangguk dan melingkarkan tangannya di lengan Elliott. Keduanya keluar dari kamar dan menelusuri koridor untuk mencapai aula utama. "Bel, dengarkan saja perkataanku oke?"


Adiknya mengangguk dan menatap Elliott sekilas. Sang kakak akhirnya menarik napas dan melanjutkan. "Saat ini Bel sudah menjadi perempuan dewasa. Enam belas tahun dan Bel menjadi perempuan cantik seperti ini. Bukan hanya cantik tetapi juga pintar, bijak, bahkan dapat bermain pedang. Selama ini Bel sudah pergi cukup lama dan belajar banyak hal. Apapun alasan Bel pergi, ketika Bel kembali pasti jawaban itu sudah terpenuhi. Aku harap Bel akan bahagia bersama Arion nanti."


Elliott berhenti, keduanya berada di depan pintu aula. Kakaknya menangkupkan wajah Amabel. "Meskipun aku belum rela kamu menikah dengan Arion, tetapi selama kamu bahagia tak masalah. Jadi, kamu harus bahagia. Kalau Arion sekali saja membuatmu menangis, aku akan menculikmu, dan membuatnya menyesal."


Amabel tersenyum cerah mendengarnya. Ia kemudian memeluk Elliott erat, "tentu. Aku masih memiliki hutang untuk berdansa dengan kakak."


Elliott terkekeh kemudian meraih tangan Amabel. Pintu aula terbuka dan keduanya berjalan menelusuri karpet berwarna merah. Seluruh mata tertuju pada keduanya. Keduanya berhenti setelah menaiki tangga dan berdiri di sisi Alec Lancaster. Di samping Alec ada seorang pendeta dan dua pengikutnya. Sementara orangtuanya berdiri di sisi Elliott. Hari ini sebagai Duke Lancaster dan pemimpin keluarga, Alec memimpin pesta kedewasaan Amabel.


"Amabel Rosemary Lancaster telah tiba. Mari kita mulai upacaranya." Elliott berujar dan Alec mengangguk.


Amabel berdiri di depan para pendeta kemudian memberi hormat. Ia kemudian berlutut dan menaruh kedua tangannya di atas lutut kanannya. Pendeta tersebut menaruh kitab putih di atas kepalanya. "Aku, Pendeta dari Kuil Celine memberkati Amabel Rosemary Lancaster. Kedewasaanmu telah datang maka penuhi dengan tanggung jawabmu. Amabel Rosemary Lancaster, teruslah menjadi cahaya dan kebanggaan bagi keluarga ini. Berjanjilah bahwa kau tak akan mengkhianati kerajaan dan mengotori nama Lancaster."


"Saya, Amabel Rosemary Lancaster akan memenuhi tanggung jawab sebagai perempuan dewasa. Dengan nama Lancaster, saya akan selalu menjaga kehormatan dan martabat Lancaster, dan tak pernah mengkhianati kerajaan." Setelah itu Pendeta menyentuh kedua pundak Amabel dengan pedang.


"Kau sepenuhnya telah menjadi perempuan dewasa. Angkatlah kepalamu saat ini dan hadapi yang ada di depanmu." Ujar Pendeta sambil mengulurkan tangannya. Amabel meraihnya dan berdiri menghadap seluruh tamu undangan.


Tepukan tangan terdengar di seluruh ruangan disertai nada indah dari musik klasik. Amabel tersenyum, terutama ketika ia menemukan Arion berdiri sejajar dengannya. Elliott mengulurkan tangannya, tersenyum begitu tampan. "Boleh aku berdansa denganmu?"


Amabel terkekeh pelan dan meraih tangan Elliott. Alec di belakangnya sibuk menjamu pada pendeta sedang orang tuanya sibuk menjamu tamu kerajaan. Amabel dan Elliott berjalan menuju lantai dansa, iringan piano dan biola terdengar saat dansa keduanya dimulai.


Lagi, orang-orang terpesona. Keduanya terlihat begitu indah dan mempesona. Gerakan dansanya terlihat cantik dan lugas. Setelah selesai Elliott mencium tangan Amabel. Selanjutnya giliran Alec. "Selamat ulang tahun." Ujar Alec saat keduanya memulai. "Kamu cantik sekali malam ini."


Mendengar pujian Alec membuat adiknya tersenyum lebar. "Terima kasih. Lalu, siapa yang akan kakak kenalkan padaku?"


Amabel jadi semakin penasaran. "Apa aku pernah bertemu dengannya?"


Alec mengendikkan bahunya. Ia sendiri lupa. "Lupakan saja. Nanti kita bahas lagi. Hari ini khusus tentangmu."


Amabel menyerah. Baiklah kesampingkan urusan itu nanti. "Baiklah, aku menyerah."


Alec tersenyum. Ia menyisir rambut Amabel lembut. "Adikku sudah dewasa sekarang. Terus lakukan hal yang membuatmu bahagia. Jangan terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu. Oh, kalau Arion-"


"Kakak akan menculikku dan membuatnya menyesal?" Potong Amabel kemudian keduanya tertawa. "Elliott sudah mengatakannya."


Alec mendengus. "Ya sudahlah. Ah, waktuku habis. Kali ini giliran ayah."


Lagi, Amabel mulai berdansa dengan ayahnya. Hingga lagu hampir berakhir, John baru berujar. "Selamat ulang tahun dan semoga kebahagiaan tak pernah meninggalkanmu. Bel tak akan pernah sendirian karena pintu rumah akan selalu terbuka."


Amabel memeluk John, begitu erat. "Terima kasih, papa."


John mengacak rambut anaknya. Tinggi Amabel saat ini sudah sedadanya. Padahal terakhir kali badu sebatas pinggang. Waktu berlalu


begitu cepat. John kemudian menoleh pada calon menantunya.


Arion mengulurkan tangannya di depan Amabel. "Karena sudah menari dua kali, bagaimana kalau aku mengajakmu minum terlebih dahulu?"


Amabel mengangguk dan meraih tangan Arion. Tangan Arion terasa hangat. "Kamu pasti lelah."


"Sangat, lelah tepatnya." Balas Amabel. Keduanya duduk di meja khusus untuk keluarga. Di hadapan mereka sudah terdapat air jeruk dingin dan kue kering. Amabel meraih gelasnya dan meminumnya dalam satu kali tengukan. Ia kemudian meminum air mineral dan menatap Arion yang tertawa geli.


"Aku sangat haus." Ujarnya beralasan.


"Aku tak mengatakan apapun." Arion membela diri sambil menahan tawa.


"Cih," decaknya kesal. "Jadi, mana kadoku?"


Arion langsung menunjuk dirinya sendiri. Kontan Amabel langsung tertawa. "Jangan bercanda."


Arion akhirnya tersenyum. "Hidupku adalah hadiahnya."


Amabel langsung terdiam. Tak lama kemudian langsung mengibaskan tangannya. "Ditolak. Aku hanya menerima hadiah berupa barang."


"Aku tahu kau akan bicara seperti itu." Arion akhirnya mengeluarkan sebuah gelang berwarna putih. Terdapat berlian empat warna yang dibentuk menjadi kelopak bunga di bagian tengahnya. Arion meraih tangan Amabel dan memakaikan gelang tersebut di tangannya. "Selamat ulang tahun." Ia kemudian mengecup punggung tangan Amabel lembut.


"Terima kasih." Ujar Amabel pelan. Pipinya terasa hangat seperti tatapan yang diberikan Arion.



Rain melangkah ringan di atas benteng istana. Bulan bersinar teran ditemani ribuan bintang. "Pada suatu hari, sebuah takdir ditulis. Takdir yang berasal dari dosa di masa lalu. Takdir yang mengikat dan menyakitkan. Aku bukan Tuhan dan tak memiliki hak untuk mengubahnya. Namun, ratusan tahun aku hidup hanya untuk menghadapi kematian. Katakan Alberto, kali ini apa langkah yang kuambil salah?"


Alberto menghela napas. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di benteng istana. "Siapa yang tahu akan benar dan salah? Aku pun harus terlibat pada akhirnya. Waktu kita tak banyak, Rain. Berhenti bersikap ragu. Kematian bukan sesuatu yang dapat kita ubah bahkan meski rodanya berjalan ke arah yang tak seharusnya."


Rain menghela napas, ia akhirnya duduk di atas benteng sementara Alberto di bawah sedang mengeluarkan asap nikotin. "Rasanya aku melakukan hal yang sia-sia."


"Tak ada yang sia-sia. Kau melakukan hal yang kau bisa." Balas Alberto.


Rain mendongak, kembali menatap bulan. Malam ini terlalu indah untuk kemudian berhadapan dengan hal yang mengerikan. "Mereka sudah mulai, Alberto."


Alberto ikut mendongak dan menghela napas. "Ya dan saat ini tak ada yang bisa menghentikannya."


"Kau tahu, Dewi Celine memiliki tiga kehidupan." Ujar Rain akhirnya. "Di antara ketiganya, menurutmu mana yang paling membuatu bahagia?"


"Mana pun tak masalah. Selama kebahagiaan itu datang dari hatinya."


"Aku berharap di kehidupannya yang ke tiga ia akan bersama orang yang dicintai." Doa Rain.


"Kau bersikap sentimentil itu mengerikan. Jadi berhenti saja. Lakukan sesuatu sana. Aku harus kembali ke kerajaan." Alberto kemudian menjauh dari benteng kerajaan, meninggalkan Rain.


"Jika memang kematian tidak dapat diubah, bagaimana agar orang yang ditinggalkan dapat kembali tersenyum bahagia?" Gumaman Rain tak ada yang menjawab. Ia kemudian menghela napas dan berdiri, kembali menelusuri benteng istana.