The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Tiga Puluh Tujuh: Perlahan-lahan



"Pita, apa Alec sudah pulang?" Eli membuka mantelnya dan memberikannya pada Pita.


"Belum tuan. Tuan Alec mengirim pesan bahwa ia akan bermalam di istana." Jawab Pita sambil memeluk mantel Eli. "Bagaimana hasil penempatannya?"


Eli menoleh, menunjukkan tanda V dengan jari telunjuk dan tengah. "Aku lulus sebagai staf kementerian pendidikan."


Pita langsung bertepuk tangan, senang. "Saya senang sekali mendengarnya. Selamat tuan! Malam ini saya akan membuat kue kesukaan tuan sebagai hadiah."


Eli tersenyum, menunjukkan deretan giginya. "Terima kasih, Pita. Oh, apa ada kabar dari Amabel?"


Dengan menyesal Pita menggeleng. "Belum ada kabar apapun."


Eli menghela napas, kecewa. Dia hanya mengangguk kemudian melangkah menuju kamarnya. Pita tahu jika tuannya tak ingin diganggu, jadi ia memilih berjalan menuju binatu. Sudah tujuh tahun lebih nona mudanya tak pulang. Amabel saat ini pasti sudah dewasa. Ia akan berumur 16 saat kembali nanti. Pita harap ia mendapat kesempatan untuk merias nonanya saar kembali. Ia merindukan nonanya. Tangannya menyentuh liontin kalung berbentuk daun, hadiah dari Amabel.


Pita menggeleng saat air matanya hampir menetes. Ia memilih mencuci mantel milik Eli untuk menghilangkan kesedihannya. Rumah keluarga Lancaster lebih sepi setelah Amabel pergi. Sejak hari kepergiannya, kedua saudara laki-laki Lancaster lebih memilih fokus belajar. Tuan Eli meski terlihat ceria, saat ini jauh lebih serius, dan jarang keluar dari kamar. Sementara tuan Alec lebih sering ikut dengan Duke Lancaster untuk menjadi penerus. Selama tuan Eli fokus sekolah dan Alec fokus belajar sebagai penerus, nyonya Lancaster lebih sering mengunjungi panti asuhan atau badan amal lainnya. Pada akhirnya keluarga Lancaster hanya akan berkumpul pada akhir minggu.


Pita menghela napas, di saat memikirkan tentang keluarga Lancaster ia jadi lebih merindukan nonanya. Pita harap, Amabel segera pulang.



Amabel menatap sekelilingnya, barak-barak sudah tidak ada. Bahkan barak Pangeran pun sudah tak ada saat mereka keluar. "Bagaimana baraknya bisa menghilang?"


"Itu barak sihir, salah satu penemuan Ryu. Waktunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan." Jawab Arion.


Keduanya berada di hadapan pasukan dan Amabel menyembunyikan wajahnya di bawah topi. Arion langsung memberikan instruksi dan dari samping Amabel dapat melihat wajah serius Arion. "Kita akan melewati bukit Tiagar selama dua hari. Aku minta agar kalian berhati-hati. Kita hanya akan berhenti untuk beristirah dan kemudian melanjutkan perjalanan. Paham?"


"Ya!" Balas para prajurit dan masing-masing kembali ke barisan.


Arion berjalan dan Amabel mengikuti dari belakang. Keduanya sampai di depan kuda berwarna hitam. Entah kenapa Amabel merasa tak asing. "Kau akan naik kuda denganku. Bagaimana?"


Ah, ini mirip dengan pertemuan pertama mereka. Arion mengusap kepala kudanya, menenangkan. "Tak masalah, kau adalah tunanganku. Atau kau lebih suka berjalan bersama kuda?" Amabel membalas dengan cuek.


Arion tersenyum dan mengangkat Amabel. Gadis itu membulatkan matanya, kaget dengan perlakuan Arion yang tiba-tiba. "Bisa tolong katakan sebelum melakukan sesuatu?"


"Terlalu lama." Kata Arion sambil menaiki kuda. Ia memecut kudanya dan mereka mulai melangkah meninggalkan desa tersebut.


Posisi Amabel yang miring membuatnya dapat merasakan napas Arion di pipinya. Gadis itu langsung menatap ke depan, mencoba menjauhkan napas Arion. Jarak keduanya terlalu dekat dan ini tak baik untuk dinding yang ia ciptakan. "Berapa lama lagi kita akan sampai ke Plodnavor?"


"Setelah melewati bukit Tiagar butuh tiga hari mencapai Plodnavor." Balas Arion, "kau tak sabar bertemu keluargamu?"


"Hm." Hanya itu jawaban Amabel. Ia tentu merindukan keluarganya, namun kembali ke Plodnavor berarti ia harus menjadi Amabel Rosemary Lancaster. Seorang putri dari Duke Lancaster dan tunangan dari Pangeran ke Lima. "Bagaimana dengan Pangeran?"


Arion tanpa sengaja melihat leher Amabel dan kemudian memilih menatap jalan. Mereka mulai memasuki hutan. "Aku lebih merindukanmu." Balasnya datar.


Meski demikian, Arion serius. Ia jauh lebih merindukan Amabel dibanding keluarganya. Kembali ke Plodnavor berarti ia harus menjadi seorang Pangeran. Terikat pada peraturan. Amabel berdeham, meski ia merasa hangat namun di saat yang sama juga merasa tak nyaman. "Permaisuri Jovanka pasti akan sedih mendengarnya."


Arion terkekeh mendengarnya. Arthur yang berada di sisi Arion sampai menoleh. Ia tak pernah melihat Arion tertawa, bahkan tersenyum selama perang. Matanya teralih pada perempuan berambut pirang di depan Arion. Arthur penasaran, apa yang dilakukan perempuan itu sampai bisa membuat Arion bahagia seperti ini?


"Aku tak merindukan ibuku, atau saudaraku, juga Baginda Raja. Bagiku mereka semua sudah ada di hatiku. Karena mereka adalah keluarga." Jelas Arion dengan pandangan lurus.


Amabel paham dengan hal itu. Sama seperti ia yang tak terlalu merindukan mama, papa, dan kedua kakaknya. Amabel menyimpan mereka di hatinya dan keyakinan bahwa mereka akan baik-baik saja menjadi jaminan sendiri baginya. Kalau soal rindu, mungkin Amabel malah lebih merindukan aroma Andette. Karena mereka keluarga, mereka tak akan pergi, dan selalu ada.


"Aku cukup tahu beberapa perubahan di Plodnavor. Rain yang memberitahu." Jelas Amabel. Dengan adanya Rain, ia tak perlu berkirim surat atau keluar dari Negeri Peri untuk tahu perkembangan yang terjadi. "Rain tahu banyak hal. Bisa dikatakan bahwa ia dapat mendengar banyak hal dari benda mati."


Ada satu titik di mana Arion tak menyukai Amabel yang membicarakan Rain. Di tempatnya, Rain merasa punggungnya dingin seakan ada yang ingin membunuhnya. Setelah itu, keduanya diam. Arion sibuk menebak penampilan Rain, sementara Amabel sibuk melihat sekeliling. Perasaannya merasa tak enak, ia menoleh, dan mendapati tatapan Arion menajam.


Arion mengangkat tangannya, membuat seluruh pasukan berhenti. "Ada tiga sampai lima trol besar. Siaga!"


Tak ada yang membalas, namun semuanya setuju. Saat perjalan, apapun perintah Arion cukup disetujui dalam hati. Mereka tak bisa membiarkan musuh tahu keberadaannya dengan cepat. "Bagaimana kau tahu jumlah mereka?" Tanya Amabel saat kuda kembali berjalan.


"Aku mendengarnya." Balas Arion, tatapan matanya menatajam. "Belakang!" Teriak Arion. "Pemanah siaga!"


Dari tempatnya, Amabel dapat mendengar langkah yang kencang. Panah mulai ditembakkan dan beberapa ksatria pedang maju. Amabel lompat, turun dari kuda. Hal itu membuat Arion kaget, namun ia tak bisa meninggalkan barisan terdepat. Terlalu riskan. Ia hanya bisa mengamati untuk saat ini.


"Aku benci membunuh, jadi tolong maafkan aku untuk hari ini." Ujar Amabel sambil mengeluarkan pedangnya. Manna sudah ia alirkan hingga pedang itu mengeluarkan warna merah. Biasanya Amabel hanya mengeluarkan warna ini saat ia buru-buru untuk mengakhiri pertarungan. Dengan satu tebasan, trol di hadapannya terbelah. Tebasan lainnya membuat trol lainnya kehilangan kepala.


"Apa ada yang terluka?" Tanyanya pada ksatria yang hanya menatapnya tak percaya. Amabel menyeka darah di pipinya, tatapan matanya masih datar dan lurus. Bagi ksatria di sana, tatapan Amabel sama seperti saat Arion berada di medan perang. Ia menatap satu per satu ksatria dan mengangguk. "Sepertinya baik."


Setelahnya Amabel mengibaskan pedangnya, membuat sisa darah pada pedang dan dirinya menghilang. Langkahnya ringan menuju Arion. "Apa saya boleh berada di belakang?"


Arion menimang beberapa saat kemudian mengangguk. "Lakukan sesukamu. Axel, biarkan Rosemary naik ke kudamu dan kau naik bersama Taki."


Amabel mengangguk dan kembali melangkah menuju barisan belakang. Ia menatap Axel meminta maaf, namun lelaki itu hanya mengibaskan tangannya tak peduli. Axel masih terpesona dengan gerakan pedang Amabel tadi. Tebasan pedangnya begitu halus dan tak bersuara, menyeramkan juga mengagumkan di saat yang sama. Kalau nona ini adalah musuh makan tebasan pedangnya menakutkan, untung mereka berada di pasukan yang sama.


Sepertinya karena melihat dua trol mati, trol lainnya memilih pergi. Amabel sudah sering melihat trol di Negeri Peri, namun trol tadi agak aneh. Darahnya hitam dan mengeluarkan asap aneh saat Amabel menebasnya. Amabel akan bertanya pada Rain saat bertemu nanti.


Sebelum matahari terbenam, mereka berhenti di tanah lapang. Para ksatria langsung membuat api unggun untuk membakar rusa yang mereka temukan di jalan tadi. Amabel memilih mencari air untuk mengisi tempat minumnya. Ia menyentuh sebuah pohon dan mencoba mencari tahu aliran angin melalui akar-akar pohon. Setelahnya Amabel mengamati pohon tersebut, di batang pohonnya terdapat bekas cakaran besar. Ia yakin kalau ini bukan bekas cakaran hewan buas.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Arion bertanya sambil mengamati Amabel. Gadis itu langsung menunjuk bekas cakaran di pohon.


"Ini bukan bekas hewan buas. Apa mungkin bekas cakaran para trol?" Tanya Amabel sambil menyentuh bekas cakaran tersebut.


Arion maju, mengamati sebentar kemudian mengangguk. "Bisa jadi ini adalah bekas cakaran trol tadi."


Amabel mengernyit, "kalau boleh jujur, trol tadi agak aneh. Darah yang keluar berwarna hitam dan mengeluarkan asap pula."


Arion mendengarkan dengan baik kemudian mengangguk. "Mereka tak biasanya menyerang, sementara tadi kita tak memiliki pilihan selain membunuh. Para trol tinggal di wilayah lain, tetapi beberapa masih hidup di bukit ini. Entah di mana, terdapat perbatasan antara Negeri Trol dan dunia manusia di tempat ini. Trol-trol tadi kemungkian sudah dimanfaatkan oleh penyihir hitam."


Mungkin itu sebabnya para trol tadi menyerang. Jika ini penyihir hitam kemungkian mereka hanya ingin menilai kemampuan Amabel. Untung saja Amabel hanya menggunakan manna pada pedang. Gadis itu menyentuh pergelangan tangannya, menyembunyikan perjanjian dengan elemen angin. Tak boleh ada yang tahu soal ini, seperti kata Rain.


"Lalu kenapa kamu ada di sini?" Tanya Arion.


Amabel tersentak kemudian berdeham. "Tadi aku ingin mencari air, tetapi seperti tak perlu."


Saat ini lebih baik tidak berpisah dengan para ksatria. Entah nanti membahayakan dirinya atau para ksatria tak bersalah. Di saat seperti ini, Amabel berharap Rain ada di sisinya. Ia tak bisa mengambil keputusan yang baik karena tak ada yang tahu soal kemampuannya. Kekhawatiran Amabel terlihat di wajahnya, membuat Arion menyentuh bahunya. "Ada masalah?"


Gadis itu menggeleng, "tidak."


Ia berbalik dan berjalan menuju perapian. Melihat Amabel yang menjauh membuat Arion kembali merasakan jarak di antara mereka.